Bagi Mila, hidup adalah perencanaan. Dan dalam rencana itu, Tyas adalah pilihan yang sempurna. Rasa aman, masa depan jelas, jawaban dari segala doanya.
Namun hidup punya selera humor yang aneh.
Tepat saat ia bersiap melangkah ke arah Tyas, Arya kembali muncul. Mantan kekasihnya itu datang membawa kembali aroma masa lalu yang seharusnya Mila kubur dalam-dalam.
Untuk pecinta second-chance romance dengan drama kantor, chemistry yang explosive, dan heroine yang nggak mau kalah, ini cerita kamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrettyDucki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petaka
Mila terbangun dengan rasa pusing luar biasa. Kepalanya berdenyut seperti ditimpa batu puluhan kilo. Samar-samar ia mendengar suara AC yang berhembus. Lalu ia merasa ada sesuatu yang melingkari tubuhnya.
Berat. Hangat. Tangan seseorang. Matanya langsung terbuka.
Sial! Tangan siapa ini?
Mila teringat kemarin ia pergi ke Rhythm, club malam di Senopati. Jantung Mila berdegup kencang. Ia menyingkap selimut dan mendapati tubuhnya telanjang.
Astaga... dia pasti sudah gila! Apa ia tidur dengan orang asing?
Takut-takut ia menoleh ke belakang, dan hampir berteriak.
Arya?!
Bagaimana bisa ia tidur dengan Arya?
Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, ponselnya berdering nyaring di atas nakas. Mila meloncat dari tempat tidur, menyambar ponsel dan pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu bergegas masuk ke kamar mandi.
"Halo," bisiknya.
📞 [Sayang, maaf semalam nggak angkat, aku udah tidur. Hp di silent.]
"I-iya nggak apa-apa."
📞 [Ini aku udah di depan." suara Tyas lembut di seberang.]
Mila refleks menegakkan tubuhnya, " Depan... mana?
📞 [Depan kos kamu. Kita... janjian mau brunch bareng kan?]
Mila menahan napas beberapa detik. "Emm.. Yas, aku lagi nggak enak badan."
📞 [Kamu sakit? Sini, coba aku cek.] Suara Tyas terdengar cemas.
"Eh nggak usah! Aku... aku cuma lagi PMS. Pingin istirahat. Kamu pulang aja ya."
Tapi kemudian, samar-samar terdengar suara lain di seberang.
📞 [Mila semaleman belum pulang, Yas.]
Sialaaann...
Itu suara Bu Dena, ibu kos Mila. Mila langsung menutup wajah dengan tangannya yang bebas.
📞 [Kamu nggak di kosan?] tanya Tyas curiga.
"Aku... mmm nanti aku jelasin. Sekarang aku buru-buru. Bye, Yas," Mila menutup telepon dengan tangan gemetar lalu bersandar di dinding kamar mandi. Napasnya tak stabil karena gugup.
Ia mulai merutuki tindakan bodohnya semalam. Seharusnya ia tidak minum terlalu banyak dan membiarkan pikirannya yang kacau mengendalikan semuanya.
Lihat apa yang terjadi sekarang? Ia harus bangun dengan potongan ingatan yang hilang, tapi konsekuensi utuh yang harus ditanggung sepenuhnya.
.
.
Mila keluar dari kamar mandi dengan kaus Arya yang kebesaran. Bajunya semalam bau muntahan dan keringat, dia tidak punya pilihan lain selain pinjam baju Arya.
Rambutnya masih basah, matanya sembab. Di sisi lain, Arya sudah duduk di sofa, meletakkan dua cangkir kopi di meja.
"Jadi semalem kita ngapain?" Mila menyilangkan tangannya di depan dada. Berdiri tegak di depan sofa.
"Having sex." Arya menjawab tanpa mengangkat wajah dari kopinya.
"Gimana bisa?!" Mila hampir berteriak. "Semalem aku ke club ketemu Damian. Terus... terus aku..."
