"Kau adalah milikku! Kau sudah membuatku tertarik menjadikanmu kekasih ku, jadi kau harus tahu diri dan jangan coba-coba untuk melarikan diri!" Lennox menangkup wajah gadis cantik itu, lalu mencium bibir ranumnya dengan seduktif.
Memiliki seorang kekasih yang merupakan seorang mafia bukanlah hal yang indah dan mudah seperti sebuah kisah cinta dongeng Cinderella yang diceritakan!
Dia adalah putra salah satu mafia terbesar yang ada. Dia terus memaksaku untuk menjadi kekasihnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dnrfitri_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
"Apa? Dasar gila! Seenaknya kau menyuruhku menanggalkan pakaian di depanmu. Aku tidak akan melakukan itu! Kau pikir kau siapa berani memintaku melakukan hal serendah itu?!" Serena membentak keras sembari memundurkan langkahnya hingga punggungnya mentok ke dinding.
"Baiklah. Jadi, kau tidak ingin menanggalkan pakaianmu?" Lennox merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah pistol dan menodongkannya ke arah Serena.
Serena tercengang, menelan ludahnya susah payah. Namun, pertahannya tidak akan runtuh.
"Sekalipun kau membunuhku, aku tidak ingin menelanjangi diriku di depanmu!"
"Kau tahu, hanya kau saja wanita yang berani mengatakan itu pada seorang Castro. Sudah banyak sekali penolakan darimu. Apa kau tidak takut mati di tanganku?"
"Sama sekali tidak. Bahkan aku tidak takut jika kau menarik pelatuk pistol mu ke kepalaku," balas Serena.
Raut wajah Lennox berubah keruh. "Kau menantang ku?"
Sambil merapatkan rahangnya, Lennox berdiri dan masih menodongkan pistol itu ke kepala Serena. Dia sudah sangat kesal Serena selalu menolak permintaannya.
"Inilah kau yang asli? Kau terus memaksaku untuk menjadi kekasih mu hanya untuk menjadikannya budak yang memuaskan seks mu?"
Meski berusaha berani, namun Serena tidak bisa menyembunyikan ketakutan yang terpancar melalui sorot matanya saat jemari Lennox hampir saja menarik pelatuk itu.
"Satu ... dua ... ti-" Serena langsung memejamkan mata dan berpasrah diri bila malam ini adalah akhir hidupnya.
"Ga!"
Serena menahan napas, berpikir peluru itu akan menembus kepalanya dan menghancurkan otaknya.
Akan tetapi, tidak ada satu pun suara tembakan. Hal itu membuat mata Serena kembali terbuka dan menatap Lennox yang sedang menatapnya sambil menyunggingkan senyum smirk.
"Bertingkah sok berani, padahal kau sangat ketakutan. Karena kau menolak melakukan perintahku, maka jangan salahkan jika aku memaksamu," ucap Lennox, melempar pistolnya ke sofa yang tadi ia duduki, kemudian melepas jas hitam yang ia kenakan dan melemparnya ke sembarang arah.
Serena mengerutkan kening. Matanya melebar panik. Tiba-tiba saja Lennox merenggut tangannya dan menariknya dengan kasar, kemudian menyudutkannya ke dinding, sembari mengungkung kedua tangan Serena di sisi kepala wanita itu.
"L-lepaskan aku!"
"Permintaan yang sangat bodoh. Siapa pun wanita yang datang ke mansion ku, tidak ada yang bisa keluar dari sini kecuali jika dia mati," bisik Lennox sambil menyeringai.
Detak jantung Serena memompa kuat. Antara takut dan panik.
SRET! SRET!
"Aaakhh!"
Serena menjerit kala tangan pria itu menarik paksa baju yang ia kenakan hingga kancing atasnya lepas.
Dengan gerakan cepat, Lennox berhasil meloloskan baju murahan warna hitam yang Serena kenakan.
Baju itu kini teronggok di bawah kaki kanan Serena. Sementara gadis belia itu hanya dilindungi oleh penyangga dadanya serta celana dalamnya yang berwarna senada.
"Coba lihat dirimu di sana!" Lennox merenggut rambut Serena, menariknya dan membawa gadis itu untuk menghadap pada cermin di meja rias.
"Aww... shhh... sakit. Lepaskan rambutku!" Serena mencoba melepaskan tangan Lennox, namun pria bengis itu tidak merenggangkan sedikit pun jambakannya.
"Lihatlah betapa tidak menariknya tubuhmu yang kurus ini. Sama sekali tidak menggiurkan sebenarnya. Bahkan, jika aku membawamu untuk dijual di tempat lelang, aku ragu para konglomerat itu ingin membayar mu meski dengan harga yang murah. Tapi dengan tubuhmu ini, kau berani menindas harga diriku yang menerima penolakan beberapa kali." ejek Lennox sambil berdesis di samping wajah Serena.
Hembusan napas Lennox yang hangat menerpa kulit wajah Serena. Tapi Serena berfokus pada rasa sakit di rambutnya.
𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚌𝚞𝚖𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚊𝚠𝚊𝚕 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚑𝚒𝚛 𝚌𝚎𝚝𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚍𝚒𝚔𝚒𝚝 𝚕𝚊𝚖𝚋𝚊𝚝🙏 𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 thor