Mila yang tak mengerti mengapa foto itu menyerupai wajahnya dan di jadikan alasan untuk menikah dengan pria asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhayati 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
"Bi menurutmu jika bibi di posisi ku apa yang akan bibi lakukan ketika pria asing itu mengatakan ingin bersama?" Mila bertanya bersungguh sungguh sambil duduk bersila dengan punggung menyender di samping Kursi sofa.
Keduanya sedang menonton televisi di ruang tengah, habis melakukan kewajibannya yaitu sholat.
karena tak ada pekerjaan lagi jadi mereka duduk di atas karpet bulu yang berada di rung tengah itu.
Bi Santi mencoba berfikir, ini bukan lah posisi sang Nona sebenarnya. Dan dia mengerti apa yang di rasakan nya, dalam kebingungan harus mencari jawaban dan jawaban harus di cari dan itu harus bertanya.
"Jika itu di posisi ku. Harusnya waspada Non. Sebelum mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya. Dan itu membutuhkan waktu, waktu itu bukan hanya 1 atau 2 hari. Kadang teman yang kita kenal bertahun tahun tidak memungkin kan untuk tidak berkhianat apa lagi orang baru. Tapi kembali lagi orang baru juga tidak terlalu buruk, hanya satu kuncinya Non hari hati dan waspada saja." Ujar Bi Santi dia bukanya pernah di posisi seperti ini hanya saja orang asing ini adalah wanita bukan laki laki.
"Lebih tepatnya jangan Non terima dulu. Tapi bukan menolak melainkan bersahabat itu lebih baik dan ucapkan dengan kata kata lembut tanpa adanya emosi."
Tak terasa hari mulai gelap keduanya masih mengobrol seputar kehidupan masing masing.
Ponsel Mila berdering pertanda seseorang telah menghubunginya.
"Bi aku ke kamar dulu ya. Selamat malam." Pamit Mila
Mendapat agungkan dari Bi Santi dan mengatakan "Ya Non, selamat malam."
Mila lekas masuk ke kamar saat akan menerima sambungan telfon itu sudah berakhir. Tak berminat menghubungi kembali jadi menaruhnya di atas lemari kecil.
kemudian pergi ke kamar mandi buang air kecil dan mengambil air wudhu sebelum tidur.
dert dert dert
Ponsel kembali berdering bertepatan saat dia membuka pintu.
"Huff, Bian kenapa dia menghubungiku malam malam begini sih." Gerutu Mila lalu mengambil ponselnya dan mengeser ikon berwarna hijau.
( Hallo ) Albian lebih dulu menyapa Mila bukan Mila yang menyapanya lebih dulu.
( Ya, Hallo ) Mila jelas bingung mau mengawali obrolan seperti apa.
( Mil kau baik baik saja kan tidak ada masalah lagi kan ? ) Albian mencoba bertanya rasa khawatir sedari tadi siang saat Bi Santi mengirim pesan.
Namun, ia malah di buat sibuk dan baru selesai pada waktu malam.
( Ya, aku baik baik saja. Memang aku kenapa Bian? ) Mila jelas bingung ketika mendengan pertanyaan seperti itu.
(Tidak, ada aku hanya terlalu menghawatirkan mu saja. ) Ujar Albian menghembuskan nafasnya lega sekali
Mila tak bersuara lagi, dia bingung harus berbicara apa jadi hanya diam.
(Apa kamu sudah ngantuk Mil? Kenapa tidak mengatakan apa pun.) tebak Albian sambil mengerutkan dahinya.
( Sedikit, aku tidak tau mau ngobrol apa Bian. Emm, tapi aku coba pikir dulu ya.) Dari nada Mila Albian bisa mengerti
( Bian apa Rangga dan Nadia sudah kamu bereskan? Aku hanya ingin kembali bekerja. Ya walau harus mencari tempat kerja baru. Kamu tau bukan jika aku hanya numpang hidup dengan mu rasanya aku tidak punya rasa malu sedikit pun. Belum lagi aku harus mengirim uang ke orang tua ku.) Helaian nafas Mila begitu panjang
( Pria itu namanya Rangga ya. Oh itu seharusnya sekarang sudah di amankan polisi, dengan semua bukti bukti kotornya selama ini. Kamu tau Mil, perempuan itu juga adalah korban. )
(Bian apa maksud mu? Nadia juga korban begitu.) Mila membenarkan posisinya yang tadinya berbaring sekarang duduk bersila
( Ya kurang lebih begitu. ) Albian mersa senang mendengar wanita begitu antusias saat mendengar ucapan darinya
( Pulang nanti aku akan tunjukan semua kebusukan dia. Sahabat mu itu ku kirim ke tempat tinggalnya. Tenang saja mulut wanita itu sudah ku bungkam .Dia tidak akan berani mengatakan hal buruk tentang mu.)
