Lina, putri asli keluarga kaya Ardiansyah yang hilang selama 19 tahun, tampak seperti gadis bangsawan yang lembut dan butuh perlindungan. Siapa sangka, dia sebenarnya seorang bos mafia dengan kekuatan tempur luar biasa! Semua anggota keluarga sangat menyayanginya tanpa syarat. Tak hanya itu, Junaedi Pratama, pria berwibawa dan berstatus tinggi, bahkan menunjukkan perhatian istimewa yang tak terbatas padanya. Di balik penampilannya yang polos, Lina menyimpan rahasia besar yang akan membuat semua orang terkejut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Setelah suasana di ruang tengah akhirnya tenang, Maya menggandeng tangan Lina dengan lembut.
“Temani Mama ke taman belakang, ya. Mama ingin bicara sebentar.”
Taman belakang villa Ardiansyah sangat luas—dipenuhi bunga kamboja, anggrek, heliconia, dan berbagai tanaman tropis khas Indonesia. Di tengahnya ada kolam ikan koi dengan air jernih berkilau diterpa cahaya sore, serta gazebo kayu jati yang menghadap langsung ke kolam.
Angin sore berembus pelan.
Suasana tenang dan hangat.
Maya duduk di gazebo, menepuk tempat di sampingnya. Lina ikut duduk, rok batik biru mudanya mengembang lembut di atas lantai kayu.
“Nini,” Maya membuka percakapan dengan nada serius namun lembut, “kamu benar-benar ingin kuliah di universitas yang sama dengan Galih?”
Lina mengangguk tanpa ragu.
“Tapi kalau kamu tidak mau,” lanjut Maya, “Mama tidak akan memaksakan. Kamu bisa pilih universitas mana saja di Surabaya. Bahkan kalau kamu mau ke Jakarta, Mama dan Papa bisa atur semuanya.”
Maya sebenarnya khawatir.
Lina tidak pernah menerima pendidikan formal yang normal. Selama 19 tahun, hidupnya penuh kekosongan yang tidak mereka ketahui. Dunia kampus—terutama universitas tempat Galih belajar—bukan lingkungan yang mudah.
Namun mata Lina justru berbinar terang.
“Ibu, aku benar-benar ingin kuliah bersama Kakak Galih!”
Suaranya penuh semangat.
“Aku ingin merasakan masa muda seperti orang lain. Punya teman, pergi ke kampus setiap hari, belajar bareng… seperti yang Kak Dito, Kak Rizki, dan Kak Galih lakukan.”
Ia tersenyum lebar.
“Aku juga ingin membuat Ayah dan Ibu bangga. Seperti Kak Dito yang jadi CEO hebat, Kak Rizki yang terkenal, dan Kak Galih yang jadi raja kampus.”
Maya terdiam sejenak.
Ia tidak menyangka Lina akan seantusias ini.
“Kalau begitu,” Maya berkata pelan, “bagaimana kalau Mama sewa guru privat terbaik di Surabaya dulu? Beberapa bulan saja. Mama takut kamu kesulitan mengikuti pelajaran di universitas.”
Lina menggeleng lembut.
“Terima kasih, Ibu. Tapi aku bisa belajar sendiri dengan giat.”
Ia menunduk sedikit, seolah malu.
“Di panti asuhan dulu, aku sudah membaca banyak buku. Aku tidak akan kesulitan.”
Itu bukan kebohongan sepenuhnya.
Ia memang membaca banyak buku—meski bukan hanya buku pelajaran, melainkan juga strategi militer, psikologi, dan taktik infiltrasi.
Namun Maya tidak tahu itu.
Yang ia lihat hanyalah putrinya yang rajin dan mandiri.
Hatinya terasa hangat.
Di dalam hati, Lina juga merasakan sesuatu yang asing namun menyenangkan.
Kehangatan.
Perhatian.
Cinta keluarga yang selama 19 tahun tidak pernah ia miliki.
Awalnya, ia kembali ke Indonesia hanya untuk memperkuat cabang Ji Ming dan menggunakan identitas keluarga Ardiansyah sebagai perlindungan.
Namun sekarang…
Segalanya mulai terasa berbeda.
