Cerita yang mengisahkan tentang dua orang yang awalnya cuma kenal secara basa-basi karena si cewek adalah pacar dari sahabat si cowok, namun siapa sangka jika keduanya adalah jodoh yang sudah tertulis ditakdir Tuhan, bagaimana awal mula mereka menyadarinya, cerita selengkapnya akan tersaji dalam bab demi bab didalamnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara Family Gathering
Aku dan Celo melewati momen mesra semalaman hingga tak terasa semua lampu kamar telah mati, akhirnya kami memutuskan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat malam ini.
Di kamar aku terus tersenyum sendirian dengan otak yang terus memutar tayangan-tayangan yang baru saja kami lewatkan.
Cincin berlian sebagai tanda cinta darinya yang kini telah melingkar di jari manis terus aku mainkan dengan sesekali aku menciumnya, rasanya tentu bahagia karena hubungan yang aku jalin dengan lama akhirnya sampai ke titik ini.
"Terimakasih tuhan karena kau anugerahkan kepadaku laki-laki seperti Celo." gumamku lirih.
Malam semakin dingin segera ku tarik bed cover, segera aku matikan lampunya dan aku rebahkan tubuhku di kasur langkah terakhir adalah aku pejamkan mata.
Tak lama setelahnya ku dapati terik mentari menyapaku yang menandakan jika pagi hari telah tiba, aku melakukan peregangan beberapa menit di kasur agar semua ototku tidak kaget jika dipaksa untuk langsung bangun.
Setelah semua aku rasa cukup, maka ku langkahkan kaki menuju kamar mandi dan tentunya berendam di bathtub karena itu salah satu hal favorit dalam hidupku, ku nikmati gelembung-gelembung sabun cair yang memenuhi tubuhku.
"Malam ini harus cantik maksimal." Cetus ku.
Mandi busa telah selesai, aku segera mengambil handuk piyama ku dan kembali ke kamar untuk mencoba dan memikirkan padu padan dandanan yang senada mulai dari ujung rambut sama ujung kaki.
Malam yang terpenting bagi Celo kali ini aku ingin tampil dengan Korean look yang tentu saja itu adalah look kesukaan Celo dan dia selalu terpanah setiap kali aku ber make up ala artis Korea setiap pergi kencan dengannya.
Dress soft blue dengan ornamen kupu-kupu bercorak pink di bagian dada, tatanan rambut ikal ekor kuda dengan rambut kepang sebagai talinya dan yang tak boleh ketinggalan adalah heels sky blue yang memiliki tinggi 7 cm.
Aku terus berkaca sembari menganalisa barangkali ada yang kurang dari penampilanku kali ini.
"Oh my God, aku lupa belum memakai kalung pantas saja rasanya ada yang ganjil sedari tadi." Teriakku.
Asik berias didepan kaca lantas hal ini membuatku tak menyadari jika rupanya bunda sudah ada di kamarku, suara tertawanya karena mendengar teriakkan panikku hanya karena kalung lupa terpasang di leherku tersebut membuatku menengok ke arahnya.
Alangkah malunya aku saat itu dan diam seribu bahasa seiring dengan langkah bunda yang semakin dekat berjalan ke arahku.
"Anak bunda yang kata kebanyak orang independent women ini akan selalu cantik dengan ataupun tanpa sebuah kalung." Kata bunda.
"Bunda mah curang, masuk kamar orang gak ketuk pintu lebih dulu." Jawabku merengek.
"Tadinya bunda mau ketuk pintu, tetapi karena kamu teriak jadi bunda langsung panik dan segera membuka pintu kamar yang tak terkunci, bunda pikir karena ada hal yang berbahaya ternyata hanya lupa belum memakai kalung." Jelas bunda.
"Hehehe maaf bun soalnya malam ini kan malam penting buat Celo jadi aku mau tampil all out untuknya sebagai simulasi bakti calon istri yang terbaik didunia untuknya." Tutur ku.
Bunda tersenyum seraya memelukku, namun entah kenapa aku merasa senyuman bunda kali ini gak selepas senyum biasanya. Ada hal yang beliau simpan dariku atau hanya perasaanku saja.
