💫 Sebelum baca 👉 Azka & Anna, ada baiknya mampir ke season 2 ( Cinta Masa Kecil Presdir Cantik ) 💫
.
.
Season 3 :
Di alun-alun kota Lubuk PAKAM, berlari sepasang bocah kembar berusia 5 tahun. Melihat ada seorang pria dewasa sedang duduk termenung, Azka mendekati pria dewasa tersebut, dan berkata:
" Paman yang jelek, dan orang dewasa yang penuh dengan banyak tekanan dalam hidup. Kenapa kau terlihat murung? Apakah kamu sedang memikirkan hutang yang belum kau bayar? "
Melihat kembarannya berkata seperti itu, Anna menarik tangan Azka, dan berkata :
"Abang, Mama biyang tidak boyeh berkata kasar kepada orang yang lebih tua. Cekalang Abang harus minta maaf sama Om Jeyek ini!"
Pria dewasa itu tidak menjawab, ia hanya menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Kenapa bocah perempuan ini memiliki bola mata sama seperti wanita ia cintai 6 tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Aku minta maaf
"Kamu harus pergi. Cepat pergi dari rumahku!” teriak Azka, tangannya menarik baju belakang Baldwin, sedangkan Baldwin masih memegang kedua lengan tuan muda Alexdian, Papa nya.
“Nggak mau! Aku bilang aku ndak mau pergi. Kalau kamu mau pergi…kamu saja yang pergi!” tolak Baldwin kembali berteriak.
Zahida mendekati Anna, sedang berdiri dengan wajah bingung, memandang abangnya berkelahi dengan Baldwin.
“Seru ya?” tanya Zahida, tangannya memukul bahu kanan Anna.
“Iya, abang macam yang ada di film-film anjing sama kucing,” sahut Anna mengingat film kartun.
“Abaikan para lelaki yang berantem, perkenalkan nama aku, Zahida Num, panggil saja Zahida. Kalau kamu siapa?” Zahida mengulurkan tangan kanannya memperkenankan diri.
“Atu, Aulia Anna, panggil aja Anna,” balas Anna menerima jabat tangan Zahida.
Di saat Baldwin, dan Azka berkelahi, Zahida, dan Anna, berkenalan. Mereka berdua juga menonton perkelahian Baldwin, dan Azka. Begitu juga tuan Agung, Marsya dan lainnya. Tuan muda Alexdian sendiri hanya menggelengkan kepalanya, tangannya memijat pelipisnya terasa tegang. Dan membiarkan anaknya dan anak Aulia terus tarik-tarikan baju.
Melihat Anna, dan Zahida duduk menyila di bawah dengan tangan memegang beberapa cemilan ringan buatan Aulia sendiri. Baldwin tiba-tiba merasa malu dilihati Anna, ia langsung melepaskan genggaman tangannya dari tuan muda Alexdian. Azka pun juga seperti itu.
Baldwin memutar arah berdirinya menghadap Azka, “Aku minta maaf,” pinta Baldwin malu-malu, tangannya mengulur setengah.
Tadinya Azka tidak ingin menerima maaf dari Baldwin, setelah mendengar deheman Aulia, Azka langsung membalas jabat tangan Baldwin, dan menerima maafnya.
“Hem…aku juga!” ketus Azka.
“Loh…kok sudah berkelahinya?” Zahida menyodorkan kedua tangannya, “Lanjut lagi, makanan ku saja belum habis,” Zahida menoleh ke Anna, “ ‘Kan Anna?” sambung Zahida.
“Hem…” angguk Anna polos, tangannya menunjukkan toples berisi keripik pisang, “Kelipik pisangnya belum habis,” sambung Anna.
Melihat anak-anak mereka sudah tenang, Aulia mendekati Azka, dan berdiri di samping Azka.
“Abang, Mami boleh minta tolong tidak?” tanya Aulia lembut.
“Apa itu Mami?”
“Tolong ajak Baldwin, Zahida, dan Anna ke lantai atas. Ajak mereka main di sana. Di ruang kosong. Tapi saat naik tangganya jangan lari-lari, ya?” pinta Aulia lembut.
“Baik Mami,” sahut Azka patuh. Azka balik badan, ia menatap Zahida, Baldwin, dan Anna, “Mari kita ke atas,” ajak Azka datar.
Dengan cepat Baldwin berdiri menghadap Anna, masih duduk bersama dengan Zahida, “Bidadari, mari aku bantu kamu untuk berdi…”
“Bidadari…bidadari. Adek, aku ini!” sela Azka sinis, tangannya menyikut uluran tangan Baldwin. Dan membantu Anna untuk berdiri.
“Sepertinya aku harus mendapat restu dari abang ipar,” gumam Baldwin mulai berpikir dewasa. Tuan muda Alexdian, dan Vanesha, mendengar gumaman dari anaknya hanya bisa menggeleng, dan tertawa ringan.
Benar-benar mirip dengan tuan muda Alexdian sewaktu muda dulu.
Azka, Anna, dan Zahida, kini sudah perlahan melangkah pergi meninggalkan ruang tamu, meninggalkan Baldwin, masih berdiri dengan pikirannya sendiri. Menyadari jika dirinya di tinggal oleh Azka, Anna, dan Zahida. Baldwin melangkahkan kedua kakinya dengan mulut mengumpat tampan suara.
Mendengar langkah Azka, Anna, Zahida, dan Baldwin sudah menaiki anak tangga. Aulia berjalan sedikit, dan duduk di sofa mini di sebelah tuan Agung. Kepalanya tertunduk, merasa dirinya sangat bersalah karena sudah kabur dan tak memberi kabar selama 5 tahun lamanya.
