Kirana hanyalah sebatas gadis muda yang baru mengenal mimpi dan cinta. Dia sedang bahagia merangkai satu demi satu kuncup cintanya bersama seorang pemuda bernama Keenan.
Namun, bunga yang baru akan mekar itu segera layu karena satu kejadian naas yang merenggut hampir seluruh akal sehatnya hingga keluarganya menerima lamaran Raihan begitu saja. Lalu, bagaimana kisah cinta Kirana dan Keenan? Haruskah dia merelakan egonya dan menatap masa depannya dengan laki-laki lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jia.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Ketetapan Hati
Mama memindahkan Kirana sementara waktu ke kamar Bang Adnan karena Mama harus mengganti sprei dan menjemur kasurnya yang basah karena keringat Kirana. Dia juga sempat muntah-muntah dan membuat kamarnya kotor. Bang Adnan yang tadinya ingin istirahat setelah hampir semalaman bekerja mengurungkan niatnya. Dia segera mandi kemudian membantu Mama membuatkan bubur untuk Kirana.
“Coba kamu yang suapin mungkin mau. Mama mau nyuci sprei adikmu dulu,” kata Mama.
“Nanti kalau Mama mau masukin kasurnya bilang Abang jangan Mama yang angkat sendiri,” kata Bang Adnan diangguki oleh Mama.
Bang Adnan melangkah masuk ke dalam kamarnya sambil membawa semangkuk bubur sumsum dan segelas air untuk menyuapi adiknya. Ketika dia masuk, dia melihat adiknya itu tengah tidur sambil mengigau dan Adnan dengan jelas bisa mendengar nama siapa yang sedang diigaukan oleh adiknya.
“Ya Allah sebegitu tersiksanya dirimu dengan kepergian Keenan?” gumam Adnan. Sesekali tangannya akan mengelap air mata yang terus mengalir dari pelupuk mata adiknya.
“Dek Kirana…,” panggil Adnan yang sudah tidak sanggup melihat adiknya begitu menderita dalam mimpi buruknya.
“Abang?” kata Kirana yang akhirnya terbangun.
“Makan dulu yuk, Abang suapin ya?” bujuk Adnan namun Kirana menggeleng.
“Makan lah sedikit saja, biar kamu bisa minum obat. Kalau kamu terus-terusan begini gimana kamu mau sembuh Dek?” kata Adnan lagi.
“Kepalaku pusing Bang,” kata Kirana mengeluhkan tubuhnya.
“Ya makanya makan sedikit saja biar nggak tambah pusing,” Adnan tidak berhenti membujuk adiknya, namun masih juga gagal.
Adnan gagal membujuk Kirana. Dia menyerah dan membiarkan adiknya itu kembali tidur. Dia melangkah dari kamarnya kemudian dia duduk di ayunan yang ada di balkon lantai 2 tempat dia dan biasanya Kirana akan duduk kemudian Adnan mengerjai adiknya. Bangku itu terasa sedikit berdebu karena sudah lama tidak ada yang menduduki.
Adnan terus mengutak-atik handphonenya. Sejujurnya dia juga ingin tahu dimana Keenan berada sekarang, bagaimana kabarnya atau apapun yang bisa dia ketahui soal orang yang sudah dia anggap seperti adik sendiri itu. Tanpa sadar, Adnan malah menghubungi Raihan dan Adnan jelas tidak mampu mengelak begitu Raihan bertanya tentang tujuannya menelepon.
Raihan menyadari jika ada sesuatu yang tengah terjadi, jadi dia memberanikan diri mengunjungi rumah Kirana selepas jam kerjanya berakhir. Masih mengenakan seragam lengkap dia datang untuk menyapa Mama dan Papa yang juga baru kembali dari mapolda.
“Mau nyari anak Om yang mana nih?” tanya Papa pada Raihan.
“Dua-duanya Om,” jawabnya.
“Kalau Kirana sedang sakit, terus Adnan jagain adeknya tuh di kamar Adnan. Masuk saja, kamu sudah tahu kan kamar Adnan yang mana?” kata Mama.
“Iya tante makasih, maaf Raihan izin masuk,” kata Raihan begitu sopannya.
Raihan menemukan Adnan tengah membujuk Kirana untuk makan namun gadis itu terus menolaknya. Untung dia sempat membeli sesuatu untuk Kirana dan Adnan jadi dia memiliki alasan untuk masuk dan menemui keduanya.
“Kok lo bisa ada di sini?” tanya Adnan.
“Nggak tau pengen aja,” kata Raihan.
“Kamu kenapa Dek?” tanya Raihan sambil menatap Kirana yang hanya bisa terbaring lemas di atas tempat tidur.
“Sakit nih, seharian nggak mau makan mana diajak ke rumah sakit periksa nggak mau. Bandel emang,” kata Adnan yang tidak lagi membela adiknya dihadapan sahabatnya.
Raihan meletakkan bungkusan yang dibawanya kemudian dia meminta Adnan sedikit menjauh hanya agar dia bisa mendekati Kirana. Dia duduk di pinggiran bed kemudian dengan punggung tangannya dia periksa suhu tubuh Kirana yang memang di atas rata-rata. Adnan paham situasinya jadi dia memilih untuk keluar dan meninggalkan Raihan dan adiknya.
