Papa dari Velia Angela menikah dengan seorang janda yang memiliki anak kembar. Velia sama sekali tidak tahu kalau yang akan menjadi kakak tirinya adalah kekasihnya sendiri.
Dia sungguh tidak menyangka kalau hal ini terjadi padanya.
Sampai suatu saat dia melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan bersama kakak tirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindi Oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murid Baru
"Jadi motor kak Lucas sama kak Zelo itu banyak ya ma?" tanya Velia.
Mama Ariana mengangguk mengiyakan, mengingat anak-anaknya mengoleksi motor dan sering juga bergonta-ganti motor mereka.
"Kalau kamu mau, kamu tinggal minta sama sama mereka. Bilang aja kamu pengen beli, atau nggak minta saja ke mereka. Mama yakin mereka akan kasih buat kamu" Mama Ariana yakin dengan apa yang dia katakan.
Menurutnya daripada motor-motor itu juga jarang di pakai, lebih baik di pakai saja oleh Velia.
"Ya nanti aku tanya ke mereka saja ma" kata Velia.
Mereka pun melanjutkan sarapan bersama sampai akhirnya Velia memilih untuk berangkat ke sekolah.
"Ma, Pa Velia berangkat dulu ya" ucap Velia yang setelahnya berdiri dari duduknya, dirinya pun bersalaman dengan papa dan mamanya sebelum berjalan menuju mobil.
Sesampainya di mobil, terlihat pak Didi sudah siap untuk mengantar Velia ke sekolah.
"Nona sudah siap" tanya pak Didi memastikan melalui kaca di dalam mobil. Velia memang selalu duduk di belakang.
"Iya pak, kita ke sekolah ya" kata Velia memberi tahu.
Namun sampai di tengah perjalanan menuju ke sekolah, Velia meminta pak Didi untuk mengantarnya lebih dulu ke apotek.
"Nona mau beli apa? Biar saya saja yang turun" ucap pak Didi menawarkan pada Velia.
"Tidak usah pak, biar aku sendiri aja yang turun. Biasalah ini soal cewek jadi aku yang lebih tahu pak" ucap Velia yang setelahnya langsung turun dari mobil. Dia langsung berjalan menuju apotek, sedangkan pak Didi dengan setia menunggu di dalam mobil.
Pak Didi tidak menaruh curiga sama sekali pada Velia yang memintanya untuk di antar ke apotek lebih dulu.
Velia yang sudah berada di apotek pun segera memesan obat yang dia butuhkan. Dia memberi obat haid karena sebentar lagi masa haidnya akan segera tiba.
Velia memang sering membeli obat di apotek untuk meredakan nyeri haidnya.
Setelah itu mereka segera menuju ke sekolah.
Terlihat sekolah tampak sepi karena kelas 12 sudah lebih dulu berangkat untuk mengikuti kelas pagi.
"Velia" panggil sebuah suara yang tidak asing di telinganya.
"Vanca"
Velia yang melihat Vanca mendekat pun memilih untuk berjalan bersama menuju ke kelas.
"Oh iya Vel, katanya sih mau ada lomba basket antar sekolah" kata Vanca yang entah mendapat info darimana.
"Iya terus?" tanya Velia.
Velia menghela nafasnya, "Terus kenapa? Apa urusannya sama kita?" tanya Velia yang tidak mengerti.
Vanca menepuk jidatnya karena menurutnya Velia sungguh tidak bisa berpikir jauh, "Lo gimana sih, Vel? Kan itu artinya kakak lo bakal ikutan main" kata Vanca sedikit mengeraskan suaranya.
Buru-buru Velia membungkam mulut Vanca, di takut kalau sampai ada yang mendengar apa yang di katakan oleh Vanca barusan.
"Ih mulut lo tuh ya" kesal Velia.
Vanca hanya nyengir kuda, dia tahu kalau dia salah, "Hehe sorry, Vel. Gue kelepasan tadi" ujarnya.
Keduanya pun kembali berjalan menuju ke kelas bersama, tentunya dengan melanjutkan obrolan mereka tadi.
"Tapi lo serius nggak mau lihat gitu Vel?" tanya Vanca lagi.
