Ini adalah kisah tentang dua insan yang sangat jauh berbeda, tetapi jatuh cinta.
Takdir menyedihkan menimpa keduanya selama hidup sampai Mahapatih Candrakumara Dewananda dan Putri Balqis Humaira Azhari meninggal dalam pesakitan memperjuangkan cinta untuk melampaui sekat-sekat agama dan sosial.
Tapi...
Kisah Candrakumara dan Balqis kembali terjalin dengan inkarnasi modern mereka. Candrakumara terlahir kembali sebagai Garalt Zayn Mahesa, seorang bintang film yang sangat menawan. Dan Balqis terlahir kembali sebagai Aneska Zoya Raveena, seorang gadis cantik nan lugu yang bermimpi menjadi seorang aktris besar. Semesta mempertemukan mereka kembali.
Dapatkah mereka mencegah tragedi yang sama terjadi pada diri mereka? Atau justru takdir pahit itu akan terulang lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vera Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini adalah Kisahku
Candrakumara dan ribuan pasukannya sedang bersiap untuk meninggalkan Majapahit dan pergi berperang. Berat langkah Candrakumara untuk meninggalkan Balqis ditengah-tengah keluarganya yang kejam. Tapi dia harus tetap berperang karena cintanya terhadap tanah airnya begitu besar.
Mereka semua pergi ke medan perang diiringi dengan hujan yang sangat lebat dan petir yang menyambar-nyambar. Arimbi menatap kepergian Candrakumara dari lantai dua Istana Mahapatih.
"Kau memanggilku, Bu?" tanya Gasendra yang baru saja datang.
"Sekarang saatnya menghapus aib di keluarga kita, Gasendra. Tangkap Balqis," ucap Arimbi.
Belum juga Candrakumara melangkahkan kakinya keluar dari area Istana, tetapi ibunya sudah mengambil keputusan untuk memenjarakan orang yang sangat dicintainya. Entah apa yang akan dilakukan Candrakumara seandainya dia mengetahui hal ini.
"Kita akan bilang apa pada kakak?" tanya Gasendra.
"Jangan takut. Saat itu menyangjut perlindungan Kerajaan, hubungan terdekat pun pasti akan dikorbankan," ucap Arimbi.
Malam itu juga, Arimbi mengerahkan para pengawalnya untuk menangkap Balqis.
Sedangkan di kamarnya, Balqis sedang tertidur bersama Nadir dan merasakan bahwa ada banyak yang menyusup ke dalam kamarnya dan melihat Nalesha ada bersama mereka. Tubuh Balqis dirantai, dan dia bersama putranya dibawa ke penjara Istana.
Dia berjalan ke penjara dengan air mata yang terus mengalir. Tidak ada gunanya melawan, sehingga dirinya hanya pasrah dipenjarakan.
Saat sampai di penjara, rantai itu di pasang ke dinding sehingga membuat Balqis tidak bisa melakukan apa-apa selain berdiri dengan tangan terbentang. Kedua tangannya juga sudah penuh dengan darah. Sedangkan Nadir, dengan setia berdiri di sampingnya seraya memeluk dirinya karena ketakutakan.
Balqis sangat kasihan terhadap putranya yang sangat sering mendapat dampak dari orang-orang yang tidak menyukai dirinya. Waktu itu, selama satu minggu Nadir tidak bisa tidur telentang karena luka di bagian belakang yanh di deritanya. Dan sekarang, anak berusia 6 tahun itu harus menyaksikan ibunya di penjara dengan seluruh tubuh dirantai.
Balqis kemudian meminta putranya itu untuk tidur di atas batu berbentuk bangku yang ada di dekatnya.
***
Sementara itu di tempat peristirahahatan, di dalam tendanya Candrakumara sedang sibuk memanaskan pedangnya di atas api.
"Kita telah mengepung musuh dari segala arah, Candrakumara. Rudrapriya berada di Utara bersama para pasukannya. Harsa dan paman Dananjaya sudah ada di Selatan. Bagaimana susunan strategi kita?" tanya Bisma.
"Majulah terus seperti kehidupan. Kau tidak tahu kapan dia akan menghancurkanmu!" ucap Candrakumara masih asik dengan kegiatannya.
"Tuanku!" ucap seorang pengawal yang baru saja memasuki tenda dengan napas tersengal-sengal.
"Sedang apa kau disini, Arya?" tanya Bisma.
"Raden Gasendra menawan Putri Balqis," ucap Arya.