“Kamu kaya gini karena aku ya Dek?” tanya Raihan.
“Nggak Bang, jangan bilang gitu,” kata Kirana.
“Dek, kalau memang kamu mau menolak Abang kenapa nggak kamu lakukan? Jangan korbankan dirimu sendiri demi kebahagiaan orang lain,” kata Raihan.
“Abang…, Abang betulan serius sama Kirana?” tanya Kirana kemudian.
“Kan Abang sudah bilang, Abang serius sama kamu. Abang tulus menerimamu, tapi kalau kamu nggak mau ya sudah jangan dipaksa. Abang nggak akan tega menyiksa kamu menjalani hubungan yang nggak kamu mau Dek.”
“Kirana, Abang tahu alasan keraguanmu itu. Kamu masih belum bisa melupakan Keenan, kan?” tanya Raihan membuat Kirana seketika menangis.
“Abang memang baru ini mengalami jatuh cinta dan itu sama kamu. Abang tidak tahu sakitnya ditinggalkan oleh orang yang begitu kamu cintai, tapi Abang janji akan bantu kamu untuk bisa mengikhlaskan apa yang sudah pergi. Andai bukan Abang yang berakhir sama kamu, Abang akan tetap membantumu,” kata Raihan.
“Abang nggak akan paksa kamu. Abang anggap kamu menolak Abang. Sekarang kamu tidak perlu lagi mikir macem-macem sampe sakit kaya gini. Kasihan lah sama badanmu sendiri,” kata Raihan mulai beranjak pergi.
“Bang jangan pergi. Abang..., Kirana sayang sama Abang. Kirana nggak mau Abang pergi, jangan kemana-mana Bang,” kata Kirana.
Dia seketika lupa dengan pusing di kepalanya, dia langsung duduk memeluk Raihan dan menangis untuk pertama kalinya di hadapan laki-laki itu, “maafin Kirana Bang sudah gantungin Abang, maafin Kirana,” kata Kirana masih menangis.
“Sudah jangan nangis, apa nggak sesak nafas Dek?” kata Raihan sambil mengelus punggung Kirana penuh dengan kasih sayang. Melihat kondisi Kirana saat ini membuatnya menyadari jika jalannya akan berat. Perjalanannya masih akan sangat panjang. Demi bisa mengembalikan senyum gadis yang dicintainya ini dia harus rela berjuang keras.
“Kirana, kita ke rumah sakit ya? Abang nggak tega lihat kamu kaya gini terus,” kata Raihan.
Kirana yang sejak siang tadi menolak semua orang saat ini di hadapan Raihan Dhananjaya dia melemah. Dia tidak sanggup menolak apapun perintahnya. Dari dalam hati kecilnya, Kirana sudah belajar menerima Raihan. Walau sulit, tapi dia sudah menerimanya di dalam hatinya. Kirana akhirnya memilih untuk menduakan hatinya, menerima Raihan dan melepaskan masa lalunya berbekal janji yang Raihan berikan padanya.
Dengan perlahan Raihan rebahkan lagi tubuh Kirana kemudian dia melangkah keluar dan mendapati Adnan menangis di depan pintu kamarnya. Dengan jutaan ucapan terima kasih dia curahkan pada Raihan yang akhirnya mampu menenangkan gejolak besar dalam diri adiknya. Dia bersyukur dan berterima kasih pada sahabatnya itu atas apa yang sudah dia lakukan.
“Aku nggak tahu harus berterima kasih dengan cara apa Han. Andai ada ungkapan yang lebih baik dari terima kasih pasti udah aku pake sekarang,” kata Adnan.
“Kamu nggak perlu berterima kasih. Sudah jadi keputusanku untuk menerima Kirana sebagai masa depanku. Aku janji, akan menjaga adikmu dengan baik hingga nafas terakhirku. Hanya akan ada Kirana, adikmu dalam hatiku,” kata Raihan.
Raihan tersenyum, kemudian menegakkan bahu sahabatnya yang sudah menangis sambil menunduk, “sekarang mending lo bantu gue buat bawa Kirana ke rumah sakit,” kata Raihan.
Adnan menguatkan dirinya, dia hapus air matanya dan langsung turun ke bawah untuk menyiapkan mobil sedangkan Raihan meminta izin pada kedua orang tua Kirana untuk membawa putri mereka ke rumah sakit.
“Alhamdulillah ya Allah, terima kasih Engkau sudah kirimkan malaikat sebaik Raihan untuk putriku. Makasih nak, Mama berterima kasih sekali sama kamu. Makasih sudah mau menerima putri Mama. Makasih Raihan,” kata Mama ikut menangis begitu mendengar apa yang terjadi.
“Nak Raihan, Papa nggak bisa kasih kamu apa-apa selain ucapan terima kasih yang tidak putus. Papa janji, Papa akan berikan semua yang terbaik untuk kamu dan Kirana. Raihan, terima kasih kamu sudah mau menerima anak Papa yang banyak kekurangan. Terima kasih nak, Papa akan terus mendoakan kebahagiaan kalian. Papa serahkan putri Papa kepadamu,” kata Papa.
semangat buat karya² baru nya kak💪
jngan marah yaa klo ada saran dan kritik dri readers mu😁
bantu dukung karyaku juga iya
simpanan brondong tampan
lebih banyak upnya thor