Alexandria Rigest tidak menyangka akan terjebak di antara baku tembak pendemo Sebagai jurnalis dia ingin mengupas tuntas sisi gelap prilaku oknum-oknum yang duduk di parlemen. Ketika terjadi demo serta baku tembak di salah satu gedung pemerintah, Alexa ikut terjaring. Dia sendiri diculik oleh beberapa orang yang berpakaian hitam- hitam dan disekap di ruangan bawah tanah. Alvaro Ady Mema, itu nama bos gangster yang menculiknya. Kehidupan Alexa di manipulasi dan Alexa menjadi budak nafsu Alvaro yang terkenal kejam tidak punya prikemanusiaan. Bisakah Alexa lepas dari cengkraman Alvaro? atau dia malah jatuh cinta kepada bos mafia itu?
****
Hallo readers yang selama ini sudah support aku, mampir ya...
jangan lupa kasi like, gift, vote dan favorit. Trimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KURANG BERUNTUNG
Alexa dan Alvaro berlari menuju kamar mandi. Alvaro mengguyur badannya dengan air hangat dari shower. Bau anyir darah segar masih tercium.
"Kurang ajar, siapa yang membuat ulah mereka ingin mati." gerutu Alvaro kesal.
Alexa tidak peduli dengan keberadaan Alvaro, dia ikut mandi dibawah shower bergabung dengan Alvaro.
Pikiran Alvaro melayang ke mayat yang berserakan. Sampai dia lupa kepada pemandangan yang menggiurkan di hadapannya. Ketika Alexa menyudahi mandinya Alvaro baru sadar.
"Alexa...." dia menyambar tubuh Alexa dan membawanya kembali kebawah shower.
"Alvaro jangan membuat ulah, jika kau menginginkan tubuhku, tolong nikahi aku supaya sah. Kau kira aku babumu yang gampang di jamah."
"Keramasmu belum bersih, darah masih banyak menempel." bohong Alvaro.
"Perasaan sudah bersih." kata Alexa kembali mengambil shampo dan keramas.
"Bagaimana bisa bersih pskaianmu masih menempel. Darah akan berkumpul di sana."
Alvaro memeluk Alexa dan menarik penutup gunung kembar gadis itu. Astaga kehindahan dunia berada di depan matanya. Alvaro menelan salivanya, dia langsung mematikan shower dan menggosok tubuh Alexa. Tangannya berselancar naik turun dan terakhir menarik tabir terakhir yang menutup kanal Alexa.
Nafas Alexa tidak beraturan, tubuhnya terasa sumbriwing kala tangan Alvaro menyentuh tubuhnya.
"Aku mencintaimu." kata Alvaro penuh dengan hasrat yang menggelora.
Bibirnya mendarat di bibir ranum Alexa menjilat penuh kemenangan. Tangan kekarnya meraba gunung kembar gadis itu. Berusaha menahan nafsu yang menggebu. Suasana tiba-tiba menjadi romantis saat bibir Alvaro menjelajahi tubuh Alexa. Alvaro membuka boxernya dengan kasar. Kini mereka sama-sama tanpa busana.
Ketika tubuh Alexa menyenggol intinya Alvaro, Alexa ketakutan, dadanya berdebar. Dia membalikan badan dan berusaha lari. Namun tangan Alvaro menariknya serta merengkuhnya. Air hangat dari shower membasahi tubuh mereka kembali, membuat sensasi tersendiri.
"Tenanglah sayank...." bisik Alvaro sambil mengecup pipi Alexa. Dia terus memeluk dan membersihkan badan Alexa.
"Alvaro aku tidak mau berbuat mesum, kita belum menikah." protes Alexa ketika tangan Alvaro menyentuh kanal milik Alexa.
"Aku akan menikahimu, kau adalah permaisuriku."
"Lepaskan aku, aku ngantuk."
Alvaro merengkuh tubuh mulus itu dan keluar dari kamar mandi. Laki-laki itu membaringkan tubuh Alexa dengan pelan di ranjang. Alexa berontak sebentar, ketika bibir Alvaro ******* bibirnya, pasrah.
"Alvaro aku ketakutan." rintih Alexa di antara gelombang nikmat yang di berikan Alvaro. Tubuhnya terasa tidak bertulang.
"Aku akan melakukan malam ini, kau jangan takut. Tidak sakit, seperti digigit semut."
"Aku tetap takut...." rintih Alexa.
Alvaro menutup bibir Alexa dengan bibirnya. Ketika dia sudah siap melaksanakan tugasnya, Alvaro dikagetkan oleh suara Speaker Microphone dari polisi.
"PERHATIAN-PERHATIAN...KAMI PETUGAS, SEMUA ORANG YANG MASIH BERADA DI DALAM ATAU YANG MASIH BERSEMBUNYI HARAP KELUAR, KARENA KAMI AKAN MENGEVAKUASI KALIAN, HARAP TENANG."
Alvaro dan Alexa meloncat turun dan berlari ke kamar msndi.