Candrakumara terdiam mendengar itu. Sekarang dia sangat murka terhadap putranya sendiri yang sudah berani memenjarakan istrinya.
Dia berjalan dengan cepat, wajahnya sudah memerah seperti terbakar, terbakar amarah. Dia menaiki kudanya dan segera pergi menuju Majapahit, tanpa mendengarkan Gasendra yang berteriak memanggilnya.
"Pergilah bersama Candrakumara. Bersiaplah untuk menyerang," ucap Bisma pada seluruh pengawalnya.
Sedangkan Candrakumara tengah memacu kudanya secepat mungkin. Meskipun dia sendiri tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa sampai ke Majapahit karena dia harus melewati benteng pertahanan lawan, tetapi amarahnya sudah terlanjur menguasai dirinya.
Dari jauh, Rudrapriya melihat Candrakumara sedang berkuda sendirian. Dengan cepat, dia melepaskan anak panah yang hampir saja mengenai kepala Candrakumara. Tetapi berkat kehebatannya, Candrakumara bisa menangkap panah itu sebelum mengenai kepalanya.
Melihat itu, Rudrapriya kemudian meminta para pengawalnya untuk melemparkan hujan panah. Tetapi Candrakumara mengeluarkan pedang khusus miliknya untuk menangkis panah-panah itu agar tidak mengenai dirinya.
Perang kemudian dimulai, pasukan Kerajaan lawan mulai menyerang Candrakumara. Begitu juga dengan para pengawal Candrakumara sehingga peperangan itu berlangsung dengan sangat sengit.
Di sisi lain, Nadir terkejut dan segera bangun dari tidurnya lalu berlari memeluk Balqis saat mendengar seseorang membuka pintu penjara. Sedangkan Balqis hanya bisa berdiri mematung.
"Ini kesempatan terakhirmu untuk kembali ke Citrapsada," ucap Gasendra yang datang bersama dengan bunyi pintu itu.
"Tidak akan kuizinkan kau menawanku jika akhirnya aku ingin pulang," ucap Balqis.
"Kebencianku padamu sudah melampaui batas, Balqis."
"Kebencianmu hanya membuat cintaku abadi, Gasendra."
"Bawa anaknya!" perintah Gasendra kepada para pengawalnya.
"Tidak perlu. Putra Candrakumara akan pergi dengan sendirinya," ucap Balqis.
"Nadir Abiyyu," panggil Balqis pada putranya yang membuat Nadir segera melepaskan pelukannya dan berdiri di hadapan Balqis dengan kepala tertongak, memandangi wajah ibunya.
"Siapakah pejuang itu?" tanya Balqis.
"Dia yang tidak pernah gentar," jawab Nadir.
"Apa itu percaya diri?"
"Tanda kemenangan."
"Ketakutan?"
"Nama lain dari kekalahan."
"Siapa panutanmu?"
"Mahapatih Candrakumara Dewananda."
Balqis tersenyum bangga mendengar jawaban Nadir. Anak itu, mewarisi keberanian dari ayah dan ibunya. Sifatnya, sama persis seperti Candrakumara.
"Assalamualaikum," ucap Balqis.
"Waalaikumsalam, Ibu. Selamat tinggal," ucapnya seraya berjalan pergi meninggalkan ibunya. Anak itu belum cukup mengerti tentang apa yang terjadi sekarang.
Sedangkan Balqis terdiam dengan hatinya yang hancur karena dia harus berpisah dengan putranya. Tapi satu yang membuat dirinya tenang, karena Nadir adalah putra dari Candrakumara sehingga ibu mertuanya dan Ashwina akan mengurus anaknya dengan baik menggantikan dirinya.
***
Rizal tengah memeriksa rekam kriminal Bondan. Setelah selesai membacanya, Rizal memberikan berkas itu kepada atasannya.
"Pak, liat ini," ucapnya seraya meletakkan berkas itu di atas meja atasannya.
"Apa itu?" tanya Bima.
"Saya baca catatan penghukuman Bondan sekali lagi," ucap Rizal.
"Saya suruh kamu nangkap dia. Kenapa kamu baca catatan penghuman dia?"
"Dia melakukan 25 tindak kriminal kekerasan. Kenapa? Karena dia punya cacat pengendalian emosi. Tapi ada yang aneh."
"Apa?"
"Dari tahun 2013-2014, selama satu tahun itu... dia melakukan lebih dari 30 kasus pembobolan dan di sebuah Mall juga," ucap Rizal.
Bima kemudian mengambil berkas itu dan membukanya. "Kenapa?"
