"Aku sudah menutup semua pandanganku untuk dunia yang sementara ini, Ellana. Aku sudah buta, buta akan keindahan yang tersaji di luar sana. Jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang memang tidak ingin aku lakukan. Jangan paksa aku untuk menjadi seorang suami yang tidak pernah bisa mencium aroma surga karena tidak bisa berlaku adil."
***
Ketika Allah menunjukkan kasih sayangNya dengan menggubahkan segores ujian di dalam bahtera rumah tangga, mungkinkah cinta itu masih tetap terbingkai utuh? Sanggupkah sepasang suami istri menjalani ujian itu dengan penuh keikhlasan? Dengan selalu berpegang teguh pada janji Allah bahwa akan ada surga bagi orang-orang yang sabar dan ikhlas?
Dan ketika sebuah janji telah terikrar untuk sehidup sesurga bersama seorang wanita yang telah ia pilih untuk ia jadikan pendamping hidup, mungkinkah janji itu akan tetap terjaga, meskipun pendampingnya kini sudah tidak lagi sempurna? Masihkah surga itu tetap terbingkai indah di dalam kehidupan mereka?
Rama Gilang Pradana bersama Ellana Alessia Safaraz Ismail akan memulai kisah mereka di sini. Sosok dua manusia yang mendamba surga dalam perjalanan cinta mereka.
Slow Update
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Hangat
Sentuhan sang bayu membelai lembut dedaunan dan kelopak-kelopak bunga Bougenville yang membuat mereka mengeratkan pelukannya kepada sang ranting agar tidak jatuh berguguran. Sembari berbisik lirih. Membisikkan kalimat-kalimat tasbih yang seolah mengajak kelopak-kelopak bunga dan dedaunan itu untuk ikut bertasbih memuji keagungan sang pencipta.
Suara kepakan sayap binatang-binatang malam terdengar jelas. Mereka keluar di malam hari, berlalu lalang ke sana kemari, untuk mencari makan setelah seharian berada di dalam persembunyiannya. Atau mungkin hanya sekedar bertengger di atas dahan sembari menajamkan indera pendengaran dan penglihatannya untuk menikmati suasana malam hari ini. Tentunya sambil menyapa penduduk bumi dengan suara khas mereka yang terdengar begitu syahdu.
Selembar sajadah telah terbentang. Di atas sajadah itu tengah bersimpuh seorang wanita muda lengkap dengan mukena putih yang ia kenakan. Ia menunduk takdzim, melafadzkan kalimat istighfar yang terdengar lirih namun teramat menggetarkan hati dan juga jiwanya. Seuntai kalimat yang begitu di rindukan oleh sang khalik dari hamba-hambaNya. Pada saat sang hamba mendatangiNya dengan setumpuk dosa kemudian duduk bersimpuh, mengetuk pintu ampun Nya.
Ia merayu sang maha penggenggam kehidupan dengan mengucap kalimat tasbih, tahmid, dan tahlil. Membenamkan dirinya dalam desahan-desahan nafas cinta yang tersirat di dalam kalimat-kalimat itu, memuja dan memuji sang maha agung sembari menyematkan sebuah harap agar hari esok kehidupannya akan jauh lebih baik daripada hari ini.
Ellana menangis, menumpahkan semua beban yang terasa begitu berat membebani batinnya. Beban kesalahan dan dosa di masa lalu yang semakin menjauhkannya dari sang pencipta. Setelah pertemuannya dengan seorang pemuda bernama Rama dan seluruh anggota keluarganya, semakin membuka mata hatinya jika ia sudah terlampau jauh meninggalkan Rabb nya. Dan kini, di sepertiga malam terakhir ini, ia memantapkan hati dan juga diri untuk kembali ke dekapanNya.
