Menjadi selir? Apa mau dikata. Seberapapun Yue menolak, ia tetap ditakdirkan untuk itu. Jadi percuma saja lari atau mengakhiri hidupnya hanya untuk terbebas.
Yang bisa Yue lakukan hanya berusaha untuk menjadi selir terbaik sepanjang sejarah Kerajaan Yuhan. Ia akan menakhlukkan hati sang kaisar apapun yang terjadi. Itulah sumpahnya saat menginjakkan kaki untuk kedua kalinya ke dalam istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jengke Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XVIII
Keputusan sang Kaisar menuai pro dan kontra. Terlalu gegabah. Terlebih dengan menjadikan Yue sebagai calon tunggal dan Putri Xiaoli hanya dianggap sebagai tamu kerajaan. Mereka yang kontra dengan sang Kaisar tentu melakukan segala cara untuk mencegah pernikahan itu berlangsung.
Tapi bukan Gu Zheng namanya jika hal seperti itu mampu menyurutkan niatnya untuk meminang Yue. Ia sudah mempersiapkan semuanya. Bahkan ia menggandakan penjagaan di sekitar kediaman Yue untuk mencegah kemungkinan terburuk.
Tinggal satu hari lagi, batin Gu Zheng.
Sejauh ini Gu Zheng merasa Putri Xiaoli tidak melakukan hal apapun yang berarti. Gadis itu bahkan mendatangkan hadiah langsung dari Kerajaan An sebagai tanda ucapan selamat.
"Mencurigakan, bukan?" tanya Qi Zi. "Gadis itu tidak mungkin diam saja. Terlebih kakaknya. Sudah pasti pernikahan ini merupakan penghinaan untuk kerajaan mereka."
"An Cheng Li bukan seorang Kaisar yang pemurah."
"Seperti dirimu," ujar Qi Zi.
Ya, Kerajaan An dan Kerajaan Yuhan bagai air dan minyak. Begitu pula dengan kaisarnya. "Dia akan datang."
"Tentu saja dia akan datang, kau sendiri yang mengirimkan undangan khusus pada pria itu," kata Qi Zi.
Sebenarnya sangat tidak nyaman menerima Cheng Li sebagai tamu kerajaan. Ketidak akuran menjadi alasan yang paling dasar. "Ya, kita lihat. Kalau sampai pria itu menghunuskan pedangnya, maka pada saat itu juga pesta pernikahan ini akan menjadi acara pemakaman bagi Kaisar An juga."
"Ini menyenangkan! Tidak akan ada pesta pernikahan seperti pesta pernikahanmu, Yang Mulia. Penuh ketegangan!"
"Sisanya aku serahkan semuanya padamu. Aku ingin beristirahat sebelum acara utama dimulai."
"Apa kau akan berkencan lagi dengannya?" seru Qi Zi pada Gu Zheng.
"Hm, seperti itulah," balas Gu Zheng sambil lalu.
"Semoga berhasil, Anak Muda!"
******
"Dia apa?" tanya Yue memastikan.
"Yang Mulia Kaisar sudah menunggu Anda, Nona Yue."
Mau apa lagi pria itu? pikir Yue. Bagaimana mungkin seorang Kaisar bisa begitu santai. Sedangkan dirinya sibuk kelimpungan dengan segala hal mengenai pernikahan mendadak ini.
"Sekarang?"
"Ya, Nona."
Tidak membuang waktu lagi, Yue bergegas ke gerbang barat sesuai perintah sang Kaisar. Tidak biasanya para dayang tidak mengekor di belakangnya. Mendadak dikawal ke mana-mana agak membuat Yue risih.
Ia harus memutar cukup jauh untuk sampai di gerbang barat. Yue melakukannya untuk menghindari Putri Xiaoli. Ia takut Tuan Putri itu akan berpapasan dengannya di sepanjang koridor barat, secara kediaman Putri Xiaoli berada di paviliun barat. Yue hanya berusaha menghindari cibiran dan tatapan dingin putri itu.
Sesampainya di depan gerbang barat, Yue berhenti di bawah rindangnya pohon oak. Ia memperhatikan banyak orang keluar masuk istana melalui gerbang itu. Gerbang barat menjadi satu-satunya gerbang yang bebas dilalui oleh siapa saja terutama para pedagang dan para pemasok istana.
Beberapa kali Yue pernah diajak kemari oleh Bibi Hwang. Sekedar ikut membantu wanita baya itu. Rasa rindu terhadap bibinya tiba-tiba menyergap.
Yue mengedarkan pandangannya, kalau-kalau bibinya melewati gerbang itu. Biasanya pada jam ini, bibinya akan memasok bahan pangan ke istana.
"Tidak ada Bibi, tidak ada Gu Zheng," gumam Yue.
"Nona, kau cantik sekali. Mainlah denganku sebentar."
Yue memperhatikan seorang gadis cantik berdiri di sampingnya. "Maaf, tapi saya sudah ada janji dengan seseorang."
"Hm, sayang sekali. Padahal aku ingin bermain sebentar denganmu."
Gadis di sampingnya ini bisa dibilang tinggi. Yue sampai harus mendongak saat berbicara dengan gadis itu. Entah kenapa ada rasa tidak asing saat dirinya memperhatikan wajah gadis itu.
