Assalamualaikum...
Ini karya pertama ku dari penulis pemula seperti ku
Mohon bantuan kritik dan sarannya
Terima kasih
Dua wanita
Dua cincin
Tapi hanya ada satu cinta
Siapakah yang akan dipilih Sameer??
Humaira gadis hijab bercadar lulusan pesantren ataukah Elena gadis cantik dan modis??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Dinda pulang rumah apa langsung ke toko?" tanya Sameer saat mereka bertiga berjalan bersama menuju pintu keluar.
"Dinda ke toko saja dulu Zauya. masih harus mantau pekerjaan mereka"
"Kalau kamu Ele?"
"Aku ikut kamu ke kantor boleh?"
"Boleh" Sameer tersenyum. "Aku antar kamu dulu ya Dinda"
"Iya Zauya"
Mereka menuju mobil yang telah di ambil petugas valet. Elena melenggang membuka pintu depan. Elena mengambil tempat duduk di samping kursi Sameer. Humaira hanya mampu melihatnya dan mengalah.
Disepanjang perjalanan hanya terdengar suara Elena yang menceritakan kegiatannya berbelanja. Sesekali Elena pun menyandarkan kepalanya di pundak Sameer sambil mengelus pipi Sameer lembut.
"Aku sangat bahagia sayang, sudah lama tidak belanja" tutur Elena semangat.
"Belanjalah selama kamu membutuhkan barang-barang itu dan ingat jangan terlalu berlebihan. Belilah apa saja yang kau butuhkan" pesan Sameer memperingatkan Elena supaya tidak berlebihan saat belanja.
Humaira yang duduk di kursi belakang, mengalihkan perhatiannya ke luar jendela mencoba tidak mendengarkan perbincangan mereka. Humaira semakin merasa terasingkan. dia sama sekali tidak menyahut apapun yang sedang mereka bicarakan. Dia memilih diam membisu.
"Dinda!" panggil Sameer sesaat mobil Sameer sudah berhenti didepan toko kue.
Lamunan Humaira buyar seketika, tersenyum canggung pada sosok Sameer yang menatapnya.
"Kamu melamun?"
"Tidak Zauya, Dinda hanya terlalu fokus lihat jalanan" kilah Humaira membetulkan letak khimarnya yang sedikit miring.
"Sudah sampai Dinda sayang"
"Iya Zauya, aku pamit dulu ya. Kalian hati-hati"
"Iya Mai pasti, Oh ya nanti jangan lupa pulang bawa kue mu ya. aku ingin mencobanya dirumah"
"Siap Mbak" Humaira mengundurkan diri. Tangannya melambai melepaskan kepergian Sameer dan Elena yang telah meninggalkan toko kue nya.
Berilah kesabaran dan ketegaran dalam diri ini. Jangan jadikan hamba masuk dalam golongan orang-orang yang iri dengki akan sesuatu yang bersifat tidak abadi (batin Humaira)
***
Pukul 07.00 p.m
"Sayang kamu kenapa sih mondar mandir seperti itu?" tegur Elena menyaksikan Sameer yang sejak sore tadi mondar mandir seperti setrikaan.
"Tumben Humaira belum sampai rumah"
"Mungkin dia masih di jalan Sam, duduklah Sam. Aku pusing melihat mu mondar mandir seperti itu" omel Elena.
"Dia tidak biasanya pulang jam segini Ele, aku akan menjemputnya" Sameer menyahut kunci mobil yang tergeletak dimeja.
"Terserah kau saja Sam" cuek Elena tidak peduli. Sameer berlari kecil keluar rumah menuju garasi tempat mobilnya terparkir.
Saat akan masuk kedalam mobilnya, Sameer melihat sebuah taksi berhenti tepat di depan gerbang rumah. Turunlah seorang wanita berniqab yang sejak tadi dia tunggu dan dia khawatirkan.
Sameer berlari kecil membuka gerbang menyambut kedatangan Humaira dengan pelukan erat dan pandangan mata yang penuh kecemasan.
"Sayang, kau kemana saja? kenapa baru tiba? Baru saja Zauya mau menjemput mu" Sameer mengecup kening Humaira. Hati Humaira menghangat dengan sikap perhatian yang ditunjukan Sameer.
"Tadi Dinda beli rujak sama cilok, mau telfon Zauya tapi ponsel Dinda kehabisan baterai" Humaira menunjukkan ponselnya yang telah mati kehabisan daya.
Sameer menghela nafas lega. Kecemasannya berganti senyuman manis. Sameer merangkul pundak Humaira berjalan masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum!" sapa Humaira.
"Waalaikumsalam, Eh kamu sudah pulang Mai" sapa Elena masih tetap diposisinya duduk santai menatap layar TV.
"Iya Mbak, ini kue yang tadi Mbak minta" Humaira menyerahkan sekotak kue.
