Terkadang Tuhan mematahkan hatimu untuk menjauhkanmu dari jodoh yang salah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quemeela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tak biasa tampa kamu
Aku kerumah Nina, aku menemukan gadis itu di ruang tamu sendirian, tampak dia sedang menyantap kue di depannya
Tiba-tiba Arsan keluar dari kamarnya, dia bingung menatapku, dia tampak rapi, tapi baju yang dipakainya sekarang, bukan baju yang dipakai saat bersamaku tadi, ternyata dia akan pergi dengan gadis itu, “hm baguslah dia tidak memakai kemeja pemberianku untuk jalan-jalan dengan gadis lain” gumamku
“kakak ini, udah tau nggak punya uang masih juga ngajak cewek jalan-jalan, dari mana kakak dapat uang beli roti, mamakan nggak kirim uang buat kakak?” tanya Nina pada Arsan, Arsan tertawa ke arahku, “makanya jangan main kabur dari rumah” tambah Nina lagi, Arsan hanya berlalu pergi bersama gadis itu
“kakak pinjam uang sama kamu ya Ra?” kata Nina, aku hanya tersenyum mengiyakan, namun sebenarnya aku sakit hati, dia meminjam uang padaku, untuk membeli makanan untuk gadis lain, apa salahku padanya, kenapa dia terus-menerus membuatku sakit hati
“sebenarnya aku kasian sama kamu sama putri juga, kak Arsan memang keterlaluan, dia pinjam uang sama kamu, untuk jalan sama putri” ujar Nina, menghela nafas, aku hanya memaksakan senyum mendengar celoteh Nina, aku segera mengubah topik pembicaraan aku tidak ingin dia berceloteh lebih banyak tentang cinta segi tiga antara aku, Arsan dan Putri lebih jauh lagi, mendengar celoteh Nina aku sadar akulah yang paling bodoh
Sudah hampir sore aku di rumah Nina, namun Arsan dan gadis itu belum juga kembali, aku memutuskan kembali ke kontrakanku, aku juga tidak ingin bertemu Arsan dan gadis itu lagi
Aku sadar aku memang bodoh, aku menyakiti diriku sendiri dengan mengunjungi rumah Nina, tentu saja kemungkinan bertemu Arsan dan gadis itu sangat besar disana, namun aku merasa lebih sakit lagi kalau aku tidak melihat Arsan, ada sesuatu yang kosong dalam diriku jika aku tidak bertemu dengannya atau tidak mendengar kabar darinya.
Aku selalu terbayang perhatiannya padaku, perhatian yang dulu yang telah membuatku jatuh cinta dengan sangat singkat, Aku tidak terbiasa tanpa dia, dia seperti kokain yang telah membuatku candu padanya, aku tidak punya alasan untuk memintanya menemuiku, dia bukan milikku lagi, dia sudah menjadi milik orang lain.
Satu-satunya cara yang kupunya adalah menemui adiknya, aku akan membuat dia sangat menyakitiku, dengan begitu aku bisa menghilangkan rasa cintaku padanya, aku akan membuat hatiku merasa sangat tersakiti olehnya, dengan begitu aku hanya akan membencinya.
Aku menggenggam ponselku, benda ramping itu terasa hangat, aku bosan, aku membuka instagram, yang pertama muncul adalah foto gadis, foto itu di post oleh akun Arsan, foto profilnya juga mengunakan foto dia dan gadis itu “dulu dia tidak seperti ini denganku” gumamku
**
Hari ini aku ada kelas jam delapan, aku pikir aku terlambat, karena aku tiba di kampus lima belas menit setelahnya, namun ternyata, dosen yang mengisi kelas hari ini berhalangan hadir, seperti biasa kelas selalu riuh saat dosen tidak ada, entah ada apa dengan orang-orang ini, mereka bukan anak TK lagi, aku sangat tidak suka menunggu dosen dan hanya duduk di kelas
Aku meletakkan tangan di ambang jendela, membiarkan rasa dingin kaca merasuk ke kulitku, pikiran tentang Arsan terus saja bersarang di kepalaku. Seketika rasa dingin itu berubah menjadi rasa sakit yang menumpulkan, rasa sakit yang menghukum, meski begitu aku tidak ingin beranjak dari jendela itu, seperti aku tidak ingin beranjak dari sisi Arsan, meskipun aku sudah terusir dari posisiku
Kenangan tentang Arsan selalu menghantuiku disiang hari dan membunuhku di malam harinya, aku benar-benar tidak ingin sendiri di malam hari, aku tidak bisa melakukan apa pun, apa lagi mengerjakan tugas, satu-satunya cara aku mengajak temanku, untuk menemaniku agar aku tidak merasa kesepian, dengan begitu aku bisa mengerjakan tugas
Beberapa malam ini aku selalu meminta Nina menemaniku mengerjakan tugas di kampus, tentu saja dia bersedia menemaniku, karena dia bisa meminta bantuanku dalam mengerjakan tugasnya
Jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam, aku dan Nina masih di kampus, malam ini kami pulang kemalaman, aku mengantar Nina pulang ke rumah, tanpa disangka Arsan telah menunggu di luar, dia menahanku untuk tidak kembali, dan Nina juga setuju agar aku tetap tinggal dan menginap dengannya, aku tidak punya pilihan, karena Arsan telah merebut kunci kontak motorku.
Tenggorokanku sangat kering, aku pikir aku harus minum segelas air, aku beranjak menuju dapur, ternyata disana ada Arsan, aku hanya berdiri menunggunya pergi, Arsan menghampiriku, memelukku dan berbisik “aku tidak ingin kehilanganmu, aku tidak bisa membiarkanmu menjadi milik orang lain” aku hanya diam, dan melepaskan pelukan Arsan, “apa dia sedang tidak waras” gumamku, jelas-jelas dia yang sedang menjalin hubungan dengan
orang lain, tapi tidak ingin aku menjadi milik orang lain
Arsan menarik tanganku “aku tidak akan membiarkanmu pergi” ujar Arsan lirih, aku hanya tersenyum tipis, merasa lebih terluka dan dipermainkan dari sebelumnya.
“tak perlu manahanku, jika kamu tidak bisa membahagiakanku setidaknya jangan membuatku menangis” ujarku berlalu pergi
Terkadang aku bingung dengan diriku sendiri, aku tidak suka dengan Arsan yang mendua, tapi aku tidak bisa
menjauh darinya