Elina gadis berusia 21 tahun yang bekerja sebagai delivery makanan di sebuah restoran cepat saji. Hidupnya berubah dalam satu malam saat ia sedang mengantarkan pesanan dan mengetuk pintu kamar yang salah. Pria asing dalam keadaan mabuk itu menyeret Elina ke dalam kamar lalu merampas kesucian nya secara paksa. Bukannya bertanggungjawab, pria itu malah memberikan sebuah cek pada Elina. Karena merasa takut, Elina pun kabur dari ibu kota.
Bertahun-tahun menghilang dan pergi dari ibu kota, Elina sudah tidak sendirian lagi, ia bersama 2 orang anak kembar yang lucu dan cerdik. Penasaran dengan sosok papa yang selama ini tak diberitahukan ibunya, mereka berinisiatif nekad pergi ke ibu kota berdua untuk mencari sang papa sekaligus mencari suami untuk mama nya.
Suatu hari, seorang pria tampan dan berjas rapi melihat kedua anak itu "Kenapa bisa ada pria yang tampan di dunia ini selain aku?"
"Kakak, bukankah om ini mirip denganmu?"
Lalu berhasilkah si kembar mencari papanya? Dan mencari suami untuk mama nya?
Sumber gambar: pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat untukmu Chris
Chris terluka melihat wajah kedua anaknya yang tampak kesal dan kecewa. Disisi lain ia tak bisa membantah kata-kata ibunya untuk menikahi Sheryl.
Kesedihan juga dirasakan Elina, mendengar berita itu. Hatinya seperti tertusuk pisau yang tajam dan menancap disana. Elina sadar bahwa ia mulai mencintai Chris, Papa dari kedua anak nya itu.
" Kakak, ayo kita pergi kak !" ajak Amayra yang masih menangis
" Iya " sebelum pergi Adhy sempat melirik sinis ke arah Chris dan Sheryl yang berada di belakang nya.
" Adhy! Amayra! " teriak Chris pada kedua anaknya yang berjalan menjauh.
Hatiku sakit sekali, tatapan mereka padaku seolah menusuk ku.
" Kamu tidak perlu khawatir, aku akan bicara pada mereka dan menenangkan mereka. Urus saja urusan mu dengan calon istri mu " Elina tersenyum, kata-kata nya terdengar sarkastik
Elina, kamu tidak boleh seperti ini. Kamu harus sadar diri. Elina jangan menangis. Sebenarnya sejak kapan aku memiliki perasaan ini padamu. Elina meneguhkan hatinya untuk kuat
" Elina, kamu..."
Belum sempat Chris melanjutkan kalimat berikut nya untuk Elina. Wanita itu sudah pergi menyusul kedua anaknya yang baru saja pergi.
" Chris sayang kita pulang yuk " Ajak Sheryl
Chris menepis tangan Sheryl, ia terlihat marah pada Sheryl yang memberitahukan pernikahan mereka pada anak-anak nya. Padahal Chris sudah memiliki rencana untuk mengatakan nya disaat yang tepat, namun mulut Sheryl tidak bisa diajak kompromi.
" Bukannya aku bersikap baik ya? dengan memberitahu mereka tentang pernikahan kita. Mereka tau sekarang atau nanti apa bedanya, toh akan tau juga " Sheryl tersenyum tipis
" Haa.. seenaknya saja kamu bilang begitu. Ini sebabnya aku tidak pernah menyukai mu Sheryl " Chris menghela napas, menahan emosi nya pada Sheryl
Sekarang anak-anak jadi terkejut.
" Kamu tuh kenapa sih selalu bersikap seperti ini sama aku? aku kurang apa Chris?" tanya Sheryl sedih
" Tidak, kamu tidak kurang apa pun. Hanya saja aku yang tidak menyukai mu " Chris menepis tangan Sheryl, ia masuk ke dalam mobilnya sendiri.
" Chris ! kamu mau kemana? kenapa kamu ninggalin aku??! Chris !" teriak Sheryl sambil mengetuk ngetuk kaca mobil Chris.
Chris pergi mengendarai mobilnya dan pergi meninggalkan Sheryl disana sendirian. Sheryl kesal sekali pada Chris yang meninggalkan nya.
****
Sementara itu si kembar sedang berbicara berdua di dekat kamar mandi sekolah mereka. Adhy berusaha menenangkan Amayra yang terus menangis. Elina mendengarkan percakapan kedua anaknya diam-diam.
" De, sudah ya jangan nangis lagi " Adhy yang cuek dan dingin itu membujuk adiknya, menepuk nepuk bahu adiknya dengan lembut
" Kenapa kak? setelah semua yang kita lakukan untuk menyatukan Papa dan Mama. Kenapa mereka tidak bisa bersama? kenapa Papa malah memilih menikahi wanita lain? aku tidak mengerti dengan orang dewasa ..huu.. aku cuma ingin punya keluarga yang lengkap dan bahagia kak.. huuu..."