"Terima kasih ya Mai" ucap Elena.
"Sama-sama Mbak"
"Kamu segera membersihkan diri, nanti kita makan malam bersama" perintah Sameer.
"Iya Zauya"
***
Beberapa hari ini Sameer maupun Humaira disibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing, intensitas pertemuan mereka berdua pun semakin berkurang. Mereka hanya akan bertemu di kamar tidur saat salah satu dari mereka sudah terlelap tidur.
Sameer sendiri sibuk mengurus proyek besarnya, sedangkan kesibukan Humaira semakin padat di toko kue karena beberapa hari dia mendapat pesanan kue dalam skala besar.
Siang ini Humaira menyibukkan diri didapur seorang diri, sedangkan Elena tengah pergi katanya ada keperluan yang sedang dia urus.
Penuh senyum bahagia Humaira menyiapkan makan siang. Ia menatanya ke dalam rantang seperti yang biasa ia lakukan.
"Ayo sayang, kita berkunjung ke tempat Daddy" ujar Humaira mengelus perutnya yang masih rata berbicara kepada janinnya.
Sampai saat ini Humaira masih belum siap memberi tahukan kepada Sameer tentang kehamilannya. Ia masih belum siap melihat reaksi Sameer tentang kehamilannya.
***
Cklek...
Humaira memutar kenop pintu ruangan Sameer, saat pintu itu terbuka sedikit. Tubuh Humaira mematung mendapati pemandangan di depan matanya.
Elena tengah duduk di pangkuan Sameer, mereka sedang berciuman mesra. Tangan Sameer pun memeluk Elena posesif.
Humaira menyeka air matanya yang sudah menetes. Meskipun sudah sering melihat kemesraan yang terjalin diantara mereka. perasaan Humaira masih tidak bisa di bohongi kalau dia masih tetap merasakan sakit dan juga cemburu.
Humaira menutup kembali pintu ruangan Sameer pelan, membalikkan badannya meninggalkan ruangan Sameer. Ia tidak ingin mengganggu waktu mereka berdua.
Ting...
Pintu lift terbuka.
"Assalamualaikum Humaira" sapa Akbar yang baru keluar dari dalam lift, menatap Humaira yang berdiri di depan lift dengan pandangan kosong.
"Mai" sapa Akbar lagi menjentikkan jarinya tepat di wajah Humaira.
"Eh..Gus Akbar Wa'alaikumsalam" balas Humaira linglung. Senyuman manis tersungging dari bibir Akbar.
"Kenapa kembali?" tanya Akbar
"Sepertinya kak Sameer sedang sibuk" kilah Humaira
"Benarkah? Aku pikir tidak, karena aku baru saja tadi menelponnya. Ayo pergi bersama!" ajak Akbar yang tau kalau Humaira tengah berbohong.
Gadis itu sangat mudah di tebak saat berbohong, pandangan matanya yang tidak fokus menunjukkan itu.
"Tidak usah Gus, saya pulang saja" tolak Humaira. Ia masih belum siap untuk kembali melihat kemesraan mereka berdua.
"Sudahlah ayo, ada Gus. Tenang saja, jangan sungkan"
Humaira tidak lagi mengelak ajakan Akbar untuk kembali menuju ruangan Sameer.
"Ayo Mai!" ajak Akbar. Mau tidak mau Humaira kembali ke dalam ruangan Sameer.
"Ahemm.."
Akbar berdehem melihat Sameer dan Elena yang masih sibuk menikmati waktu mesra mereka berdua.
Humaira yang berdiri di belakang Akbar hanya mampu menundukkan kepalanya mencoba menahan air mata yang siap jatuh.
"Eh Akbar, apa kabar?" sapa Elena turun dari pangkuan Sameer menyapa Akbar.
"Begini ya cara pengantin baru, bermesraan di kantor" sindir Akbar masih dengan senyumannya.
"Datang sama siapa Bar?" tanya Sameer
"Sama bidadari surga" canda Akbar menggeser tubuhnya dan tampaklah seorang wanita cantik bercadar yang masih setia menundukkan kepalanya.
Sameer langsung salah tingkah mendapati Humaira datang bersama Akbar. Ia seperti merasa sudah ketahuan selingkuh oleh istrinya sendiri. Ia bergegas menghampiri Humaira.
"Assalamualaikum Zauya, maaf kalau kedatangan Dinda mengganggu Zauya" ujar Humaira merasa tidak nyaman telah mengganggu waktu Sameer.
"Wa'alaikumsalam Dinda, tidak sama sekali" ujar Sameer salah tingkah memegang tangan Humaira dan secepat kilat Humaira menghindari sentuhan tangan Sameer.
Sameer menatap Humaira heran sembari menurunkan kembali tangannya. Suasana seketika berubah menjadi canggung di antara mereka.
