Trauma dalam percintaan dan menjalin hubungan membuat Adel memutuskan menyendiri. Namun siapa sangka, baru 8 bulan setelah hubungannya kandas tiba-tiba ada pria yang datang melamarnya dan ingin menikahinya.
Daniel, lelaki berwajah dingin dan datar tersebut memilih menikah dengan anak dari karyawan Papahnya. Wanita yang tidak mengenalnya itu dipilih sebagai istrinya.
Setelah menikah, perlahan banyak rahasia terkuak. Daniel dan Adel yang memiliki karakter berbeda mulai saling terbuka. Namun dapatkah keduanya saling membuka hati setelah banyak hal yang mereka lalui?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsihe98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Siang ini, sesuai janjinya kemarin malam. Daniel akan mengajak Adel untuk pergi nonton ke bioskop. Kebetulan banyak sekali film Indonesia yang tayang dan ingin istrinya itu tonton.
Tapi, Daniel hanya menyuruhnya untuk memilih satu film saja yang akan mereka tonton dan sepanjang jalan menuju bioskop, Adel masih bimbang untuk memilih film mana yang akan ia tonton dengan suaminya tersebut.
“Gimana udah nemu film yang mau di tonton?” tanya Daniel saat mobil mereka tiba di parkiran.
“Kita pilih di dalam aja ya, Mas. Soalnya bingung.” kata Adel yang di iya-kan Daniel.
Mereka berduapun akhirnya memilih untuk melihat film apa yang tayang di waktu ini.
...***...
Dan setelah mereka sampai di tempat bioskop yang berada dilantai atas dari mall. Adel kini masih memilih film yang akan ditontonnya.
Sebetulnya, kemarin malam ia sudah memilih film apa yang akan ditontonnya. Tapi, tadi pagi ia melihat komentar bagus dari film lain yang juga sedang tayang dan itu yang membuatnya menjadi bingung.
“Gimana, jadinya mau nonton film apa?” tanya Daniel yang berdiri memperhatikan istrinya.
“Hmm, kalau film horor ini aja gimana, Mas? Adel udah baca ceritanya dulu jadi penasaran kalau versi filmnya ini,” tanya Adel.
“Jangan horror, nanti kalau kamu kaget gimana? Bisa-bisa kontraksi di sini,” Daniel menolaknya.
Adel mengerucutkan bibirnya sebal, tapi memang benar kata suaminya itu. Di rumah saja setiap ia nonton film horror sering mengecilkan volumenya sampai tidak terdengar, apalagi di bioskop. Bisa-bisa ia lahiran dadakan di sini.
“Ya udah yang ini aja, Adel penasaran sama film barunya Nicholas Saputra,” katanya.
Daniel sebelumnya sempat baca sinopsis film baru sang aktor itu, dan tampaknya untuk kondisi Adel saat ini itu bukan pilihan bagus. Masalahnya, di film tersebut ia tahu pemeran wanitanya sedang hamil dan kisahnya juga penuh kesedihan yang mungkin akan membuat Adel ikut kepikiran setelahnya.
“Film ini dan ini jangan ditonton, nanti kamu nangis. Saya nggak mau kamu sedih setelah nonton,” Daniel menunjuk dua film yang tidak boleh Adel tonton karena takut Adel terbawa sedih karena alurnya.
Adel menatapnya, “Terus kalau yang ini gak boleh dan itu gak boleh, Adel nonton film yang mana?” tanya Adel dengan sebal.
Daniel akhirnya memilih film komedi dari Reza Rahadian, tampaknya film tersebut sangat cocok ditonton Adel dari pada yang lainnya dan akhirnya karena merasa tak punya pilihan lain, Adelpun menyetujuinya. Ia menunggu Daniel yang sedang memesan pop corn dan minuman juga untuk mereka.
...***...
Daniel dan Adel akhirnya selesai menonton film tersebut, kini keduanya pergi mencari makan untuk mengisi perut mereka yang mulai keroncongan.