"Terus kamu mabuk. Kamu yang telepon aku sambil nangis-nangis." Arya akhirnya menatapnya. "Aku nggak tau harus anter kamu kemana. Kos kamu aku nggak tau. Aku tanya PIN handphone dan nomor pacar kamu, tapi kamu nggak mau kasih tau. Jadi aku bawa kamu ke sini."
"Sampe situ aja kan?!" Mila mencengkram ujung bajunya. "Kita nggak... kita nggak mungkin..."
"You kissed me." Arya memotong. "Kamu yang mulai. We're both aroused. Aku nggak bisa bilang aku nolak."
Mila terduduk lemas di ujung sofa. Tangannya gemetar. Mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Potongan ingatan berkelebat, tapi semuanya samar dan tidak jelas.
Bisa saja Arya bohong. Mungkin benar Mila menelepon Arya (karena kenyataannya Arya tau dia di mana). Tapi bagian Mila menciumnya, itu bisa saja bohong.
"Kamu... kamu perkosa aku?"
Rahang Arya mengeras. Dia jelas terlihat sangat tersinggung. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya kalimat singkat dengan nada datar. "Aku nggak segila itu, Camila."
Mila menghela napas berat kemudian teringat sesuatu yang seharusnya jadi hal yang paling penting untuk dia tanyakan.
"Kamu pakai kondom?"
"..."
"Arya." Mila menggeram.
Kemudian pria itu mengalihkan pandang.
"ARYA!"
"No."
Detik itu juga tangan Mila menyambar pajangan keramik di atas meja, dan...
DUUAAK!
Arya sempat menghindar, tapi sudut keramik itu tetap mengenai pelipisnya. Darah mulai merembes dan menetes di wajahnya.
"KAMU GILA?!" Mila berteriak histeris. "Gimana kalo aku hamil? GIMANA?!"
Arya hanya diam, tangannya menyentuh pelipis yang berdarah, menatap Mila dengan ekspresi menyesal.
"Maaf," bisiknya pelan.
"Maaf?! Cuma itu?!" Mila berdiri, tubuhnya gemetar. "Kamu... KAMU HANCURIN HIDUP AKU LAGI!" Air matanya mulai mengalir.
Arya bangkit berdiri, mencoba mendekati. "Mila--"
"Aku mau pulang." Mila mundur selangkah.
"Oke, aku anter--"
"Nggak! Aku bisa sendiri!" Mila berbalik, meraih clutch-nya, lalu berlari keluar.
Arya berdiri di sana, menatap pintu yang baru saja dibanting keras.
Darah masih mengalir dari pelipisnya.
Tapi yang terasa sakit adalah dadanya.
.
.
Mila turun dari taksi online dengan langkah terburu-buru. Matanya sembab, makeup berantakan, pakai kaos kebesaran dan celana pendek yang jelas bukan miliknya.
Dan di depan pintu kos... Tyas berdiri dengan wajah khawatir.
"Sayang!" Tyas langsung menghampiri, memeluknya erat. "Kamu dari mana?!"
Mila menahan napas, berusaha tidak menangis lagi. "Maaf... aku bohong tadi."
Tyas melepas pelukannya, menatap Mila dengan tatapan menyelidik. "Kamu... kamu nggak pulang ke kosan semalam?"
"Nggak."
"Terus?"
Mila menggigit bibirnya. "Aku... aku ke Rhythm sama Damian semalam. Mabuk. Aku takut kamu marah. Jadi aku bohong."
"Mabuk? Kenapa?" Tyas mengernyit bingung. Tidak percaya Mila melakukan perbuatan tidak bertanggung jawab seperti itu.
"Aku marah sama kamu dan mama kamu kemarin. Aku cuma mau ngelupain kejadian semalem dan seneng-seneng sebentar. Kebetulan Damian telepon dan ajak aku ke Rhythm."
"Damian? Temen kamu yang... mm... gay itu? Bukannya dia di Sydney?"
"Iya. Damian yang itu. Dia lagi libur panjang di sini."
Tyas terdiam. Matanya menyipit, seperti tidak percaya.
"Kamu tidur di mana semalam?"
