"Mas, kamu harus tau. Mantan suamiku dulu, dia sempat menyesal karena mengambil keputusan terlalu cepat dan dalam keadaan emosi."
Menghirup nafas lebih dalam, Rey menyadari kesalahannya. "Dan itu sama dengan yang Mas lakukan ke kamu?"
"Iya,"
Rey menyesali ucapan talaknya yang diucapkan satu kali. Lantas apa yang membuat Fitri hampir dicerai lagi oleh suami keduanya?
Kesalahan apa yang dilakukannya dimasa lalu yang menyebabkan hidupnya di penuhi sejuta luka?
(adult romance)
Jangan lupa siapin tisu sebelum membaca dari bab awal 😢
@ana_miauw
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama jadi istri
Dug!
"Aduuuh..."
😁
Keluh Fitri kepalanya benturan sama kepala batunya Reyhan. Saling menatap keduanya dan meringis sambil mengusap kepala. Perasaan semalam tidurnya saling membelakangi, kenapa malah bangun-bangun sudah berhadapan begini. Ahh memalukan!
Reyhan langsung terbangun saat mendengar suara lembut perempuan. Hampir lupa lagi, kemarin dia sudah menikah. "Maaf nggak sengaja."
Oh jadi begini ya rasanya tidur sama perempuan, merasa dimiliki dan ingin menjaganya batin Reyhan.
Mereka memasuki kamar mandi secara bergantian karena kamar mandi dan kamar berada di ruang terpisah. Setelah itu mereka shalat subuh berjamaah.
***
Fitri melongok di pintu kamar yang sedikit terbuka. "Aku nggak tau Mas Rey biasanya sarapan apa?" Tanya Fitri pada Reyhan yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin, tapi bajunya masih pake baju yang kemarin karena semua baju gantinya ada dirumah Ningsih.
"Aku mau pulang ke rumah Budhe, bikin sarapan buat kamu sendiri aja Fit."
Mungkin sudah biasa sarapan mewah batinnya. Tenang Fitri, pelan-pelan nanti pasti belajar mengetahui kesukaan Reyhan. Ini baru satu hari, masih permulaan. "Iya Mas..."
"Entar siang Mas kesini Fitri harus sudah beres."
Lah kemarin katanya sore, protes Fitri dalam hati. Kalau berangkat sore kan setidaknya ia punya waktu yang lebih banyak buat bebenah rumahnya. Belum sempat menjelaskan, Reyhan sudah berhambur keluar.
***
Dirumah Ningsih...
"Gimana Rey hmm, udah? Udah kan??" Menaik-naikkan alisnya, Ningsih mulai menggoda Reyhan yang sedang menggigit Roti tawar berselai nanas.
"Reyy...." Ningsih tidak menyerah meskipun pertanyaannya belum terjawab, beliau mengguncang-guncang tubuh Reyhan.
"Tar duwu budhe ini madih pwenuh" Reyhan berkata dengan mulut yang masih penuh.
"Apa rasanya? Kamu kan nggak pernah pacaran Rey. Gimana kamu yang mulai dulu apa dia, hmm pasti dia yah. Dia kan sudah berpengalaman. Eh tapi dia itu cantik banget loh kamu nggak salah berjodoh sama dia, orangnya baik, tutur katanya lemah lembut, sama kaya Bude waktu masih muda. Ya kan Rey?" Kening Reyhan berkerut, menandakan ketidaksetujuan. Apanya yang sama kaya beliau coba? Fitri ayune sundul langit, Budhe kaya buntelan. Suaranya juga kaya petir, bagaikan bumi dan bulan.
"Budhe jadi tenang kalau kamu menemukan orang yang tepat. Budhe tau kok kemarin itu kalian pasti nggak ngapa-ngapain, ya kan? Pasti ada orang yang nggak seneng terus kalian dijebak. Awas aja kalau budhe tau siapa dalang provokatornya, akan Bude deportasi ke sumatera di kebun kelapa sawit punya kamu Rey. Tapi kalau kalian nggak dijebak nggak jadi nikah juga ding. Jadi itu kabar baik atau buruk sih?"