Adel memang sangat ingin pergi ke bioskop sejak minggu lalu, namun Daniel tak punya waktu dan jadwal libur. Jadi hari ini ia meminta izin pada atasannya untuk pulang lebih cepat dan mengajak Adel pergi menonton.
Adel bilang, selama mereka menikah hingga dirinya hamil. Tak pernah sekalipun Daniel mengajaknya jalan-jalan atau sekedar nonton film berduaan. Apalagi jika diingat dulu sebelumnya mereka tidak pacaran dulu karena Adel langsung dilamar Daniel tanpa berkenalan dan tiga bulan sebelum menikah juga hanya bertemu beberapa kali itupun Daniel yang mengunjunginya ke rumah.
Benar-benar waktu singkat pengenalan mereka. Tapi sampai saat ini, Adel masih penasaran dan bertanya-tanya kenapa Daniel memilihnya untuk menjadi istrinya disaat mereka belum kenal.
Kalau urusan cinta, Adel sangat yakin kini Daniel mencintainya dan begitu juga dengan dirinya yang makin sering bersamanya kini makin mencintai pria tersebut yang kini mengandeng tangannya untuk mencari tempat makan.
“Kita makan di sana,” kata Daniel.
Adel melihat ke arah pandang Daniel. Namun tampaknya Adel tidak begitu ingin makan menu yang ada di sana dan juga kini tempat tersebut cukup ramai.
“Mas, kita makan di luar aja ya. Adel pengennya makan masakan sunda yang ada nasi liwet,” katanya yang sudah membayangkan makanan tersebut.
Daniel menoleh ke arahnya, “Kamu yakin? Tapi nanti keburu tambah lapar,” katanya yang sebenarnya lebih ke dirinya sendiri.
“Adel pengen makan menu liwetan, ayo Mas kita pergi.” Adel menarik tangan Daniel segera pergi.
Daniel akhirnya memilih menuruti keinginan istrinya tersebut. Lagi pula kalau ia tolak, Adel akan tetap terus memintanya.
Disaat keduanya berjalan keluar, tiba-tiba seseorang menghampiri mereka dan membuat langkah mereka juga ikut terhenti karena sapaan tersebut.
“Loh, Daniel?” wanita berambut panjang sebahu dan kenakan rok selutut dan kemeja putih dengan postur tubuhnya yang terlihat ideal tersebut tersenyum ke arah Daniel.
Daniel terlihat sedikit terkejut dan menatap wanita itu sebelum bibirnya juga ikut menyunggingkan senyum tipis membalas sapaan wanita cantik itu.
“Laura, kan?” Daniel membalas uluran tangan wanita tersebut.
“Iya, kamu masih ingat aku, kirain udah lupa.” katanya sambil tertawa kecil
“Kenalkan ini Adel, istri saya.” Tatapan Laura beralih menatap Adel yang diam memperhatikan keduanya.
Laura tersenyum hangat dan ia juga mengulurkan tangannya menyapa Adel. Tapi tatapan Adel kini terkunci saat laura menatapnya, Adel tidak membalas senyuman dari wanita itu.
Adel dengan cepat melepaskan tangannya dari Laura dan membuat Daniel yang berada disampingnya hanya menatapnya bingung.
“Adel bukannya satu sekolahan sama kita juga, kan?” tanya Laura.
“Ya, dia adik kelas kita,” jawab Daniel sambil beralih menatap Adel yang tampak tak nyaman dengan Laura.
“Wah kayaknya udah lama kita gak ketemu, kalau nanti ada reunian juga ikut dong biar kumpul bareng, boleh kan Adel?” tanyanya pada Adel.
Adel tak menjawab, ia kini menatap Daniel dan seolah mengatakan ingin cepat-cepat pergi.
Mengerti istrinya tampak tak nyaman, kini Daniel mengelus punggung Adel dan menatap Laura.
“Sekarang Adel lagi hamil, jadi nggak bisa ikut reuni,” jawab Daniel sambil terus mengelus punggung Adel.
Tatapan Laura beralih pada perut buncit Adel yang tertutup dengan dress selutut yang ia kenakan.
