Pernikahan yang terjadi karena kesepakatan membuat hubungan itu harus di rahasiakan.
Namun seiring berjalannya waktu kabar pernikahan itu akhirnya pun banyak yang mengetahui.
Hidup bersama tanpa cinta hanya akan menyakiti hati satu sama lainnya.
Bagaimanakah kelanjutan rumah tangga mereka?
Akankah cinta bisa tumbuh diantara keduanya?
Atau malah harus berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfin Maghfiroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Pagi yang cerah kembali menyapa, Wulan sudah terlihat segar sehabis mandi. Wajahnya yang masih polos tanpa sentuhan makeup terlihat sangat cantik dengan rambutnya yang masih setengah basah.
Wulan menggunakan kaos pendek dan rok selutut membuatnya tampak terlihat sangat feminim dan anggun.
Wulan meletakkan handuknya dan hendak mengambil sisir yang menyisir rambutnya, tiba-tiba ia mendengar suara tangisan si kecil dari lantai atas.
"Ya Tuhan, aku lupa kalau di rumah ini ada bayi. Dan aku malah santai-santai di sini"
Wulan langsung membuang sisirnya begitu saja dan segera berlari ke lantai atas menuju kamar si kecil.
Begitu membuka pintu Wulan di huat terkejut melihat wajah Abi yang murung dan terlihat sangat lesu. Matanya merah terlihat jelas kalau ia sangat mengantuk.
"Tuan...." Sapa Wulan "Ada apa dengan tuan, kenapa wajah tuan terlihat sangat lesu?"
Tanpa menjawab dan hanya dengan tatapan kosongnya Abi memberikan si kecil pada Wulan. "Urus dia" ucapnya lalu keluar dan pergi ke kamarnya
Si kecil yang dari tadi menangis langsung terdiam saat berada dalam dekapan Wulan.
"Cup cup cup, sayang. Kenapa kamu menangis, kamu lapar ya onty buatkan susu ya...." Wulan meletakkan bayinya dan segera membuat susu baru.
Selepas menyusu dengan tenang hingga kenyang, Wulan lalu menyiapkan air hangat untuk mengelap tubuh mungil itu. Wulan memilih menyegarkan tubuh bayi itu dengan hanya di kompres saja, karena untuk memandikannya Wulan masih belum berani.
Kini si kecil sudah tampak sangat cantik dengan setelan baju yang berwarna pink lengkap dengan kacamata mini nya. Wulan pergi keluar untuk mendapatkan sinar matahari pagi.
"Menurut yang onty pelajari di YouTube, kamu itu perlu di jemur setiap pagi. Gimana rasanya, enak bukan...." Wulan berbicara dengan si kecil seakan si kecil mengerti apa yang ia katakan.
Saat si kecil sudah kembali tertidur Wulan bergegas turun dan pergi ke dapur untuk memasak. Ia mengambil celemek dan mulai bertempur dengan peralatan memasak.
Pagi ini Wulan membuat sarapan yang simpel namun tetap enak, masi goreng bakar pedas manis. Dari aromanya saja sudah sangat menggugah selera.
Selesai menyajikan di meja makan Wulan pergi ke kamar Abi untuk menyuruhnya sarapan. Wulan mengetuk pintu berulang ulang namun tak juga ada sautan dari Abi.
Wulan lalu mengintip dari celah pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Ternyata Abi sedang tertidur pulas di atas kasur besarnya.
"Udah jam segini kok tuan Abi masih tidur. Apa dia ga mau ke kantor ya hari ini? Eh tapi terserah dia juga, dia kan yang punya perusahaan"
Wajah polos Abi saat tidur terlihat begitu tampan, wajah garang dan cuek tidak terlihat tertutupi dengan kepulesan tidurnya.
"Aku bangunin atau apa tidak ya? Ah biarlah, biarkan dia tertidur sampai kapan pun dari pada dia bangun dan hanya akan membuatku jengkel dengan semua perintahnya"
Wulan menutup pintu pintu kamar Abi dan segera turun untuk sarapan. Setelah itu sambil menunggu si kecil bangun Wulan melanjutkan untuk berkemas dan beberes.
Jarum jam kini sudah menunjukkan pukul 10. Wulan bersantai sambil bermain bersama si kecil. Tiba-tiba bel rumah berbunyi, segera Wulan turun untuk membuka pintu.
Ini adalah kali pertama Rendy melihat Wulan tanpa seragam kerja, rambutnya yang di biarkan tergerai sedikit terombang ambing di terpa angin. Penampilannya memang sederhana namun bisa memikat mata.
