Stella Vivian mendeklarasikan dirinya sebagai wanita yang bisa menaklukan seratus pria sekaligus. Wajah cantik dan bentuk tubuhnya memang tidak diragukan lagi, hingga ia dengan mudahnya mendapatkan pria mana pun yang ia inginkan.
Stella Vivian tidak menyia-nyiakan kecantikan yang ia miliki, Ia memanfaatkan kecantikannya itu untuk menggaet para pria kaya, mulai dari pria single hingga pria beristri sekali pun. dan kemudian ia akan hidup bermewah-mewahan dengan uang yang ia dapat dari pria-pria tersebut.
Namun, suatu hari kekacauan terjadi saat pria yang ia goda dan membuat hatinya luluh ternyata adalah suami kakak angkatnya sendiri.
Apakah Stella Vivian akan menyerah dan menjauhi pria tersebut demi saudarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MANA ADA PRIA YANG SETIA
Vivian segera mencubiti pinggang Anita begitu mereka telah tiba di dalam unit apartemen milik Vivian. Vivian bahkan tidak memedulikan keluhan yang keluar dari bibir Anita. Ia terus saja mendaratkan cubitan di pinggang sahabatnya itu, bahkan sesekali Vivian menjambak rambut Anita. Walaupun tidak terlalu keras, tetapi tetap saja sebuah jambakan akan terasa sakit.
"Argh, apa yang kamu lakukan, Vi," rintih Anita saat ia sudah tidak tahan dengan apa yang Vivian lakukan.
Vivian yang sudah merasa lelah walaupun belum puas menyakiti Anita segera menjatuhkan bokongnya di sofa yang ada di ruang tamu. Lenguhan lantas terdengar dari bibir Vivian saat ia kembali merasakan nyeri di pergelangan kakinya yang terkilir.
Melihat Vivian yang kesakitakan, Anita segera mendekat. "Aku akan mengompresnya."
"Tidak usah. Sama sekali tidak perlu," ujar Vivian dengan sengit. Ia terlihat kesal.
Anita menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia tidak tahu kenapa Vivian bersikap bermusuhan dengannya. Seingatnya, ia tidak melakukan kesalahan apa pun sejak pagi.
"Ada apa, Vi, apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu kesal?" tanya Anita, dengan wajah yang terlihat bersalah.
Vivian menghela napas, ia merasa tidak enak melihat ekspresi di wajah Anita. Namun, memang ia sedang kesal saat ini, dan sulit sekali menyembunyikan kekesalannya.
"Katakan saja. Jika memang aku melakukan sesuatu yang membuatmu kesal, aku pasti akan memperbaiki kesalahan tersebut," ujar Anita lagi.
Vivian mendengkus, kemudian ia berkata. "Kenapa kamu laju sekali mengendarai mobil saat di gym tadi? Kalau saja tidak ada Darius, mungkin kakiku sudah patah, Nit, bukan hanya terkilir."
Anita menepuk dahinya dengan keras. Kini ia tahu alasan di balik kekesalan Vivian. "Ah, itu, maafkan aku. Aku gugup sekali sampai-sampai tidak ingat untuk menginjak rem. Sungguh aku tidak sengaja.
Vivian mendelik. Rasanya tidak masuk akal sekali jika Anita yang jago berkendara tiba-tiba saja merasa gugup.
"Kita kan sudah melakukan brifing semalaman. Kita sudah sepakat kalau kamu akan berkendara melewati jalan kosong di sampingku, bukannya berkendara di jalur tempatku berdiri. Aku bisa mati kalau begitu caranya, Nit." Vivian masih mengomel.
Anita mendekat ke Vivian dan duduk di samping wanita itu. "Aku sungguh minta maaf. Aku sama sekali tidak sengaja melakukannya. Aku benar-benar gugup saat aku harus berkendara tepat di tempatmu berdiri. Walaupun kita telah brifing semalaman, tetap saja menjalankan praktiknya tidak semudah saat kita berdua menjabarkan teorinya. Maafkan aku, ya, ya, ya."
Vivian mengangguk. "Baiklah, lupakan saja. Toh, aku tidak apa-apa sekarang."
Anita memeluk Vivian sambil menjerit. "Aaah, terima kasih, Vivian sayang. Aku janji lain kali aku akan lebih profesional lagi dalam menjalankan tugas-tugas yang kamu berikan. Terutama jika kita harus melakukan adegan extrem."
Vivian berdecak. "Tidak ada lain kali untuk hal-hal seperti ini, karena aku tidak ingin menjalankan rencana berbahaya seperti ini lagi," ujar Vivian.
Apa yang Vivian katakan itu memang benar adanya. Ia tidak ingin menjalankan misi yang membahayakan nyawanya lagi demi apa pun, bahkan demi Darius sekalipun.
"Oh, ya, tapi ngomong-ngomong apa yang terjadi di antara kamu dan Darius? Apakah semua oke? Dia tertarik padamu?" tanya Anita yang terlihat sangat penasaran.
Vivian menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa yang empuk. "Dia pria yang sulit ditebak, dan sikapnya itu benar-benar sedingin es balok. Aku tidak tahu dia tertarik padaku atau tidak, tapi sejauh ini dia mau mengantarku pulang, menggendongku, dan membelikanku es krim. Aku rasa semua itu saja sudah merupakan awal yang bagus. Benar, 'kan?