“Oh iya, bentar lagi kalian punya anak. Selamat ya,” kata Laura menatap Adel.
“Terimakasih, Ra. Kita mau pamit dulu. Tadi Adel bilang ingin cari makan,” kata Daniel.
“Eh iya, aku juga mau lanjut ketemu temen-temen. Kalau gitu sampai ketemu nanti, kapan-kapan kita kumpul reunian ya sama yang lain, Adel juga ya semoga bisa ikut biar ramai kalau Mojang Bandung,” kata Laura yang seperti sindiran pada istrinya dan membuat Daniel mengerutkan dahinya bingung.
Laura kemudian pamit lebih dulu berjalan meninggalkan mereka. Dan ia mengajak Adel segera pergi.
...***...
Dan saat sampai di mobil, Daniel melihat ekspresi istrinya yang hanya diam namun tampak sedang tak nyaman sejak pertemuannya tadi dengan Laura.
Laura adalah teman sekelasnya dulu, mereka juga dekat karena dulu Laura sering ikut kumpul bersama Bani dan kawan-kawan dekatnya. Dan Laura memang paling dekat dengan Bani saat sekolah dulu, bahkan ia sempat mengira keduanya berpacaran sebelum ia tahu jika Bani justru mengatakan telah berpacaran dengan Adel.
Tapi, yang ia tak tahu. Mengapa Laura bisa kenal dengan Adel? Memang Adel saat di sekolah dulu cukup populer, bahkan ia menjadi siswi baru yang di incar kakak kelas angkatan karena kecantikannya.
Daniel yang dingin dan cuek pada wanita dan hanya berbicara seadanya, awalnya tak pernah tertarik pada Adel yang mulai jadi pembicaraan kawan-kawannya. Ia pikir, Adel hanya siswi yang memanfaatkan kecantikannya saja.
Tapi, satu hal yang membuatnya ikut melirik Adel dan mulai ikut memperhatikannya. Saat pulang sekolah, ia melihat Adel berbincang dengan seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri membawa beberapa kerupuk jualannya. Tak lama Adel mengambil semua kerupuk tersebut kembali ke sekolah dan ia juga menghampirinya.
“Kak, mau beli kerupuk ini nggak? Kasihan Ibunya dari tadi jalan jauh katanya baru laku satu.” Adel menatap serius pada Daniel yang saat itu bersiap untuk pulang.
“Harganya cuma lima ribu,” kata Adel kembali saat dirinya terdiam.
Karena melihat Adel begitu serius menunggunya untuk membeli, akhirnya Daniel mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dompetnya dan memberikannya pada Adel tanpa mengucapkan apapun. Kemudian ia menaiki motornya bersiap pergi.
Tapi tak lama Adel menahan motornya, ia juga meminta Daniel membawa kerupuk tersebut. Dan Daniel menolaknya dengan dingin, tapi gadis berseragam abu-abu dengan rambut diikat kucir kuda tersebut justru langsung menaikkannya di stang motor Daniel kemudian berlarian dan mengucapkan terimakasih.
Dan sejak kejadian itu, Daniel mulai memerhatikannya dan lama-lama kelamaan ia semakin penasaran dan mulai tertarik pada Adel. Ia mulai benar-benar menyukai Adel yang sering ia temui di kantin.
Kemudian saat ia lulus sekolah, ia tak pernah bertemu lagi dengan gadis itu sampai akhirnya ia mendapat kabar jika Bani berpacaran dengannya dan disaat itulah ia merasa patah hati dan mulai melupakannya.
Adel adalah cinta pertamanya. Meskipun ia hanya melihat Adel dari jauh tapi ia benar-benar mengagumi gadis itu dalam diam. Sampai saat ia mendengar Bani dan Adel putus, disaat itu pula lah dia langsung melamar Adel dan ingin menikahinya.
Mungkin sampai saat ini, Adel tak pernah mengingat atau mengetahui perasaannya. Memori masa sekolah dulu kini terhenti saat ia melihat Adel yang masih terdiam.