(Ya, aku percaya itu. Terima kasih Bian sudah membatu ku. Entah aku bisa membalas semua kebaikan mu, dengan cara apa.)
(Hanya cukup berada di sisiku itu sudah cukup Mil. Aku tidak meminta lebih selain itu. )
(Tapi Bian, kehidupan kita berbeda. Aku tidak ingin masuk dengan lingkungan kehidupan mu yang serba ada. Maaf permintaan mu itu aku tidak bisa ku kabulkan.)
( kamu tenang saja, aku akan mengajari mu. Hingga kau bisa sangat nyaman dengan ku. )
( Huff, Bian. Seperti biasa kau hanya bisanya memaksa .... ) Kesel Mila.
( bua.. Hahaha ) Albian tertawa keras
( kamu mentertawakan ku Bian, kamu kira lucu ) Namun dalam hati tawa Albian membuatnya bahagia
( Emang kamu sangat lucu )
( Selamat malam Bian ) Sebelum Mila mengakhiri panggilan itu mengucapakan kata kata.
Albian hanya melihat layar ponselnya sudah berubah. Karena sambungan itu sudah terputus dan tak sempat menjawab ucapan selamat malam dari Mila.
Albian menatap langit langit kamarnya, tidak salah menghubungi seseorang. Rasa kesal yang membara akibat ulah Mommy nya yang memaksa untuk segera bertunangan dengan Yelia wanita pilihan Mommy nya.
"Mommy sampai kapan kamu akan mengeti perasaan ku ini. Mengerti keinginan ku." Albian menghembuskan nafasnya
Sore pukul 17.30
Albian sampai di kediaman Mahesa baru saja di ambang pintu sang Mommy sudah menodong berbagi pertanyaan
Albian merasa sangat malas jika menjawab semua nya jadi hanya diam saja.
"Al, kita percepat ya saja acara tunangan dengan Yelia. Mommy yang akan urus. Kamu hanya hadir saja." Ujar mommy dengan entengnya kala itu.
Mendengar ucapan itu tiba tiba emosinya muncul "Mommy sudah ku tegaskan berapa kali. Tidak ada pertunangan sebelum aku yang akan memutuskan. Jika mommy tetap melakukan itu biar mommy saja yang tunangan." Kemudian Albian beranjak
"Al, mommy mohon." Claudia berucap lembut jika berkata kasar putranya ini tidak akan menurut
Albian tetap pada pendiriannya "Aku bukan anak kecil lagi Mommy, aku bisa mengambil keputusan lebih tepat. Jadi Stop jangan ikut campur." Albian tidak ingin lagi mendengar lagi permohonan mommy yang mungkin akan mengubah keputusaan nya.
Malam semakin merangkak dan tak terasa sudah di gantikan pagi hari
Albian sama seperti biasa dia sudah rapi karena pagi ini ada jadwal meeting
Baru saja keluar dari pintu lift, di suguhi dengan landangan yang membuatnya muak.
kapan wanita ini datang di rumah nya.
"Al sini sayang. Sarapan ini Yeli yang baw loh." Ujar Mommy Claudia begitu banga dengan anak mantunya ini
Albian merasa tak berselera dia berkata "Aku sarapan di luar nanti mom ." Tolak Albian tanpa basa basi kemudian menyapa sang nenek "Nek, aku duluan ya."
Nyonya Wanda mengangguk dia mengerti apa yang di rasakan cucunya ini. Kehadiran Yelia membuat cucunya tidak nyaman, dan menantunya ini kenapa tidak mengerti perasaan cucunya.
"Ya, Sayang." Balas nyonya Wanda mencium dan menepuk bahu Albian dengan penuh kasih sayang.
Albian dia berjongkok di depan Neneknya menatap lekat wajah keriput itu.
Sang Deddy hanya diam di sana seperti kulkas dua pintu, walau begitu dia tidak seperti sang istri yang selalu mengekang putranya.