Permainan hidup mengoyak semua orang yang datang ke desa Sambayang untuk tinggal disana.
Darah, Tumbal, Keserakahan bahkan intrik manusia menghalalkan segala cara demi kesenangan sementara.
Waktu bukanlah teman melainkan lawan, hidup di desa Sambayang tidak seperti yang terlihat oleh mata.
Dasa mengetahui bahwa untuk bisa bertahan lebih lama di desa Sambayang haruslah berkompromi dengan cepat demi mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Iapun menyerahkan nyawanya demi semua warga desa dan keluarganya keluar dari desa. Namun, aura mistis desa Sambayang tidak puas maka tangan-tangan tak terlihat mulai menarik pulang satu persatu warga desa termasuk keluarganya.
Apa yang akan dilakukan oleh Dasa, saat tahu ia tahu? Bagaimana caranya melawan ganasnya aura mistis desa Sambayang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wish0430, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Marlot membuka mata dan terdiam sejenak untuk menyadari apa yang terjadi semalam. dilihatnya asih pembantu rumah tangganya berada dalam pelukannya. nafasnya halus menggoda untuk melakukan perjalanan panjang didalamnya. ditariknya perlahan tangannya lalu iapun bergerak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara itu, Cahaya terduduk diatas tempat tidur dengan wajah kebingungan.
otaknya berfikir sejenak untuk tidak melakukan hal bodoh, kemana marlot. Sejak kelahiran Ama, ini yang pertama kali mereka melakukan dan sekarang tidak tidur disampingnya.
Marlot keluar kamar mendapati Ama duduk di ruang keluarga, tangannya sibuk mengambil cemilan diatas meja.
"Ama"
"Ayah"
Marlot duduk disebelahnya lalu ikut makan camilan.
"Dimana bunda"
"Ada dikamar"
Marlot mengangguk pelan sambil mengamati wajah Asih yang keluar dari kamarnya dengan wajah malu. Asih buru-buru ke kamarnya untuk bersiap-siap dengan pekerjaannya sebagai pembantu.
"Marlot"
Marlot dan Ama menoleh secara bersamaan kearah Cahaya yang sudah segar sehabis mandi. Kini, marlot mampu melihat jelas bentuk tubuh cahaya sesungguhnya, penampilan dirinya sendiri yang sudah tua, dimana-mana terutama wajahnya berkeriput bahkan nyaris tidak menarik untuk dilihat.
Cahaya gugup menyadari keduanya menatap dirinya dengan tatapan yang tidak biasanya. Tadi waktu melihat kondisi dirinya sendiri di cermin, iapun terkejut melihat itu. Wajahnya yang muda berubah menjadi tua, bingung melihat itu.
"Aku ikut denganmu pulang"katanya lirih bahkan nyaris tak terdengar karena suaranya berubah menjadi tua. Marlot hanya mengangguk saja, matanya tak sengaja melihat Asih melintas untuk ke depan rumah bermaksud untuk membersihkan halaman depan.
"Asih"
Cahaya kaget mendengar marlot memanggil pembantunya, selama ini marlot tak pernah memanggil bahkan terkesan tidak peduli.
"Siap-siap untuk membantu nyonya, kita akan pulang ke desa, kamu ikut"
"Mengapa Asih ikut?"
"Siapa yang menjaga Ama? lihat dirimu, aku nyakin, kamu tidak akan bisa"
Setelah mengatakan itu, marlot pergi meninggalkan mereka semua, Ama dan Asih memperhatikan Cahaya.
Asih terkejut melihat penampilan Cahaya yang mendadak tua bahkan Ama bingung melihatnya.
"Bunda"
Cahaya menangis tersedu-sedu bahkan tidak menyadari kalau semua memperhatikan tingkah lakunya. Asih buru-buru mendekati dan membawanya kedalam kamar. Ia mempersiapkan semua keperluan yang dibutuhkan untuk kepulangan majikannya ke desa Sambayang.
Sementara itu, marlot menghela nafas sebentar menenangkan diri sendiri, ia juga tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi dengan cahaya. keningnya mengeryitkan melihat sosok bayangan masuk kedalam kamarnya.
"Apa kamu menyukainya?"
"Kamu!"
Mata marlot terbelalak melihat Suteja memperlihatkan diri kepadanya dengan wajah suram.
"Katakan padaku, apa yang terjadi dengan Cahaya"
"Kamu melakukan hal yang dilanggar dalam perjanjian gaib, tentu saja Cahaya menerima akibatnya, waktu Cahaya tidak banyak, cepatlah pulang ke desa Sambayang kalau ingin dia hidup!"
"Malam ini, kami berangkat"
"Wanita itu..."
Suteja tidak jadi melanjutkan kalimatnya ketika melihat isyarat marlot dengan jelas.
"Manusia serakah! kamu nyakin bisa menanggung beban yang ada? ingatlah putrimu!"
Setelah mengatakan itu Suteja pergi meninggalkan tanpa jejak. Pintu kamarnya terbuka perlahan-lahan dan muncul Asih didepan pintu.
"Tuan, semua sudah siap"
"Masih ada waktu, masuklah dulu"
Asih masuk kedalam kamar marlot, seringai marlot sudah cukup membuat Asih mengerti. Suara-suara terdengar kencang hingga kamar cahaya, tangis menyayat hati Cahaya, membuat siapapun ikut bersimpati.
Ama tidak mendengar apapun karena sibuk memilah-milah mainan yang akan dibawanya. Ia sudah tidak sabar untuk ikut ayahnya Marlot, ia merasakan sebuah perasaan yang aneh seakan ada yang membutuhkan bantuannya.
jangan lupa like nanti ku feedback
biar lebih nyambung lagi
...
jadi gak banyak tipo ..biar gak susah juga pemahaman ceritanya
mampir ya kak di tulisanku Putih Abu-Abu 2010 kasih like dan vote
mampir ya kak di tulisan ku Putih Abu-Abu 2010 like dan vote
mampir ya kak di tulisan ku Putih Abu-Abu 2010 like dan vote
Jangan lupa baca juga cerita aku judulnya 'BUTTERFLY EFFECT'