NovelToon NovelToon
Kawin Gantung

Kawin Gantung

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti / Tamat
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Asviana

Leon dan Valeri bertemu saat gadis kecil itu baru terlahir ke dunia. Ibu mereka yang bersahabat sejak remaja, membuat kedua orang tua itu sepakat untuk menjodohkan Leon Orlando dengan Valeri Elmira.

Rentang usia empat tahun, seolah tak jadi soal bagi kedua sahabat itu untuk menjodohkan anak-anak mereka.

Dan, di sinilah Leon dan Valeri berada.

Leon yang kini berusia tujuh tahun, tengah memangku seorang gadi kecil berusia tiga tahun. Mereka tengah duduk di pelaminan dengan memakai baju pengantin.

Ya, kedua anak kecil itu akan segera melangsungkan pernikahan mereka. Kawin gantung. Itulah istilah yang orang-orang gunakan untuk menamai pernikahan kedua anak di bawah umur itu.

Setelah dewasa, akankah kedua anak itu menerima takdir yang sudah digariskan oleh kedua orang tua mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KG18

Hampir lima jam Valerie meninggalkan Leon di rumah sakit bersama Nico. Gadis itu pun bersiap untuk kembali ke rumah sakit.

Sementara itu, Leon dan Nico sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Tak ada pembicaraan lagi setelah perdebatan mereka sesaat sebelum Valerie pergi meninggalkan kedua pria itu.

Nico mengatakan Leon sebagai pria tak tau diri. Sedangkan Leon mengatakan kalau Nico adalah seorang pengecut karena tak berani mengutarakan isi hati.

Dan di tengah kebisuan yang terjadi antara Nico dan Leon, Valerie pun tiba di sana.

Melihat Valerie berjalan dari kejauhan, Nico gegas menghampiri gadis itu sembari berlari kecil.

“Cih, langsung nyamperin!” gumam Leon.

“Tapi, itu bocah berisik bisa-bisanya tidak peka dengan perasaan orang yang dia anggap sahabatnya? Dasar bocah beg*! Klop deh kalian berdua. Sama-sama beg*!”

Nico yang sudah tiba di hadapan Valerie, seketika menggelengkan kepalanya.

“Bawa apa aja lu? Banyak amat?” tanya Nico seraya membantu membawakan barang bawaan Valerie yang begitu banyak.

“Ini ada pakaian ganti buat Bang Leon dan juga makanan untuk kalian,” jawab gadis itu. Nico dan Valerie pun berjalan menghampiri Leon yang sedari tadi terus memerhatikan gerak-gerik Nico dan Valerie yang terlihat begitu serasi di matanya.

“Apa gue harus membantu si bocah tengil itu supaya jadian dengan si bocah berisik? Siapa tau kalau mereka jadian, gue terbebas dari perjodohan si*lan ini. Hubungan gue dengan Mami dan Papi pun jadi membaik. Mengenalkan Alexa pun jadi lebih gampang.”

Leon mengangguk dengan pasti. Sebuah keputusan baru saja dia ambil. Dia akan membuka mata Valerie agar bisa melihat cinta Nico yang begitu besar untuk gadis itu.

“Gue perhatikan, lu berdua serasi juga,” ujar Leon, begitu Valerie dan Nico berada di hadapannya.

Valerie refleks menoleh pada Nico yang berdiri cukup mepet dengan dirinya. Gadis itu langsung mengambil jarak dan duduk di samping Leon. Sementara Nico ikut duduk di samping Valerie.

Karena jam makan siang hampir usai, Valerie pun mengeluarkan makanan yang dia bawa.

“Yang ini bekal buat lu dan yang ini buat Bang Leon,” ucap Valerie dan membagi kedua kotak bekal untuk kedua pria itu.

“Cuma dua saja? Makanan buat lu mana, Ri? Lu sudah makan belum?” tanya Nico.

“Cih, perhatian. Jadiannya kapan?” ejek Leon.

Mata Valerie melotot. Gadis itu pun memukul lengan Nico dengan kencang, “apa sih lu sok-sok perhatian. Jangan membuat Bang Leon salah paham deh!” ucap gadis itu kesal.

