Danu gemar berorganisasi, dari SMA hingga masa kuliah, Danu selalu asyik jika menyangkut Organisasi, saat SMA Danu memiliki hubungan khusus dengan Juli, karena kedekatan dan kisah indah masa lalu kedua orang tua mereka, Danu dan Juli tunangan saat mereka selesai SMA. Walau demikian, Danu dan Juli kuliah di PT berbeda, bahkan kost yang jauh jaraknya, Danu yang aktifis meneruskan kegemarannya berorganisasi di Kampus, Juli tak bisa melarang, keingintahuannya dengan kegiatan Danu membawa Juli menerima tawaran menjadi Wartawati Kampus.
Fokus Danu dalam kegiatan Organisasi sering membuatnya lupa, termasuk janji dengan Juli, fokus inilah yang kemudian membawa Danu menjadi begitu terpuruk, waktunya yang banyak tersita untuk organisasi membuat Danu harus menerima kenyataan pahit, kehilangan Juli. Bahkan untuk prosesi terakhir pun Danu melewatkannya.
Fahmi teman Danu sejak SMA memaksa Danu meninggalkan Medan menuju kampung halaman ibunya, Apakah Danu bisa menemukan kembali kembali kata Bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Jalan Ke Aek Nabara
Ada banyak perubahan dalam hidup Danu. Hari-hari yang dilalui Danu amat ceria dan bahagia, Danu selalu punya ide untuk membuat Juli tertawa, dengan begitu Danu bisa memeluk Juli dengan erat. Dan dengan begitu Danu merasa hidupnya bagai berada dalam taman Firdaus yang asyik dan semuanya mengandung kegembiraan, tak ada yang tak bagus, semuanya tampak indah-indah saja.
“ Wajahmu sumringah terus Dan.. “.
“ Sumringah apaan “.
“ Kamu memang tampak ceria terus, senang terus “.
Danu hanya geleng kepala. Tapi Danu harus jujur, apa yang baru dikatakan Fahmi rasanya banyak benarnya. Danu memang tak pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya, ingin selalu dekat dengan Juli.
“ Tapi jangan pacaran terus Dan “.
“ Yang pacaran terus siapa ?”.
“ Ngasih tau aja. Ente makin mudah marah, heran “.
Tangan Danu kembali menarat dikening Fahmi dan mendorongnya cukup kuat, Fahmi hanya ketawa kecil aja. Jelasnya Fahmi tahu kalau Danu baru kali ini merasakan punya pacar, selama ini terus menyibukkan diri dalam organisasi, mulai dari OSIS, Remaja Masjid, Muda Mudi, hingga Karang Taruna, belum lagi kegiatan Pramuka yang tentunya banyak menyita waktu Danu.
“ Besok ada perkemahan di GUDEP “.
“ Kemana ?”.
“ Ajamu. Katanya perkemahan gabungan “.
Danu bagai memutar otak. “ Kau ikut Mi “.
Fahmi anggukkan kepala. “ Ikut. Soalnya aku janji dengan Wita, katanya Wita ikut dari GUDEP nya “.
“ Sejak kapan Wita jadi anggota Pramuka ?”.
“ Sejak kau hanya punya waktu untuk Juli. Hingga kau tak tahu perkembangan yang terjadi di Kwartir Ranting “.
Danu mendelik. “ Ente bilang apa ?”.
Fahmi ikut melotot. “ Kau hampir lupa daratan Dan “.
“ What ? Lupa daratan. Maksudmu apa sih ?”.
Fahmi geleng kepala. “ Ngga’ ada apa-apa. Jelasin aja “.
Danu cukup lama pandangi wajah Fahmi. Minggu kemarin ada kegiatan di Kwartir Ranting, sebagai seorang pengurus, Danu tahu dan diundang. Tapi Danu tidak hadir karena ada urusan dengan keluarga Juli. Ayah Juli kemarin itu minta Danu temani Hari ke Rantau Perapat.
“ Aku ada urusan waktu itu Mi.. “.
“ Ngelonin Juli ? atau… “.
Fahmi terpaksa tak mampu meneruskan ucapannya. Tangan Danu udah berhasil menyumbat suaranya agar tidak keluar, Fahmi tidak mencoba berontak, Fahmi hanya memandangi wajah Danu yang matanya membulat. Cukup lama baru Danu lepaskan tangannya dan buang nafas berat.
“ Aku benar benar ada urusan Mi.. “.
“ Aku tahu “.
“ Lantas ?”.
“ Aku kesal !“. Fahmi setengah berteriak, bahkan langsung berdiri. “ Aku juga punya pacar, yang lain juga punya pacar, tapi tidak seperti kau yang Cuma tau urusan pacarnya aja. Yang lain juga butuh kau Dan, paham !”.
Danu bagai linglung menatap Fahmi yang tampaknya sedang naik darah. Danu terus memandang wajah Fahmi yang tegak pinggang sedikit merunduk menghadap padanya. Cukup lama mereka saling pandang, Danu kalah, Danu lebih dulu palingkan muka, kembali buang nafas berat.