Rey menenggak susunya hingga tandas. "Udah, ngomongnya Budhe sayang? Rey mau ganti baju!"
Capek mendengarkan perempuan, Ningsih hampir sama dengan mamanya. Bedanya hanya sedikit. Rey langsung meninggalkan budhe yang masih nyerocos tanpa henti itu ke kamar dan mengemasi barang-barangnya.
Beberapa menit kemudian Rey mendekati Budhenya lagi. Melihat Reyhan siap dengan pakaian rapi dan menarik koper besarnya, bibir Ningsih mengerucut.
"Baru empat hari di sini, Budhe masih kangen tau Rey. Bulan madu aja dulu disini kan banyak tempat honeymoon yang bagus. Kalian bisa ke wisata **** disana udaranya dingin, pas untuk yang anget-anget."
"Nggak bisa Budhe, Budhe aja sama Pakde Cakra sana Boby udah WA terus kapan balik dia udah kerepotan menghandle semuanya sendiri.."
Boby adalah asisten Reyhan di segala macam area.
"Budhe udah tua, udah tutup pabrik ngga pantas lagi bulan madu Rey!"
"Mesakke hehehe. Rey pulang dulu ya, kapan-kapan Rey kesini lagi. Salam buat Zakaria sama Pakde Cakra..."
"Kalau itu udah karepmu ya sudah," kekecewaan tergambar diwajah Ningsih. "Budhe titip Fitri sama kamu ya, awas jangan sampai diapa-apain kalau nggak mau dikasih bogem mentah sama kita." Menunjukkan kepalan tangannya.
Palingan cuma dibikin hamil, Reyhan terkekeh dalam hatinya. "Iya tenang aja, sehat-sehat ya Budhe..." Pamit Reyhan dan memeluk dan cium ibu gedenya.
"Cepet diurus surat-suratnya ke KUA lho..."
"Iya-iya janji..."
"Dasah Rey, anak ganteng, bibit unggul..."
Tangan Rey melambai lalu memasuki mobil alphard vellfirenya yang sudah disetir oleh supir tembak menuju ke rumah Fitri untuk menjemputnya.
***
"Berkas-berkas atau dokumen Fitri jangan sampai ada yang ketinggalan. Tinggalin kuncinya biar nanti orang-orangnya Budhe yang merawat rumah ini." Ucap Reyhan yang diangguki oleh Fitri. Fitri sedang membuka-buka laci lemarinya.
Terlihat begitu sibuk, Reyhan memegang lengan Fitri lembut, "butuh bantuan?" lirih Reyhan. Wanita mana yang mendengarnya pasti akan terhipnotis karena suaranya saja begitu lembut dan mesra.
Fitri menghentikan aktivitasnya sejenak merasakan tangan Reyhan menyentuhnya. Ingin rasanya Fitri membalas sentuhan itu, tapi belum mempunyai keberanian lebih. "Tidak usah, Mas duduk aja..."
"Masa kamu sibuk Mas cuma duduk,"
Fitri tersenyum tipis, "nggak apa-apa Mas."
Sekian lama mereka terdiam, Rey mengawali pembicaraan. "Umurmu berapa?" tanya Reyhan.
"Hampir 23 tahun.."
Reyhan tercengang, "23 tahun? sudah jadi..." Reyhan tidak tega melanjutkan kalimat itu. "Maaf, memangnya kamu nikah umur berapa?"
"Waktu itu mendekati 20 tahun,"
"Dijodohkan?"
"Nggak, kita dulu memang saling menyukai satu sama lain."
"Kenapa kok bisa cerai? kalau aku lihat dari kamu kayaknya nggak mungkin. mantan suami kamu selingkuh, atau dia KDRT?"
Mendengar Reyhan bertanya penyebab bercerai, raut wajah Fitri langsung berubah seketika. Bayangan masa lalu yang buruk itu seolah berputar kembali. Mata Fitri kian memanas, matanya sudah mulai menggenang. Biar bagaimanapun, masa lalu Fitri adalah aib yang tidak mungkin diungkap.
