Bagaimana jadinya jika seorang keponakan diam-diam mencintai tantenya sendiri? Sementara sang tante selalu membuat ulah dengan menerima semua laki-laki yang menyatakan cinta padanya.
Ini adalah kisah Dalziel Lawrance, anak yang diangkat di keluarga Tan dan adik dari ayahnya—Gloria Rusell Taneta.
Bagaimana kisah cinta mereka akan berujung? Cus kepoin ceritanya.
Jangan lupa follow Ig @nitamelia05
Salam anu 👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Berdecak Lidah
Warning!
***
Mereka terus meneguk kenikmatan satu sama lain. Seolah tak peduli keadaan di luar sana. Gloria lupa diri karena pada akhirnya Ziel menyatakan perasaannya, meski tidak secara gamblang.
Sebuah kalimat perintah untuk memutuskan semua pacarnya, sudah menjadi bukti bahwa Ziel mau memiliki hubungan dengannya.
Kegilaan mereka berlanjut kala Ziel mulai membuka kaos dan membuangnya ke sembarang arah. Membuat Gloria melihat dengan jelas dada bidang dan juga perut sixpack pria tampan itu.
Tanpa bicara Ziel menarik tangan Gloria dan meletakkannya di dada. Tepat pada saat itu Gloria langsung meneguk ludah, sementara telapak tangannya terasa basah oleh keringat sang pria.
Sumpah demi apapun, pria yang ada di atas tubuhnya ini benar-benar sempurna. Hingga Gloria semakin pasrah saat Ziel menarik dress-nya hingga terlepas.
Lagi, mereka saling tatap dengan gairah yang membuncang hebat. Mata mereka sudah tertutup kabut, yang membuat mereka merasa terbang ke nirwana.
Ziel menundukkan tubuhnya dan kembali menciumi wajah Gloria, sementara jemarinya mulai bergerilya. Memberikan sentuhan nakal yang menggelitik.
"Ziel," panggil Gloria saat pria itu menggapai salah satu dadanya. Dan hal tersebut membuat Ziel mengangkat wajah, kedua pucuk hidung mereka nyaris bergesekan andai Ziel sedikit saja maju.
"Aku menginginkanmu, Glor," balas Ziel dengan suara berat. Naluri kelelakiannya sudah tak bisa dikontrol, dia ingin sebuah pelepasan.
Otak waras Gloria sedikit pulih, kala dia merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah sana. Dia tahu bahwa Ziel sudah terpancing dengan kegiatan panas mereka.
Gloria mengerjap dan memasang wajah polos.
"Menginginkan apa? Aku sudah menjadi milikmu, Ziel. Malam ini kita mulai berpacaran 'kan?"
Ada senyum tipis yang terukir di bibir pria tampan itu. Akan tetapi Gloria merasa bahwa senyum itu tidak biasa, entah apa yang ada di otak Ziel, rasanya Gloria jadi sedikit waspada.
Ziel menarik tangannya dari dada Gloria, lalu mengusap wajah gadis itu dengan lembut, menyingkirkan anak rambut Gloria yang nyaris menutup mata.
"Bukankah itu yang kamu inginkan?" tanya Ziel, membuat Gloria berubah cemberut.
"Jadi hanya aku yang menginginkannya? Kamu tidak? Kalau begitu menyingkirlah!"
Gloria mendorong dada Ziel dengan sekuat tenaga, tetapi Ziel bergeming, seolah tekanan itu tak berarti apa-apa untuknya. Dia suka saat Gloria marah-marah, jadi dia tidak mau ketinggalan momen manis ini.
Apalagi dia bisa menikmati keindahan tubuh Gloria yang nampak proporsional. Kulit putih, leher jenjang, dada yang pas, dan juga bokoong yang cukup sintal.
"Kamu ini benar-benar gadis yang unik, aku sampai kewalahan menghadapi tingkah bar-barmu. Jadi berjanjilah, bahwa kamu hanya akan menunjukkan ini semua di depanku. Aku tidak ingin ada yang lain di antara kita!"
Ziel menciumi bibir mungil Gloria secara berulang, membuat gadis cantik itu merasakan ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya.
Dengan berani Gloria mengangkat tangan dan mengusap rahang tegas Ziel. Sebuah pahatan wajah yang selalu dia kagumi setiap harinya.
"Tapi kamu mencintaiku atau tidak?" tanya Gloria ingin kata-kata manis itu keluar dari mulut sang keponakan.
"Apakah itu masih berlaku bagi kedua orang yang berharap untuk bisa tinggal bersama?"
"Tapi dari kecil kita sudah tinggal bersama, Ziel!"
Mendengar itu, Ziel langsung terkekeh keras, dia lupa kalau kamar mereka hanya terhalang satu lantai.
"Percayalah, tidak ada nama lain di hatiku," ujar Ziel seraya mengusap pipi Gloria menggunakan ibu jarinya.
"Selain?"
"Selain nama seseorang."
"Iya siapa?!" ketus Gloria, karena Ziel selalu susah untuk mengutarakan semuanya. Padahal apa susahnya menyebut nama Gloria!
"Namamu." Ziel mengusak pucuk hidung Gloria menggunakan pucuk hidungnya. Menghasilkan gesekkan manja, yang membuat pipi Gloria bersemu merah.
Namun, semua itu tak lantas menghentikan semuanya. Ziel kembali memberikan sentuhan lembut di leher Gloria, menciptakan erangan kecil yang membuat geleyar di tubuh masing-masing semakin membuncah.
Ziel yang sudah terobsesi akan tubuh Gloria berubah semakin menggila. Pusat tubuhnya semakin terasa sesak, hingga akhirnya dia memutuskan untuk melepaskan celananya.
Akan tetapi tepat pada saat itu, ponsel milik Gloria berdering dengan nyaring, menampilkan nama sang ayah.
Ck! Keduanya kompak berdecak lidah.
***
Kalo Abang Ziel bukan uler ya gaes, dia punana itan tontol, kesukaan Yoy dari kecil 😂😂😂
Novel Author Ceritanya bagus².👍👍👍
Harus sabar lagi Ziel, kalau emang sudah ga tahan mending panggil Mommy Zoya siapa tau kalau lewat pawangnya Raja Uler ga buat ulah lagi di situ.🤭🤭🤣
Ada²bsaja Authornya.🤦♀️🤭
Happy Wedding Ziel Glor.
Semoga Ziel baik² saja.