Katanya jodoh itu adalah cerminan diri.
Tapi ... mengapa pria ini begitu egois dan ketus?
Dinda Gandis (25) desainer baju pengantin, mendapat kesempatan kedua setelah menerima donor jantung milik seorang wanita muda yang kini mengubah hidupnya.
Satu pertemuan tak terduga mengubah takdir keduanya dengan tak terduga.
Johan B. Bastian (33), pengacara sukses yang penuh misterius, terus terusik dengan sifat Dinda yang membawanya pada sosok wanita yang ia cintai dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Dan lift hotel itu terhenti di lantai 6, Johan turun lebih dulu sehingga Dinda mengekornya dari belakang.
" Sebenarnya ini tugas apa sih??" tanyanya yang penasaran seraya berlari-lari kecil mengimpangi langkah Johan yang cepat.
Namun seperti biasa, tak ada jawaban dari pria irit bicara ini. Selang beberapa kamar langkah Johan pun terhenti di kamar 6011. Dengan cepat Johan membuka kamar itu mengunakan kunci kartu.
Lalu ia melangkah masuk, tapi tidak dengan Dinda yang masih was-was.
" Masuk!!" perintahnya.
Dinda yang mendengar perintah itu dengan berat masuk kedalam kamar hotel yang terlihat mewah. Sesaat ia terperagah melihat seisi kamar mewah tersebut.
Namun ia menyadari dan berubah waspada ketika Johan berdiri mengambil minuman dari mini bar kamar itu.
" Duduk!!" lagi Johan memerintah pada Dinda yang terlihat gelisah.
Dinda berjalan untuk duduk disofa yang terlihat empuk yang didepan mejanya telah terhidang beberapa Dessert yang terlihat lezat yang sedikit mengusik selera makan Dinda.
" Mana handphone mu??" pintanya dengan menegadah tangannya dihadapan Dinda.
Dinda bingung, namun seketika merogoh isi tasnya dan mengeluarkan handphonenya lalu ia serahkan pada Johan yang mengambil dengan segera.
" Password??"
" Ah, itu privasi saya!!"
" Ssstt, password!!" perintah Johan mengulang.
" 230315," sahut Dinda cepat.
Johan menekan nomor password itu dengan segera dan ia langsung menuju pengaturan aplikasi ponsel Dinda dan terlihat serius mengerjakan sesuatu disana.
" Apa yang anda lakukan pada hp saya??"
Johan hanya menghela nafas setiap mendengar pertanyaan Dinda yang tiada hentinya.
" Bisakah kau diam?? dan makan laah yang telah aku pesan!!"
" Iisss,," geramnya, seraya melirik satu cup cake yang terlihat lezat disana lalu ia meraihnya satu lalu memakannya.
Dan tak berselang lama Johan melihat pada Dinda yang tengah menikmati cup cake, lalu pandangannya jatuh pada layar handphone Dinda yang menampilakan sketsa gaun yang masih setengah jadi.
" Jadi, kau telah lama menjadi seorang desainer??"
Dinda terhenti mendengar pertanyaan Johan.
" Ah, hhmmm yaa bisa dikatakan begitu, tapi butik ini baru berdiri sekitar 4tahunan" jelasnya.
Johan mengangguk paham.
" Anda?? apa sudah lama menjadi seorang pengacara??"
" Aku?? entah lah, aku lupa??" jawabnya cuek lalu menyilangkan kakinya seraya bersantai disofa tersebut.
" Waah, anda benar-benar orang yang berbeda dari penampilannya, sifat anda bertolak belakang!!" tukasnya
" Aku?? tapi aku bukan lelaki brengsek seperti yang kau pikirkan!! dan aku ini pria baik-baik!!" ujarnya membangakan diri.
Dinda berdecak terperagah, betapa pria ini benar-benar terlalu tinggi rasa percaya dirinya.
