Nezia, yang telah menjalin hubungan serius selama bertahun-tahun dengan Dito, bahkan hubungan keduanya akan segera diresmikan dalam sebuah ikatan pernikahan, tak menyangka bahwa semua ini harus dia alami.
Sebuah kenyataan pahit menampar wajah Nezia ketika di hari dirinya fitting baju pengantin, gadis itu melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa ternyata lelaki yang sangat dicintainya berselingkuh dengan seseorang yang sangat dia kenal.
"Tega kamu, Bang!" seru Nezia yang memergoki calon suaminya, seraya menampar keras pipi Dito.
"Nez, ini tidak seperti yang kamu lihat, Nez! Aku bisa jelasin semua!" Dito berlari mengejar Nezia.
Akankah pernikahan keduanya tetap berlanjut?
Simak kisah Nezia, dalam Novel ; HOPELESS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Merpati_Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan Pertama
"Cie, manggilnya romantis banget. Akang Faris dan Neng Ganis," ledek Attar kemudian tanpa memelankan suara, hingga membuat semua mata kini tertuju pada Faris dan Nezia.
"Bang Attar ... !"
"Jangan teriak-teriak, Nez! Aku di sini, disamping Akang Faris," ledek Attar yang semakin menjadi. Pemuda tampan itu tersenyum, menggoda sang keponakan.
Nezia mengerucutkan bibir dan kemudian mulai makan, gadis itu pura-pura cuek meski semua perhatian tertuju ke arahnya.
Para orang tua merasa lega, melihat Nezia mulai mencair meski masih terkesan menutup diri.
"Semoga ini awal yang baik ya, Yah," bisik Bu Nisa pada sang suami.
Ayah Alex mengangguk seraya tersenyum lebar.
Sementara Faris yang juga mulai makan, sesekali memberikan perhatian kecil pada gadis yang duduk di sampingnya. "Mau nambah lauk, Neng?" bisik Faris, bertanya.
Nezia hanya menggeleng tanpa melihat ke arah pemuda tersebut.
"Lap dulu, Neng," bisik Faris kembali setelah melihat Nezia menghabiskan makan malamnya. Pemuda ganteng itu menyimpan tissue di hadapan Nezia.
Gadis itu mengambil tissue dan kemudian mengelap mulutnya. "Makasih," balas Nezia, sekilas melirik Faris.
Makan malam dengan suasana yang hangat itupun usai. Akbar beserta para sahabat, mengajak Yoga dan Duta beserta pasangan, kembali ke ruang keluarga untuk membicarakan bisnis.
"Mbak Tia, ikut kami saja. Ada yang mau saya bicarakan sama Mbak," ajak Malik sambil menggandeng sang istri.
"Faris biar sama mereka," lanjut kakak kandung Mirza tersebut.
Mutia mengangguk.
"Bang, Tasya temani Mbak Tia, ya," pamitnya, seraya melepaskan genggaman tangan sang suami.
Wanita anggun itu kemudian berjalan menuju ruang tamu, dengan ditemani oleh Tasya.
Sementara Faris, digeret oleh Mirza untuk ikut bergabung dengan para sahabat di gazebo. "Mas Faris, gabung sama kita aja."
Di sana, sudah ada Lila, istri Mirza. Lili beserta sang suami, Attar dan juga Nezia.
"Silahkan duduk, Mas Faris," sapa Lili, masih dengan gayanya yang centil. Membuat sang suami, Doni, melirik tajam kepada sang istri.
"Li, jaga sikap, ah!" bisik Lila yang protes, melihat sikap saudara kembarnya. Apalagi Lila sempat melihat ekspresi Doni yang terlihat masam, barusan.
"Hanya menyapa calon saudara, Om Doni, Sayangku," bisik Lili yang masih saja memanggil suaminya dengan sebutan om. Mama muda itu merayu sang suami agar tidak merajuk.
"Marahi saja dia, Om. Kebiasaan dari orok, centilnya gak ilang-ilang," olok Mirza pada sang sahabat, sekaligus iparnya.
"Itu 'kan identitasku, Bang. Kalau sampai ilang, bisa-bisa nanti Bang Mirza menganggap aku ini Kak Lila. Abang bisa salah peluk, nanti," balas Lili dengan asal.
"Kamu kalau ngomong itu lho, sembarangan aja," protes Doni sambil mencubit pipi istrinya dengan gemas.
Lili terkekeh, melihat sang suami telah mencair. Sementara Lila hanya geleng-geleng kepala menyaksikan ulah kembarannya tersebut.
"Seperti itulah, Mas Faris, candaan absurd teman-temannya Inez," ucap Attar. "Mas Faris jangan kaget, kalau nanti melihat yang lebih absurd dari itu," imbuhnya.
Faris tersenyum. "Malah asyik, kok," balas pemuda yang kini duduk tepat di hadapan Nezia.
Tentu saja Faris menyukai suasana rame seperti itu karena pada dasarnya, pemuda itu juga suka bercanda dan pandai menghidupkan suasana.
Faris, Mirza dan yang lainnya nampak mulai asyik mengobrol.
Nezia yang awalnya lebih banyak diam, pelan-pelan mulai ikut menimpali setiap candaan dari para sahabat, termasuk candaan dari pemuda yang telah menolongnya.
🌹🌹🌹
Hari-hari berikutnya, antara Faris dan Nezia tak pernah lagi bertemu.
Hal itu karena kesibukan pemuda tersebut yang bertambah banyak, dengan adanya proyek baru yang dipercayakan oleh Yoga kepada dirinya.
