Aaliyah, takdir mempertemukannya dengan Hadi, disaat Hadi telah memiliki Clarissa dan sudah siap untuk menikahi Clarissa.
Namun kekuatan takdir telah mengubah arah hati Hadi, pada akhirnya ia memilih Aaliyah menjadi istrinya.
Tetapi Clarissa, perempuan yang memiliki pengaruh yang kuat, perempuan yang membuat percaya diri Aaliyah jatuh pada titik nol, selalu membayangi kisah cinta mereka.
Kisah mereka diuji dengan kesetiaan, kesabaran, dan perjuangan cinta. Akankah mereka lulus dari ujian itu?
Clarissakah yang menjadi ujian cinta Hadi dan Aaliyah?
atau Aaliyah yang menjadi ujian cinta Hadi dan Clarissa?
Jawabannya adalah siapa yang terakhir hidup bersama Hadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Penolong
AALIYAH
Pagi itu Aku dan Bunda sudah siap-siap untuk sarapan di restoran hotel. Sedari tadi aku sudah menunggu Mas Hadi, namun ia belum nampak juga. Mau menelponnya, aku gengsi. Akhirnya aku mengirim pesan WA kepadanya.
AALIYAH:
Assalamualaikum Wr Wb. Mas, gak sarapan?
Aku menunggu beberapa lama pesanku belum dibaca juga oleh Mas Hadi. Mungkin ia belum bangun. Akhirnya aku dan bunda menuju restoran karena Bude Laela sudah menunggu. Kami sudah hampir bubar Mas Hadi baru membalas WA ku, seperti dugaanku ia terlambat bangun dan ia memintaku untuk menunggu di restoran.
Dari jauh ia sedang berjalan ke arah kami menggunakan kaos merah, celana jeans selutut dan topi merah. Nampak ia baru saja mandi. Indahnya melihat Mas Hadi pagi-pagi begini melebihi keindahan danau.
"Kok telat bangun nak?" tanya Bunda pada Mas Hadi.
Mas Hadi yang ditanya Angga yang menjawab "Pasti telponan lagi sampai pagi Bude."
Bude tertawa dengan jawaban Angga, tapi aku tidak bisa tertawa, hanya tersenyum kecut. Hatiku memanas. Yang ditelpon jelas bukan aku, berarti Clarissa.
"Tadi malam lama baru pulang ke kamar bund," Mas Hadi meluruskan sambil menatapku.
Mungkin ia bisa membaca suasana hatiku. Tapi kata-kata Angga sudah tersave di memoriku. Pasti sudah kebiasaan Mas Hadi menelpon Clarissa sampai pagi. Toh aku juga pernah ditelpon sampai pagi. Mood ku sudah rusak sepagi ini.
Setelah sarapan kami pulang ke Kota B. Aku memilih ikut di Mobil Angga. Kami bertiga di Mobil Angga. di Mobil Mas Hadi ada Ayah Hendrawan, Bude Laela dan bunda. Sopir Mas Hadi sudah pulang kemarin. Aku sempat melihat mimik kecewa di wajah Mas Hadi ketika aku naik ke mobil Angga tidak ikut di mobilnya. Mobil kami melaju di belakang mobil Mas Hadi.
"Aaliyah, tadi malam ke mana?" Angga bertanya.
Sepertinya ia tahu kalau semalam aku jalan dengan Mas Hadi.
"Oh tadi malam lihat danau dari atas villa. Aku lihat kalian loh!" jawabku.
"Sama Mas Hadi ya?" tanya Angga kembali.
Sebenarnya aku malu mengakuinya, tapi aku yakin Angga sudah tahu.
"Iya" jawabku singkat.
"Al, Mas Hadi merayu kamu ya?" Angga mulai bertanya semakin jauh.
"Merayu bagaimana maksudmu Angga?, perasaan Mas Hadi biasa-biasa aja sama Aaliyah."
"Sebenarnya sih aku senang-senang aja kalau kamu sama Mas Hadi. Tapi Mas Hadi masih jalan sama Clarissa sekarang Al. Aku takutnya nanti Mas Hadi mengecewakan kamu. Sejak jalan dengan Clarissa Mas Hadi sudah dua kali selingkuh Al. Dan pada akhirnya dia selalu memilih kembali ke Clarissa. Kemarin waktu kamu menolak lamaran Mas Hadi sebenarnya aku lega, karena aku takut kamu menikah dengan Mas Hadi tapi ia tetap menjalin hubungan dengan Clarissa" Angga menjelaskan panjang lebar.
Aku diam menahan air mata agar tidak keluar.
"Aku heran sama Clarissa, sering diduakan sama Mas Hadi kok tetap setia. Padahal ia punya segalanya. Kalau aku digituin, langsung saya putusin. Tapi wajar juga sih Clarissa seperti itu, Mas Hadi punya karakter yang kuat bukan cuman modal tampan aja." Adelia ikut berkata.