Menjelang sore, satu per satu anggota keluarga keluar villa.
Budi dan Dito kembali ke kantor untuk menyelesaikan urusan sebelum pesta malam ini.
Maya pergi ke salon untuk persiapan.
Galih pergi ke mall—entah untuk membeli hadiah atau mungkin sekadar menenangkan diri setelah uang sakunya dipotong.
Villa menjadi lebih sunyi.
Lina kembali ke kamar tidurnya di lantai tiga—seluruh lantai itu memang khusus untuknya.
Begitu masuk, ia mengunci pintu.
Tirai ditutup.
Laptop dinyalakan.
Ia membuka aplikasi pesan terenkripsi milik organisasi Ji Ming—aplikasi yang sengaja ia blokir selama beberapa hari terakhir.
Begitu terbuka—
Ribuan notifikasi membanjiri layar.
Laporan misi.
Permintaan instruksi.
Masalah dengan supplier senjata ilegal di pelabuhan.
Perselisihan internal anggota.
Dan yang paling menonjol—
Kekurangan tenaga kerja parah.
Cabang Indonesia Ji Ming baru berdiri beberapa bulan. Anggotanya masih sedikit. Banyak yang sedang menjalankan misi di luar kota.
Beberapa target di Surabaya tertunda.
Misi pembunuhan di Malang dijadwalkan besok.
Sementara permintaan kontrak terus bertambah.
Lina membaca semua laporan dengan ekspresi dingin.
Jari-jarinya bergerak cepat.
Ia menyadari—
Banyak misi ini bisa dimanfaatkan untuk memperluas pengaruh Ji Ming di Jawa Timur.
Terutama malam ini.
Pesta pengenalan keluarga Ardiansyah.
Tempat berkumpulnya elite Surabaya.
Dan mungkin—
Orang-orang yang memiliki niat buruk.
Zhouko.
Nama itu terlintas di pikirannya.
Pria itu terlalu licik. Terlalu ambisius. Ia pasti tidak akan melewatkan kesempatan emas seperti pesta malam ini untuk mendekati keluarga Ardiansyah—atau bahkan menjatuhkan mereka demi kepentingannya sendiri.
Untuk pertama kalinya—
Motivasi Lina bukan hanya kekuasaan.
Tapi perlindungan.
Ia mengetik pesan singkat namun tegas:
Kirim sepuluh pembunuh terbaik Ji Ming ke sekitar villa Ardiansyah.
Sembunyi dan lindungi 24 jam.
Jangan biarkan orang asing berbahaya mendekat.
Beberapa detik kemudian, balasan datang.
Kak Zara, cabang Indonesia sudah kekurangan tenaga kerja parah.
Jika sepuluh orang ditarik, misi lain di Surabaya dan Malang tidak bisa berjalan.
Target Malang harus dieksekusi besok.
Tatapan Lina mengeras.
Ia mengetik:
Aku akan memimpin langsung.
Semua misi tertunda selesai dalam tiga hari.
Kirim sepuluh orang sekarang.
Tidak ada diskusi.
Sunyi beberapa detik.
Lalu notifikasi masuk bertubi-tubi.
Siap, Kak Zara.
Menunggu perintah lebih lanjut.
Personel bergerak sekarang.
Nama “Zara” kembali aktif.
Legenda Ji Ming dengan seribu misi tanpa kekalahan.
Begitu ia turun tangan sendiri—
Tidak ada yang meragukan hasilnya.
Lina menutup aplikasi.
Kamar kembali sunyi.
Ia berdiri, berjalan ke meja rias.
Di atas meja—
Terletak jepit rambut kecil dengan permata buatan yang tadi dibelikan Zhouko.
Ia mengambilnya.
Membaliknya.
Bagian logam tipis di bawah hiasan permata memantulkan cahaya redup.
Tajam.
Cukup untuk menembus arteri jika digunakan dengan tepat.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Hangat di luar.
Dingin di dalam.
“Zhouko…” gumamnya pelan.
“Kamu tidak akan pernah tahu.”
Bahwa hadiah kecil yang kau berikan dengan bangga—
Akan menjadi senjata yang mengakhiri hidupmu.