" Karena kau seorang desainer bagaimana penilaian mu terhadap style yang aku kenakan??" ujarnya serius.
Dinda memandang Johan.
" Hhhmmm!!" gumamnya seraya berpikir serius melihat sosok Johan.
" Mulai dari rambut terlihat oke, setelan jas dan dasi juga cukup necis dengan pemilihan warna tone yang lebih kalem, dan juga kemeja yang anda pilih seakan membuat kesan bijaksana dan berkarisma, warna sepatu yang lebih brown juga cukup sesuai dengan warna jas,"
" Aah satu lagi jam tangan?? jam tangan itu juga terlihat cocok dipergelangan tangan anda dan itu terlihat mahal dikelasnya!!," seru Dinda seraya menujuk setiap item pada tubuh Johan.
" Oooww,, nice!!" puji Johan yang senang mendapat penilaian yang tak megecewakan dari seorang desainer.
Tapi sesaat sorot mata Dinda memandang dalam pada wajah Johan.
" Hhmm, hanya saja tidakkah itu hanya topeng anda ???" ujar Dinda yang beradu pandang dengan tatapan Johan.
Johan terpanah. Sesaat hening. Namun Dinda tersadar, merasa ucapannya menyinggung privasi.
" Ah, maksud saya, anda sepetinya menyembunyikan umur anda yang sebenarnya??," sela Dinda seraya tertawa bodoh.
" Memangnya kau bisa menebak??"
Dinda memandang sekilas raut wajah Johan dan ia mencoba menerka-nerka usia pria yang berada dihadapannya ini.
"sssstt, terlihat 32 tahun!!"
Dan sontak membuat Johan tertawa lepas. Ia cukup merasa senang dengan penilaian Dinda yang membuatnya jauh lebih muda dari usia sebenarnya.
" Kenapa?? apa itu benar?? usia anda 32 tahun??" ujarnya yang penasaran.
"ah, itu terlalu tidak sopan jika seorang wanita mengetahui usia seorang pria" ujarnya mengelak.
Dinda memandang sedikit kesal pada Johan, namun entah mengapa ia tak begitu kesal seperti biasa.
" Hhmm,, bukan kah itu penilaian yang mahal untuk menilai penampilan seseorang seperti aku yang jelas pasti memakai hal yang terbaik, apa kau ingin aku memberikan sesuatu??" ujarnya seriua melihat pada Dinda yang terlihat bingung.
"???" Dinda bingung.
" Mau hadiah??"
" Hadiah?? ah, itu terlalu berlebihan, saya hanya menilai dari apa yang saya lihat saja!!," ujarnya menolak dengan tersipu malu-malu mendapat kejutan dari Johan.
Namun ditengah kehangatan obrolan keduanya tiba-tiba handphone milik Johan berbunyi. Dan ia mengangkat seketika. Dan dinda terpaku ketika raut wajah Johan berubah seketika menjadi tegang.
" Aku paham" dan komunikasi itu terputus lalu ia berjalan kearah sofa duduk Dinda seraya menyerahkan handphone miliknya pada Dinda.
" Dengar, jika handphone ini menyala maka kau harus mengangkat segera dan kau harus cepat ketika aku meyuruhmu untuk segera datang. Dan jika dalam 2jam setengah handphone ini tidak berdering maka kau harus pergi mengecek kekamar 6020!!" ujarnya tajam pada Dinda yang terpaku, dan Dinda merasa jantungnya sedikit nyeri.
" Anda mau kemana??"
" Aku tak bisa menjawab, dan kau harus tau jika sedikit saja kau terlambat, maka hal buruk akan menimpa diriku!!," ucapan Johan cukup serius.
Merasa tak tenang, tangan Dinda reflek menahan lengan Johan.
" Anda berbicara apa?? hal buruk apa??" ujarnya panik.
" Aku akan pergi, kau berdoa saja semoga Dodi datang tepat waktu!!"
