Dalam imajinasiku, wajah Henri yang bagian kiri sangatlah buruk, jadi dia memakai topeng.
Rania POV
Aku tulus mencintaimu Tuanmuda, walaupun orang menganggap mu hanya seorang monster.
Cintaku tanpa syarat, itulah yang aku rasakan dengan suamiku.Disaat orang - orang menatapnya dengan tatapan takut.
Tapi aku justru,selalu ingin dekat dengannya.Karena aku sangat mencintainya, walaupun ia selalu meragukan perasaanku padanya.
Karena ia mengira perasaan cintaku, hanya rasa kasian ku padanya, akibat wajahnya yang buruk rupa.
Henri pov.
Apakah dia betul-betul mencintaiku, atau rasa kasian,karena kami menikah atas dasar paksaan dariku, sebab orang tuanya mempunyai banyak hutang padaku.
Tapi aku tidak pernah berharap dia mencintaiku, karena aku menyadari kekuranganku,dengan wajahku yang bak monsther, tidak mungkin ada wanita yang mau mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon popyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.18.Malam pertama.
🏘️ Kediaman Wilson🏘️
Henri membaringkan istrinya di atas ranjang, tanpa melepaskan ciuman mereka.
Tangannya mulai melepaskan pakaian yang melekat ditubuh sang istri, begitu pun juga dengan dirinya.
" Tuan..."Panggil Rania, dengan pandangan yang sudah diliputi oleh gairah.
Henri mendongakkan kepalanya, saat mendengar panggilan istrinya.
" Kenapa."Jawabnya pelan
" Bisakah kau melepaskan topengmu, saat kita melakukannya itu." Pintanya.
" Apakah kau tidak masalah, melihat wajah burukku Rania?"
Tersenyum, dan mengecup sekilas bibi Suaminya.
" Tidak Tuan, aku sama sekali tidak takut." Jawabnya tersenyum.
Henri melepaskan topengnya, dan kembali melanjutkan aksinya.
Mereka kembali berciuman dengan penuh gairah, ciuman yang mewakili perasaan mereka masing - masing, yang di salurkan lewat aktifitas ranjang.
Henri mulai menelusuri setiap jengkal tubuh istrinya, dan meninggalkan jejak kemerahan di sana.
Kini pandangan lelaki tampan itu, terpusat pada inti dari permainan mereka.
Henri menatap istrinya, yang wajahnya tampak sedikit pucat.Disaat mereka akan ke inti dari permainan mereka.
" Kau kenapa Rania?" Tanya Henri, yang melihat wajah istrinya, berubah pucat.
" Aku takut Tuan, karena ini yang pertama bagiku." Jawabnya, tersenyum malu.
Mendengar perkataan Rania, ada rasa bahagia didalam diri lelaki tampan itu, dan ia terlihat begitu bahagia.
" Percayakan semua padaku, aku akan melakukannya dengan lembut." Serunya, menenangkan Rania.
" Lakukanlah Tuan, aku percaya padamu.Malam ini aku sepenuhnya, menjadi milikmu."
Henri hanya diam, dan tidak menjawab ucapan istrinya.
Malam yang semakin larut, membuat ia tak bisa menahan diri lagi, apalagi kini mereka sama -sama dalam keadaan polos.
Walaupun belum mengetahui perasaan masing - masing, tapi tidak menyulitkan keduanya untuk mencapai kenikmatan.
Dan hanya ada desahan - desahan kenikmatan yang lolos dari bibir mereka masing - masing.
" Tuan.." Panggil Rania pelan, saat mereka sudah selesai dengan aktifitas ranjang mereka.
" Kenapa Rania?"
" Apakah kau akan meninggalkanku, di saat wajahmu sudah kembali seperti dulu?"
" Tidurlah kau pasti lelah, jangan berpikir macam - macam.Besok aku minta, kau menemaniku untuk menemui Dokter Iwan, aku akan melakukan konsultasi dengannya."
" Baik Tuan." Jawabnya tersenyum.
Rania mendekatkan dirinya, dan memeluk erat tubuh Suaminya.Aroma Tubun pria tampan itu, terasa candu buat dirinya saat ini.
" Aku sangat mencintaimu Tuan, semoga saja jika wajah mu sudah kembali, Kau tidak akan meninggalkanku, atau menyuruh ku pergi dari rumah ini, karena aku tidak bisa jauh dari mu Tuan." Bathin Rania yang begitu risau, sembari memeluk erat tubuh suaminya.
🏥 Rumah sakit🏥
Sinar matahari pagi telah menampakkan wajahnya, pada Bumi.Hingga kegelapanpun menghilang, dengan pancaran cahayanya.
Kini mereka sudah berada dirumah sakit Medica, tempat dimana Henri akan melakukan bedah plastik.
" Silahkan masuk Tuan - Tuan , Nyonya, Dokter Willi sudah menunggu diruangannya." Seru seorang perawat, pada ketiga orang dewasa itu.
Henri, Rania, dan Jhon langsung berjalan menuju ruangan Dokter Iwan, salah satu Dokter specialis bedah plastik di Inggris.
" Selamat pagi Tuan muda Henri..?" Sapa, sang Dokter.
" Selamat pagi Dokter."
Willi sang Dokter tampan terus menatap Rania, yang tengah tersenyum ramah padanya. Henri yang menyadari keadaan, seketika langsung memeluk erat pinggang istrinya dengan begitu posesif, hingga membuat wanita cantik itu meringis kesakitan.
" Dia istriku Rania." Serunya, dengan sorot mata kesal, menatap Willi.
" Maaf aku pikir, dia saudara atau keponakan anda Tuan Henri, dan sepertinya istri anda masih sangat muda."
" Kau kan tau, aku tidak mempunyai Kakak, atau adik Dokter, mana bisa aku punya keponakan."
' Maf Tuaann." Jawab Dokter Willi, dengan tersenyum.
Jhon yang menyadari suasana tengah tegang di antara mereka, seketika langsung berbicara, untuk mengalihkan keadaan.
" Oh iya Dokter, kami kesini ingin berkonsultasi dengan anda. Karena Tuan Henri, ingin segera melakukan operasi pada wajahnya.
sayang kan kalau cerita bagus, tapi bahasa ga enak dibaca, bikin males.