"Kenapa kau suka sekali ikut campur dengan urusan pribadiku?"
"Karena aku sedang mencari celah untuk mendekatimu dan merebut dirimu dari suamimu yang brengsek itu," jawab Hansel blak-blakan.
Jatuh cinta pada seorang gadis bukanlah hal yang memalukan. Tapi bagaimana jika ternyata kau jatuh cinta pada seorang wanita yang berstatus sebagai istri dari pria lain?
Hal inilah yang dirasakan oleh seorang Hansel Abraham. Hansel jatuh cinta pada Hanni, perawat pribadinya yang saat ini menyandang status sebagai istri dari Raymond Damara.
Langkah apa yang akhirnya akan diambil oleh seorang Hansel Abraham?
Apakah Hansel akan merelakan Hanni tetap bersama Raymond?
Atau Hansel akan menggunakan segala cara untuk merebut Hanni dari pelukan Raymond?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAU ITU KENAPA?
Raymond menatap pada Renata yang tampil anggun hari ini. Gaun pengantin putih panjang itu sangat pas melekat di tubuh semampai Renata. Sesaat bayangan Hanni yang mengenakan kebaya putih sederhana, berkelebat di benak Raymond.
Rasa bersalah di hati Raymond kembali membuncah. Raymond bahkan belum pernah membuat Hanni bahagia, namun kini Raymond malah menyakiti hati istrinya tersebut.
"Ray! Jemput calon istrimu!" Bisik Bu Retno Damara yang sedari tadi berdiri di samping Raymond.
Lamunan Raymond tentang Hanni seketika menjadi buyar. Dengan segera, Raymond mengulurkan tangannya pada Renata dan membawa gadis itu naik ke atas pelaminan.
Janji pernikahan sudah selesai diucapkan. Kini Raymond dan Renata sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Senyuman terus saja terkembang di bibir Renata sejak awal acara.
Kenapa gadis ini bisa terlihat sangat bahagia?
Flashback on
"Kau akan menikah dengan adik dari Alannaro dan menyelamatkan perusahaan kita yang sudah di ambang kebangkrutan," tegas Harri Damara yang langsung membuat Raymond terkejut.
"Tapi, Pa! Ray sudah menikah. Ray tidak mungkin menikah lagi dengan seorang gadis yang tak pernah Ray kenal," tolak Ray mencari alasan.
"Menikah? Maksudmu menikah dengan gadis miskin yang tidak jelas asal-usulnya itu?" Sergah Harri Damara dengan nada mengejek.
"Hanni istri Raymond, Pa! Jangan pernah menghinanya!" Raymond memperingatkan sang papa.
"Ceraikan Hanni! Dia tidak akan pernah pantas menjadi istrimu sampai kapanpun. Kalian itu tidak sepadan!" Bentak Harri Damara tak kalah galak.
"Ray tidak akan menceraikan Hanni! Ray me cintai Hanni-"
Plak!!
Harri Damara menampar pipi Raymond dengan keras.
Anak lelakinya itu langsung terdiam.
"Kamu mau menjadi anak durhaka? Papa hanya minta kamu membantu menyelamatkan perusahaan ini. Tidak bisakah kamu berbakti pada kedua orang tuamu dan tidak terus-terusan membangkang!" Sergah Harri Damara dengan wajah merah padam menahan amarah.
"Turuti saja kata-kata papamu, Ray! Hanya kamu yang bisa membantu menyelamatkan perusahaan keluarga kita," ujar Retno Damara, yang merupakan mama kandung Raymond. Wanita paruh baya tersebut ikut memohon seraya berurai airmata.
Raymond menjadi dilema sekarang.
Raymond benar-benar tidak mau menyakiti hati kedua orang tuanya ini, tapi Raymond juga tidak bisa begitu saja menceraikan Hanni.
Raymond sangat mencintai Hanni, meskipun hubungannya dengan Hanni tidak pernah mendapat restu dari kedua orang tuanya.
"Besok acara makan malam dengan calon istrimu. Jadi persiapkan dirimu!" Ucap Harri Damara sebelum berlau meninggalkan Raymond yang hanya mematung.
Flashback off
Renata masih tak melepaskan gamitan tangannya dari lengan Raymond. Pasangan yang baru saja resmi menjadi suami istri tersebut masih terus menyalami tamu undangan yang datang silih berganti.
Raymond menatap sejenak pada Renata, gadis baik hati yang entah mengapa setuju dengan perjodohan konyol ini.
Saat awal bertemu Renata, Raymond masih tak menyangka jika gadis ini benar-benar berhati malaikat. Renata rupanya sudah tahu kalau Raymond sudah menikah dan memiliki istri. Dan Renata dengan gampangnya mengatakan pada Raymond untuk menerima saja perjodohan ini, tanpa harus menceraikan Hanni.
