Di lorong-lorong megah Université Paris-Sorbonne, Xienna Elizabeth Mapelli Mozzi dikenal karena dua hal, kecantikannya yang ningrat dan cintanya yang mencekik terhadap Brandon Alton Everett.
Namun, ketika cinta itu hancur secara publik, Xienna justru terperangkap dalam radar pria paling berbahaya di Paris, Denzzel Lambert Riccardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian Yang Menegangkan
Xienna menatap layar ponselnya dengan napas tertahan. Di kejauhan, ia melihat iring-iringan mobil hitam ayahnya sudah memasuki gerbang depan Sorbonne. Sirine tak terdengar, namun aura kematian yang dibawa Vittorio Mapelli Mozzi terasa nyata.
"Kalian, tunggu di sini. Aku tertinggal berkas di loker bawah," ucap Xienna pada pengawalnya dengan suara paling tenang yang bisa ia ciptakan.
"Tapi Mademoiselle, instruksi Monsieur Vittorio adalah..."
"Hanya dua menit! Atau kalian ingin aku melaporkan pada ayahku bahwa kalian mengikuti ku sampai ke dalam toilet wanita?" gertak Xienna.
Para pengawal itu ragu, namun otoritas Xienna yang masih melekat membuat mereka mundur selangkah. Xienna berbalik, setengah berlari menuruni tangga menuju parkiran bawah tanah yang remang-remang.
Jantungnya berpacu, bukan karena takut pada ayahnya, tapi karena ia tahu ia baru saja melewati garis yang tidak bisa ditarik kembali. Ia memilih musuh daripada darahnya sendiri.
Di sudut paling gelap parkiran, mesin mobil Lamborghini Revuelto hitam menggeram rendah, seperti predator yang sedang bersiap menerkam. Pintunya terbuka secara otomatis saat Xienna mendekat.
"Masuk," perintah Denzzel singkat.
Xienna melompat ke kursi penumpang, dan belum sempat ia menutup pintu dengan sempurna, Denzzel sudah menginjak pedal gas dalam-dalam.
Ban mobil menjerit, meninggalkan bekas karet hitam di lantai beton saat mereka melesat keluar melalui pintu keluar darurat, hanya beberapa detik sebelum mobil Vittorio berhenti di lobi utama.
Denzzel mengemudikan mobilnya membelah jalanan Paris dengan kecepatan gila. Ia meliuk-liuk di antara kemacetan Place de la Concorde seolah sedang menantang maut.
"Kau baru saja menghancurkan hidupku, Denzzel!" teriak Xienna di tengah deru mesin. "Seluruh Paris menganggapku pelacurmu, dan ayahku akan memburu kita sampai ke ujung neraka!"
Denzzel meliriknya sekilas, matanya berkilat penuh adrenalin yang gelap. "Hidupmu yang dulu sudah mati, Xienna. Ayahmu tidak akan pernah memaafkanmu, dan Brandon sudah menang dalam hal reputasi. Tapi di sini, di mobil ini... kau bebas. Kau bukan lagi seorang Mapelli Mozzi. Kau hanya Xienna. Milikku."
"Aku bukan milikmu!"
"Lalu kenapa kau masuk ke mobil ini?" tantang Denzzel sambil memutar kemudi dengan tajam menuju jalan tol arah Normandia. "Kau bisa saja tinggal dan membiarkan ayahmu mengurungmu. Tapi kau memilih lari bersamaku karena kau tahu... hanya aku yang bisa memberimu gairah yang setara dengan kebencianmu."
Xienna terdiam, menyandarkan kepalanya di kursi kulit yang mewah. Ia melihat menara Eiffel menjauh di kaca spion. Ia merasa hancur, namun ada perasaan lega yang aneh. Semua beban sebagai "Queen" yang sempurna telah luruh.
Tiga jam kemudian, mereka sampai di sebuah kastil modern yang tersembunyi di tebing karang menghadap Samudra Atlantik. Ini adalah properti rahasia keluarga Riccardo yang tidak diketahui oleh publik.
Denzzel menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk. Ia turun dan membukakan pintu untuk Xienna.
Tanpa peringatan, ia menarik Xienna ke dalam pelukannya, menciumnya dengan kasar dan penuh kemenangan di bawah rintik hujan pantai.
"Selamat datang di duniamu yang baru, Cara," bisik Denzzel.
Di dalam kastil, suasananya sunyi namun intim. Denzzel membawa Xienna ke balkon yang menghadap ke laut lepas. Ia menuangkan dua gelas wiski tanpa es.
"Tristan akan membayar untuk mulut besarnya," ucap Denzzel sambil memberikan gelas itu pada Xienna. "Tapi untuk sekarang, biarkan Paris terbakar. Biarkan ayahmu mencari bangkai kita.
Di sini, tidak ada Mapelli Mozzi, tidak ada Riccardo. Hanya ada kegilaan kita."
Xienna meminum wiskinya dalam satu tegukan, merasakan cairan itu membakar kerongkongannya. Ia menatap Denzzel, pria yang telah mencuri segalanya darinya namun juga memberinya kebebasan yang paling berdosa.
"Jika kita tertangkap, aku akan memastikan kaulah yang mati lebih dulu di tanganku," ucap Xienna, senyum tipis yang mematikan muncul di bibirnya.
Denzzel menyeringai, ia menarik pinggang Xienna, merobek sisa-sisa kesopanan yang tersisa di antara mereka. "Aku tidak sabar menunggu saat itu, Xienna. Tapi sebelum itu terjadi... biarkan aku menunjukkan betapa aku mencintai kebencianmu."
Malam itu, di tengah deburan ombak yang menghantam tebing, dua musuh bebuyutan itu kembali tenggelam dalam keintiman yang destruktif, jauh dari hukum, keluarga, dan norma yang selama ini membelenggu mereka.
🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading 🥰😍😍
simple tapi penuh makna