Pertemuan Angga dan Ocha memang takdir. Kepribadian mereka yang saling bertolak belakang, membuat keduanya makin dekat dari hari ke hari. Hanya saja bayangan masa lalu Ocha seakan membuat tembok besar di antara keduanya. Juga perasaan Angga yang belum bisa sepenuhnya menyukai Ocha. atau ... memang itu cara Angga menyukai Ocha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osi Oktariska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18 Resmi
"Cha! Buruan!" jeritnya yang sudah berada di halaman depan, masih menaiki motor matic dengan keadaan menyala. Aku yang masih mematutkan diri di depan cermin akhirnya terburu-buru. Segera meraih tas dan keluar dari kamar.
Jalanan kota Bandung sedang macet-macetnya. Ini biasa terjadi. Semua sudah mulai sibuk beraktivitas seperti biasa. Jumat, merupakan hari terakhir kerja. Karena esok adalah weekend dan saatnya libur.
Tanganku melingkar di pinggang Angga. Ia terus mengoceh panjang lebar. Tentang kejadian pagi hari di rumahnya yang cukup dramatis.
"King bikin ulah lagi, maksain pengen ke dokter, check up. Emang sih, sekarang makin tuli, Ay. Kayaknya harus transfusi darah deh. Udah lama enggak soalnya," jelasnya di sepanjang jalan. Suara riuh kendaraan membuat intonasi bicara Angga naik. Bahkan terkesan berteriak.
King adalah kakeknya. Aku belum pernah bertemu, karena saat ke rumahnya, kakek dan neneknya sedang menginap di rumah saudara. Karena umur Kakeknya sudah tua, maka ada saja keluhan yang dialami. Dan memang kakek Angga sering check up ke rumah sakit tiap beberapa bulan sekali.
"Kalau Nin, malah tadi pas Angga mau berangkat kerja, eh ketemu di jalan. Pas Angga tanya mau ke mana, katanya mau sekolah. Duh, halunya udah parah, Ay."
"Hah?! Terus gimana?" tanyaku sedikit terkejut, sambil membayangkan hal itu.
"Yah, Angga balik ke rumah bilang Papa. Akhirnya digendong paksa sama Papa bawa pulang. Tetangga ngeliatin, ketawa."
Nenek Angga juga lucu, sudah pikun dan terkadang terlalu asyik di dunia nya sendiri. Dan biasanya kakek dan neneknya sering bertengkar karena masalah sepele. Tapi saat Angga menceritakan padaku, hal itu selalu berhasil membuatku tertawa lepas.
"Ngeselin tau, Ay," gerutunya.
Sungguh kehidupan yang indah dalam kaca mataku. Sempurna dan Yah, itulah keluarga. Karena aku sendiri tidak punya kesempatan seperti itu lagi.
Terkadang aku rindu masakan mama. Masakan seorang ibu adalah makanan terenak di dunia. Apa pun yang ibu buat, pasti enak. Masakan ibu Angga juga enak. Aku suka.
Tanpa terasa kami sampai di pelataran parkir kantor. Saat turun dari motor, tubuhku seperti bergoyang. Aku hampir terjatuh jika saja Angga tidak memegangiku.
"Ih kenapa?! Belum sarapan, ya?" tanyanya menatapku cemas.
"Belum. Hehe."
Padahal aku sudah menyantap sepiring nasi goreng bumbu instant sebelum berangkat tadi.
Angga menggandengku sambil berjalan masuk. "Masih kuat, kan? Atau mau nyari sarapan dulu, Ay?" tanyanya sambil tengak-tengok mencari sesuatu.
"Enggak usah. Masuk aja, yuk. Nanti bikin teh aja, sama nitip beli sarapan Uci. Nih, aku chat dia. Paling dia belum berangkat," kataku sambil mencari nomor Uci.
"Ya udah, masuk yuk," ajak Angga. Ia berjalan lebih dulu, dan aku mengikutinya dari belakang. Masih sambil mengirim pesan ke Uci.
Tiba tiba dia berhenti berjalan tepat di depanku. Aku sempat menabrak punggungnya, sampai akhirnya netra ku beralih melihat ke depan.
"Kenapa, Ay?" tanyaku.
"Gandeng jangan?" Kedua bola mata Angga tertuju ke tanganku yang masih memegang ponsel. Aku tersenyum lalu segera menggandeng tangannya.
Saat masuk ke dalam ruangan, beberapa teman mulai usil. Ada yang berdeham, ada yang batuk sambil melirik kami bahkan ada yang menyeletuk, "makan-makan nih!"
Celotehan khas ABG yang biasa kudengar saat aku masih sekolah dulu. Tari yang sudah berangkat sejak tadi melirik kami sinis. Dan aku tidak peduli. Justru aku tersenyum penuh kemenangan.
"Heh! udah dewasa, hey! Masih aja minta traktir!"
_____
"Cha? Si Nova beneran mutasi?" tanya Hadi tiba-tiba.
"Iya, sama Rahma, kan? Kemarin emang urgent banget itu di cabang. Mereka berdua aja yang urus. Lagian dari pada di sini, nanti terkontaminasi pengaruh buruk. Bahaya, nggak baik buat kesehatan jiwa," sahutku tanpa melepaskan pandangan dari layar komputer di depan.