Dinda terhenti untuk menahan langkah Johan yang kini telah meninggalkan kamar hotel 6011. Jantungnya seolah sakit, ada rasa tak nyaman disana dan ia berusaha meraih obat didalam tasnya. Lalu dengan segera ia meminumnya dan mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tak nyaman.
"hey!! kau kenapa??" ujarnya pada diri sendiri seraya meraba dadanya. Dan berusaha mengatur nafas agar tubuhnya rileks.
Lalu Dinda berusaha duduk nyaman seraya menatap handphone Johan dan kembali mengingat perkataan terakhir dari pria itu.
🍃🍃🍃
Setelah beberapa saat Jantung Dinda kembali berdetak normal. Namun ia masih saja terlihat gelisah melihat jam pada layar handphone Johan yang telah menunjukkan jam 3 sore, tepat dua jam pria itu berlalu dari kamar hotel ini tadi.
" 2 jam setengah? ? 2 jam setengah?? oke 30 menit lagi!!,"ujarnya cemas seraya mondar mandir didalam kamar hotel itu. Lalu tiba-tiba ia berhenti.
" Gak?? aku bisa gila kalo nunggu 30 menit lagi!!" ujannya seraya menyakinkan diri bahwa ini keputusannya yang tepat untuk melihat kondisi Johan dikamar itu.
Dan dengan membulatkan tekat, Dinda keluar dari kamar 6011, dan mencoba mencari kamar 6020. Dengan langkah mengendap-ngendap ia mencoba mencari-cari kamar 6020 dan tak sengaja ia berpas-pasan dengan sepasang pria dan wanita yang terlihat berjalan cepat menuju lift.
Ketika akan berjalan lebih depannya lagi, terlihat nomor kamar 6019 dan ia berlari kecil menuju kamar 6020 yang berada disebrang lorong itu. Lalu terlihat pintu kamar itu tak tertutup dengan rapat.
Dengan ragu Dinda mengetuk pintu itu namun tak mendapat jawaban. Pelan ia masuk dengan ragu.
" Mr. Jo?? apa anda didalam?? mr. Jo??" panggilnya mengulang.
Johan yang tengah berusaha berdiri dari kursinya merasa terkejut dengan sapaan panggilan yang membuatnya tak bisa bergeming. Ia benar-benar terkaget dengan panggilan itu . Dan dengan sekuat tenaga ia berusaha berjalan untuk keluar dari kamar dan menahan sakit di perutnya.
Krak.. suara pintu terbuka.
Dan sontak membuat Dinda terkejut, hingga ia terperagah melihat Johan berdiri dengan wajah pucat dan tangan kanannya menahan darah dari perutnya.
Dinda berlari dengan panik menghampiri Johan yang seketika roboh. Dinda berusaha menangkap tubuh kokoh Johan untuk tak membentur lantai.
Dinda menangis panik melihat darah segar mengalir dari perut Johan.
" Bagaimana bisa?? bagaimana anda terluka??" ujarnya berderai airmata menatap tangan Johan yang terus mengeluarkan darah dari perut Johan.
" Aku harus menelfon, benar telfon hotel??" ujarnya panik lalu akan segera bangun namun tangannya ditahan oleh Johan.
" Kau??" ujarnya parau seraya menahan sakti.
" Kau siapa??" ujarnya yang berusaha tetap sadar.
" Anda berbicara apa?? ucapnya panik dengan air mata terus berderai.
" Saya Dinda?? Dinda supir anda??"
" Bukan??" ucapnya berusaha tetap sadar.
" Kau pasti dia?? kau Vanya.." dan seketika kesadaran Johan hilang yang membuat Dinda histeris dan berteriak minta tolong.
Sehingga selorong lantai 6 hotel itu terdengar suaranya yang mengelegarkan. Sehingga seluruh tamu kamar hotel tersebut yang menyerbu keluar dari kamar mereka mencari sumber suara orang yang meminta tolong.
sukses
semangat
mksh