NovelToon NovelToon
Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap

Status: tamat
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:56.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tuti Ummi Luthfi

" Lulus SMA nanti kamu mau lanjut kuliah kan? " tanya Eva sahabatku. " Entahlah.. aku sendiri juga ngga yakin. Sepertinya ibuku ngga ngijinin aku nglanjutin kuliah." lho kok bisa sih, kamu kan anak bungsu. Lagian tinggal kamu yg masih sekolah, kakakmu sudah pada lulus. Bahkan ada yg sudah kerja dan nikah. masa cuma biayain kamu aja ga bisa." Eva sewot. Maklumlah, kami berteman sejak dari SD hingga SMA. meskipun ngga selalu satu sekolah. Hanya waktu SMP saja.
Rumahku berdampingan dg rumah Eva. Di mana ada aku pasti ada Eva. Boleh dikata kami berpisah cuma kalau lagi menuntut ilmu karena beda sekolah, kadang tidur aja kita barengan. Keluarga Eva termasuk keluarga terpandang jadi ibu tak khawatir aku bergaul dengannya.
Impian kami yaitu bisa kuliah bareng di satu kampus yg sama. Tetapi perbedaan ekonomi nampaknya menghalangi impian itu.
Apakah aku bisa mewujudkan cita-citaku , sementara ibuku tidak mendukungnya.
Ataukah aku terpaksa harus menepis impianku dan sahabatku ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tuti Ummi Luthfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 Aku Nggak Sakit

Keesokan hari aku memutuskan untuk tetap masuk kerja meskipun mbak Murni sudah memintakan ijin ke bu Diyah. Aku ingin melupakan kesedihanku dengan tetap beraktifitas seperti biasa. Walaupun tetap saja sulit, buktinya kemaren di pasar aku terus saja teringat Widi.

" Assalamualaikum Bu Aira ! Kemaren kok Bu Aira ngga datang, Adit kangen sama Bu Aira."

Baru saja aku masuk gerbang si gendut Adit sudah menghadangku dan melontarkan pertanyaannya.

":Waalaikum salam Adit anak sholeh," jawabku dan menyambut tangannya. " Kemaren Bu Aira nggak enak badan Sayang," lanjut ku lagi.

Bu Riris dan Bu Heni yang berada di dalam kelas pun keluar menyambutku.

Kemaren mereka sudah mengucapkan bela sungkawa via WA. Mbak Murni yang mengabarinya.

" Bu Aira, kok sudah masuk kerja. Memangnya sudah baikan ?" tanya Bu Riris seraya memegang pundakku.

" Aku baik-baik saja Bu Riris.Terima kasih atas perhatiannya," jawabku sambil melempar senyum.

Aku harus terlihat ceria. Nggak boleh kelihatan sedih di depan murid-murid.

Satu persatu wali murid yang mengantar anaknya mengucapkan bela sungkawa padaku. Mereka juga memberi suport agar aku tetap kuat dan tabah.

Aku sangat terharu karena banyak yang peduli padaku. Meskipun Widi masih sebatas teman dekat.

Kata Bu Murni, hari ini bu Diyah berhalangan hadir. Namun beliau sempat mengirim pesan WA padaku ucapan bela sungkawa.

" Bu Aira, tolong dicek lagi semua perlengkapan untuk praktek hari ini," pinta Bu Murni.

" Baik Bu Murni," jawabku seraya masuk ke dalam.

Aku juga mengecek air di kamar mandi.

" Lihatlah Wid, seperti ini pekerjaanku. Sekarang kamu bisa lihat kan ? Aku tahu saat ini kamu pasti

sedang mengikutiku, memperhatikanku dan menjagaku." Aku bergumam.

Tiba-tiba Bu Murni masuk. Ia melihatku .

" Aira, kamu bicara sama siapa ?" tanyanya.

" Sama Widi Mbak," jawabku yakin. Karena kami hanya berdua jadi kami saling menyebut nama tanpa kata ' Bu '

"Astaga Aira. Widi sudah meninggal, mana mungkin dia ada di sini." Mbak Murni menyangkal ucapanku.

" Tapi aku merasa Widi ada di sini Mbak," kataku.

" Kata orang kalau ada yang meninggal maka arwah orang tadi masih ada di sekitar kita selama 40 hari.

Aku yakin Widi pasti berada di sini. Dia kan pernah bilang ingin selalu melihatku dan mendengar suaraku." Aku melanjutkan perkataanku.

" Tapi bukan seperti itu Sayang. Ya sudah ayo kita keluar, pelajaran kita mulai," ajak mbak Murni.

Kami pun keluar menuju kelas B. Bu Heni dan Bu Riris sudah mengawali doa pembuka di kelas A.

Kulihat mbak Murni menelfon seseorang. Sementara aku mengajak murid-murid untuk mengawali dengan membaca doa.