"Sam, kau tidak ingin menyuruh ku duduk. Kau tidak sopan sekali" kata Akbar mencoba mencairkan suasana canggung yang tercipta diantara mereka. Akbar tidak ingin lagi menciptakan hawa panas diantara mereka.
"Iya Bar, duduklah"
"Oh ya..sebelum kita ngobrol. Ayo kita makan siang dulu tadi aku bawa makanan banyak" imbuh Elena membuka makanan yang tadi ia bawa.
"Aku makan masakannya Humaira saja, aku rindu Mbak pondok yang jago masak" canda Akbar mengambil rantang makanan yang tadi Humaira bawa.
Sameer mengepalkan tangannya erat, melihat Akbar mengambil rantang hasil masakan Humaira yang seharusnya itu menjadi miliknya.
Dadanya terasa panas melihat Akbar yang begitu perhatian mengambilkan Humaira makanan. Ia merasakan cemburu melihat kedekatan mereka berdua.
Humaira pun hanya diam dengan perhatian yang Akbar tunjukan.
"Sam makanlah" pinta Elena menatap raut wajah Sameer yang penuh amarah dan kecemburuan.
"Masakan mu memang tidak berubah, selama aku Di Cairo yang aku rindukan hanya masakan mu" ujar Akbar disela-sela menikmati makan siangnya. Ia pun seakan tidak peduli dengan tatapan tajam yang Sameer layangkan padanya.
Akbar sengaja melakukan itu karena ia ingin melihat bagaimana reaksi Sameer, kala ia memberikan perhatian lebih pada Humaira. Akbar sungguh berhasil memprovokasi Sameer.
"Gus Akbar bisa saja" Humaira tersipu malu dengan wajah yang sudah berubah kemerahan.
"Benar Mai, Pak Kyai dan Bu Nyai pasti merindukan masakan mu. Kau kan anak kesayangan mereka" kekeh Akbar kala mengingat setiap perlakuan pimpinan pondok mereka terhadal Hymunaira. Mereka menyayangi Humaira selayaknya anaknya sendiri.
Sampai saat Humaira menjuarai lomba tilawah, Bu Nyai penuh semangat memasakkan berbagai makanan favorit Humaira untuk merayakan kemenangan Humaira pada saat itu.
"Humaira juga sudah lama Gus, tidak sowan ke Abi Zaky dan Umi Diba. Humaira merindukan mereka"
"Berkunjunglah ke sana, mungkin beberapa nanti aku akan pulang ke Ponorogo kalau kamu mau ikut. Ayo..kita pergi bersama"
"Humaira tidak akan pergi kemana-mana Bar" sahut Sameer membanting sendoknya keras.
"Kenapa tidak boleh? Memang kau siapa bagi Humaira?" tanya Akbar sinis.
"Dia istri ku Bar dan Aku suaminya" tegas Sameer tajam
"Istri? Siapa di sini yang kau duakan? Humaira atau Elena?" tanya Akbar menatap tajam Sameer.
Sameer terdiam, tangannya mengepal erat, giginya beradu, rahangnya mengeras menahan amarah yang siap kapan saja meledak.
"Kenapa kau diam? Ah...melihat tadi Humaira menangis" tutur Akbar.
Sameer menatap Humaira yang menundukkan kepalanya, rasa bersalah menyelimuti perasaan Sameer.
"Kau tega mempoligami Humaira, Sam? Dasarnya apa kau menerapkan poligami ke dalam rumah tangga mu?" tanya Akbar yang hanya ingin melakukan provokasi pada Sameer.
Akbar ingin mendengar sendiri jawaban dari sahabat karibnya itu. Sejak pertama kali mendengar Sameer berpoligami, Akbar sudah ingin menanyakannya langsung dan mungkin saat ini adalah saat yang tepat Akbar tanyakan secara langsung.
Dasarnya apa? Pertanyaan itu berputar di kepala Sameer.
"Aku mencintai Elena" ucap Sameer mantap tanpa merasa bersalah, ada hati yang tersakiti karena ucapannya.
Akbar tersenyum sinis, sesekali menatap Humaira yang menundukkan kepalanya semakin dalam. Akbar yakin kalau gadis yang duduk tidak jauh darinya itu pasti tengah hancur.
"Dengar kan Mai, apa yang suami mu katakan? Dia berucap sendiri di depan mata mu. Inikah laki-laki yang selalu kau banggakan?"
Terluka..
Lagi-lagi Sameer menggoreskan luka di hatinya. Jawaban gamblang Sameer tentang perasaannya membuat luka di hatinya semakin lebar.
"Lalu dasarnya apa kau menikahi Humaira?" tanya Akbar semakin memojokkan Sameer.
Sameer kembali terdiam, merasa terpojokkan.
****