"Luna Adinda Putri adalah Gadis cantik, periang namun ceroboh. Tiba tiba dikejutkan dengan ucapan sang ayah yang akan menjodohkannya dengan seorang anak dari teman masa kecil sang ayah"
Apakah Luna akan menerima perjodohan ini dengan sukarela dan bahagia dengan pernikahannya atau malah sebaliknya ?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18 MCS
Waktu sudah menunjukkan hampir jam 9 malam. Dinda yang kini sudah berada diruang keluarga sedang menunggu ayah dan suami nya yang masih berbincang di taman belakang.
Tak berselang lama Ayah dan Bima pun sudah kembali masuk kedalam rumah. "Sayang, apa sudah siap ? Bawa saja barang yang penting selebihnya kamu bisa beli disana nanti," ucap Ayah
"iya ayah, aku cuma bawa satu koper kecil," jawab Dinda tersenyum dengan menunjukkan koper yang ada ditangan nya
"Lebih baik kalian berangkat sekarang, agar tidak terlalu malam," ucap Bunda
"Baiklah, kami permisi,"
Setelah mencium tangan mertuanya Bima pun berjalan dengan membawa koper Dinda, entah apa yang merasukinya hingga dia melakukan hal itu. Dinda yang tersadar pun langsung mengikuti suami nya dari belakang. Bunda dan Ayah pun mengantar mereka sampai ke depan rumah.
"Ayah, Bunda.." Dinda memeluk orangtuanya bergantian. Tanpa ada tangisan seperti tadi saat bersama Bunda. Dinda ingin kepergian nya tidak menyisakan kesedihan bagi orangtuanya.
"Ingat pesan Bunda sayang, prioritas kamu bukan lagi Ayah dan Bunda tetapi suami kamu, jadilah istri yang baik, semoga Allah selalu melindungi kamu," Bunda sambil memegang kedua pipi putrinya lalu dilanjutkan dengan mencium kening Dinda
**
Kini Dinda dan Bima sedang berada didalam mobil, dan Bima yang sedang mengemudikan nya. Mereka terlalu sibuk dengan pikiran nya masing masing hingga tidak ada satu pun yang memulai pembicaraan.
Sudah hampir 1 jam perjalanan menuju mansion. Dinda yang sesekali menguap pun terlihat menahan kantuknya agar tidak terlelap. "Tidurlah, aku akan membangunkan mu jika sudah sampai," ucap Bima memecah keheningan. Tanpa membalas perkataan suaminya Dinda pun langsung menutup matanya.
Hari ini Dinda memang terlihat sangat kelelahan. Bukan karna mengerjakan sesuatu tetapi karna begitu banyak yang sedang dipikirkan nya.
Setelah 2 jam perjalanan, dari rumah Tuan Arya kini mereka sudah tiba di mansion utama Tuan Yuda. "Bangunlah, kita sudah sampai," Bima menggoyangkan bahu mencoba membangunkan istrinya
"eeuughhh..." lenguhan Dinda sesaat setelah matanya terbuka
Bima langsung turun dari mobil tanpa menunggu Dinda. Bahkan Bima tidak membawakan koper milik istrinya seperti saat tadi sebelum mereka berangkat menuju mansion.
"Oke Dinda, kuatkan hati mu, semangat kamu pasti bisa," Dinda mengepalkan tangan nya sambil bergumam menyemangati dirinya sendiri
Dinda pun turun dari mobil dengan membawa kopernya menuju pintu utama. Tanpa dia duga sudah ada Tuan Yuda yang menunggunya didepan pintu masuk.
"Selamat datang sayang, semoga kamu betah ya tinggal disini bersama Daddy," sambut Tuan Arya sesaat setelah Dinda tiba dihadapannya. Dinda pun langsung mencium tangan mertuanya itu dan dibalas dengan usapan lembut di kepala Dinda.
"Ayo kita masuk," ajak Tuan Yuda dan langsung mengambil koper dari tangan Dinda untuk dibawa masuk
"terimakasih Dad," ucap Dinda yang kini mulai membiasakan diri untuk memanggil Tuan Yuda dengan sebutan Daddy
"Kamar Bima ada di lantai 2, kamu bisa pakai lift itu untuk naik kesana," Tuan Yuda sambil menunjuk ke arah pojok sebelah kanan
"Kalau begitu, boleh aku langsung ke kamar Dad" tanya Dinda
"tentu saja sayang dan jika kamu butuh sesuatu katakan saja jangan sungkan,"
**
Dinda pun kini sudah berada di lantai dua.
"oh ya ampun, aku lupa bertanya dimana kamar Om Bima," Dinda menepuk jidatnya setelah melihat ada 5 kamar dengan warna pintu yang sama hingga membuatnya kebingungan memilih yang mana kamar suaminya.
"emm dari pada bingung mending aku ketuk aja satu persatu pintu nya," Dinda pun memulai langkahnya dari pintu kamar sebelah lift
Tok....Tok....Tok
"Om..." tak ada jawaban dari dalam Dinda pun langsung menuju kamar sebelahnya. Dan lagi lagi tidak ada jawaban. Sampai akhirnya dia menuju pintu ke tiga kamar paling tengah.
"Om, bukain dong aku capek nih," karna kelelahan Dinda pun berjongkok memeluk kopernya sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar ketiga
Sementara itu di dalam kamar, Bima baru saja selesai mandi dengan hanya memakai handuk yang dia lilitkan di bagian pinggang nya.
"dimana bocah itu ? kenapa belum masuk kamar, apa dia masih tidur di mobil," Bima yang panik pun buru buru memakai pakaian nya. Setelah selesai berpakaian dengan jalan yang setengah berlari Bima membuka pintu kamar
"Om.." dengan tatapan sendu nya Dinda menoleh kearah pintu kamar yang terbuka. Kamar pertama yang berada tepat disamping lift.
"sedang apa kau disitu," ucap Bima yang melihat Dinda setengah duduk di lantai "cepat masuk, ini sudah malam apa kau tidak lelah,"
"ck, dasar beruang kutub," Dinda pun langsung menyeret koper nya masuk kedalam kamar Bima
...
...
...
...
...