Rama yang tengah berdiri di depan ruangan ini hanya bisa memandang punggung wanita cantik yang tengah bersimpuh itu dengan tatapan haru. Kedua bola matanya ikut memanas tatkala melihat punggung wanita itu naik turun tiada beraturan yang menjadi pertanda bahwa ia tengah larut dalam rasa sesalnya karena sudah teramat jauh meninggalkan Rabb nya. Namun, Rama bersyukur karena setidaknya saat ini Ellana bisa kembali ke fitrahnya sebagai manusia di mana ia hanyalah makhluk lemah yang selalu bergantung kepada kasih sayang Allah sama seperti dirinya dan semua makhluk yang ada di alam dunia ini.
"Apakah wanita itu terlalu menarik perhatianmu sampai-sampai kamu menatapnya dengan lekat seperti ini?"
Suara bariton yang tiba-tiba terdengar di samping tubuh Rama, membuatnya terkejut seketika. Ia menoleh ke arah samping, dan ternyata sang ayah sudah berdiri di sana.
Rama tersenyum simpul. "Ayah? Sejak kapan Ayah berada di sini?"
Juna menggeleng pelan. "Entahlah, namun sepertinya sejak putra Ayah ini larut dalam pikirannya sendiri sambil memperhatikan dengan lekat wanita yang tengah bersimpuh itu." Juna menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan. "Apakah mau Ayah lamarkan wanita itu untukmu? Ayah rasa kamu sudah sangat siap untuk menjalani kehidupan berumah tangga, Nak."
Rama terkekeh pelan. "Jika waktunya sudah tepat, Rama pasti akan meminta Ayah melamar wanita itu untuk Rama. Saat ini Rama rasa waktunya belum tepat, mengingat hati wanita itu sepertinya sulit untuk disentuh."
"Hemmmm baiklah jika seperti itu. Kapanpun waktunya, Ayah dan juga bunda sudah sangat siap menyambutmu untuk bersegera melepas masa lajangmu, Nak."
"Terimakasih banyak Yah."
Sayup suara kumandangkan adzan subuh mulai terdengar memecah kesunyian malam. Menjadi pertanda jika Allah tengah menaburkan rezeki untuk bumi manusia melalui malaikat-malaikatNya. Yang dapat dinikmati oleh semua makhluk hidup di bumi ini. Ayam jantan mulai terdengar berkokok bersahut-sahutan. Para induk ayam pun juga mulai turun dari kandang. Mereka mengajak anak-anaknya untuk mengais rezeki yang berada di dalam tanah seolah tidak ingin kalah dari makhluk yang bernama manusia.
Widya, Raina, dan Raisa terlihat menghampiri Juna dan Rama yang sudah lebih dulu berada di ruangan khusus untuk sholat. Sudah menjadi rutinitas keluarga Arjuna Rahmanu Wijaya di waktu sholat seperti ini mereka akan melaksanakan sholat berjamaah. Terlebih untuk para kaum perempuan. Sedangkan Rama dan Juna, biasanya akan pergi ke masjid. Ketiga wanita itu saling menatap heran mengapa Rama dan Juna hanya berdiri di depan ruangan saja.
"Ayah dan kak Rama mengapa hanya berdiri di sini saja?"
Rama memberikan isyarat kepada Widya dan adik-adik pertempurannya untuk melihat ke arah dalam ruangan ini. Dan di sana terlihat Ellana masih bersimpuh di atas sajadah.
Widya menyunggingkan senyum. "Mashaallah, apakah sudah dari tadi Ellana berada di sini Nak?"
Rama mengangguk pelan. "Iya Bun, sejak jam tiga pagi tadi."
Mendengar ada suara banyak orang yang berada di balik punggungnya, membuat Ellana sedikit terusik. Masih dengan posisi bersimpuh, ia membalikkan badannya. Ia sedikit terperanjat, tatkala melihat seluruh anggota keluarga Arjuna Rahmanu Wijaya sudah berkumpul di depan ruangan ini.
Merasa tidak enak hati, Ellana bangkit dari posisinya, masih dengan mukena yang melekat di tubuhnya. "Maaf jika El terlalu lama di tempat ini ya Om, Tante. Ellana sungguh tidak tahu kalau Om, Tante dan juga Raina, Raisa sudah berada di sini."