Namun tak lama setelahnya, telepon berdering nyaring. Setiap ruangan akan ada 1 buah telepon kabel untuk koordinasi tiap bagian perusahaan. Uci yang duduknya paling dekat dengan pesawat telepon itu segera mengangkatnya. Iseng aku memperhatikannya, karena penasaran juga siapa yang menelpon.
"Oke, Pak. Siap, laksanakan!" kata Uci dan segera menutup telepon itu. Netranya menyapu pandang ke segala arah, dan berhenti tepat saat melihat Tari sedang berjalan memberikan sebuah map ke Doni. "Tari! Kata Pak Derri, elu disuruh ke sana sekarang."
"Ke sana mana?" tanya Doni meminta penjelasan ke Tari.
Tari menarik nafas berat, tidak menjawab namun segera menuju meja kerjanya. Dan berkemas.
"Wow, apa yang terjadi?" tanyaku dalam hati.
Tari segera memasukan semua barang-barangnya ke dalam kotak besar. Dan keluar dari ruangan ini.
Aku meraih benda pipih yang kuletakkan di meja, segera menghubungi Om Derri. Aku memutar kursi dan menghadap ke tembok. Berusaha setenang mungkin agar teman teman yang lain tidak terganggu.
"Oh, gitu. Tapi nggak dipecat, kan, Om?"
"...."
"Oke, syukurlah. Jangan dipecat juga, Om. Kasihan. Ya udah, aku balik kerja lagi," pamitku dan segera menutup panggilan tersebut. Saat aku berbalik, rupanya ada Angga yang sedang berdiri di deKat mejaku. "Astagfirulloh hal adzim!" pekikku sambil menekan dada.
"Ye, kaget. Lagian nelpon bisik bisik. Ngapain coba? Nelpon siapa?" tanya Angga santai.
"Ih, Ngaggetin! Nelpon Om Derri."
"Terus kenapa si Tari pergi? Ay yang mindahin dia, ya?" tanyanya penuh selidik. Wajahnya dibuat serius, namun rasanya ingin kupukul. Tampang nya sangat menyebalkan saat ini.
"Ye, jangan asal nuduh! Cuma dipindah divisi doang kok. Lagian aku nggak minta apa-apa ke Om Derri. Tapi kalau Om Derri bersikap gitu, berarti dia peka." Kembali aku menyibukkan diri agar terhindar dari interogasi Angga.
"Oh, nggak dipecat tapi, kan?"
"Enggak, ay. Lagian kenapa sih khawatir banget sama dia? Takut, ya? Kalau dia resign, jadi nggak bisa ketemu lagi!" Kali ini aku berhasil membalikkan keadaan. Dan aku sadar kalau aku menyebalkan. Yah, aku cemburu! Aku tidak suka jika Angga terlalu mengurusi hidup wanita kurang ajar itu.
"Wu! Mojokin nih. Iya deh gimana kamu, jelek. Nggak mau, kan, baru jadian udah berantem lagi?" Tanyanya sambil memencet hidungku. Kebiasaannya kalau aku mulai bertingkah menyebalkan.
Jam istirahat sudah tiba. Akhirnya aku bisa makan juga. Rasanya badanku sudah lemas sekali. Aneh, padahal aku sudah banyak makan sejak pagi. Tetapi kenapa justru seperti tidak bertenaga.
Seperti biasa, kami semua akan makan di tempat yang sama. Tetapi tiba-tiba Doni mendatangi mejaku.
"Cha, elu jangan mentang-mentang ponakan Bos, jadi seenaknya mindahin karyawan, ya! Jangan campur adukkan masalah pribadi sama kerjaan dong, Cha! Elu masih dendam sama kami? Sama gue dan Tari?! Nggak adil, Cha! Gue nggak suka cara lu!" katanya sambil menunjukku seolah sedang menantang ku berkelahi.
Kepalaku terasa berkunang-kunang. Tubuhku makin lemah. Sampai-sampai aku mencari pegangan terdekat. Aku menekan kepala. Suara panggilan dari mereka memenuhi kepalaku. Semua terasa penuh, berisik, dan makin membuatku lemas. Sampai akhirnya aku tidak kuat lagi.
Bau etanol menyeruak sampai pangkal hidungku. Mataku masih terpejam, rasanya untuk membuka mata saja aku tidak sanggup. Tetapi suara di sekitar ku terdengar jelas. Ada Angga dan Uci yang sedang ngobrol.
Suasana di tempat ini terasa asing, tetapi perasaanku mengatakan kalau ini rumah sakit. Punggung tangan kiriku ngeri. Perlahan aku mencoba membuka mata.
"Cha?" panggil Angga yang kini terasa sangat dekat. Sampai akhirnya aku benar-benar membuka mataku. Wajah pertama yang kulihat memang Angga. Ia tersenyum. "Wuih, putri tidur udah bangun."
"Kok aku di sini. Aku kenapa?"
"Kamu pingsan, Cha, untung udah sadar," jelas Uci yang berdiri di samping ranjangku.