[ Ya Rin, tolong ya. Aku ngga tega sama dia. ]

• • •

[ Kalau bisa kamu pulang dong, sekalian kita melepas kangen. Udah lama nggak ketemu juga ]

•• • •

[ Oke, see you ]

Hanya itu percakapan yang kudengar dari Mbak Murni. Apa mungkin dia menelfon mbak Rina ?

Mbak Murni pun segera melanjutkan pelajaran.

______

Selesai semua tugas hari ini. Bu Heni dan bu Riris sudah melajukan motornya. Aku melangkahkan kakiku menuju halte. Mbak Murni yang sedang berbicara dengan pak Yanto memanggilku.

" Aira ! tunggu sebentar." Kuhentikan langkahku dan menoleh ke mbak Murni.

" Ada apa Mbak ? " tanyaku. Mbak Murni berjalan

mendekatiku.

" Kita makan dulu yuk ! Mbak traktir deh," ajaknya.

Aku menggeleng. "Makasih Mbak, tapi aku ngga lapar." Aku menolaknya halus.

" Ayolah Aira, mbak tahu dari pagi kamu belum makan apa-apa. Cuma minum teh tadi kan ?" Mbak Murni masih membujukku.

" Maaf Mbak, aku benar-benar ngga pingin. Mau menelan aja rasanya sulit. Ngga ada nafsu makan. "

Aku menyampaikan alasanku, takut mbak Murni tersinggung. " Ya sudah, kalau gitu Mbak antar kamu pulang aja ya? " Mbak Murni menawarkan tumpangan.

" Aku naik angkot aja Mbak. Tadi pagi juga kok. "

Sekali lagi kutolak tawarannya. Entah kenapa rasanya aku pingin sendirian.

" Nggak... nggak.. Mbak nggak mau nanti kamu melamun di dalam angkot, terus nggak turun- turun malah kebablasan." Mbak Murni melarangku.

Ia pun mengambil motor maticnya dan segera menstarter. "Ayo naik ! kali ini nggak boleh nolak !"

Aku pun naik ke motornya. Sesaat kami sudah berada di jalan raya menuju rumah.

Setelah sampai aku pun turun dan mengucapkan terima kasih. Mbak Murni melajukan motornya.

" Pulang sama siapa Aira ?" Ayah yang sedang makan siang bertanya padaku.

" Sama mbak Murni, Yah, " jawabku seraya masuk ke kamar. Pintu kubiarkan terbuka karena Ayah sedang mengajakku bicara.

Aku duduk di kursi 'meja belajar' . Kuambil kertas dan pena. Lalu mulai mencoret -coret kertas. Kebiasaan ku jika sedang galau. Ayah hendak membawa piring kotornya ke dapur lalu berhenti di pintu kamarku.

"Makan dulu Nak,Ayah lihat sepertinya dari kemaren kamu nggak makan," kata ayah.

" Aku udah makan kue tadi di sekolah, masih kenyang ," jawabku tanpa menghentikan aksi coret-coretku. Ayah berbalik dan berjalan ke dapur.

Tahu-tahu kertas yang tadi kosong sudah penuh dengan bait-bait puisi yang secara spontan kutulis. Dan semua tentang Widi.

Ah Widi... sedang apa kamu di sana ?

Aku bangkit dan menuju kamar mandi untuk wudhu kemudian sholat. Ketika sedang melipat mukena kudengar suara motor berhenti di depan rumah. Ayah keluar dari dapur.

" Assalamualaikum Ayah " sepertinya itu suara mbak Tika.

" Waalaikum salam, sama siapa Tik ? " Ayah membalas salam dan bertanya.

" Sendiri, kebetulan pulang kerja agak awal jadi langsung mampir ke sini, " jawab mbak Tika.

" Aira mana Yah ? " tanya mbak Tika lagi. Tumben dia mencariku. Aku pun keluar dari kamar.

Mbak Tika menghampiriku, dan menanyakan kabar.

" Aira, kamu baik- baik saja kan ? " Ia memelukku.

" Baik Mbak, tumben mampir ke sini," ucapku heran.

" Kemaren ibu telfon, katanya teman dekatmu meninggal.. Mbak ikut berduka ya," kata mbak Tika. Aku mengangguk. Mbak Tika meletakkan bungkusan yang dibawanya di meja makan.

" Tadi Mbak beli bakso , ini makan dulu.." Mbak Tika mengambil mangkok di dapur dan menuangkan bakso ke dalamnya. Kemudian ia keluar duduk bersama ayah di teras. Melihat ada bakso aku jadi lapar. " Kayaknya enak nih. !" seruku.

Kuambil sendok dan mulai menyantapnya. Saat baru makan separo aku jadi ingat waktu makan bakso bareng Widi. Seketika dadaku merasa sesak.