"Justru itu, ini semua nggak masuk akal buat dipikirin," ucap Rizal.
***
Hari ini adalah hari terakhir Zoya berlatih akting. Skill aktingnya terus bertambah dan menjadi lebih baik setiap harinya dan hari ini dia akan memperagakan salah satu adegan dari film yang akan dibintanginya.
Tetapi Zoya tidak melakukannya dengan serius dan malah tertawa sehingga membuat Zayn sangat marah.
"Apanya yang lucu?! Kenapa kamu malah ketawa? Apa ini cuma lelucon buat kamu? Kenapa kamu nggak ngerti?!" bentak Zayn pada Zoya.
"Aidan, dia nggak bisa jadi Putri Balqis kita. Dia nggak kayak Balqis sama sekali! Dia bodoh banget!" ucap Zayn lagi.
Dia kemudian berdiri dihadapan Zoya yang sudah berurai air mata dan mengguncang-guncangkan tubuh gadis itu dengan kasar.
"Aku tahu kamu bukan artis dan kamu nggak bisa akting, itu sebabnya aku bawa kamu kesini setiap hari buat berlatih akting. Setelah satu bulan, aku lihat akting kamu udah mulai bagus, tapi kenapa sekarang kamu malah ketawa-ketiwi?! Dasar bodoh! Mending kamu pergi dari sini!" ucap Zayn dengan suara tinggi.
Zoya segera pergi dari ruangan itu meninggalkan mereka semua seraya menangis.
Kebetulan disana sedang ada David dan dia sangat terkejut melihat anaknya memarahi gadis malang itu.
"Kenapa kamu malah bikin dia nangis sih?" ucap David kesal dengan tingkah Zayn.
"Zayn, kita semua udah nyoba! Tapi lo jangan marah-marah sama dia kayak gitu. Sekarang, cepet lo kejar dia dan kasih pengertian sama dia dengan baik-baik," ucap Aidan.
Merasa ucapan Aidan ada benarnya, Zayn seraya berlari dan mengejar Zoya. Dia menemukan Zoya di parkiran dan segera mengajaknya untuk berbicara. Mereka duduk di salah satu bangku yang ada disana, dan Zayn bersiap-siap untuk menceritakan semuanya.
"Kisah film yang bakal kita bintangin itu adalah kisah hidup aku pada kehidupan aku sebelumnya. Aku seharusnya ngasih tau kamu semua ini sebelumnya, Zoy. Karena tanpa mengerti luka aku, kamu nggak akan bisa jadi Balqis. Tapi gimana caranya aku ngasih tau kamu? Nggak bakal pernah ada yang percaya kisah aku! Mungkin kamu juga nggak bakal percaya," ucap Zayn.
"Aku nggak bakal percaya cerita kamu, Zayn? Waktu kamu loncat dari lantai 50 bangunan tinggi dan tetap bisa berdiri dengan 2 kaki kamu, aku percaya itu. Waktu kamu bisa menang ngelawan puluhan mafia yang badannya dua kali lebih besar dari badan kamu, aku percaya itu! Kamu terbang di langit, berlari diatas air, aku percaya semuanya Zayn! Terus gimana bisa kamu mikir kalo aku nggak akan percaya kisah kamu?" ucap Zoya.
"Zoya, aku minta maaf sama kamu. Aku bener-bener minta maaf," ucap Zayn.
"Nggak apa-apa. Masih ada waktu kok! Dan kali ini aku bakal nyoba dengan sepenuh hati aku, Zayn! Dan aku nggak bakal biarin kamu sedih lagi, aku janji," ucap Zoya lalu tersenyum.
Zayn sangat bahagia mendengar itu. Dia menarik tubuh Zoya mendekat padanya, dan mencium kening gadis itu dengan lembut.
***
Malamnya, Zayn tengah duduk di kursi dalam kamarnya sambil meminum sebotol bir.
"Zayn, kamu lagi ngapain?" tanya Zoya tepat di depan pintu kamar Zayn.
"Jangan masuk!" teriak Zayn dari dalam kamarnya. Dia tahu jika Zoya bertanya seperti itu, pasti gadis itu ingin masuk ke kamarnya.
"Iya," ucapnya seraya membuka pintu kamar dan masuk ke kamar Zayn tanpa menghiraukan ucapan laki-laki itu.
Zoya duduk di kursi yang ada di depan Zayn.
"Kamu tau artinya 'jangan masuk' kan?" tanya Zayn.
