Luna Xaviera, gadis berusia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan seorang pria yang tak lain adalah gurunya sendiri Devan Alexander.
Pernikahan yang tanpa di dasari rasa cinta di antara keduanya akankah berakhir dengan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Keduanya memutuskan untuk pergi menonton.
''Kak, ini masih terlalu pagi untuk pergi menonton.'' ujar Luna.
''Lalu kamu mau kemana hum?'' tanya Lucas mengusap kepala Luna,sedangkan gadis itu tersenyum ngeri membuat Kakaknya merinding.
''Aku ingin pergi ke taman bermain, naik Roller Coaster. Lalu--'' Lucas membungkam bibir Luna dengan telapak tangannya.
Taman bermain? Oh tidak, itu adalah hari dimana ia pertama kali bertemu dengan Luna, asik tirinya. Hari dimana Luna mengalami kecelakaan karena menolong seseorang.
''Bisakah kita ketempat lain, shopping atau makan mungkin lebih baik Luna.''
''Ish, Kakak nggak asik.'' umpat Luna kesal lalu memalingkan wajahnya. Ia lebih memilih untuk melihat keluar daripada melihat Lucas yang semakin hari terlihat semakin tampan.
'Ingat Luna, dia Kakakmu. Kakak! Dan kamu juga sudah menikah jadi lupakan perasaan bodoh mu. Jangan kecewakan Ayah'
Lucas menggenggam tangan Luna, membuat gadis itu menoleh dan menatapnya.
"Baiklah, kita akan pergi ke taman bermain. Tapi jangan ngambek lagi oke." Lucas menarik sudut bibinya, ia tidak mau membuat gadis kecilnya menangis apalagi kecewa.
Baginya Luna sangat berarti dibandingkan apapun di dunia ini. Meskipun perbedaan usia mereka terpaut jauh, tidak masalah jika ia bersanding dengannya bukan?
Toh Luna menikah bukan karena cinta, tapi sebuah kesepakatan. Lucas masih bisa merebut hati Luna.
.
.
.
Malam menjelang. Selesai bersenang-senang dan pergi ke taman bermain mereka pergi ke suatu tempat. Karena malam ini adalah malam tahun baru, Lucas berniat mengajak Luna melihat pesta kembang api.
"Pesta kembang api?" tanya Luna antusias. Pergi ke sana adalah impian nya selama ini. Namun belum terwujudkan karena Ayah Nathan melarangnya pergi dengan alasan tempat itu jauh.
Tidak baik bagi seorang gadis pergi sendirian. Padahal saat itu Luna bersama Aldo dan Zelin. Hanya saja mereka masih dibawah umur. Jadi Ayah Nathan takut terjadi apa-apa pada putrinya.
"Pesta nya akan dimulai pukul dua belas malam. Apa kamu mau melihatnya bersamaku Luna?"
Luna mengangguk mantap seraya tersenyum. Bahagia? Tentu saja, ini adalah hari paling membahagiakan untuknya.
"Baiklah, kita berangkat!"
"Terima kasih, Kak."
"Untuk?"
"Semuanya, Kakak sangat baik padaku. Padahal aku--''
Lucas menginjak rem mendadak, memotong ucapan Luna yang seakan ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Katakan, aku sudah siap mendengarnya."
"Lupakan. Lebih baik kita lanjutkan perjalanan." elak Luna meraih ponselnya yang sejak tadi bergetar. 'Devan...'
Perlahan Luna mendekatkan benda pipih itu ke telinganya seraya mendengarkan seseorang yang bicara jauh di sebrang sana.
"Aku sudah sampai, bagaimana kabarmu. Apa kamu baik-baik saja?"
Suara serak yang terdengar seksi menggetarkan hati Luna. Sejak kapan ia berpikir kalau Devan itu seksi? Mesum!
Baru kali ini pria itu bicara lembut padanya, seakan Devan dan Luna adalah sepasang kekasih yang sedang melakukan LDR. Atau lebih tepatnya hubungan jarak jauh.
"Syukurlah, aku baik-baik saja." ujarnya gugup. Jantung nya berdetak sangat kencang. Apalagi saat mendengar deru nafas Devan yang berhembus, membuatnya mengingat ciuman panas mereka.
"Apa yang kamu pikirkan, sejak tadi aku mengajakmu bicara Luna. Kamu sedang sibuk? Atau aku mengganggu waktu istirahatmu?"
Luna melirik Lucas yang sedikit menjauh darinya. Pria itu tidak ingin menganggu privasi sang adik. Meski jauh di dalam lubuk hatinya ia cemburu.
"Ya, aku sedang pergi bersama Lucas. Maaf karena tidak sempat meminta ijin padamu. Semuanya mendadak jadi--"
"Oh jadi kamu sedang bersenang-senang? Lanjutkan saja, aku tidak akan menganggu mu. Semoga harimu menyenangkan Luna." Devan mematikan sambungan ponselnya. Bagaimana bisa istrinya pergi tanpa meminta ijin padanya? Menyebalkan lebah sialan itu, sudah berani mencuri start dariku rupanya!
Devan memijat pelipisnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Memikirkan cara supaya ia segera kembali ke negara asalnya.
"Kamu pikir bisa merebut Luna dariku, kita lihat apa gadis kecilku itu akan goyah." meski berusaha meyakinkan dirinya jika Luna tidak akan pernah mengkhianati pernikahan mereka, tetap saja Devan khawatir.
"Apa yang bocah bodoh itu lakukan, bukankah aku menyuruhnya untuk mengawasi Luna."
...----------------...
ckk.. sok sokan nggak peduli aslinya cemburu