"Apa aku mengenalmu, Nona?" tanya Yue.
"Bisa jadi. Maafkan aku yang memiliki wajah pasaran. Aku tahu, kalau aku ini cantik sekaligus ... tampan."
Yue terdiam dan kemudian tersentak. "Gu Zheng!"
Sontak Gu Zheng membekap mulut Yue dan menariknya ke balik pohon oak. Pria itu juga menghimpitnya serta memastikan tidak ada orang yang sedang memperhatikan mereka.
"Kau ... kau ...," cicit Yue.
"Sudah kuduga wajah terkejutmu juga sangat manis," bisik Gu Zheng.
"Apa yang Anda lakukan dengan pakaian ... wanita?"
"Menyamar. Apalagi memang. Aku biasa melakukannya saat berkeliling kota dengan Yu Dong," jawab Gu Zheng.
Yue pernah melihat Menteri Keuangan Negara sekali dari kejauhan. Meski tidak terlalu jelas, Yue sangat yakin kalau pria itu juga setampan Gu Zheng. Juga setinggi Gu Zheng. Bisa ia bayangkan, saat Gu Zheng menyamar sebagai wanita dan berjalan berdampingan dengan Yu Dong. Pasti mereka sangat serasi dan membuat iri pasangan lain.
"Saya ... tidak bisa berkata apa-apa," ujar Yue yang masih terkejut.
"Ayo, kita nikmati hari ini. Tidak ada pengawal. Tidak ada pelayan. Bebas. Hari ini aku hanya akan menjadi Nona Gu dan kau Nona Hwang."
"Jadi, tidak ada Kaisar?"
"Tidak. Kita hanya akan menjadi rakyat pada umumnya."
Senyum menghiasi bibir Yue. Entah kenapa saat Gu Zheng mengatakan kalau mereka hanya rakyat pada umumnya ia merasa senang. Itu artinya ia hanya perlu menjadi Yue si gadis biasa. Sederhana.
"Jadi, kita akan pergi kemana? Apa kita akan menyidak pedagang nakal atau para bandit?"
"Kencan. Hanya kencan. Terserah kemana kaki kita akan melangkah. Asalkan tidak tersesat dan kau selalu berjalan beriringan denganku, itu sudah cukup," kata Gu Zheng sembari mengerlingkan matanya.
"Hm, tapi kurasa para pria tidak akan tinggal diam saat melihatmu, Nona Gu. Bagaimana kalau kau sampai diculik karena terlalu ... tidak biasa?"
Berat rasanya saat Yue hendak mengucapkan kata 'cantik'. Tidak sopan rasanya. Ia perempuan tapi Gu Zheng bahkan lebih cantik dari dirinya. Tidak adil, batin Yue kesal.
Dengan wajah cemberut Yue mengikuti langkah kaki Gu Zheng. Ia bersumpah mendengar pria itu terkekeh. Memangnya apa yang lucu? batin Yue.
"Tenang saja. Bagiku kau yang tercantik," bisik Gu Zheng saat menyamakan langkah kakinya dengan Yue.
Cukup dengan satu kalimat sudah mampu membuat degup jantung Yue menjadi tidak karuan. Ia melirik pria itu melalui sudut matanya lalu tersenyum tipis.
"Karena kita sama-sama wanita, tidak masalah bukan, saat aku menggandeng tanganmu seperti ini? Orang-orang hanya akan berpikir kita teman."
Yue mengangguk patuh. Sekali lagi ia merasa malu. Tangan besar sang Kaisar menggenggam tangannya dengan erat. Ia belum pernah merasakan tangan besar seorang pria sebelumnya, kecuali pamannya. Toh pamannya tidak masuk hitungan karena pada waktu itu yang dilakukan pamannya adalah menepuk lembut kepalanya setiap kali dirinya menangis saat masih kecil.
Saat beranjak dewasa, Yue bahkan belum pernah dekat dengan pria manapun. Ia hanya dikelilingi pelanggan-pelanggan pria di kedainya. Beruntungnya mereka sopan walaupun kebanyakan dari mereka adalah bandit.
"Saya ... bolehkah kembali ke rumah sebentar?"
Gu Zheng tidak segera menjawab. Takut permintaannya menyinggung sang Kaisar. "Aku juga ingin bertemu dengan paman dan bibimu. Aku ingin melamarmu secara langsung pada mereka."
Senyum Yue merekah. Ia tidak menyangka sang Kaisar akan mengatakan hal itu. Tunggu. Kalau Gu Zheng ingin bertemu dengan paman dan bibinya, apa ini artinya pria itu meminta mas kawin? pikir Yue.
Yue menggigit keras bibirnya. Berapa ya kira-kira mas kawin untuk seorang kaisar? pikirnya keras.
*****
"Sudah kukatakan, kita akan bertemu lagi. Ini sudah suratan takdir," ujar Xiaoli.
Secara khusus Xiaoli bahkan menuangkan teh untuk dua cangkir. Jarang sekali ia melakukan hal seperti ini. Yah, anggap saja karena kali ini suasana hatinya sedang sangat baik. Melebihi apapun.
"Jadi, apa yang kau inginkan?" tanya Xiaoli. "Aku harap kita sama-sama mendapatkan untung dari kesepakatan ini."
Tbc....