Ini adalah kelanjutan kisah dari novel Author yang sebelumnya.
----- ----- «» ----- -----
“Om, papa tidak merestui kita, ayo bawa aku pergi,” isak Ayara, sebelum kemudian ia terkejut melihat wajah pria yang di cintainya itu seperti habis kena pukul.
Ya, siapa lagi yang melakukannya, jika bukan Bara, ia memukuli sahabatnya itu tanpa ampun, karena telah mencintai putrinya.
“Apa sakit?”
“Sedikit, tapi tidak apa-apa.” Adit merasakan tangan halus Aya mengusap wajahnya yang habis kena bogem mentah dari Bara.
Ia sangat mencintai gadis kecil itu, tapi keadaan membuat ia harus menjauh!
Novel ini hanyalah hasil dari kegabutan Author!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ny.Jutex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan Ke Bali
Biasanya Ayara paling mendukung saat Raffi meminta untuk liburan, tapi kali ini ia tidak bisa membagi fikirannya untuk hal yang lain lagi. Urusan hatinya jauh lebih penting dari sekedar liburan.
Ayara kembali ke kamarnya dan kembali mengecek handphonenya, ia berharap ada balasan dari Adit, walau itu hanya satu chat saja. Tapi, lagi-lagi hanya rasa kecewa saja yang ia dapat.
Ayara melempar handphonenya ke atas kasur lalu menjatuhkan tubuhnya juga disana. Berulang kali ia menghirup nafas dalam-dalam, namun itu tak membuatnya merasa jauh lebih baik.
Ayara bangun dari tempat tidurnya, ia membasuh wajahnya lalu berganti pakaian. Setelah merapikan rambutnya di depan cermin, ia pun keluar dari kamarnya. Ayara berniat ingin mendatangi Adit ke apartemen.
Ayara pergi dengan naik taksi. Namun, setelah sampai disana, kekecewaannya semakin bertambah. Penghuni di sebelah apartemen Adit mengatakan kalau tetangganya itu pergi ke luar kota.
“Kalau boleh tau, mereka pergi kemana?” tanya Ayara.
“Maaf, saya juga tidak tau mereka pergi kemana, saya hanya sempat liat mereka bawa koper.”
“Oh iya, terimakasih,” ucap Ayara, lalu ia pun pergi dari sana. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi, tidak mungkin juga ia menanyakan keberadaan Adit pada kakaknya, Ricky.
Di tengah rasa putus asanya, Ayara teringat pada Elang, ia pun buru-buru mengambil handphone dari dalam tasnya. Ia dan Elang saling follow di Instagram, ia pun mencoba menghubungi Elang lewat sana.
Sebelum mengirim pesan, Ayara sempat melihat video durasi pendek yang di unggah oleh Elang di akun Instagramnya. Melihat tanggal dan waktu postingan, Ayara pun bisa langsung tau dimana kini om dan keponakannya itu berada.
Setelah mendapatkan taksi, Ayara langsung pulang ke rumah dan menemui papanya.
“Pa, Ma, Aya juga mau liburan,” ucap Ayara, ia duduk di antara Bara dan Raisa.
“Papa ga bisa, lagi banyak kerjaan,” sahut Bara. Mendengar jawaban papanya yang menolak, Ayara melihat ke arah mamanya, dengan tatapan memohon.
Melihat tatapan putrinya yang seperti itu, Raisa pun menatap pada suaminya, ia bingung harus bagaimana. Ia tau saat itu Bara memang tengah sibuk, terutama pasca meninggal ibu mertuanya.
“Sayang, papamu memang benar-benar sibuk saat ini,” ucap Raisa memberikan pengertian pada putrinya.
Dering handphone milik Raisa, menjeda obrolan mereka. Raisa meraih handphonenya yang berada di atas meja sofa, lalu menerima panggilan itu, ternyata dari Alina. Bara dan Ayara diam mendengarkan obrolan Raisa dan Alina.
Beberapa saat obrolan pun selesai. “Alina akan pergi bulan madu ke Bali,” ucap Raisa. Setelah sempat menunda, Alina dan Yuda memutuskan untuk melanjutkan rencana bulan madu mereka.
“Ya, itu bagus,” sahut Bara.
“Sebetulnya dia juga ingin kita ikut pergi. Kebetulan anak-anak sedang libur, tapi kamunya kan banyak kerjaan,” jelas Raisa, dan itu membuat Ayara semakin merengek untuk meminta liburan.
“Ayo, Pa, Ma,” mohon Ayara, bergantian melihat papa dan mamanya.
“Pa, Ma, besok om Dimas sama tante Fitri ngajak Devano liburan ke Bali,” beritahu Raffi. Ia duduk bergabung di sofa dengan wajah lemas.