Widya tersenyum simpul sembari mengusap lengan Ellana. "Nak, tidak ada yang merasa terganggu. Ruangan ini adalah tempat khusus untuk sholat, jadi siapa saja boleh berlama-lama berada di sini."
"El, sudah masuk waktu sholat subuh. Kamu sholat lah bersama Bunda dan adik-adikku ini!"
"L-lalu kamu mau sholat di mana Ram? Apakah kamu tidak ikut sholat di sini?"
"Waaah .. Kakak ipar sudah tidak sabar untuk di imami oleh kak Rama ya?" Raisa berceletuk asal. Ia kemudian menautkan pandangannya ke arah Raina. "Kak Raina lihatlah, kakak ipar ini sudah sangat tidak sabar menjadi makmum kak Rama, so sweet sekali tidak sih Kak?"
Raina juga tidak kalah menampakkan wajah yang berbinar. "Iya Dek so sweet sekali. Dan apakah kamu setuju dengan penilaian Kakak jika kak Ellana terlihat jauh lebih cantik ketika memakai mukena seperti ini?"
"Iya betul sekali Kak. Kakak ipar pasti akan terlihat jauh lebih cantik kalau memakai kerudung."
Pertanyaan yang keluar dari bibir Ellana terdengar biasa saja. Namun ditanggapi istimewa oleh kedua gadis belia ini. Dari pertanyaannya itulah yang membuat Ellana diliputi oleh perasaan malu yang begitu luar biasa. Sedangkan Juna, Widya dan juga Rama hanya bisa menahan tawa melihat wajah Ellana yang sudah bersemu merah itu.
"Sudah, sudah, ini masih pagi Sayang. Masa sudah menggoda kak Ellana seperti itu?" Ucap Rama memangkas perkataan adik-adiknya. Ia pun kembali menautkan pandangannya ke arah Ellana yang masih tersipu malu. "El, aku sama ayah ke masjid dulu. Kamu bisa sholat di sini bersama Bunda dan adik-adikku."
Ellana mengangguk pelan. "Oh iya Ram. Maaf, aku tidak tahu jika kebiasaan keluargamu seperti ini."
"Kakak ipar jangan khawatir ya, jika kakak ipar sudah menjadi istri kak Rama, pasti kakak ipar akan tahu kebiasaan-kebiasaan kami."
Mata Ellana membulat. "Raina, Raisa... Kakak...."
"Sudah, sudah. Ayo Sayang, kita sholat sama-sama. Nanti keburu siang kalau kalian terus menerus menggoda kak Ellana seperti ini." Widya pun ikut memangkas ucapan kedua putrinya. Ia kembali mengusap lengan Ellana. "Kami ambil air wudhu dulu ya Nak, setelah itu kita sholat berjamaah."
"Iya Tante."
Pada akhirnya, Widya, Raina, Raisa mulai mengambil air wudhu di sebuah kran air yang letaknya tidak jauh dari taman belakang. Sedangkan Juna dan Rama mulai bergegas menuju masjid untuk sholat berjamaah.
Ellana hanya bisa mengukir sejuta senyum di bibirnya. Entah mengapa pagi ini ia merasakan sebuah kedamaian hati yang sangat sulit untuk ia jabarkan. Ternyata benar yang pernah Rama katakan, dengan mendekat kepada Allah, hati kita akan selalu diliputi oleh ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki.
Bismillah... Teguhkan hatiku untuk berbenah dan untuk bisa menjadi hamba Mu yang Engkau cintai ya Rabb...
.
.
. bersambung...
Hai-hai para pembaca tersayang... Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Bingkai Surga ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik bunga atau yang lainnya. jika punya tiket vote boleh juga jika ingin disumbangin ke author, hihiihii. dan jika menurut kakak-kakak cerita ini menginspirasi, boleh juga jika di share kepada teman-teman kakak semua..🤗🤗
Happy reading kakak..
Salam love, love, love❤️❤️❤️
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca🌹
lanjut thor...