“Adel, kamu baik-baik saja?” tanya Daniel di dalam mobil.
Adel menatap Daniel dan menggelengkan kepalanya, “Adel ngak apa-apa, Mas kita langsung pulang aja ya, Adel udah gak laper.”
“Kamu ada masalah? Kelihatannya tadi kamu terkejut saat bertemu Laura.” Daniel mulai penasaran.
Adel terlihat tekrejut saat Daniel mengucapkan hal tersebut, wajahnya tampak gusar dan Daniel benar-benar melihat istrinya tak nyaman.
“Dulu Adel pernah di labrak sama Teh Laura,”
“Labrak?”
Dengan wajah tegangnya Adel menatap Daniel, “Dulu Teh Laura sama temannya pernah labrak Adel dan marah-marah karena Adel deket sama cowok yang dia suka,” katanya lagi yang membuat Daniel penasaran.
“Cowok yang dia suka? Bani maksudnya?” tebak Daniel.
Adel menggeleng cepat, “Bukan, Mas. Tapi Aldi teman dekat Adel dan Dea yang meninggal karena kecelakaan dulu,” kata Adel dengan mata memerah.
Daniel terkejut saat Adel mulai kembali menyebutkan Aldi yang juga adalah Adik kandung dari Bani. Sebelumnya ia sempat tahu jika Adel dan almarhum dekat setelah melihat foto-foto keduanya di flashdisk Bani dulu.
Hanya saja ia belum tahu bagaimana hubungan mereka sebenarnya dan juga belum berani menanyakan hal itu karena terakhir kali Adel hampir histeris melihat foto kenangannya bersama Aldi.
“Mas, bukan Adel yang bunuh Aldi.” katanya tiba-tiba dengan mata berkaca-kaca.
Daniel terdiam saat kalimat tersebut keluar dari mulut istrinya yang kini terlihat gemetar ketakutan.
“Bukan Adel yang bunuh Aldi, bukan karena Adel ia meninggal,” katanya kembali.
Daniel tak menjawab ucapan istrinya, ia meraih tangan Adel yang sudah dingin dan gemetar ketakutan. Ia merasa cemas dengan istrinya yang yang tiba-tiba berkata demikian.
“Adel, kamu tenang.” Daniel memeluk Adel dan mengelus punggung istrinya.
“Aldi meninggal karena mau ketemu Adel, kalau aja Aldi gak nemuin Adel malam itu, mungkin kecelakaan itu nggak akan terjadi dan Aldi masih hidup sekarang!” katanya yang membuat Daniel perlahan mengetahui tentang kecelakan adik temannya itu.
Daniel mengeratkan pelukannya menenangkan Adel, kondisinya saat ini sangat tidak baik dan ia takut juga menganggu kehamilannya.
“Aldi meninggal karena sudah takdirnya, polisi juga sudah menangkap supir truk yang tabrak lari dia. Ini bukan salah kamu, jadi jangan salahkan diri kamu, Adel. Sudah berlalu.” Daniel menyerka air matanya.
Tatapan Adel terlihat sayu, hidungnya sudah memerah. Ini kali pertama Daniel melihat istrinya sesedih itu, selama ini ia tak pernah tahu tentang kejadian kecelakaan Aldi. Yang hanya dia tahu, Aldi meninggal karena kecelakaan tabrak lagi dan keluarga Bani juga telah menuntut supir truk yang menabraknya.
“Kalau waktu itu Aldi nggak pergi ke rumah Adel,” Adel masih menangis sesak.
“Dia mau pergi ke rumah kamu atau mau pergi ke tempat lain, jika sudah takdirnya kita nggak bisa mengubahnya.” Daniel langsung menyanggah ucapan Adel.
Daniel menatap Adel yang tampak kacau hari ini, setelah bertemu dengan Laura tak sengaja beberapa menit lalu, ia terlihat tak nyaman dan gusar dan setelahnya ia kembali mengingat masa lalunya yang menurut Daniel sangat menyakitkan dan ingin Adel lupakan.