“Lalu?” Raisa menatap putranya seraya tersenyum kecil.
“Raffi jadi ga ada temennya, Ma.”
“Kan masih ada Elang,” sahut Raisa.
“Elang udah lebih dulu pergi, dia udah ada di Bali,” ujar Raffi. Ia membayangkan, andai ia ada disana bersama teman-temannya.
“Kalau Mama sama Papa ga bisa pergi, tolong izinin kita pergi, ya?” mohon Ayara lagi. Bara dan Raisa pun bertukar tatapan, mereka seakan sama-sama meminta pendapat.
“Aku sih ga apa-apa mereka pergi, kan kita bisa titipin mereka ke Dimas dan Fitri,” ucap Bara. Ia juga tidak tega pada kedua buah hatinya itu.
“Apa kita perlu hubungi Alina juga, biar banyak yang menjaga?” ujar Bara.
“Apa ga mengganggu, mereka kan pergi untuk bulan madu.’’
“Selama disana, Raffi akan tinggal sama om Adit aja,” ucap Raffi. Ia berharap itu akan memecahkan persoalan agar mamanya tidak terlalu khawatir. Mendengar ucapan anaknya, Bara pun kepikiran untuk menghubungi Adit.
“Sebentar,” ucap Bara sambil mencari kontak Adit di handphonenya.
Tidak lama panggilan itu di sambut oleh Adit. Bara pun menyampaikan maksudnya yang ingin menitipkan anak-anaknya selama liburan disana.
“Sial!”umpat Adit, setelah mereka mengakhiri panggilan. Padahal ia sudah berusaha untuk menghindar, sahabatnya itu malah menitipkan anak-anaknya padanya.
Raffi mengemas pakaiannya dengan di bantu oleh Raisa. Ayara pun di kamarnya sedang berkemas, ia juga sudah menyiapkan semua pertanyaan untuk Adit. Ia sadar, ia sengaja di abaikan oleh Adit, buktinya saat papanya menelepon, Adit langsung mengangkatnya.
Tak sabar menanti untuk hari esok, Ayara pun ingin secepatnya tertidur dan bangun di saat sudah pagi.
Entah sudah keberapa kalinya ia terbangun, dan akhirnya pagi yang di tunggu pun telah tiba. Setelah mandi dan berpakaian, Ayara langsung membawa kopernya turun ke bawah. Walau memiliki beberapa art, Raisa tidak ingin anaknya menjadi manja, apa lagi hanya untuk hal-hal kecil.
Semua sudah berada di dalam mobil dan siap untuk pergi ke bandara. Bara sendiri yang menyupir untuk mengantarkan anak-anaknya. Raisa melihat ke arah kursi belakang, ini pertama kalinya ia membiarkan anak-anaknya pergi tanpa dirinya.
“Mama tenang aja, Aya sama Raffi akan baik-baik aja. Kita akan selalu hati-hati seperti yang mama bilang,” ucap Ayara. Ia tau apa yang di pikiran mamanya.
Raisa tersenyum seraya mengangguk. “Iya, Mama tau.”
Di bandara, sudah ada Dimas, Fitri dan Devano. Sedangkan Alina sudah berangkat lebih dulu. Lagi pula ia tidak tau kalau kedua adik sepupunya itu juga akan pergi liburan ke Bali. Raisa melarang Bara untuk memberitahu, karena takut mengganggu.
Setelah setengah jam menunggu, pesawat yang mereka tumpangi pun bertolak meninggalkan Bandara.
Walau saat ini ada masalah dengan perasaannya, Adit tetap ingin menyambut kedatangan tamunya itu. Ia pergi ke Bandara setengah jam sebelum pesawat mendarat. Saat ia tiba disana, rombongan Dimas pun juga sudah sampai.
Melihat Adit yang datang menjemput, Raffi dan Devano pun langsung memilih untuk ikut bersama Adit, sedangkan Fitri dan Dimas memilih untuk naik mobil yang lain.
Ayara masih diam di tempatnya berdiri, sedangkan Raffi dan Devano sudah lebih dulu masuk ke mobil Adit.
Melihat Ayara yang masih diam, Adit pun mendekatinya lalu mengulurkan tangan untuk membawakan koper milik gadis itu.
Mengingat ada Raffi dan Devano, Ayara yang tak ingin mengundang perhatian mereka kalau ia menunjukkan sikapnya sekarang. Ia pun membiarkan Adit membawakan kopernya dan menyimpannya di bagasi mobil.
-
-
-
Mohon maaf bila ada typo🙏🤭
Kasih tau aja bagian dmna typonya, kalau ada waktu nanti pasti Author perbaiki😂😅
semangat up ya Thor 😘