WARNING!!!
Bisa menyebabkan kram pipi!
Bagaimana jadinya jika di dalam Rumah tangga hanya ada sebuah pura-pura untuk mengelabuhi kedua orangtuanya. Padahal masing-masing diantaranya masih menjalin hubungan dengan pasangannya.
Matcha Aurora seorang sekretaris dari Milo Anggara harus terjebak dalam sebuah pernikahan pura-pura demi menolong bosnya yang sangat dia hormati. Sayangnya setelah pernikahan itu berlangsung hari-hari Matcha semakin rumit ditambah lagi dengan perasaan yang dia sadari jika dirinya telah jatuh cinta kepada bosnya. Disisi lain Milo tak bisa meninggalkan kekasihnya.
Apakah Matcha harus menimbun dalam-dalam perasaannya atau dia harus memperjuangkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Lii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epsd 18. Lu yakin?
"Eh pak Tiar...,", sapa Matcha melihat Tiar berdiri ditengah pintu.
Milo langsung menoleh kearah Tiar, wajah dinginnya kembali dia tampakkan.
" Ngapain lu kesini?" tanya Milo ketus.
"Gue cuma mau tanya soal kerjasama dengan perusahaan Maheer group. Gue cuma mastiin elu uda terima kontrak kerjasamanya." Jawab Tiar.
"Batalkan. Karena gue gak bakal mau perusahaan kita bekerjasama dengan perusahaan itu." Sahut Milo.
"Lu gak bisa membatalkan secara sepihak Mil, perusahaan kita bakal kena denda besar." Ucap Tiar.
"Jangan lu campur adukkan urusan cinta lu sama Lisa dengan perusahaan." Imbuh Tiar kemudian pergi dari ruangan Milo.
Matcha yang sedaritadi memperhatikan sikap mereka merasa bingung, melihat Tiar meninggalkan ruangan Milo, Matcha lalu mengejarnya.
"Ppp... pak Tiar...!" teriak Matcha lalu mengejar Tiar.
"Eh pahit," panggil Milo tapi sayangnya Matcha terlanjur pergi.
"Kenapa bisa sedekat ini?" gumam Milo hatinya mulai gelisah.
**
"Pak Tiar... huff... huff...! pak kalau dipanggil tuh berhenti napa, capek tau rasanya ngejar langkah bapak." Ucap Matcha.
Terlihat Tiar menarik nafas lalu mengeluarkannya dengan pelan. Tiar membalikkan badannya lalu memamerkan rentetan giginya yang putih.
"Kenapa lu kagak manggil gue sih Cha...," sahut Tiar entah sadar atau enggak karena Matcha baru saja mengatakan jika memanggilnya., tapi apa sekarang dia menanyakan soal itu.
"Pak Tiar... saya sudah memanggil anda berulang kali, tidakkah anda melihat kedua tangan saya sedang menjinjing sepatu?" Sahut Matcha memperlihatkan kedua tangannya.
"Lagian sebenarnya ada apa sih pak? antara pak Tiar dan pak bos sombong seperti ada sesuatu." Ucap Matcha dengan rasa penasaran.
"Lu mau tau?"
"Hooh,"
"Seriusan tau?"
"Hooh,"
"Mau tau banget ya?"
"Tau ah pak... kalau gak niat kasih tau ya udah. Saya mau balik ke ruangan lagi." Matcha berbalik namun dengan cepat Tiar menangkap pergelangan tangannya.
"Eit... mending kita ke pantry, lu bikinin gue secangkir kopi entar gue kasih tau yang sebenarnya." Ucap Tiar.
Matcha langsung saja menyetujui ucapan Tiar. Mereka berdua menuju pantry, melihat mereka berdua begitu akrab para karyawan wanita yang lain merasa iri.
"Eh bukannya Matcha mau menikah sama tuan Milo? tapi kenapa sama tuan Tiar mereka juga dekat ya?" bisik salah satu karyawan.
"Gak tau, bukan ranah kita buat ngomongin mereka." Sahut teman karyawan satunya.
"Sssst... permisi tuan Milo...," ucap ketiga karyawan itu menyapa Milo.
Milo hanya melirik tanpa membalas sapaan mereka. Sedang di pantry Tiar dan Matcha sedang menikmati secangkir kopi hangat.
"Memangnya perusahaan Maheer group itu jahat ya pak?" tanya Matcha.
"Bukan jahat. Tapi gara-gara dibutakan cinta." Jawab Tiar kemudian menyesal kopinya.
"Dibutakan cinta? maksudnya gimana sih pak? saya gak ngerti sama sekali." Tanya Matcha.
"Pemilik perusahaan Maheer group itu sebenarnya kekasihnya Lisa."
"Astagfirullah...!"
"Lu bikin jantung gue amblas Cha!" Sahut Tiar gara-gara Matcha beristighfar dengan suara lantang.
"Habisnya bapak juga ceritanya bikin saya terkejut." Sahut Matcha.
"Cha... bisa gak sih elu jangan panggil gue bapak mulu. Berasa tua sebelum waktunya tau...!" Ucap Tiar sedikit risih dipanggil bapak.