Aku nggak melanjutkan makan lagi.

Kudengar ayah dan mbak Tika sedang mengobrol. Aku masuk kamar dan bersiap - siap pergi.

" Kok baksonya nggak dihabiskan, Aira ?" tanya mbak Tika yang sudah masuk ke ruang makan.

" Malas ah, tapi aku udah makan kok tadi sedikit."

Aku menjawab sambil memasang jilbab. Tak lama aku pun sudah siap berangkat ke pasar.

" Mau ke pasar Ra? yuk aku antar ! " Mbak Tika menawarkan diri. Heran deh, semua mendadak lebay padaku. Nggak di sekolah nggak di rumah.

Aku merasa baik- baik saja tapi mereka berpikir seolah aku lagi sakit.

Yang diambilin makan, yang mau disuapin, yang mau ditraktir, sampai pulang pergi juga diantar.

" Memangnya Mbak Tika nggak capek? biar aku naik angkot saja. " Aku berjalan ke teras.

"Nggak kok, kan aku juga mau ketemu ibu. Sekalian aja kamu bareng Mbak," ajaknya lagi.

" Ya udah, ayo berangkat ! " Mbak Tika berpamitan pada ayah yang sedang mengangkat jemuran di depan. Kemudian ia pun menyalakan motornya. Aku membonceng di belakang.

Mbak Tika melajukan motornya.

Sampai di warung makan ternyata ada mbak Rina lagi ngobrol sama mbak Nia di dapur. Ibu dan mbak Sri sedang melayani pembeli. Aku dan mbak Tika langsung masuk ke dapur.

" Aira, gimana keadaan kamu ? " Mbak Rina berdiri dan menghampiriku. Ia menangis dan memelukku.

Mbak Rina orangnya ngga tega an dan mudah menangis. Apalagi kalau terjadi sesuatu pada saudaranya.

" Aku baik Mbak, kenapa sih semua pada bertanya tentang keadaanku. Orang aku nggak apa-apa."

Aku berkata dengan agak kesal. Mbak Rina jauh - jauh datang cuma menanyakan kabarku. Kan bisa lewat telefon.

":Tapi kata ibu kamu ngga mau makan. Terus tadi Murni telefon katanya kamu ngomong sendiri di kamar mandi." Mbak Rina menceritakan apa yang didengarnya dari ibu dan mbak Murni.

" Mbak Rina khawatir sama kamu, Aira," lanjutnya lagi.

" Aku ngga mau makan karena memang ngga pingin makan. Aku merasa kasihan sama Widi kalau aku makan tapi dia nggak," kataku.

" Terus tadi pagi di sekolahan aku nggak ngomong sendiri. Aku yakin Widi ada di dekatku makanya aku ngobrol sama dia." Aku mengungkapkan apa yang kurasakan pada kakak2 ku. Mereka semua terkejut mendengar pernyataan ku.

" Widi sudah meninggal Aira. Orang mati ngga bisa makan apalagi bicara dengan kita. Alam mereka sudah lain." Mbak Rina menerangkan sementara matanya berkaca-kaca.

Ibu yang dari tadi sibuk melayani pembeli ikut bergabung dengan kami. Di depan ada mbak Sri dan pembeli juga sudah pada keluar.

" Ya itu aku tahu. Ini kan hanya perasaanku. Mbak Rina bilang begitu karena nggak merasakan sendiri apa yang kualami , hiks.... " Aku mulai terisak.

"Sudah....sudah. Sekarang kamu makan dulu, sedikit juga nggak apa-apa. Terus minum ini. " Ibu mengangsurkan plastik kecil berisi kapsul padaku.

" Aku nggak sakit Bu, masa minum obat," cetusku.

" Ini bukan obat. Cuma vitamin biar badanmu ngga lemes. Dari kemaren perut kamu belum terisi kan? "

Ibu meletakkan kapsul itu di meja.

Labih baik aku minum saja, siapa tahu memang vitamin. Aku mengambil bakwan jagung dan kumakan untuk mengisi perut karena hendak minum obat yang katanya vitamin itu.

Akhirnya mereka bernafas lega setelah aku minum obat. Ibu pun tersenyum.

" Kok ngga makan dulu," tanya ibu. Aku menggeleng.

." Ngga apa-apa Bu, tadi di rumah Aira sudah makan bakso." Mbak Tika memberi tahu ibu.

Kemudian ia pamit hendak pulang ke rumahnya.

Sedangkan mbak Rina masih menunggu suaminya. Dia bilang tadi dia diantar kemudian ditinggal sebentar karena mas Krisna sedang menemui teman-teman lamanya.

" Setelah dari sini aku sama mas Krisna akan menemui ayah dulu di rumah." Begitu katanya.