“Jangan salahkan dirimu terus, Adel. Tersangkanya sudah ditangkap dan Aldi juga sudah damai di atas sana, sekarang kita pikirkan hidup kita ke depannya, kasihan anak kita kalau kamu nangis dan salahkan diri kamu gini,” Daniel mengelus perut Adel agar wanita itu berhenti menangis.
Adel juga ikut menatap tangan Daniel yang mengelus perut buncitnya. Ia mulai merasa tenang saat Daniel mulai mengajak bayi dalam perutnya berbicara dan ini kali pertama pria itu melakukannya.
“Dia gerak.” kata Adel merasa gerakan diperutnya.
Daniel tersenyum pada Adel yang juga kini mulai kembali senyum setelah gerakan dari bayinya di perut.
“Bunda jangan sedih-sedih ya, nanti dedeknya ikutan sedih.” kata Daniel.
Adel menatap Daniel dengan tatapan sendunya, Daniel menarik Adel kembali dalam dekapannya.
“Jangan dipikirkan lagi, kasihan anak kita juga ikutan sedih ya. Sekarang kita harus bahagia karena Aldi juga ingin kamu bahagia.” kata Daniel yang kemudian diangguki Adel.
Adel mengatur nafasnya dan menyerka air matanya, ia mulai kembali menenangkan dirinya.
“Jadi gimana? Dedeknya masih kepengen nasi liwet gak nih?” kata Daniel mengelus perut Adel.
“Iya, dedeknya masih pengen makan ayam bakar nasi liwet dan tumis kangkung.” kata Adel bersemangat.
Daniel langsung melajukan mobilnya keluar dari parkiran, dan sepanjang jalan Daniel terus mengajak Adel berbicara agar istrinya tak lagi kepikiran tentang Aldi. Dan ia juga sudah berencana akan mulai mencari tahu tentang kedekatan Aldi dan Adel dulu agar istrinya tak lagi menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Aldi.
...***...
...Kayaknya ini bab terpanjang diantara yang lainnya ya......
...Terimakasih yang sudah membaca kelanjutannya....
...Jangan lupa kasih like dan komentarnya ya...
...^_^...
...13 September 2022
...
si Dea yg neror Adel ya
season k dua ank2 ny adel dn danil kk, atw cerita bru kk??? atw crita adek ny adel kyk ny seru tu klw dpt cewk yg ceriwis.
smga langgeng y danil dn adel😘
oh itu masalh mu sofia, smga ank mu lekas sembuh dn rujuk az deh sama mantan suami mu. tpi lain x, ap pun msalh mu jangn libatkn suami orang terus y sofia. dn k sana kmari brdua trus dgn suami orang.
iy la danil mkin manis sejak punya ank. aplgi mg danil kn cinta dgn adel. kyk ny k jakarta mg mau rayakn ulth ny adel. danil mau buat kjutan.
up ny mlah bhas yg gk pala penting, jdi brtele2. si sofia ni kq gk mikiri prasaan ny adel y, dri datng nyita wktu ny danil terus. si danil ny jg gitu mlah ngobrol z sama prempuan lain. adel kurang tegas, tegas bukn brati melawan. msak dri kmren suami dibiar2 kn brduaan trus dgn prempuan lain. gk mungkn gk ad rsa cemburu. cba deh adel diami danil. mrasa gk dy istri ny cemburu. klw mg gk ad rahsia knp ngobrol ny gk di depn adel az. trus danil jg gk crita2 sama adel. dri omongn sofia dy tu mau dinikhkn dgn danil. smpe adel tau sendiri.
ap pun msalh sofia, gk suka aku klw danil bolak balek prgi kluar brdua dgn sofia. danil pun hrus ny ceritakn dulu bru pergi. jdi istri pun tenang. mertua pun gk punya hak buat nyuruh sofia nginap dirumah danil smpe berhari2. sebaik2 ny sbgai suami hrgai lah istri mu. istri mu ngurusi ank di rumh, kau mlah sibuk ngurusi masalh orang lain. suka hati mu la danil.