Aku bisa paham, meskipun kata-kata mereka menggores hatiku, tapi maksud mereka baik. Aku juga takut terjerat cinta dengan Mas Hadi disaat ia masih bersama Clarissa.
Aku tetap diam, menahan air mata yang ingin keluar.
Mobil kami sudah mendekati kota, tiba-tiba Angga menghentikan mobilnya. Ternyata di depan Mobil Mas Hadi juga berhenti sebelum jembatan. Aku melihat Mas Hadi berlari ke jembatan diikuti Ayah Hendra dan yang lainnya. Kami juga ikut keluar, penasaran apa yang terjadi.
Di jembatan tampak beberapa orang berkerumun. Rupanya ada seorang gadis muda, dari mukanya sepertinya masih duduk di bangku SMU berdiri pada talang air di sisi jembatan dengan sikap hendak melompat ke sungai. Sepertinya gadis itu berniat bunuh diri.
Beberapa orang terlihat menasehatinya. Tapi ia melarang orang yang mendekat, mengancam akan melompat. Info yang kudengar ia baru diputuskan pacarnya. Mas Hadi meminta orang di sana jangan terlalu mendekat dengan memperkenalkan diri sebagai polisi. Mas Hadi ikut membujuk gadis itu.
Aku melihat ke sungai di bawah sana airnya terlihat agak dalam dan berarus. Melihat kondisi sungai itu, siapapun yang jatuh kesana sangat susah untuk selamat.
Tiba-tiba gadis itu menjatuhkan diri ke bawah. Aku menjerit. Bukan karena gadis itu, tapi Mas Hadi ikut terjun ke bawah untuk menyelamatkan gadis itu. Bunda Laela histeris melihat anaknya ikut terjun.
Di bawah terlihat beberapa kali Mas Hadi menyelam mencari gadis itu. Sekali-kali naik ke atas mengambil nafas. Akhirnya ia bisa meraih gadis itu dipeluknya dengan satu tangan sementara tangan yang lain berusaha bertahan agar tak terbawa arus sungai.
Belum ada juga orang yang ikut terjun kebawah menyelamatkan mereka. Aku sudah menjerit-jerit minta tolong agar ada yang membantu Mas Hadi tapi tidak ada yang berani turun ke bawah.
Melihat anaknya yang susah payah berjuang di bawah, Ayah Hendra melepas sepatunya bermaksud terjun ke bawah membantu Mas Hadi. Tapi ia ditahan oleh Angga dan Adelia.
Dengan susah payah Mas Hadi berusaha berenang ke pinggir, namun gadis itu terus meronta dan hampir terlepas dari Mas Hadi. Mas Hadi berusaha menangkap dan menahan tubuh gadis itu dengan erat sehingga tak mampu lagi melawan arus dan akhirnya mereka terseret arus.
Aku ikut mengejar melewati tanggul sungai bersama orang-orang di sana. Beberapa kali aku lihat mereka timbul tenggelam. Mas Hadi tidak pernah melepaskan gadis itu meskipun terus meronta. Mungkin bila ia lepaskan, Mas Hadi tidak akan terseret arus.
Mas Hadi semakin jauh. Aku tak mampu lagi mengejarnya dan di belokan sungai merekapun tak terlihat lagi. Kakiku seperti kehilangan tenaga karena tidak bisa melihat Mas Hadi lagi.
Akhirnya aku duduk bersimpuh di atas tanggul sungai, menangis memanggil nama Mas Hadi. Aku ingat ekspresi kecewanya saat aku memilih naik di mobil Angga. Maafkan aku Mas Hadi. Kalimat itu keluar dari bibirku. Berjuta doa kuucapkan di hatiku memohon keselamatan Mas Hadi pada Sang Penguasa Semesta. Mata ini tak berhenti menangis. Tanpa sadar kuucapkan "Aku sayang Mas Hadi".
Detik-detik berjalan sangat lambat, mungkin setengah jam sudah berlalu belum ada juga kabar mereka. Aku melihat tim penyelamat dan polisi berlarian di pinggir sungai. Kalian terlambat kataku lirih.Dari jauh aku melihat Ibu Laela sepertinya tidak sadarkan diri dipeluk bunda dan Adelia.
Satu jam berlalu tidak ada juga kabar. Aku mulai putus asa. Tuhan, beri aku kesempatan mengucapkan kata sayangku pada Mas Hadi. Sekiranya dia selamat, aku ingin memeluknya dan kuucapkan kata sayang padanya. Dan bila tidak.....aku tidak mampu membayangkan itu.
tnngung jwb ktnya mlh kaya gini setan emng hadi🤣🤣
jadi clarisa juga sakit, apa lgi nanti yg jg nanti di poligami si akiya dan brengseknya lgi punya ank pula sakit g berdarah nembus sampai yg baca sakit bnget