“Nak,” panggil Marsya, mengejutkan Aulia. Aulia langsung duduk tegak, menatap wajah sendu dengan kedua mata berkaca-kaca milik Marsya.
“Iya Ma,” sahut Aulia pelan.
“Kenapa kamu kabur, dan tidak memberitahu Papa, Mama, atau tante Ningrum, Tarjok, tuan muda Alexdian, atau Vanesha?” Marsya beranjak dari sofa, berjalan medekati Aulia, dan berdiri di sampingnya. Lalu Marsya kembali bertanya dengan ribuan pertanyaan sudah tersusun rapih di dalam hatinya, “Jawab Mama dengan jujur, apa yang sebenarnya terjadi? Apa Mama, dan Papa memiliki salah kepada kamu, nak?”
Aulia menundukkan kepalanya kembali, matanya mulai berkaca-kaca, “Aku bingung, Ma,” sahut Aulia dengan suara gemetar, menahan tangis.
“Bingung kenapa? Tolong katakan yang sejujurnya?” tanya Marsya, ia jongkok di samping Aulia, “Katakan saja yang sejujurnya nak,” sambung Marsya kembali membujuk Aulia untuk berkata jujur.
Aulia pun mengangkat wajahnya, memandang wajah sendu Marsya. Aulia mulai menceritakan kejadian 5 tahun lalu, menceritakan hal sama ia ceritakan kepada Azzuri saat Azzuri bertanya kepadanya. Mendengar cerita Aulia, sesekali terlihat kepala Ningrum, Marsya, dan Vanesha menggeleng.
Setelah cukup bercerita kejadian 5 tahun lalu, cerita sama diberikan oleh Aulia untuk Azzuri. Marsya langsung memeluk Aulia, sedangkan tuan Agung sendiri mengeluarkan ponsel miliknya dengan geram, karena Aulia mendadak jadi bodoh karena hanya fitnah dari seorang wanita.
“Apakah wanita ini yang sudah mengacaukan ketugahan hati kamu. Membuat kamu marah kepada Papa dan Mama? Dan membungkam mulut kamu untuk tidak mau berbicara kepada Papa dan Mama?” tanya tuan Agung, menunjukkan foto seorang wanita sedang memakai bikini dan berlibur ke pantai.
“I-iya, kok Papa bisa tahu?” tanya Aulia kikuk. Kenapa bisa tuan Agung, Papa nya mengetahui wanita adalah Zalfa Hanin.
“Jika wanita ini adalah istri dari Azzuri, dan dia sedang mengandung. Kenapa Papa tidak mendengar ada gosip dia melahirkan, atau keguguran? Dan satu lagi, buat apa Papa membohongi putri, anak kandung Papa sendiri, mengenai surat nikah kamu dengan Azzuri. Papa ini adalah orang tua, dan kamu adalah anak Papa. Pernikahan itu juga adalah hal yang sakral, buat apa Papa bermain dengan pernikahan, dan kamu yang saat itu sedang mengandung!” tuan Agung membuka kembali ponsel miliknya, dan menunjukkan tentang nama Aulia, dan Azzuri sudah terdaftar sah menjadi Suami-istri di Negara, “Lihatlah. Bukannya tanggal itu sama dengan tanggal pernikahan kalian?” jelas tuan Agung, berusaha menahan geram akan kebodohan Aulia, putri semata wayangnya paling ia sayangi.
“Jadi….berarti…”
“Aulia…Aulia. Kenapa saat itu kamu mendadak bodoh. Coba saat itu kamu bercerita dengan kami semua, pasti hal ini tidak akan mungkin terjadi!” sela tuan muda Alexdian.
“Maaf, lain kali aku akan terus bertanya jika ada kabar buruk,” ucap Aulia sendu, kepala tertunduk.
“Sudah….sudah jangan marahi Aulia lagi. Yang terpenting Aulia sekarang selamat, dengan anak-anaknya,” sambung Marsya tak tega melihat Aulia dimarahi.
“Maafin aku, Ma,” pinta Aulia, ia memeluk tubuh Marsya, dan terdengar suara isak-tangis dalam pelukan, “Hiks…saat itu aku benar-benar kalut. Aku bingung mau berbuat apa. Yang ada di dalam pikiran ku ingin kabur, dan menjauh dari Azzuri, dan Papa, yang sudah menipuku. Wanita mana yang tidak kalut dan sakit, saat mendengar ada seorang wanita datang mengaku sebagai Istrinya, di saat aku sedan mengandung. Saat itu sungguh sakit, sampai aku tidak bisa berpikir apa pun. Aku minta maaf…”
Mendengar permohonan maaf Aulia terdengar tulus, Ningrum, tuan Agung, tuan muda Alexdian, hanya menunduk. Mereka tidak sanggup lagi untuk mengomeli Aulia. Mereka hanya bisa berulang kali menarik nafas lega dan bersyukur, karena Aulia terlihat sangat sehat, begitu juga dengan Azka dan Anna.
“Sudah jangan nangis lagi….”
“Hei…kalian semua kenapa membuat Mami menangis?!” teriak Azka, berdiri di depan pintu ruang tamu, kedua tangan memegang nampan berisi jus jeruk.
Melihat wajah marah Azka terlihat imut, dan gemas. Aulia, tadi menangis kini tersenyum. Marsya, dan lainnya hanya terdiam, mereka senyum-senyum melihat sikap dewasa Azka seperti ingin melindungi Aulia. Walaupun masih kecil, Azka seperti tidak ada takutnya dengan orang dewasa.