"Di rumah maminya Damian."
Tyas menatapnya lama, jelas sekali dia meragukan jawaban Mila.
Lalu cepat-cepat Mila mengambil ponsel di clutch. "Kamu nggak percaya? Mau aku telepon Damian sekarang?"
"Nggak perlu." Tyas menggelengkan kepala pelan. "Aku percaya."
Tapi nada suaranya tidak terdengar yakin.
Mereka terdiam sejenak.
Lalu Tyas meraih tangan Mila. "Yuk, kita makan. Aku udah reserve buffet di Hotel Mulia. Kamu pasti belum makan kan?"
Mila menggeleng lemah.
.
.
Meja mereka penuh dengan makanan. Pancake, croissant, telur, beef bacon, sosis, buah-buahan segar. Semua terlihat menggugah selera.
Tapi Mila hanya mengaduk-aduk scrambled egg di piringnya tanpa benar-benar makan.
Pikirannya melayang ke mana-mana.
Tadi pagi.
Arya.
Tubuhnya yang telanjang.
Tangan Arya di pinggangnya.
"You kissed me. Kamu yang mulai."
"Sayang, kamu nggak makan?" suara Tyas memecah lamunannya.
Mila mengangkat kepala. "Eh... iya. Makan kok."
Tapi Tyas menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Kamu yakin kamu baik-baik aja?"
"Iya. Cuma... masih hangover."
Tyas mengangguk pelan, tapi tidak terlihat puas dengan jawaban itu.
"Yas... ada yang mau aku omongin."
Tyas meletakkan garpunya, menatap Mila dengan penuh perhatian. "Iya, sayang. Apa?"
Mila menarik napas dalam. Tangannya gemetar di bawah meja, jemarinya saling mencengkeram erat. Kata-kata yang sudah ia susun sejak tadi di mobil terasa menyangkut di tenggorokan.
"Kayaknya kita putus aja deh."
Hening.
Tyas tidak bergerak. Tidak berkedip. Seperti otaknya butuh waktu untuk memproses kalimat yang baru saja ia dengar.
"...apa?"
"Aku bilang..." Mila menelan ludah, memaksa diri menatap mata Tyas. "Mungkin lebih baik kita putus."
Tyas meletakkan garpu di tangannya ke piring. "Kenapa?" tanya Tyas pelan, suaranya bergetar. "Kenapa tiba-tiba?"
"Nggak tiba-tiba, Yas." Mila menggelengkan kepala. "Aku... aku udah mikirin ini lama."
"Lama? Sejak kapan?" Tyas bersandar di kursi, tangannya terangkat menutupi mulutnya sebentar. "Karena dinner kemarin?"
Mila mengangguk. "Dinner kemarin adalah bukti kenapa kita nggak bisa lanjut."
Tyas terdiam.
"Mama kamu benci aku, Yas." Mila melanjutkan, suaranya mulai bergetar. "Dan aku nggak bisa hidup sama orang yang... yang keluarganya nggak terima aku. Kemarin itu bukan yang pertama kali. Udah berkali-kali Mama kamu nunjukin perasaannya ke aku. Dia nggak mungkin terima aku jadi bagian dari hidup kamu."
"Aku yakin ada jalan keluarnya."
"Nggak ada." Mila menggeleng. "Udah dua tahun dan kita nggak bisa mengubah persepsi mama kamu tentang aku."
Tyas menutup wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya berat.
"Aku... aku tau. Aku janji akan ngomong sama Mama. Aku akan--"
"Tyas, stop." Mila mengangkat tangan. "Ini juga bukan cuma soal Mama kamu."
Tyas mengangkat wajahnya. Matanya sudah merah. "Terus apa lagi?"
Mila terdiam.
Ini soal aku. Soal aku yang udah nggak bisa jujur sama kamu. Soal aku yang tidur sama Arya semalam. Soal aku yang sudah mengkhianati kamu dengan cara yang paling buruk.
Tapi kata-kata itu tidak keluar. Tidak mungkin bisa keluar.
Yang keluar adalah...