"Kamu lagi minum alkohol?" tanya Zoya basa-basi. Lagi-lagi dia tidak menghiraukan ucapan Zayn.
Zayn mengangguk.
"Aku tau kamu suka banget sama minuman alkohol," ucap Zoya.
"Aku udah terbiasa sama alkohol dari lima tahun yang lalu. Itu sebabnya, sekarang aku udah bisa ngendaliin diri supaya nggak terlalu mabuk," ucap Zayn sedikit menyombongkan dirinya.
"Kalo gitu, ajarin aku minum alkohol juga," ucap Zoya.
Zayn terkejut sama itu. "Kamu mau?" tanyanya.
Zoya mengangguk.
"Emang boleh?"
Zoya mengangguk lagi.
"Kamu mau minum sama aku?"
Zoya mengangguk.
Mereka berdua kemudian pergi menuju meja bar di rumah itu. Dia menuangkan alkohol itu untuk Zoya dan memintanya untuk bersulang.
Mereka berdua minum hingga menghabiskan 5 botol tentu saja Zoya hanya meminum 2 sampai 3 cangkir sehingga sampai sekarang dia masih bisa mengontrol dirinya. Berbeda dengan Zayn yang mulai kehilangan kesadarannya dan mulai berbicara ngawur dan tertawa tidak jelas. Zayn juga mengucapkan kata-kata yang sam berulang kali sehingga membuat Zoya bosan mendengarnya.
"Zayn," panggil Zoya.
"Apa?" teriak cowok yang membuat Zoya terperanjat kaget.
"Nggak boleh ada yang pergi dari rumah ini. Terutama kamu, kamu nggak boleh pergi dari sini," ucap Zayn yang mabuk seraya menunjuk ke arah Zoya.
Zoya menatap Zayn bingung.
"Aku nggak pergi. Lagipula aku nggak punya tempat tujuan," ucapnya.
Zayn mengambil handphonenya dan entah mengetikkan nomor siapa seraya bergumam, "Awas aja kalo kamu pergi, apalagi nggak ngecharge hp kamu. Aku udah jelasin sama kamu. Kalo nggak di rumah, kamu harus ada di samping aku. Tapi kamu nggak ngerti. Kamu nggak dengerin kata-kata aku."
Tiba-tiba handphone Zoya berdering, dia ingin mengambilnya tapi Zayn menahannya.
"Mau kemana? Jangan bergerak. Tunggu disini," ucap Zayn dengan masih menelepon Zoya. Tetapi dia malah marah-marah karena Zoya tidak mengangkat teleponnya.
"Dia nggak ngangkat telpon gue lagi!" gumam Zayn.
Gimana aku bisa ngangkat telpon kamu tangan aku dipegang kayak begini?, batin Zoya.
"Dia nggak pernah ngangkat telpon gue. Zoya! Gue nggak beliin lo handphone buat kayak gini," ucapnya seraya menelepon Zoya lagi.
Zoya ingin beranjak mengambil handphonenya tetapi Zayn memegang tangannya lagi agar dirinya tidak bergerak kemana-mana.
Dia kemudian memeluk Zoya dan berbicara ngawur lagi.
"Kamu nggak boleh pergi kemanapun!" ucap Zayn.
"Aku nggak bakal pergi, Zayn. Tapi aku mohon sama kamu, jangan terlalu candu sama alkohol. Kamu tau kan apa akibatnya?" ucap Zoya.
Tapi Zayn tetap bergumam dan memintanya untuk tidak pergi. Beberapa saat kemudian, dia tertidur di pelukan Zoya.
Karena badannya pegal menyangga tubuh Zayn, Zoya berusaha memanggil Aidan dan memintanya untuk membawa Zayn ke kamarnya tetapi Aidan tak kunjung bangun. Akhirnya, dengan sangat terpaksa Zoya menyeret Zayn dan membawanya ke sofa ruang tamu karena jaraknya kebih dekat ketimbang harus menyeret Zayn ke kamarnya.
Setelah berhasil meletakkan Zayn diatas sofa, Zoya mengambil bantal dan selimut untuk cowok itu. Setelah itu, dia juga tertidur di sofa yang ada di depan Zayn.
***
Bersambung...
Next up. 😉
Semangat untukmu. 😊
Salam manis dari STILL IN LOVE. 💖
Ditunggu kelanjutannya. 😉
Salam manis dari Still In Love. 😊
maaf baru bisa mampir
Jangan lupa mampir dikaryaku
Aisyah Aqila ya...
Semangat menulisnya
Salam dari LOVATY
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
hmmm...