Tak ingin memikirkan hal-hal buruk yang bisa mempengaruhi mood ku malam ini, aku membalas pelukan bunda dengan sebuah kecupan hangat di jidatnya dan menggandeng bunda keluar kamar menuju tepian danau tempat dimana acaranya akan berlangsung.
Ketika aku dan bunda sampai di tepi danau awalnya kami pikir aku dan bunda lah yang terakhir disana, tetapi kami beruntung ternyata belum ada satu orang pun yang datang mungkin mereka belum selesai bersiap atau bahkan ada yang belum bangun tidur.
"Lihat kan bun kita masih jadi yang pertama disini, artinya aku bersolek pun tidak akan memakan waktu seperti yang bunda khawatirkan." Sewot ku.
"Tetap saja disiplin itu harus dimulai dari langkah kecil dan diri sendiri, lebih baik kita menunggu kan daripada ditunggu." Jelas bunda.
"Menunggu itu melelahkan bun, apalagi menunggu orang yang kita sayang membalas perasaan kita." Imbuhku.
"Uhhh anak bunda nanti kalau Celo dengar dia bisa salah pengertian dikira kamu sedang menunggu perasaan dari pria lain." Jawab bunda.
"Gak kok tante, Celo paham jika Katty sering melemparkan candaan apalagi saat dia terpojok." Timpal celo mengagetkan.
Mendengar ada suara di belakang, aku dan bunda kompak berbalik badan dan aku segera memeluknya sebagai ungkapan rasa syukur karena dia datang tepat waktu dan selalu jadi garda terdepan bagiku apalagi saat aku di ledek oleh kedua orang tuaku seperti yang baru saja terjadi.
"Bela saja nak, tetapi bunda bahagia sekali ternyata anak bunda yang centil ini mendapatkan laki-laki yang begitu besar rasa sayangnya, terimakasih ya nak Celo." Kata bunda sembari mencolek hidungku.
"Ish bunda, sebagai anak perempuan bunda yang independent women ini tentu saja tanpa aku minta pun pasti banyak orang akan membelaku karena alasanku sangatlah logis." Timpal ku.
"Hahaha... Iya tante dengan senang hati aku pasti akan selalu menyayanginya dan tante gak perlu berterimakasih karena itu sudah kewajiban seorang laki-laki untuk selalu menjaga wanita yang dicintainya." Jawab Celo.
Tak lama kemudian ayah, Rafka serta para karyawan dan beberapa kolega pun berkumpul, Celo segera mendekat ke panitia acara untuk menyampaikan skema acara.
Karena sejatinya hari ini adalah hanya sebuah agenda sebagai pendekatan agar kami semua bisa memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi meskipun bukan tercipta dari sebuah hubungan darah.
Panitia membuka acara dengan sangat profesional kemudian dilanjutkan sambutan dari Celo yang menyampaikannya dengan penuh kewibawaan, aku semakin kagum melihat calon suamiku itu.
Senyuman terus saja mengembang dari bibirku sampai tak ku sadari air mataku perlahan menetes karena rasa bangga dan terharu melihatnya bisa ada di titik ini.
Pembukaan, sambutan dan doa telah selesai, acara selanjutnya tentu saja beberapa game yang akan kami lewatkan.
Saat hendak memulai perlombaan yang pertama yaitu balap karung kami tiba-tiba saja di kejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang cukup cantik dengan tinggi postur tubuh semampai, kulit putih bersih, fashionable dan seksi.
Semua mata melotot ke arahnya dalam benakku sempat terbersit jika itu adalah istri dari salah satu karyawan Celo atau mungkin pacar Rafka atau bisa juga bagian dari pihak panitia barangkali owner penginapan
Tetapi semakin ku perhatikan langkahnya dia semakin berjalan menuju ke arahku dan hal yang membuatku terkejut adalah ketika dia spontan memeluk Celo yang posisinya bersebelahan denganku
Ingin rasanya aku menamparnya karena dia sudah lancang melakukan itu kepada laki-laki yang jelas-jelas sedang bersama dengan tunangannya.
..