Melihat Fitri sesedih itu, Reyhan merasa sangat bersalah. Berdehem, "maaf ya, aku salah ngomong. Sshhh..." Reyhan langsung mendekap Fitri kedalam pelukan dan menenangkannya. Setelah dirasa tenang, Reyhan melepaskannya kembali.
"Biar bagaimanapun Mas harus tau, kamu masih ada perasaan sama dia?" Menanggapi pertanyaan Reyhan tentang perasaannya, Fitri menggeleng pelan. Memang benar, perasaan itu sama sekali sudah tidak berbekas dihatinya kecuali rasa sakit.
Senyum tercetak di bibir Reyhan. "Syukurlah, berarti mulai sekarang, Fitri harus membuka hati buat Mas yah.."
"InsyaaAllah mas, Fitri akan belajar."
"Waktu kita masih banyak, jangan terburu-buru."
Mereka saling bertanya, berbincang satu sama lain sembari mempacking barang-barang. Fitri mengawali perjalanan dengan makan siang terlebih dahulu. Dengan saling mengenal satu sama lain membuat mereka merasa lebih dekat.
Perjalanan dari desa itu ke kota memakan waktu kurang lebih delapan jam dengan arus lancar. Mereka sampai di kota pukul duabelas malam. Reyhan langsung mengajak Fitri menuju ke rumah mamanya. Mau bagaimana responnya nanti, paling tidak Reyhan sudah pernah mencoba berusaha.
Fitri tercengang dengan kemewahan yang Reyhan miliki. Fitri jadi semakin merasa minder, apalah dia hanya lulusan SMA, janda, tidak punya apa-apa. Menyedihkan sekali hidupnya, ada yang mau berteman sama dia saja sudah sangat bersyukur.
Menuju kedalam, Reyhan mengajak Fitri langsung ke kamarnya yang berada di lantai dua, tidak tega membangunkan mamanya tengah malam begini. "Kita ketemu mama besok aja, sekarang beliau pasti sudah tidur."
"Iya Mas,"
Perjalanan yang ditempuh lumayan membuat mereka kelelahan, beruntung mereka sudah makan malam terlebih dahulu di restoran sebelum mereka tiba. Jadi tidak merepotkan asisten rumah tangga yang sudah beristirahat.
Melihat kamar Reyhan yang sangat berantakan, Fitri sangat terkejut. "Ya ampun Mas!"
"Maaf, ini kamar laki-laki. Mas harap istriku besok mau memberikannya." Reyhan memberi Fitri kode, tapi juga meringis menahan malu.
Bantal berjatuhan, banyak kabel tidak beraturan, lukisan yang jatuh tidak dipasang lagi, juga banyak dokumen-dokumen dan buku yang tercecer. Tepuk jidat berkali-kali untuk laki-laki yang satu ini.
.....
To be continued.
pemeran utama pria selalu salah, dia dibohongi ujung2 dia juga yang salah, dia pergi kerja lama dia juga salah, dua ujuga yang dibuat menyesal, mengemis2 maaf, pemeran utama pria di novel selalu dibuat karakter bodoh yang Terima saja diperlakukan apapun dan pada lahir dia dibuat mengemis2 pada istrinya
pemeran utama wanita selalu akan dibenarkan, dia membohongi suami dengan kebohongan yang sangat menyakitkan tapi ujung2 pemeran utama pria juga yang salah dan mengemus maaf, pemeran utama wanita pergi dari rumah dan buat suami kayak pengemis dan menderita novel anggap biasa saja bukan kesalahan yang perlu dibesar2kan dan tidak perlu minta maaf tapi pemeran utama pria pergi karena kerja yang sangat penting udah dibuat jadi kesalahan fatal dan dapat hukuman dan diremehkan pria lain
vano lelaki lain yang suka pada pemeran utama pria terlalu diistimewakan dan tidak pernah dianggap salah dan bisa merasakan tubuh pemeran utama wanita dan bebas memprovokasi pemeran utama pria, kesalahan sangat banyak, meleceh wanita, memaki jalang pada peran utama wanita, menghancurkan rumah tangga adiknya tapi karena tidak dianggap salah dana tidak perlu dapat balasan