“ Tapi Mi.. “.
“ Teruskan aja. Aku ada urusan “.
“ Mi.. Mi..“.
Fahmi tak lagi menoleh, Fahmi tinggalkan Danu begitu aja. Danu menutup muka dengan kedua tangannya. Danu kurang paham kenapa Fahmi bisa sampai marah begitu. Danu memang tahu acara itu, bahkan udah masukkan pakaian dalam tas menuju berangkat sebelum telephon itu datang, dan Danu tidak punya kekuatan untuk menolak permintaan ayah Juli, sama sekali Danu tidak mampu, hingga dengan terpaksa Danu melupakan kegiatan Kwaran dan berangkat ke Rantau Prapat membawa Hari adik Juli yang hanya mau beli sepeda mininya yang baru.
Danu tak lihat lagi Fahmi yang langsung keluar ruangan. Tapi Danu agak kecewa, tadi awalnya mereka bicara biasa biasa aja, tapi dalam hitungan menit aja Danu dapat semprotan Fahmi yang selama ini hampir tak penah didapatnya. Danu coba mengulang dialog mereka tadi, rasanya ngga’ ada yang salah. Kesalahan Danu memang hanya tidak hadir pada acara Kwaran, padahal Danu punya posisi yang penting dalam organisasi itu.
Danu mengeluh lumayan panjang. Kalaulah itu semua karena Juli, Danu rasa itu pantas pantas aja. Danu punya niat yang besar untuk tetap memberikan tempat yang paling istimewa bagi Juli dalam hidupnya. Kalau Fahmi marah karena itu Danu harus rela menerima, karena saat ini Juli adalah segalanya, Juli adalah hal yang paling pokok bagi Danu, Danu sayang dan terlalu mencintainya.
Juli juga demikian, Juli juga tampak penuh dengan tawa setiap harinya, selalu indah aja, tidak ada rasa yang lain bentuknya. Kalau Juli kesal dan sedang bermasalah dengan Danu, Juli tidak tanggung tanggung, Juli ngadunya langsung ke Ibu atau ke Kakak Danu, Danu yang harus pasrah disemprot Ibu atau Kakaknya kalau Juli membuat pengaduan.
Danu berdiri juga dan berusaha mencari Fahmi, tapi Danu baru sampai ke satu lokasi yang dia yakini Fahmi ada bel berbunyi cukup kuat, dengan begitu Danu belokkan langkah menuju ruang kelasnya. Wajah Fahmi yang tegang tadi cukup ganggu pikiran Danu hingga waktu belajarpun Danu kurang sreg.
Pulang sekolah rasanya cukup cepat. Dengan malas malasan Danu angkat tas dan melangkah keluar, ada senyum yang lebar dari bibir Danu saat melihat ada Juli tak jauh dari pintu. Danu mendekat.
“ Temanin Juli Bang “.
“ Kemana ?”.
“ Aek Nabara“.
Mata Danusedikit mengecil. “ Ngapain ?”.
“ Ada perlu“.
Danu anggukkan kepala, walau sedikit gamang Danu biarkan aja Juli gandeng tangannya dengan begitu mesra. Cukup lama mereka nunggu baru bus datang. Danu dan Juli naik, bus melaju dengan lumayan cepat dan banyak goyangnya, jalan yang dilalui cukup banyak lubangnya.
“ Ngapain ke Aek Nabara ?”.
“ Ada yang mau Juli beli “.
“ Kok tanggung ?”.
“ Tanggung ?”.
“ Ke Rantau Prapat sekalian kenapa ?”.
“ Terlalu jauh “.
Danu hanya anggukkan kepala aja, sebenarnya ada banyak rasa bahagia dalam hati Danu, bisa jalan bersama Juli begini juga merupakan kebahagiaan baru yang sebelumnya tidak pernah dirasakan Danu. Apalagi Juli menyandarkan kepala kebahu Danu, pake tidur pula lagi. Danu rangkul bahu Juli seakan melindungi, walau pengen agak tiduran sedikit, Danu sama sekali tak bisa. Ada banyak hal aneh dan baru yang kuasai hatinya. Apalagi perjalanan Negeri Lama menuju Aek Nabar bukan perjalanan yang dekat.
Danu goyang pipi Juli. “ Kita udah nyampe “.
Juli menggeliat. “ Udah nyampe Bang ?”.
“ Yok.. turun “.
Juli terus mengamit tangan Danu masuk pajak, lihat-lihat, pilih pilih dan tawar tawar hingga akhirnya beli juga. Danu hanya memperhatikan aja dengan tak banyak bicara, walau kadang Danu sedikit pusing melihat cara Juli menawar, tapi Danu diam aja, namanya juga perempuan.
"Salahkah Cinta?" atau tinggal klik profil aku aja ya