Sementara Nezia lebih banyak berdiam diri di rumah dan enggan untuk melakukan apapun. Gadis itu kembali menjadi murung, hingga membuat sang ibu sangat khawatir.
"Ayah, apa yang harus kita lakukan?" tanya wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan segar itu pada sang suami, di suatu sore ketika sang putri baru saja melintas di ruang keluarga sambil membawa segelas coklat hangat.
"Lihatlah putri kita, dia menjadi pendiam sekarang," lanjut Bu Nisa khawatir.
"Kalau saja Inez mau melanjutkan kuliah, tentu ayah akan sangat senang, Dik. Tapi 'kan kamu dengar sendiri kemarin, kalau dia sudah tak mau lagi melanjutkan kuliah S-2," balas Ayah Alex yang juga prihatin dengan kondisi sang putri.
Bu Nisa mengangguk, membenarkan.
"Ayah akan telepon Bram untuk membujuk adiknya, agar Inez mau ikut membantunya di kantor," lanjut Ayah Alex setelah menyeruput kopi hitam tanpa gula, buatan sang istri tercinta.
"Sekarang saja ya, Yah, teleponnya," pinta ibu dari dua anak tersebut. "Nisa ambilkan telepon Ayah," imbuhnya sambil berlalu menuju kamar, untuk mengambilkan ponsel sang suami.
Tak berapa lama, Bu Nisa telah kembali seraya membawa benda berbentuk pipih dan kemudian memberikan pada sang suami.
Setelah menerima ponsel miliknya, Ayah Alex segera mendial nomor ponsel Abraham.
Pada dering kedua, panggilan laki-laki paruh baya tersebut, diterima oleh sang putra sulung.
"Halo ... assalamu'alaikum, Ayah," sapa Bram di ujung telepon.
"Wa'alaikumsalam, Mas. Malam ini, ajak istri dan baby tidur di sini ya, Mas. Ada yang mau ayah dan Ibu sampaikan pada Mas Bram," pinta Ayah Alex pada sang putra.
"Baik, Yah. Nanti bakda maghrib, Bram berangkat ke sana," balas Abraham, menyanggupi permintaan sang ayah tanpa banyak bertanya.
🌹🌹🌹
Sementara di kantor milik Yoga. Faris masih disibukkan dengan membuat rencana program kerja demi kelancaran proyek yang nilainya sangat fantastis.
Tentu saja proyek yang diimpikan Yoga itu bernilai milyaran rupiah karena bos Faris tersebut mendapatkan beberapa investor sekaligus, yang nilai investasinya tak main-main.
Bukan hanya Abraham yang bergabung, Damian, Akbar, bahkan Malik, juga turut berinvestasi di sana.
"Belum mau balik, Ris?" tanya Yoga yang telah bersiap hendak pulang.
"Kurang dikit lagi, Mas. Tanggung kalau pulang, di apartemen juga enggak ada yang nungguin, kok,' balas Faris seraya tersenyum, sementara tatapan matanya masih fokus pada layar datar di hadapan.
"Makanya, segera cari penunggu," celetuk Duta, yang tiba-tiba muncul ke ruangan Yoga.
"Kok penunggu, Mas?" Tatapan Faris langsung tertuju pada Duta.
"Lah tadi kamu bilang, balik juga enggak ada yang nungguin. Makanya cari penunggu, biar ada yang nungguin," balas Duta seraya terkekeh.
Yoga ikut tertawa, sementara Faris hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kabarnya Inez gimana, Ris? Ada perkembangan?" tanya Duta kemudian, setelah tawanya reda.
Pemuda ganteng itu menggeleng lemah. "Belum, Mas. Faris belum sempat silaturrahim lagi ke kediaman Om Alex," balasnya.
"Komunikasinya 'kan bisa lewat ponsel juga, Ris," ucap Yoga. "Enggak harus bertemu, kan?"
"Faris enggak punya nomor ponsel Inez, Mas," balas pemuda tersebut.
"Mau, aku mintakan sama Bram?" tawar Yoga.
"Enggak perlu, Mas," tolak Faris. "Lain waktu, Faris akan sempatkan untuk silaturrahim ke sana," lanjutnya.
"Kenapa enggak malam ini aja, Ris?" tanya Duta. "Lebih cepat, lebih baik lho, Ris," imbuh sahabat Yoga tersebut.
"Faris 'kan masih harus merampungkan ini dulu, Mas. Biar minggu depan sudah mulai bisa digarap," balasnya seraya menunjuk layar laptop.
"Udah, itu lanjut besok aja, Ris. Besok, aku bantu," sahut Yoga.
"Beneran Mas Yoga?" tanya Faris tak percaya.
"Iya," balas Yoga, singkat.
"𝘠𝘦𝘴, kalau gitu, Faris akan bersiap dari sekarang." Pemuda itu bergegas menyimpan data dan kemudian mematikan laptopnya.
"Berarti nanti malam, kencan pertama dong, Ris?" Duta menatap asisten pribadi Yoga tersebut, seraya menaik-turunkan kedua alisnya.
"Maunya Faris, sih, gitu, Mas. Tapi belumlah." Pemuda ganteng itu tersenyum. Faris merapikan berkas-berkas di atas meja kerja Yoga, tempat di mana dia numpang mengerjakan tugasnya.
"Baru silaturrahim aja, Mas, dan belum ke arah sana," lanjut Faris, setelah memasukkan semua berkas ke dalam tas. "Mudah-mudahan aja, ada tindak lanjut positif setelah ini," imbuhnya, dengan penuh harap.
"𝘎𝘰𝘰𝘥 𝘫𝘰𝘣, Ris. Semangat!" seru Yoga dan Duta bersamaan.
☕☕☕☕☕ bersambung ...