"Nggak tau juga sih, Van. Kita lihat nanti aja deh" ucap Velia yang sebenarnya belum ingin membahas tentang itu. Hingga dia tak sengaja bertemu dengan seorang cewek yang menatapnya dengan tatapan sinis. Namun Velia mengabaikan itu, dia fokus pada jalan menuju kelasnya.
"Cih, dasar cewek murahan" ucap cewek tadi yang terdengar oleh telinga Velia dan Vanca. Namun jarak yang sudah lumayan jauh membuat mereka tetap melanjutkan jalannya.
"Vel, lo nggak denger tadi?" tanya Vanca.
"Udah biarin aja, lagian emangnya ucapan itu buat kita?" kata Velia.
Vanca mengernyit, dia menyadari kalau yang lewat tadi hanya mereka. Jadi pastinya memang ucapan itu untuk keduanya, "Tapi tadi yang lewat di depan dia kan ya cuma kita doang, Vel" kata Vanca memberi tahu.
"Udahlah, Van. Nggak usah terlalu baper, mungkin mereka emang pengen cari masalah aja" kata Velia yang memilih mengacuhkan itu, sungguh dia sama sekali tidak berminat untuk membalas atau melakukan apapun kepada siapa yang telah mengatainya.
Sampai akhirnya mereka tiba di kelas, dan segera duduk untuk mengikuti pelajaran yang akan segera di mulai.
Tak berapa lama, guru yang mengajar mereka pun masuk dengan seorang siswa yang kelihatannya murid baru di sekolah itu.
"Oh iya anak-anak perkenalkan ada murid baru yang akan menjadi teman sekelas kalian. Silahkan perkenalkan namamu" ucap guru menyuruh siswa baru itu.
"Perkenalkan nama gue Jeremy" singkatnya lalu kemudian dia langsung duduk begitu saja di bangku yang kosong.
"Dih, singkat amat sih" kata Vanca dengan menatap kesal ke arah murid baru itu.
"Ya mungkin aja memang dia orangnya cuek, Van" kata Velia yang mengerti akan kekesalan Vanca.
"Tapi kan nggak sopan banget kayak gitu ke guru, orang belum di suruh duduk eh dianya langsung pergi duduk gitu aja" kata Vanca yang tidak begitu keras sehingga tidak ada yang banyak mendengar itu.
Pelajaran pun di mulai, namun ternyata diam-diam murid baru itu melirik ke arah Velia. Dengan diam-diam tersenyum dan entah apa yang tengah dia pikirkan saat itu.
...******...
Di kediaman Leonard, lebih tepatnya sebelum tuan Leon berangkat ke perusahaan.
"Biar nanti malam aja ya aku bilangnya ke anak-anak" kata papa Leon.
"Iya, lagi pula tadi juga hanya ada Velia. Lebih baik nanti malam setelah mereka berkumpul saja.
"Ya sudah sayang, kalau begitu aku berangkat kerja dulu ya" ucap papa Leon.
Mama Ariana tersenyum ke arah papa Leon, dan setelahnya terlihat papa Leon berangkat ke perusahaannya.
Kini hanya tersisa mama Ariana saja di rumah, dia sebenarnya juga memiliki pekerjaan di perusahaan miliknya sendiri. Namun dia masih bisa mengatasinya dari rumah.
"Apa aku cek rumah aja kali ya. Sepi juga kalau anak-anak nggak di rumah" kata Mama Ariana yang setelahnya langsung masuk ke dalam rumah.
Lalu kemudian bersiap untuk menuju ke rumah miliknya. Dia ingin mengecek rumah dan juga melihat-lihat motor milik anak-anaknya.
Dengan mengendarai mobil miliknya sendiri, mama Ariana menuju ke rumahnya sendiri.
Karena jarak yang tak begitu jauh mama Ariana pun akhirnya sudah sampai di rumahnya.
Ceklekk,,
Mama Ariana membuka pintu rumahnya yang dia kunci. Dia langsung menuju ke garasi motor milik anak-anaknya. Ada sekitar 8 unit motor yang ada di garasi dengan banyak mobil juga. Saja seperti yang ada di rumah papa Leon.
Namun bedanya di rumah papa Leon lebih banyak mobilnya.