"Terus kata dokter aku kenapa?"
"Dokter masih nunggu hasil tes. Mungkin besok baru ada hasilnya. Gimana? Apa yang dirasain?" tanya Uci cemas.
"Lemes."
"Makan?" tanya Angga memberikan penawaran. Aku menggeleng dan makin menarik selimut hingga sebatas leher.
"Eh, aku balik duluan, ya. Udah kesorean nih. Ada janji sama temen," kata Uci mulai panik.
"Iya, sana. Hati-hati," sahut Angga menimpali.
"Thanks, ya, Ci."
"Cepat sembuh, ya, Cha." Aku dan Uci saling berpelukan, hingga akhirnya dia mulai berjalan di antara pintu keluar dan menghilang di baliknya.
Suasana menjadi sepi setelah Uci pergi. Untung Angga masih di sini, sepertinya dia belum ada niatan untuk pulang. Aku hanya diam, menatap langit yang terlihat di jendela samping ranjang. Bergelung selimut dengan tubuh yang masih lemah.
"Bentar lagi gelap," cetusku. Angga yang sedang duduk di kursi samping, mengalihkan pandangannya dari benda pipih di tangannya. Ikut melihat ke arah yang kutatap.
"Kamu tau, senja itu suatu keadaan menuju kegelapan?" tanyanya.
"Hm?" sahutku menoleh padanya.
" Tapi banyak orang yang menikmatinya. Bagi sebagian orang berkata,' Apasih yang bisa dinikmati di kegelapan?'"
"Bagi orang yang bersyukur pasti akan menikmatinya. Di kegelapan kita lebih sering berkomunikasi tanpa ada tanggung jawab rutinitas pekerjaan kita. Di kegelapan kita bisa melihat bintang bintang di langit yang biru."
"Amat banyak. Menghiasi angkasa. Aku ingin, terbang dan bernyanyi. Eh, malah nyanyi," katanya berusaha melucu. Aku sontak terkekeh pelan. Masih menunggu kalimatnya usai, tanpa membantah sepatah kata pun.
"Let's see? Di kegelapan kita bisa berbincang hangat. Kamu mau menikmati kegelapan dengan cara apa? Ada yg meminta doa di sepertiga malam dengan pencipta-Nya, yang konon doa itu kemungkinan akan diijabah. Nah, Menurut Aristoteles juga, Ada yg pergi ke keramaian dalam suatu ruangan mendengarkan dentuman musik sampai hilang kesadaran. Dan dalam kegelapan juga, ada yg memilih intim dalam kamarnya di hubungan percintaan."
"Hm ... Aristoteles bukannya filsuf yunani, ya?" tanyaku mencoba mengingat lagi tokoh dunia tersebut.
"Yupz, penemu mesin ruang waktu dalam sinetron lorong waktu yg ada zidannya itu, Ay," kilahnya dengan mata berbinar.
"Ngarang! Mana ada mesinnya!" timpalku tidak terima.
"Ada kalau kita halu dulu. Udah jangan dibantah," sanggah Angga.
"Tapi ini malah jadi hoax dan pencemaran nama baik buat Aristoteles!"
"Ya jangan fokus ke itunya tapi poin intinya itu yang diambilnya dong."
"Tapi nggak nyambung deh, Ay. Nggak masuk logika ih. Coba yang bener kalau kasih contoh."
"Au ah malah jadi ikutan sakit kepala." Angga melengos ke sudut ruangan untuk mengambil makanan
"hihi. inget kok kata-kata dari kamu yang selalu bisa menyederhanakan isi otakku," gumamku dengan suara pelan.
Malam ini Angga menemaniku di rumah sakit. Tapi besok aku sudah boleh pulang. Tapi hasil tes dokter baru bisa diambil beberapa hari kemudian. Huh, malas sekali jika harus kembali ke sini. Atau lebih baik kuabaikan saja, ya?
ini yang ke 3 dari karyamu,,, 1,2 ud aku babat habis smua
masih penasaran dengan smua jalan ceritanya
salam dari "UNSEEN."
mungkin kalian ngga terima ya, sama statemen saya, "namanya org lg usaha promosi ya udah lah biarin aja"
menurut saya nggak bs gtu dong. namanya org promosi itu alangkah baik nya tdk mengganggu lapak org lain. apalagi di cerita saya wlw dgn embel2 kalian sudah vote komen like, (yg entah betul dilakukan atau tdk, ya) Buat saya, akun saya, lapak saya itu bagai rmh kedua. kalau saya sedang komenan atau pembaca komen ttg crta saya, tiba2 ada yg komen promo crtanya sendiri, jujur saya terganggu dgn hal itu. karena menurut saya, apa yg kalian lakukan itu nggak baik. prinsipnya gini ya, kalau saya melakukan sesuatu hrs fair, hrs win win. kalau kalian promo dgn cara spam, itu artinya kalian mementingkan kepentingan kalian, tp memperdulikan kepentingan org lain. saya tau, promosi cerita sndri itu sulit, tp bukan berarti kalian mengizinkan diri kalian untuk spam hal tersebut dan mengganggu kepentingan yg di spam.