Adel dan Vano adalah orang asing yang tidak saling mengenal dan mereka harus terjebak dalam sebuah pernikahan yang disebabkan oleh sebuah perjanjian ibunya dan sahabat ibunya di masa Sekolah.
"Kita menikah bukan atas dasar cinta,kenapa kita harus sama seperti pasangan yang lain?,kamu boleh mengambil peran istri hanya di depan orang tua kita saja, setelah itu kamu bebas melakukan apapun sesuai keinginan kamu,aku tidak akan ikut campur selagi itu masih dalam batas wajar. Dan satu lagi jangan pernah ikut campur dengan urusan pribadiku"kata Vano
Mendengar ucapan Vano ,hati Adel sedikit nyeri entah pernikahan macam apa yang akan dia jalani nantinya.
Hingga di awal pernikahan Vano tidak juga menyadari kalau dirinya mulai menyimpan rasa dengan istrinya.
Siapa diantara mereka yang ternyata mulai jatuh cinta duluan,,,,,yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dik Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Malam pertama yang tertunda
"Hahaha......." Tawa Vano pecah seketika.
"Adel, astaga sayang kamu lapar?" Tanya Vano.
"Hehehe... iya Mas." Jawab Adel malu (gara-gara bunyi perutnya yang lapar jadi mengganggu momen romantis mereka).
"Yaudah Mas Vano tunggu di sini ya, aku mau masak dulu."
"Apa perlu mas bantu sayang?"
"Nggak usah Mas, Adel bisa sendiri kok bentar ya." Jawab Adel bangkit dari duduknya.
Saat Adel hendak berdiri, Vano kembali menarik tangannya, alhasil Adel malah jatuh ke pangkuan Vano.
"aaaaaaa..." Teriak Adel kaget.
"Mas Vano bisa gak sih, kalau narik itu bilang-bilang kagetkan akunya."
"Maaf sayang, mas cuma mau minta ini aja kok," jawab Vano sambil menunjuk pipinya.
Adel yang mengerti langsung mencium pipi kanan dan kiri Vano.
Vano sangat bahagia mendapatkan ciuman dari istrinya untuk pertama kalinya.
"Makasih sayang." Ucap Vano dengan senyum bahagianya.
"Sama-sama Mas, yaudah aku turun dulu ya,"
"Oke sayang. Entar aku nyusul ya."
Adel menjawab ucapan Vano hanya dengan mengeringkan sebelah matanya, sambil berlalu keluar kamar.
"Gila, ternyata istri gue gemesin banget ya, jadinya kan pengen gue makan terus, apalagi kalau keinget tadi sumpah gue malah pengen lagi. Kenapa gue baru menyadarinya sekarang ya, ini pokoknya gue harus bilang makasih sama mama deh." Ucap Vano pada dirinya sendiri.
Adel yang berada di dapur kini sibuk memilih bahan untuk di olah, akhirnya dia memutuskan memasak ayam bakar, tumis kangkung dan udang krispi, tak lupa dirinya memasak nasi terlebih dahulu.
Vano yang baru keluar kamar langsung mencium aroma harum dari dapur, segera dirinya menuruni tangga dan menyusul istrinya yang sedang memasak.
Saat Adel sibuk membakar ayamnya, dirinya dikagetkan dengan pelukan seseorang dari belakang tubuhnya.
Vano datang tanpa suara lalu memeluk Adel dari belakang dan tak lupa mencium pundak istrinya yang terbuka.
"Mas Vano seneng banget sih bikin orang kaget!" Gerutu Adel.
"Maaf sayang, wow baunya harum sekal," Ucap Vano mencium ayam yang masih di bumbui itu.
"Sebaiknya mas duduk aja dulu ya, sebentar lagi udah mau selesai ini, nanti aku siapin di piring dulu." Ucap Adel sambil melepaskan diri dari pelukan Vano.
"Tapi aku masih mau seperti ini sayang," ucap Vano manja lalu meletakkan kepalanya di bahu Adel.
"Kalau Mas Vano peluk Adel kayak gini, gimana Adel bisa gerak Mas?"
"Yaudah kalau gitu mas tunggu di meja makan ya sayang?"
"Ok suamiku."
Mendengar panggilan sayang dari sang istri untuk pertama kalinya membuat Vano begitu senang, sebelum melepas pelukannya tak lupa dirinya meninggalkan kecupan di pipi sang istri.
"Dasar laki-laki, kemarin aja dinginnya kayak kulkas, sekarang aja hangatnya hampir mendekati kompor." Gerutu Adel dengan menggelengkan kepalanya.
Setelah selesai memasak, Adel menyiapkan makanan nya ke meja makan.
"Sayang ini semua kamu yang masak?" Tanya Vano.
"Iya Mas, emang siapa lagi?, "disini kan hanya kita berdua."
"Iya juga ya, semua ini pasti ulah mama Lisa sayang yang nyuruh bibi buat gak ganggu bulan madu kita." Tebak Vano.
"Masa sih Mas,"
"Iya mas yakin banget ini mah, tapi mas seneng sih bisa berduaan sama kamu." Ucap Vano dengan senyum mesumnya.
"Apa sih, nggak usah mikir aneh-aneh deh Mas, ayo buruan makan aku udah lapar banget ini!"