"Apa-apaan ini siapa yang berani memanggil polisi." kata Alvaro kesal.
Peliharaannya sudah biasa lepas dan memangsa pelayannya biasanya kalau kejadiannya malam akan di bersihkan besok pagi.
"Kita keluar saja, daripada disini." kata Alexa memakai pakaiannya.
"Ada saja pengganggu, sedang enak-enaknya." gerutu Alvaro kesal.
"Itu artinya alam tidak meridoinya. Kita ini tidak berjodoh."
"Jangan percaya tahayul." Alvaro kembali memeluk tubuh Alexa.
"Kita harus keluar secepatnya."
"Duduk dulu Alexa, aku merasa curiga kepada musibah ini." kata Alvaro. Pria itu duduk menatap Alexa tajam. Alexa balik menatapnya heran.
Gairah Alvaro tiba-tiba lenyap, dia beramsumsi bahwa setiap tragedi adalah ciptaan Alexa.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Alvaro lantang membuat Alexa kaget.
"Apa maksudmu?"
"Semenjak kau disini banyak yang terjadi, tanpa aku sadari kau menusuk aku dari belakang."
"Syukurlah kau punya asumsi begitu, aku lebih senang jika kau membenci ku, jadi aku gampang membunuhmu." jawab Alexa tenang.
"Brengsek, jadi kau yang membuat huru hara ini, siapa yang membantumu Marchel?"
"Jika kau curiga padaku jangan libatkan orang lain. Marchel adalah teman sejatimu melebihi saudara, tidak mungkin dia menyakitimu."
"Jadi kau mengaku bahwa semua kejadian ini adalah ide gilamu."
"Sebagai pimpinan kau harus lebih jeli, dan punya standout feeling kepada begundalmu dan perusahanmu. Pemimpin tidak perlu ditakuti tapi di segani."
"Jangan banyak bacot, belum pernah ada huru hara yang memakan korban banyak. Aku yakin ada yang sengaja membuka pintu gerbang Rimba."
"Kadang kau tidak menyadari dan selalu menganggap remeh orang lain. Kau ingat Maria yang melarikan diri ke Rimba?"
"Kau bukan orang dari dunia hitam jadi pikiran kau cetek dan tidak masuk akal Orang yang seperti aku pemikirannya maju dan jauh ke depan, jadi bisa tahu mana orang jahat dan tidak."
"Alvaro, kau sulit menerima masukan. Terserah kau saja, aku mau keluar dari sini."
"Jangan keluar, musuhku menunggu diluar. Aku curiga, tadi Alfredo, Farida Margareta, dan Marchel, kenapa tiba-tiba tahu aku akan rendezvous di Bungalow. Aku tidak pernah bicara dengan siapapun."
"Itu berarti mobilmu di isi pengadap." celetuk Alexa.
"Mungkin, tapi siapa yang berani kepadaku." gerutu Alvaro berdiri, dia lalu mematikan lampu dan membuka pintu belakang.
"Astaga, apalagi idemu?" tanya Alexa ikut berdiri.
"Kita akan melihat kesibukan dibawah sana. Siapa saja yang ada."
"Yang pasti ada polisi. Ngapain kau ngumpet disini. Harusnya kau keluar berhadapan dengan polisi dan pelayan bertanggung jawab terhadap musibah yang menimpa pengawalmu."
"Aku akan keluar besok pagi setelah tenang, kita pura-pura tidak tahu."
"Mobilmu berada di garase, gaunku dan pakaianmu ada di luar. Bukti kita berada dirumah ini sudah jelas. Tapi bisa saja Polisi mengira kita mati dimakan macan. Bicara apa adanya, kau bukan penjual narkotika, kau bukan pembunuh, apa yang terjadi katakan kau tidak tahu."
"Aku mendadak hilang akal kalau berada disisimu, kau tidak seperti wanita lain yang manut. Alexa, kau diam saja di kamar dan jangan banyak tuntutan." ujar Alvaro seperti bingung. Biasanya Marchel yang bergerak dan punya ide jitu, sekarang Marchel ntah dimana.
"Aku mau tinggal disini asal kau tidak berulah. Tadi aku hampir khilaf, untung ada polisi, kalau tidak ...." Alexa tidak melanjutkan ucapannya.
"Tidak apa?, kau penuh teka teki, bicara yang jujur supaya hidupmu beruntung."
"Kalau tidak, mungkin kau sudah mati aku tembak." kata Alexa menohok.
"Gak lucu..."
Alvaro masuk ke dalam mengambil dua botol minuman di kulkas. Malam ini dia ingin tidur nyenyak. Hasratnya untuk menjebol Alexa terpaksa ditunda. Dia ingin Alexa meladeninya dengan ikhlas tanpa embel-embel atau tanpa paksaan.
"Minumlah supaya kau cepat tidur. Besok pagi kita periksa semuanya. Kita juga perlu memeriksa pelayan dan pengawal."
"Aku tidur disini saja, adem." kata Alexa menyesap minumannya.
*****