"Ya, jika dia mau melakukan semua itu untukmu, aku rasa semuanya oke. Bisa saja dia tertarik padamu, hanya saja dia belum menyadarinya, atau mungkin juga dia gengsi untuk memulai, karena sejauh pantauanku si Darius ini jangankan mengantar pulang seorang wanita, bicara dengan wanita saja dia enggan. Dia terkenal dingin, karena dia setia sekali pada istrinya."
"Beruntung sekali istrinya. Aku jadi iri. Di zaman sekarang ini susah sekali mencari pria yang setia," gumam Vivian.
Anita tertawa mendengar gumaman Vivian. "Jangan iri hanya karena Darius bersikap dingin pada wanita lain. Toh sekarang dia mulai terbuka padamu. Hal itu menandakan bahwa dia pun bukan pria langka yang setia, hanya saja selama ini dia belum mendapatkan wanita yang pas yang dapat mengganggu hatinya," ujar Anita, lalu ia melanjutkan, "Semua pria sama saja. Kebusukannya akan tampak di waktu yang tepat."
***
Darius menghabiskan waktu di ruang baca setelah selesai membersihkan diri. Sebenarnya ia cukup lelah, dan tidur adalah hal paling tepat yang harus ia lakukan sebelum jam makan malam tiba. Namun, Darius kesulitan membuat matanya terpejam. Bayangan Vivian terus muncul di dalam benaknya, seperti film yang diputar berulang kali tanpa henti.
Untuk menghilangkan bayangan-bayangan tentang sosok Vivian yang seharusnya tidak boleh muncul di pikirannya, Darius pun memilih untuk menghabiskan sisa sore itu di ruang baca, alih-alih berbaring di kamarnya.
Tumpukan buku menumpuk di atas meja yang ada di hadapan Darius, mulai dari buku fiksi hingga nonfiksi. Ia mengambilnya secara acak dari rak buku. Namun, tidak ada satu pun dari buku-buku itu yang dapat mengalihkan pikirannya dari Vivian. Bayangan Vivian yang sedang menangis, sedang tersenyum, bahkan saat Vivian sedang memelototinya pun terus bermunculan di dalam kepala Darius, membuat Darius kesal.
"Argh, sial!" keluh Darius, sambil mengacak rambutnya dengan kasar.
"Ada apa, Andra?" tanya Adi yang baru saja memasuki ruang baca. Darius memang kerap disapa dengan sebutan Andra oleh Adi dan juga Virginia.
Darius terkejut saat melihat sang mertua yang berdiri di ambang pintu sambil menatapnya dengan tajam.
"Ayah," gumam Andra.
Adi tersenyum, lalu segera menghampiri Darius yang masih duduk di sofa.
"Apa ada masalah yang mengganggumu? Kamu terlihat serius sekali," tanya Adi.
Darius menggeleng. "Ah, tidak, Ayah, aku hanya sedikit lelah. Tidak ada masalah sama sekali. "
"Hem, begitu rupanya. Pantas saja aku tidak melihatmu bermain dengan Anna. Tidak biasanya," ujar Adi, sambil menatap Darius dengan penuh penilaian. Ia tidak percaya begitu saja pada ucapan Darius yang mengatakan bahwa tidak ada masalah.
Darius tiba-tiba merasa bersalah. Hanya karena Vivian, ia jadi melupakan anaknya. Vivian sungguh menyita pikirannya.
"Di mana Anna sekarang, Ayah?" tanya Darius.
"Dia ada di ruang TV bersama dengan Virginia," jawab Adi. "Oh, ya,apa kamu bertengkar dengan Virginia? Sejak tadi dia terlihat murung. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya."
Darius mengernyit. "Tidak, Ayah, kami tidak bertengkar, dan mana mungkin kami bertengkar. Kalau begitu biar aku tanya padanya, mungkin terjadi sesuatu tapi dia tidak mengatakan padaku. Ayah tahu kan bagaimana Virginia, dia sangat tertutup bahkan padaku yang merupakan suaminya sendiri."
Adi mengangguk. Ia merasa lega karena ternyata Virginia tidak bertengkar dengan Darius. "Syukurlah kalau begitu. Aku pasti akan sangat sedih jika terjadi sesuatu yang tidak baik di antara kalian."
"Ayah jangan khawatir, aku akan bertanya pada Virginia apa yang mengganggu pikirannya."
"Andra, aku ingin bicara."
Darius dan Adi yang sedang mengobrol sontak mengalihkan pandangan ke arah pintu, di mana terdengar suara Virginia.
Darius berdiri sembari berkata, "Baru saja aku akan mendatangimu."
"Tidak usah, aku sudah ada di sini sekarang." Virginia berujar degan ekspresi wajah yang datar.
Adi berdeham, kemudian ia bangkit berdiri. "Ayah keluar dulu kalau begitu," ujarnya, kemudian berlalu dengan cepat dari ruang baca.
Sepeninggalan Adi Rahardian, Virginia tidak membuang-buang waktu. Tanpa berbasa-basi ia mengeluarkan struk belanja dan juga selembar uang yang ia temukan di saku celana dan t-shirt milik Darius.
"Apa ini? Siapa yang kamu belikan es krim, Andra."
Bersambung.