Setelah Adel mengambilkan suaminya nasi beserta lauknya, kemudian Adel baru mengambil untuk dirinya sendiri.
"Wow, sumpah rasa ayamnya enak banget sayang, kamu pinter banget sih jadi istri." Kata Vano setelah mencicipi makanan nya.
"Jadi istri ya harus pinter masak dong Mas, kalau gak bisa masak nanti suaminya mau di kasih makan apa?, "kalau beli terus kan boros."
"Tapi jangan lupa sayang, bukan hanya pinter di dapur aja, tapi pinter di kasur juga perlu lo." Goda Vano dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Maksud Mas Vano?" Tanya Adel spontan.
"Iya itu, masak nggak ngerti sih sayang, kaya aktifitas yang kita lakukan tadi di kamar," kata Vano menarik turunkan alisnya.
"Astaga Mas Vano, kita lagi makan lo ini bisa gak sih bahas itunya nanti aja setelah makan." Ucap Adel baru paham maksud perkataan suaminya.
"Oke sayang, sekalian nanti kasih yang lebih dari tadi ya?"
Melihat wajah Adel yang bersemu merah, membuat Vano semakin menjadi untuk menggoda istrinya itu.
Mereka menghabiskan makan malamnya tanpa tersisa, Adel lalu membersihkan bekas makan mereka dan tak lupa mencuci perabot yang di gunakan memasak tadi.
"Mas kamu gak mandi?" Tanya Adel pada Vano yang lagi membalas email di ponselnya.
"Nanti aja sayang, kamu aja ya yang mandi duluan entar gantian."
"Yaudah, Adel mandi dulu ya Mas,"
"Oke sayang."
Beberapa saat kemudian Adel sudah selesai mandi, aroma sabun menguar di kamar vila pengantin baru itu. Vano tiduran di sofa sambil menunggu istrinya selesai mandi, dirinya segera bangun saat melihat Adel yang keluar kamar mandi hanya memakai handuk sebatas paha dan menutupi dada.
Tanpa berkata-kata Vano mendekat ke arah Adel yang sibuk memilih pakaian di lemari.
Vano langsung melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, lalu mencium punggung Adel yang terbuka di bagian atas.
"Mas, katanya kamu mau mandi?" Tanya Adel dengan menggeliat merasakan geli di lehernya dan disertai ******* kecil yang keluar dari mulutnya.
"Bentar sayang, mandinya nanti aja ya."
Vano tak mempedulikan ucapan istrinya, dirinya lanjut menikmati pemandangan yang ada di hadapannya itu.
Tak hanya itu, Vano juga menciumi leher Adel yang putih mulus yang masih sedikit basah itu, Adel yang mendapatkan serangan mendadak itu hanya bisa menikmati sentuhan dari suaminya itu.
Vano yang melihat istrinya begitu menikmati sentuhannya menjadi semangat dan ingin memberikan kenikmatan yang lebih dari apa yang mereka lakukan saat ini.
Bibir Vano semakin bergerak lincah menyapu setiap inci bagian tengkuk Adel hingga meninggalkan beberapa bekas merah kebiruan.
Tangan Vano semakin bergerak liar tak karuan mencari sesuatu yang bisa di nikmati. Puas dari belakang Vano kemudian membalik tubuh Adel hingga mereka berhadapan.
Tak butuh waktu lama Vano langsung mencium istrinya itu dari kening mata, hidung, pipi dan berakhir di bibir yang merah merona itu, Vano sengaja melakukannya dengan sangat lembut, agar istrinya bisa menikmati ciumannya.
Bibir Vano semakin menyusuri ke leher Adel hingga tulang selangka. Masih sambil berciuman Vano dengan pelan menggiring Adel ke atas ranjang, saat tiba di ranjang Vano dengan pelan merebahkan istrinya dan segera menindihnya.
Karena sudah tak tahan ingin menikmati bagian tubuh istrinya yang lain, tak lupa Vano meminta ijin terlebih dahulu.
"Sayang, bolehkan aku minta ini?" Tanya Vano dengan suara seraknya sambil memegang sesuatu milik Adel.
"Tapi aku takut sakit Mas?"
"Paling sakitnya cuma sebentar, habis itu pasti enakan, mas janji akan pelan-pelan nanti."
"Bener ya pelan-pelan,"
"Iya sayang." Jawab Vano mantap.
"Iya udah deh Mas, malam ini Mas Vano boleh menikmati semua yang ada pada diriku, jadikan aku milikmu seutuhnya suamiku." Kata Adel dengan tersenyum sayu.
Vano yang mendengar jawaban sang istri semakin semangat untuk menjadikan Adel miliknya seutuhnya.
Setelah melepas pakaian atasnya Vano kembali membuka handuk Adel dan terlihatlah bukit kembar yang ranum padat dan berisi itu, Vano menikmati semua itu bergantian hingga puas tak lupa stempel kepemilikan dia tinggalkan.
Hingga akhirnya malam ini mereka menyatukan cinta mereka yang mulai tumbuh bersemi itu. Seperti tak ada puasnya Vano dan Adel beberapa kali mengulang aktifitas yang sangat menyenangkan itu.