" May, kita masih bisa kok punya keluarga yang bahagia. Tanpa Papa sekalipun, kan masih ada Mama " Adhy tersenyum pada Amayra, tangannya menyeka air mata Amayra yang ada di pipinya
" Ta-tapi.. aku pikir Mama dan papa saling mencintai. Makanya kita ada di dunia ini, dan mereka bisa bersatu kembali kak. "
Kalian salah nak, kalian hadir di dunia ini bukan karena cinta. batin Elina sakit hati
" Tidak apa may, kita bisa cari papa baru dan suami yang baik untuk Mama. Kamu jangan nangis lagi "
" Iya kak, tapi aku kecewa sama Papa. Aku tidak mau punya Mama tiri, dan aku gak mau tinggal sama Papa ! aku mau pulang ke desa kita yang dulu !" teriak Amayra
Elina pun menghampiri kedua anaknya dan membujuk mereka agar pulang ke rumah. Awalnya mereka menolak pulang ke rumah Chris, tapi akhirnya mereka ikut dengan Elina juga.
Bukan hanya si kembar yang kecewa. Kekecewaan juga dirasakan Elina yang sudah mulai memiliki perasaan pada Chris. Saat pulang ke rumah mama Chris dengan sengaja memberitahu kan Elina tentang pernikahan Chris dan Sheryl. Dari awal Chris memang tidak pernah menentang atau menerima pernikahan yang sudah diatur demi urusan bisnis itu.
Bu Melisa seperti tidak punya hati, ia tak peduli dengan si kembar yang menolak pernikahan Chris dan Sheryl.
Mereka baru tau ternyata nenek mereka adalah wanita berdarah dingin. Si kembar marah kepada nenek mereka dan juga Papa mereka. Bu Melisa menunjukkan sifat aslinya yang menyebalkan, mengeluarkan kata-kata pedas dari mulutnya yang bisa menyakiti hati orang lain. Bahkan di depan kedua cucu nya, ia tak segan-segan bicara pedas pada Elina.
" Pokoknya kalau nenek tetap mau menikahkan Papa dan nenek sihir itu kami tidak mau tinggal disini lagi !" kata Amayra tegas
" Haa.. jadi kalian lebih memilih tinggal dengan Mama kalian yang miskin itu? kalian itu benar-benar anak yang bodoh ya, hidup kalian akan lebih nyaman kalau tinggal bersama Papa dan calon Mama baru kalian. " jelas Bu Melisa
" Kami tidak mau! " teriak Adhy emosi
" Adhy, Amayra, kalian tidak boleh berteriak pada nenek kalian. Itu tidak sopan nak!" Elina mengingatkan.
Adhy dan Amayra masuk ke dalam kamar mereka dengan perasaan kesal. Tinggallah Elina dan Bu Melisa di lantai bawah, suasana nya terasa panas.
" Lihat tuh ajaran kamu gadis kampung, cucu cucuku bahkan lebih membela kamu daripada nenek nya sendiri. Kamu kasih mereka makan racun ya? aku berharap apa sih dari Pela**r, yang taunya cuma godain cowok, bukan nya ngurusin anak. Jadi gini deh, anak-anak nya tidak terurus tidak memiliki tata Krama " Bu Melisa melihat sinis pada Elina. Kata-kata Bu Melisa sampai ke dalam hati Elina yang saat itu sedang sedih dan marah.
" Sudah cukup Bu Melisa! saya sudah cukup sabar menghadapi anda selama ini karena saya menghormati anda sebagai orang tua. Tapi ini sudah melewati batas! saya bukan pel***r ! saya wanita baik-baik yang kehormatan nya sudah dicuri oleh anak anda yang bejat ! yang kehidupan nya hancur 7 tahun yang lalu, semua mimpinya harus ia hancurkan! kalian para orang kaya lah yang tidak tau tata Krama " tubuh Elina gemetar karena emosi dan sedih. Sekuat tenaga ia menahan air matanya.
Saat Elina hampir menangis, Chris datang. Melihat keduanya dalam suasana yang tegang. Elina pun segera pergi ke kamar nya, ia tak mampu lagi menahan air matanya yang sudah ia bendung.
" Ma, ada apa ini?" tanya Chris pada ibunya
" Kamu tanyakan saja pada kedua anak kamu dan pelac** itu " Bu Melisa menyilangkan tangannya di dada, wajahnya tampak sombong
" Ma, jaga mulut Mama!" ujar Chris dingin
Siang itu tampak kacau, bahkan sampai sore pun si kembar maupun Elina tidak keluar dari kamar mereka. Berkali-kali Chris mengetuk pintu kamar mereka, namun ibu dan anak itu mengabaikan Chris.
