"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."
Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.
Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Aroma antiseptik yang tajam menyambut Calista begitu ia melangkah masuk ke lobi rumah sakit internasional itu. Tempat ini sangat berbeda dengan puskesmas atau rumah sakit umum daerah yang biasa ia kunjungi dulu saat kondisi keuangannya masih berada di titik nadir. Tidak ada antrean mengular yang menyesakkan dada, tidak ada bau apek yang mengganggu penciuman, dan tidak ada wajah-wajah perawat yang kelelahan akibat beban kerja yang berlebihan.
Di sini, segalanya tampak berkilau, tenang, dan sangat mahal sebuah kemewahan yang dulu hanya bisa ia saksikan lewat layar televisi atau imajinasi liar saat ia melintasi gedung-gedung besar di Jakarta.
Calista berjalan menyusuri lorong yang dilapisi marmer mengkilap menuju lantai paling atas, area Presidential Suite yang hanya bisa diakses oleh segelintir orang yang memiliki pengaruh besar atau saldo rekening tanpa batas.
Di tangannya, ia menggenggam tas kulit pemberian Denis, sebuah aksesori yang terasa sangat berat dan asing bagi jemarinya yang terbiasa memegang buku pelajaran. Namun, kini barang-barang mewah itu telah menjadi bagian dari identitas barunya, sebuah tameng yang harus ia pakai untuk menutupi kerapuhan jati dirinya sebagai seorang istri yang sah secara hukum namun terikat kontrak yang dingin.
Begitu pintu kamar rawat inap nomor 01 terbuka, Calista merasakan dadanya sesak oleh campuran emosi yang sulit didefinisikan. Di atas tempat tidur dengan peralatan medis paling canggih yang pernah ia lihat, sang Ibu terbaring lemah. Namun, ada perbedaan besar yang membuat hatinya sedikit lega. Wajah Ibunya tidak lagi pucat pasi dengan rona kebiruan seperti saat mereka masih terjepit di kontrakan sempit yang pengap dulu. Pipinya kini mulai sedikit berisi, dan mesin ventilator yang dulu tampak menakutkan kini digantikan oleh alat bantu napas yang jauh lebih tenang dan modern, menandakan bahwa fungsi paru-paru dan jantungnya telah banyak membaik.
Calista duduk di samping tempat tidur, meraih tangan Ibunya yang kini terasa hangat dan lembut, tidak lagi dingin membeku seperti mayat. Ia mencium punggung tangan itu lama, membiarkan beberapa tetes air mata jatuh membasahi sprei sutra rumah sakit tersebut. Ia merasa seolah sedang menebus setiap detik napas Ibunya dengan setiap keping harga diri yang ia serahkan di kediaman Satrya.
"Ibu... ini Calista, Bu," bisiknya sangat pelan, nyaris tenggelam oleh suara monitor jantung yang berbunyi teratur. "Calista datang lagi. Ibu lihat kan? Kamar ini bagus sekali, tenang, tidak berisik seperti di rumah sakit yang dulu. Ibu jangan khawatir soal biaya lagi ya, Bu. Semua sudah diurus. Ibu cuma perlu fokus untuk bangun dan sehat lagi."
Ia mengusap kening Ibunya dengan jemari yang gemetar, mencoba menyalurkan kekuatan yang ia sendiri pun mulai kekurangan.
"Ibu tahu? Sekarang Calista sudah tidak lagi tinggal di kontrakan. Calista sudah menikah, Bu. Namanya Mas Denis. Dia orang yang sangat hebat, sangat kaya. Dia yang memastikan Ibu mendapatkan perawatan terbaik di sini," Calista menjeda kalimatnya, tenggorokannya terasa tercekat. "Mungkin Ibu kaget kenapa Calista menikah secepat ini, tapi Mas Denis menjaga Calista dengan caranya sendiri. Dia kuat, Bu, dia bisa melindungi kita dari orang-orang jahat."