Valerie pun merubah arah duduknya hingga membelakangi Nico dan menghadap ke arah Leon.

“Ikan Remora memang suka begitu, Bang. Kerjanya cuma mengajak Erie bertengkar!”

“Masih mending suka ngajak bertengkar. Daripada gak tau diri kayak pangeran bertopeng ini!” celetuk Nico.

Nico memang sudah sejak lama merasa geram dengan perlakuan Leon pada sahabatnya— Valerie.

Valerie kembali memukul lengan Nico dan meminta sahabatnya itu untuk diam dan tak banyak bicara. Gadis itu tak mau mood Leon bertambah kacau karena merasa cemburu. Valerie juga tidak mau jika Leon kembali tak berselera makan karena mood pria itu semakin buruk.

“Sudah Bang, jangan dengarkan dia. Ini makanan buatan Erie. Sudah lama kan Bang Leon tidak makan masakan buatan Erie. Ayo Bang, makan.”

Mencium aroma masakan yang dibawa oleh Valerie, selera makan pria itu pun bangkit. Leon pun mengambil kotak bekal yang dipegang oleh Valerie dan langsung menyantapnya.

“Katanya gak selera makan, tapi lahap bener kelihatannya,” sindir Nico.

Leon tak menggubrisnya. Pria itu terus menikmati makanannya. Valerie pun tersenyum lebar melihatnya.

“Ini buat lu saja, Rie,” ujar Nico seraya memberikan kotak bekalnya. Leon menghentikan suapannya. Pria itu menatap Valerie.

Benarkah gadis itu belum juga makan karena sibuk mencarikan makanan untuknya?

“Memangnya lu belum makan?” tanya Leon tak percaya.

“Sudah kok, Bang. Malah Erie sudah tidur sekitar satu jam, tadi.”

“Pehatian yang salah tempat,” ejek Leon pada Nico.

Nico menatap kesal, pria itu pun menarik kembali tangan yang tadi dia sodorkan. Sementara Valerie semakin tersenyum lebar karena melihat tingkah Leon.

Bang Leon dari tadi cemburu terus. Bukankah tu artinya kalau cinta Bang Leon semakin besar.

Ada gunanya juga ini si Ikan Remora. Gak sia-sia gue menahan derita selama ini dekat-dekat dengan dia.

Valerie bersorak gembira dalam hatinya. Senyum gadis itu semakin lebar. Melihat gelagat aneh sahabatnya, Nico pun tau kalau Valerie tengah berkhayal.

“Jangan berkhayal terlalu tinggi, Ri. Nanti, kalau jatuh, tulang lu bisa remuk,” ucap Nico.

“Berisik lu!” ketus Valerie.

Dan, malam itu, Valerie kembali menemani Leon di rumah sakit. Sementara Kevin, diminta Leon untuk beristirahat di kediaman mereka. Leon tak mau kesehatan ayahnya menurun karena harus mengurusi perusahaan sekaligus menunggui sang ibunda di rumah sakit.

“Bang Leon tidur di kamar saja. Jangan tidur di kursi tunggu lagi seperti kemarin malam,” ujar Valerie.

Kevin memang telah memesankan sebuah kamar VIP untuk mereka beristirahat ketika malam. Namun Leon tak mau beranjak dari depan kamar isolasi di mana sang ibu di rawat.

“Dokter atau perawat pasti akan memberitahu kita jika mami sadar, Bang,” bujuk Valerie.

“Sudah, lu jangan berisik! Kalau mau tidur, pergi saja sana!” ketus Leon. “Lagian gue juga ogah satu kamar bareng lu!”

“Oh iya ya, Bang. Erie baru terpikirkan kalau kita tidur sekamar, hehe ... Ayo Bang, kita tidur sekamar,” goda Valerie.

Leon tak mau menanggapi. Pria itu bahkan malas untuk menatap Valerie. Yang ada dalam pikirannya hanyalah kesehatan sang ibunda. Leon bahkan melupakan Alexa. Padahal, biasanya, setiap hari Leon memberikan kabar pada gadis itu walau Alexa tak pernah menanyakan kabar Leon sekalipun.