"Lah pak... pak Tiar kan juga atasan saya, masa' iya saya harus panggil om?" sahut Matcha.
"Om? lu kira gue om elu!" Tiar tak terima lagi Matcha memanggilnya om.
"Ah... pusing kudu panggil apa. Pak salah, om juga salah mau dipanggil beb gitu...,"
"Nah... itu lebih bagus Cha... gue setuju...," sahut Tiar senang. Sedang Matcha mulai mengerucutkan bibirnya kesal.
"Sorry Cha... panggil nama gue aja biar lebih akrab. Kalau panggil pak kelihatan resmi banget di telinga." Imbuh Tiar.
"Jadi saya harus panggil Ti-- Tiar gitu?"
"Yup!" Jawab Tiar.
"Gini loh Cha... selama ini tuh Milo itu cuma dijadiin ATM berjalannya si Lisa dan keluarganya. Harusnya Milo tuh sadar kalau dia dimanfaatkan oleh Lisa dan keluarganya, cinta tuh memang bodoh!" Umpat kesal Tiar.
"Sebenarnya tadi pagi mbak Lisa menemuiku." Ucap Matcha sudah berucap dengan santai.
"Lisa ke kantor?" tanya Tiar memastikan apa yang dia lihat.
"Iya, dia kekantor mencariku." Jawab Matcha.
"Dia memperingatkanku jika pak bos sombong tak akan pernah memperhatikanku. Karena aku hanya sebagai alat mendapatkan warisan keluarganya." Imbuh Matcha.
"Tapi aku langsung bilang kalau suatu hari pak Milo bisa memperhatikanku dan melupakannya."
Tiar langsung tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha...! pintar bener lu jawabnya Cha, gue yakin Lisa pasti langsung depresi memikirkan omongan elu."
"Ketawanya ngejek," gerutu Matcha sembari melirik wajah Tiar.
"Ini nih yang gue suka sama elu Cha. Elu tuh beda sama wanita lain yang mudah tertindas. Elu tuh ya kalau orang sekarang bilang sat set sat set," Sahut Tiar.
"Terserah lah...!"
"Tapi ya Cha, gue yakin Lisa malam ini tak bisa tidur dengan tenang." Ucap Tiar.
"Aku sebenarnya bingung dengan pernikahan pura-pura ini. Aku takut suatu hari aku terjebak didalamnya dan menjadi rumit. Secara pak bos sombong sangat mencintai wanita itu."
"Lu takut jika suatu hari menyukai Milo?" tanya Tiar memastikan.
"Bukan itu. Tapi aku takut terjebak karena harus menjalani pernikahan pura-pura. Kau tau bukan kalau pernikahan itu tak boleh dibuat main-main. Karena pernikahan itu adalah suatu hal yang sakral." Jawab Matcha terlihat sedih.
"Papaku pernah mengatakan jika pernikahan itu adalah hal yang paling mulia, jika saja ibu Yuni tak menjebaknya saat itu mungkin mama masih hidup saat ini." Imbuh Matcha teringat cerita papanya saat itu. Terlihat kesedihan dimata Matcha, sepertinya sangat menyakitkan.
"Maaf, aku sudah bercerita banyak. Lupakan saja ceritaku tadi Tiar."
"Gue bisa ngerti perasaan elu Cha... yang sabar ya...," hanya kalimat itu yang bisa Tiar ucapkan setiap mendengar keluhan Matcha.
"Terus apa rencana elu?" tanya Tiar.
"Rencana apa ya?" balik tanya Matcha.
"Hadeh... keseringan ya, tiap termehek-mehek pasti lupa...," ucap Tiar sembari menepuk dahinya.
"Isssh... siapa yang termehek-mehek, sinetron kali...," sahut Matcha. Mereka berdua langsung saja tertawa bersamaan.
"Tiar... sebenarnya ada yang mau aku bicarakan sama kamu." Ucap Matcha mode serius.
"Tentang apa?" tanya Tiar.
"Pak bos sombong. Aku merasa berdosa, membohongi tuan Wawan soal pernikahan itu. Aku mau kau membantuku untuk membongkar semua kebusukan wanita itu." Jawab Matcha.
"Setidaknya jika aku bisa membongkar kebusukan wanita itu dan keluarganya, aku bisa membalas jasa kebaikan pak Wawan, dan mengembalikan kepercayaan pak bos sombong dengan pak Wawan."
Tiar terdiam sedikit berpikir. Sebenarnya dia juga ingin sekali membongkar kebusukan Lisa, tapi Milo selalu saja kekeh dengan penilaiannya tentang Lisa yang setia dan perhatian. Padahal Tiar pernah memergoki Lisa dinner bersama Jasson pemilik Maheer group. Sayangnya saat itu Tiar tak memiliki bukti pasti, karena Lisa sudah memergoki dirinya.
"Lu yakin Cha?"
"Bismillah, yakin."
...----------------...
Masih selalu stay di sini kan ya... sembari menunggu bab selanjutnya mampir kesini dulu yuk,