"Pak Rendy, ada apa kemari?" Tanya Wulan yang sontak langsung menyadarkan Rendy
"Apa tuan Abi ada di rumah, nona"
Wulan terkejut karena Rendy berbicara dengan formal dan sopan padanya pun juga memanggilnya dengan sebutan nona.
"Ada, tuan Abi ada di kamarnya. Mari masuk"
Rendy berjalan tepat di belakang Wulan, bau harum dari rambut Wulan tercium di hidungnya. Rendy memang menyadari bahwa sedari pertama kali melihat Wulan ia mengakui bahwa Wulan memang cantik. Dan hari ini Wulan terlihat lebih cantik dari sebelumnya.
"Sebenarnya tuan Abi sedang tidur dan saya tidak berani membangunkannya. Pak Rendy busa kan bangunin sendiri"
Rendy tetap diam dan matanya tetap fokus pada Wulan. Wulan lalu menjentikkan jarinya barulah Rendy sadar. "Eh iya nona, kenapa?"
"Pak Rendy ga papa?"
Rendy menggeleng kepalanya "Tidak papa nona, di mana tuan Abi?"
"Tuan Abi ada di kamarnya"
"Baiklah nona" Rendy lalu segera pergi menuju kamar Abi.
"Pak Rendy kenapa, pasti banyak nya pekerjaan hingga membuatnya begitu" batin Wulan lalu kembali ke kamar si kecil
Sedangkan Rendy yang masih berdiri di depan kamar Abi mengusap wajahnya "Apa ini, kenapa aku memikirkan istri tuan Abi? Dasar gila" gerutunya pada dirinya sendiri
_____
Di kantor Abi semua teman Wulan masih risau akan keberadaan Wulan. Tak satupun dari mereka yang tau kalau Wulan sudah di nikahi oleh Abimana Artha Wijaya.
Revi terus-terusan mencoba menghubungi Wulan namun selalu tidak aktif. Mereka juga tidak ada yang tau Wulan tinggal dimana.
Sore ini sepulang kerja Revi, Ari dan Eka berniat untuk mencari kontrak tempat tinggal Wulan. Karena sejak ia di bawa pergi oleh Abi Wulan tak lagi masuk kerja, Wulan seperti hilang di telan bumi.
Begitu pun dengan Abi Yapto tidak datang ke kantornya seperti biasanya.
"Kenapa kita ga nanya aja sama pak Rendy. Pak Rendy pasti tau tuan Abi membawa Wulan kemana" usul Revi
"Iya juga ya, secara kan pak Rendy adalah kaki tangan tuan Abi" sambung Eka
"Emangnya kalo kita nanya sama pak Rendy, pak Rendy bakal ngasih tau kita, gitu? Ga semudah itu ferguso" ujar Ari
"Iya juga ya. Eh tapi apa salahnya kita coba tanya, ya siapa tau pak Rendy sedang berbaik hati dan mau kasih tau"
"Ya udah gih, noh pak Rendy ada di luar" Ari menunjuk dengan jemarinya keluar gedung. Di sana pak Rendy hendak masuk ke mobilnya
Eka dan Revi segera berlari namun belum sampai di parkiran mobil Rendy sudah melesat dengan cepat.
"Yah, pak Rendy.... Pak, tunggu pak. Pak Rendy...." Teriak Revi dan Eka, namun apalah daya suara mereka tidak terdengar oleh Rendy lantaran di luar memang sedang ramai.
"Ish pak Rendy main pergi pergi aja. Masak dia ga denger kita teriak teriak kenceng kek gini" gerutu Revi dengan nafasnya yang ngos-ngosan
"Kalo gitu kita samperin aja ke rumahnya, gimana" usul Eka
"Samperin samperin, emangnya lu tau rumahnya pak Rendy dimana?" celetuk Ari dari belakang
"Heh lu barusan kok malah diem sih ga ngejar pak Rendy. Lu kan laki, kaki lu lebih ceper dari kita" tegur Revi sambil menepuk lengan Ari
"Iya ih, lu malah diem bae di sono" timpal Eka
"Bukannya ga mau ngejar, tapi emang posisi kita aja yang jauh. Jadi mau lari kek gimana pun ya ga bakal kesusul tuh pak Rendy"
Hari ini mereka tidak jadi bertanya pada Rendy, jadi mereka masih harus menunggu esok.
BERSAMBUNG
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Kak author selalu di nanti UP karyanya 👍