Malam berganti pagi.

Tak seperti kemarin, Nico sudah tiba pagi-pagi sekali di rumah sakit. Valerie bahkan belum tersadar dari tidurnya. Nico yang sudah tau di mana kamar tempat Valerie menginap, langsung menuju ke ruangan tersebut.

Pria itu terlihat mengembuskan napas panjang sembari menatap Valerie. Kelihatannya gadis itu benar-benar merasa lelah. Nico pun membenahi selimut yang Valerie kenakan. Mengelus-elus kepala gadis itu agar Valerie tak cepat terjaga.

“Padahal, sewaktu orang tua lu koma di rumah sakit, pria itu tidak ada di samping lu, Ri. Tapi, kenapa lu harus menemaninya, sekarang? Lu bahkan memasak untuknya tak peduli kalau badan lu kelelahan. Kenapa cinta lu bisa sebesar itu untuk pria yang bahkan tak mau menatap lu, Ri?”

Kembali Nico menghela napas panjang. Hatinya terasa begitu sakit setiap kali Valerie menunjukkan perhatiannya untuk Leon. Pria yang menurut Nico tak layak mendapatkan Valerie.

“Andai lu jatuh cinta pada pria yang juga mencintai lu, gue pasti ikhlas, Ri. Tapi, lu jatuh cinta pada orang yang salah, Valerie. Lu jatuh cinta pada orang yang salah. Apa dia bisa membahagiakan lu, nanti? Apa dia bisa menjaga lu sebaik gue menjaga lu? Apa dia bisa mencintai lu sebanyak cinta gue untuk lu?”

Hati Nico bagai tercabik-cabik. Begitupun hati seorang gadis yang mendengar ucapan pria itu dari balik pintu.

Haruskah aku menanyakan hal yang sama kepadamu, Nic? Apa Erie bisa memberikan cinta sebanyak cinta gue untuk lu?

1
RieNda EvZie
/Good//Good//Good//Good//Good/
Niè
keren si Nico iihhh....drpd leon..
Niè
gedeg yaa....eman2 valerie....
Namika
bacaan bagus..
Namika
perjuangan cinta valerie yg ugal2an ahirnya hepi ending..
Namika
keluarga besarrr
syumkia
lah Mak..
lalu lanjut d mana Mak
Namika
gws mamak
Namika
😂😂😂
Rita Riau
kebaikan tak akan pernah sia sia permata tak akan kalah walaupun ditimbun kaca,,,
Rita Riau
cuekin aja Rei suami rese mu itu biar dia tau rasa 🤔🤭
Rita Riau
nah ini dia yg ku tunggu" si Leon ketangkep basah terus nyebur ke air comberan,,, tinggalin pergi aja Rei
Rita Riau
nah bener kan Leon nemuin si Alexa,,
kasihan bgt Erie yg di bohongi Leon
awas Leon kamu bakalan nyesel 🤔🤭
Rita Riau
apa mgkin Leon pergi nemuin Alexa
awas ntar ada penyesalan 🤔🤭
Rita Riau
kayak nya ada rencana tersembunyi si Leon ,,, 🤔🤭
Rita Riau
yah,,,, kasihan Erie dgn cinta tulus nya,,,, selagi Erie belum capek ngejar Leon,,,ntar kalo Erie udah diem baru Leon sadar 🤔🤭
Rita Riau
sekarang Leon nolak tapi nanti Leon posesif,,, biasa lah di awal cerita 👍🏻🥰🥰
Rita Riau
nunggu waktu lama tuch baru bisa unboxing 🤔🤭😁🥰
@sulha faqih aysha💞
sebelumnya Valerie di nyatakan hamil 12 Minggu kok ini hamil 9 Minggu yang bener yg mana 🤔
Rita Riau
seru,,, persahabatan jadi besan,,,
perjodohan,,, awal ngelak ujung bucin. diri ku mampir Thor 🙏🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!