Calista menatap jejak kemerahan di pergelangan tangannya yang tertutup lengan baju panjang, sisa dari cengkeraman posesif Denis semalam. Ia segera menarik napas panjang, menelan pahitnya kenyataan yang harus ia sembunyikan dari telinga Ibunya yang mungkin masih bisa mendengar.
"Ibu jangan sedih ya kalau nanti Ibu bangun dan lihat Calista sudah berubah. Calista harus jadi kuat, Bu. Di rumah Mas Denis, ada orang-orang yang tidak suka kalau kita bahagia, tapi Ibu tenang saja. Calista sudah belajar cara melawan mereka. Calista tidak akan membiarkan siapa pun menghina kita lagi seperti dulu. Calista cuma ingin Ibu sembuh, bisa melihat Calista pakai baju bagus, dan kita tidak perlu lapar lagi."
Ia menundukkannya kepalanya, menyandarkan keningnya di atas tangan sang Ibu yang masih belum memberikan respons apa pun.
"Maafkan Calista kalau Calista harus menyerahkan banyak hal demi semua ini. Tapi melihat monitor jantung Ibu yang berdetak stabil begini... itu adalah hadiah terindah buat Calista. Tidak apa-apa kalau masa muda Calista hilang, asalkan Ibu tidak pergi meninggalkan Calista sendirian di dunia ini. Calista kuat karena Ibu. Jadi, tolong cepat bangun ya, Bu? Calista rindu masakan Ibu, rindu suara Ibu yang memanggil nama Calista tanpa harus diikuti rasa sakit."
Ia kemudian meraih sebuah sisir kecil dari dalam tasnya, perlahan merapikan rambut sang Ibu yang sudah mulai bersih dan terawat berkat pelayanan suster pribadi yang disiapkan Denis. Sentuhan demi sentuhan itu ia lakukan dengan penuh kasih, mencoba menghadirkan kembali memori-memori hangat saat mereka masih hidup sederhana namun penuh tawa. Calista tahu bahwa di balik selang-selang yang menempel, ada nyawa yang sedang berjuang keras, dan ia merasa berutang seumur hidup kepada pria yang telah memberikan kesempatan kedua bagi Ibunya, meskipun ia harus membayar bunga dari utang itu dengan setiap inci kebebasannya.
Setiap detik yang ia habiskan di ruangan ini terasa seperti oase di tengah gurun pasir kehidupan barunya yang gersang dan penuh duri. Ia melihat sebuah vas bunga lili putih segar di atas nakas, yang diganti setiap pagi atas perintah asisten pribadi Denis. Kemewahan ini terasa mencekik sekaligus membius. Calista menyadari bahwa ia kini berada dalam sebuah paradoks; ia membenci cara Denis memilikinya, namun ia mencintai cara Denis menjaga apa yang berharga baginya.
Sebuah ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan panjang Calista. Seorang perawat masuk dengan senyum sopan yang sangat terlatih. Ia menyampaikan pesan bahwa Tuan Denis sudah menunggu di mobil dan meminta Calista untuk segera menyelesaikan kunjungannya karena ada agenda penting yang tidak boleh tertunda. Calista mengangguk lemah, menyadari bahwa bahkan di rumah sakit pun, pengaruh Denis tetap membayangi setiap geraknya, mengingatkannya bahwa ia tidak memiliki sedetik pun waktu yang benar-benar miliknya sendiri.
Sebelum meninggalkan ruangan, Calista mengecup kening Ibunya sekali lagi, menghirup aroma yang masih sama meskipun dalam lingkungan yang berbeda. Ia merapikan pakaian dan topeng ketegarannya, bersiap untuk kembali ke medan perang di kediaman Satrya yang penuh dengan intrik beracun.
Ia melangkah keluar dengan punggung tegak, menyadari bahwa untuk tetap bisa membiayai napas Ibunya, ia harus terus bertahan menjadi Nyonya Satrya yang tak tertandingi, meskipun harus dengan cara mengubur impian mudanya dalam-dalam di bawah bayang-bayang kekuasaan suaminya yang sangat dominan, manipulatif, serta penuh dengan misteri yang sulit untuk ia pecahkan sendirian.