" Nanti kalau Krisna datang ajak makan ya Rin, " pesan ibu. " Ya Bu, ' jawab mbak Rina.

Setelah ada kejadian seperti ini baru mereka peduli sama aku. Kemaren aja pada bilang sibuk kalau aku lagi butuh mereka.

______$$$________

ada kelanjutannya ya.. maaf lama up date penulisnya lagi meriang hehe..

please vote like dan komentar agar penulis semangat buat up date.

1
blush.and.ochre
Semoga kedepannya bisa makin bagus dan author ga pusing2 mikirin hal negatif ya. Fighting!
Tuti Ummi Luthfi: Aamiin.. makasih doanya. semangat terus pokoknya
total 1 replies
Eja Drajat Adriansyah
Sumpah! Sampai lupa waktu bacanya!
Tuti Ummi Luthfi: Aih aih... asal jangan lupa makan aja. hehe ! thanks ya.
total 1 replies
LilCutie
cerita ini lebih lucu dibanding yg lain
Tuti Ummi Luthfi: gitu ya, padahal aku ga ngelawak loh. Hehe makasih ya, kak !
total 1 replies
salt sand and smoothies
thor up lgi dan kurangin typo yaaa
Tuti Ummi Luthfi: oke kakak, makasih sarannya.
total 1 replies
skyeandstaghorn
Alurnya gregetan! Aku baru baca aja jadi nagih!
Tuti Ummi Luthfi: makanya ikuti terus ceritanya ya, makasiih !
total 1 replies
TickleStar
Kelanjutan cerita author itu kayak hujan ditengah kemarau thor.. alias ditunggu-tunggu!
Tuti Ummi Luthfi: Siap kakak.. makasih ya udah setia nunggu .
total 1 replies
Labuh Ardianto
hallo kakak semangat berkarya ya kak🤭
Tuti Ummi Luthfi: Hallo juga, makasih udah mampir
total 1 replies
Nightingale Soakage
authorrr kamu hebatttttttt nggak nyesel dech bacanya seruuu bingit endingnya itu lho wowowowowowo woooooowwww
Tuti Ummi Luthfi: aduh makasih pujiannya.. tetep tungguin kelanjutannya ya say !
total 1 replies
rowiethelabel
Ceritanya menarik, nih! Boleh kali thor dilanjut?
Tuti Ummi Luthfi: siaap kakak, makasih ya udah nunggu !
total 1 replies
Atas Untuk Diikuti
Thor, kalau capek, istirahat dulu, minum dulu, besok kita lanjut lagi ya :) Aku selalu nunggu author kok!
Tuti Ummi Luthfi: Makasih atas pengertiannya ya..!
total 1 replies
NewJerseyJack
Jangan lupa minum air putih biar bisa fokus lanjut next bab thor! Aku nungguin banget up bab baru soalnya nih!
Tuti Ummi Luthfi: Duuh makasih atas perhatiannya ya, ditunggu terus pokoknya.
total 1 replies
Respati Wijaya
Thor chakep, kalau saya bilang lanjuut, lanjuuuut~ hahah
Tuti Ummi Luthfi: siaaap, ditunggu terus ya lanjutannya. thanks !
total 1 replies
saltsanddanmoothies
Ih! Kenapa ceritanya relate bangeeeeet! Semangat kak!
Tuti Ummi Luthfi: makasih yaa !
total 1 replies
MouthofMexico
Bang! Hayati gak bisa tidur nih gegara othor gantungin ceritanya :(
Tuti Ummi Luthfi: Hehehe, sabar ya say. Kalau nggak digantung ngga penasaran dong !
total 1 replies
LiveChic
SERUU.....BUET CERITANYA
Tuti Ummi Luthfi: Makaciih ditunggu terus ya !
total 1 replies
moonjuice
Kiss jauh buat othor karena udah buat karya sekeren ini!
Tuti Ummi Luthfi: Auww so sweet., makasih ya say. Tungguin terus lanjutannya ya.
total 1 replies
Gadis Sandman
Thor tolong ya aku ini udh penasaran banget sama kelanjutannya nih
Tuti Ummi Luthfi: Siaap Kakak, ditunggu ya. Makasih !
total 1 replies
DavidTheDancer
Aduh aku sampe tahan napas baca beberapa bagian ceritanya. Excited banget
Tuti Ummi Luthfi: waah makasih Kak.. ditunggu terus kisahnya ya !
total 1 replies
monsoonblooms
Yo ayo thor! aku selalu mendukungmu dalam doa hehehe
Tuti Ummi Luthfi: makasih Kak, ditunggu terus ya ceritanya !
total 1 replies
Eli Usada
Thor, dapet notifikasi dari update-an ceritamu itu kayak minum es di siang hari bolong!
Tuti Ummi Luthfi: Duuh segernyaa, makasih ya !
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!