"Aku... aku nggak yakin lagi sama perasaan aku."
Tyas menelan pahit.
"Maksudnya?"
"Aku sayang sama kamu, Yas. Tapi..." Mila menggigit bibirnya, air matanya mulai mengalir. "Tapi aku nggak yakin itu cukup. Aku nggak yakin aku bisa jadi istri yang kamu harapkan. Aku nggak yakin aku bisa... aku bisa fully commit sama hubungan ini."
"Karena dia?"
Mila membeku.
"Dia siapa?"
"Aku perlu sebut namanya?" Tyas menatapnya tajam sekarang. "Arya."
Jantung Mila berhenti sesaat.
"Yas--"
"Jangan bohong, Mila." Suara Tyas mulai naik. "Aku nggak bodoh. Sejak kamu bilang dia mantan kamu, aku bisa lihat banyak hal." Tyas menarik napas dalam. "Kamu berubah."
Mila tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat.
"Kamu masih cinta sama dia?" tanya Tyas pelan.
"Nggak." Jawaban itu keluar refleks. Tapi bahkan Mila sendiri tidak yakin apakah itu benar.
"Kamu bukan nggak tahan sama keluargaku, Mila." Tyas tertawa pahit. "Kamu emang nggak pernah benar-benar milih aku karena kamu belum bisa lupain dia."
"Yas, ini bukan soal dia--"
"TERUS SOAL APA?!" Tyas akhirnya meledak. Beberapa orang di sekitar mereka menoleh, tapi Tyas tidak peduli. "Soal apa?! Aku udah coba jadi pacar yang baik! Aku support kamu! Aku sabar nunggu kamu siap nikah! Aku berusaha selalu ada untuk kamu! APA LAGI YANG KURANG?!"
Mila menangis sekarang. Bahunya bergetar.
"Kamu nggak kurang apa-apa. Kamu... kamu terlalu baik untuk aku."
"Jangan bilang itu." Tyas menggeleng cepat. "Jangan bilang hal klise kayak gitu. Aku nggak mau jadi 'terlalu baik'. Aku cuma mau hubungan kita baik-baik aja. Aku cuma mau kamu."
Suaranya putus. Ia menutup wajahnya dengan tangan. Dan Mila hanya bisa menatapnya dengan hati yang pecah.
Ini salah.
Semua ini salah.
Tapi apa yang bisa ia lakukan?
Menerima nasib sebagai menantu yang tidak diharapkan? Rela dihina dan dipandang rendah seumur hidup? Tidak. Hatinya tidak cukup luas untuk bisa menerima nasib mengenaskan seperti itu.
Mila juga tidak mau melanjutkan hubungan sambil membawa penyesalan tentang Arya seumur hidup. Tidak mau menikah dengan Tyas sambil menyimpan rahasia sebesar ini.
Tyas tidak layak mendapatkan pengkhianatan semacam itu.
"Maaf," bisik Mila pelan.
Tyas menurunkan tangannya. Air matanya sudah berdesakan di pelupuk matanya. Ia menatap Mila dengan tatapan yang hancur.
"Kamu serius mau putus?"
Mila mengangguk pelan.
"Nggak ada cara lain?"
Mila menggeleng.
Hening panjang.
Lalu Tyas berdiri. Mengambil dompetnya, meletakkan beberapa lembar ratusan ribu di atas meja.
"Oke." Suaranya datar sekarang. Kosong. "Kalau itu keputusan kamu."
"Yas--" Mila mencoba meraihnya.
Tyas mengangkat tangan, menghentikan Mila, lalu berbalik dan berjalan keluar.
Mila duduk sendirian di meja itu, dikelilingi makanan mewah yang tidak sempat ia sentuh, air matanya mengalir tanpa henti.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama...
Ia merasa benar-benar sendirian.
...***...
Ga tau mau belain Mila atau Arya. Kalian berdua tuh ya sama2 punya masa lalu yg kelam. Dah cocok kalian jadi pasutri, persis lah jodoh itu cerminan diri
Habis berantem malah makin nagih ya mil?