Saat malam tiba, Elina keluar dari kamarnya dengan mata yang sembab,ia menemui kedua anak nya di kamar yang ada di sebelah kamarnya.
Tok,tok ,tok
" Siapa?" tanya Adhy
" Ini Mama sayang "
Adhy segera melangkah ke pintu dan membuka pintu kamarnya dengan kunci. Lalu mempersilakan Mama nya untuk masuk ke dalam kamar. Amayra masih terlihat galau, ia duduk di sudut ranjang dengan wajah yang cemberut.
Elina semakin terkejut saat melihat Adhy dan Amayra sudah mengepak barang-barang mereka ke koper.
Apa yang mereka lakukan? apa mereka berfikir pergi dari sini?
" Sayang, Mama boleh bicara sama kalian kan?" tanya Elina sambil duduk di samping Amayra
" Boleh Ma " jawab Amayra dan Adhy
" Sayang, Mama akan pergi dari rumah ini "
" Iya Ma kita memang harus pergi dari rumah ini " kata Amayra setuju
" Mama akan pergi, bukan kita. Kalian akan tetap disini " ucap Elina
" Apa yang Mama katakan?! kami tidak mau tinggal tanpa Mama " Adhy kesal
" Kehidupan kalian akan lebih baik kalau kalian tinggal disini dengan Papa kalian. " Elina mengelus elus kepala kedua anaknya
" Tidak ma! masa Mama tega meninggalkan kami disini? kami tidak bahagia tanpa Mama. Ayo kita pergi Ma !" Amayra memeluk ibunya
Elina terdiam dan terlihat berfikir. Saat itulah Chris masuk ke dalam kamar anaknya dan membawakan 2 piring makanan dan 2 gelas susu untuk anak-anak nya.
" Elina, kamu disini juga?" tanya Chris
Adhy dan Amayra tak kunjung bicara. Mereka hanya melihat Chris dengan tatapan tajam, sesekali merek menghindari kontak mata dengan Chris.
Chris berusaha membujuk kedua anaknya untuk makan, tapi tak berhasil. Akhirnya Elina lah yang bergerak dan membujuk kedua anaknya. Begitu Elina yang menyuruh, kedua anaknya langsung bersedia untuk makan.
Chris mengajak Elina bicara, dan sama hal nya seperti Chris. Elina juga ada yang ingin dibicarakan dengan Chris.
" Bagaimana anak-anak?"
" Seperti yang kamu lihat sendiri, mereka tidak mau punya ibu tiri " jawab Elina sinis
" aku juga tidak mau menikah, tapi aku terpaksa. Karena ini pernikahan politik bisnis "
" Apapun itu alasannya, anak-anak tidak mau mengerti. Ya, aku juga tidak peduli sih. Sejak awal mau kamu dengan siapa, dan melakukan apapun. Bukanlah urusanku " Elina tersenyum pahit
" Kamu tidak peduli?" tanya Chris sedih
" Ya, lagian kita juga tidak punya hubungan apa-apa. Teman bukan, kenalan bukan, apalagi kekasih. Kita hanya dua orang asing yang terhubung karena dua orang anak. " jelas Elina
Chris sakit hati mendengar kata-kata Elina, sesuatu seperti menusuk hatinya. Dari awal Chris memang tidak pernah menentang atau menerima pernikahan yang sudah diatur demi urusan bisnis itu.
"...."
" Kamu tenang saja, kamu bisa menikah dengan tenang. Aku akan membawa anak-anak kembali ke tempat dimana kami seharusnya berada "
" Siapa kamu yang berhak memutuskan semua ini? apalagi membawa anak-anak! mereka adalah anak anak ku juga " Chris membentak Elina dan tangannya memegang erat tangan Elina
" Siapa aku? aku Mama mereka " jawab Elina tegas
" Kamu tidak bisa membawa mereka! "
" Tapi mereka yang mau ikut denganku. Mereka yang memilihku. Katanya mereka tidak mau punya ibu tiri. Lagian untuk apa juga merasa disini kalau mereka tidak bahagia kan?"
" ELINA !"
" kenapa kamu marah di hari yang baik ini? bukannya harus nya kamu merayakan hari ini? oh ya aku sampai lupa.. selamat ya untuk pernikahan mu dan Bu Sheryl, pak Chris " Elina tersenyum pahit
Elina menepis tangan Chris dan melangkah pergi begitu saja. Chris terlihat sedih melihat nya, padahal ia baru saja merasakan kebahagiaan keluarga. Dan sekarang Elina, juga kedua anaknya akan pergi meninggalkan nya.
" Aku harus bicara pada Mama untuk membatalkan pernikahan ini " gumam Chris sambil mengepalkan tangannya dengan kesal.
...---***---...
****
karya mu slalu keren