Renata mendukung penuh hubungan Raymond bersama Hanni. Dan yang lebih mencengangkan, Renata berjanji pada Raymond untuk meminta cerai saat nanti perusahaan keluarga Raymond sudah kembali stabil. Jadi Raymond bisa kembali pada Hanni.
"Tersenyumlah, Ray! Agar semua orang percaya pada sandiwara kita!" Bisik Renata pada Raymond yang hanya merengut sedari tadi.
Sandiwara.
Renata benar.
Pernikahan ini hanya sebuah sandiwara, itulah yang selalu Renata katakan pada Raymond.
Renata hanya akan menganggap Raymond sebagai kakak setelah pernikahan bodoh ini. Dan baik Raymond maupun Renata, sudah sama-sama berjanji untuk tidak akan melakukan hubungan suami istri meskipun mereka adalah suami istri yang sah.
Mereka hanya akan berpura-pura mesra di depan keluarga Raymond dan di depan Alannaro. Selebihnya, mereka akan hidup sebagai teman atau kakak adik.
Raymond segera mengulas senyuman di wajahnya, dan lanjut menyalami tamu undangan yang masih terus berdatangan.
****
Hansel masih memeluk Hanni dengan erat meskipun wanita itu berontak dan berusaha melepaskan diri. Hanni terus saja memukul-mukul dada Hansel dan meracau tak jelas.
"Menangis saja!" Gumam Hansel yang sepertinya kembali emosi.
"Untuk apa saya menangis dipelukan pria brengsek seperti anda!" Hanni memukul-mukul dada Hansel dan berusaha melepaskan diri.
Hansel yang mendengar Hanni menyebutnya dengan sebutan pria brengsek sontak emosi,
"Apa katamu barusan?" Hansel sudah melepaskan pelukannya pada Hanni dan ganti mendelik ke arah perawatnya tersebut.
Hanni beringsut mundur dan balik menatap tajam pada Hansel.
"Anda itu pria brengsek, temperamental, pemarah, dan kasar!" Ucap Hanni yang masih menatap tajam pada Hansel.
"Anda sudah membuang satu-satunya barang berharga milik saya. Sebenarnya anda itu kenapa?" Sergah Hanni lagi seolah sedang menumpahkan emosi yang membuncah di dadanya.
"Barang berharga? Aku bisa membelikanmu seribu cincin murahan seperti yang diberikan oleh suami miskinmu itu!" Balas Hansel yang ikut-ikutan emosi.
"Itu hanya cincin murahan, dan kau mengamuk hanya karena aku membuangnya. Kau itu yang kenapa," imbuh Hansel lagi masih meledak-ledak.
"Tidak semua hal bisa dibeli dengan uang, Tuan Hansel yang terhormat."
"Cincin itu berharga bagi saya bukan karena nilainya, tapi karena orang yang memberikannya adalah orang yang istimewa di hidup saya. Saya yakin anda tidak akan pernah memahaminya," sinis Hanni seraya berlalu dari hadapan Hansel.
Hanni membersihkan pecahan gelas yang tadi dilempar oleh Hansel.
"Suruh saja pelayan yang membersihkannya! Tanganmu akan terluka, jika kau membersihkan seperti itu," ucap Hansel memerintah.
Hanni hanya bergeming dan tetap lanjut membersihkan.
Hansel meraih lonceng di atas nakas dan membunyikannya dengan keras.
Seorang pelayan segera datang ke kamar tuan muda tersebut.
"Anda butuh sesuatu, Tuan," tanya pelayan sopan.
"Bersihkan pecahan gelas yang disana!" Perintah Hansel dengan nada dingin.
Pelayan mengangguk dan keluar lagi dari kamar Hansel untuk mengambil peralatan.
"Hanni!" Panggil Hansel tegas.
Hanni menoleh sejenak pada Hansel.
"Ambilkan aku minum!" Perintah Hansel yang masih menatap tajam ke arah Hanni.
Hanni segera beranjak dan mengambilkan minum untuk tuan muda tersebut.
Pelayan sudah datang kembali dan mulai membersihkan pecahan-pecahan gelas yang ada di sudut ruangan.
Hanni sendiri masih berdiri mematung di samping ranjang Hansel dan menunggu tuan muda itu selesai minum.
"Maaf, Nona Hanni. Apa cincin ini milik anda?" Tanya pelayan tadi seraya menunjukkan cincin Hanni yang tadi dilempar Hansel.
Syukurlah, akhirnya ketemu.
Hanni bernafas lega.
"Iya, ini milikku. Terima kasih," jawab Hanni tulus.
Pelayan tadi hanya mengangguk dan segera keluar dari kamar Hansel karena pekerjaannya sudah selesai.
Hansel sudah selesai minum dan meletakkan gelasnya diatas nakas.
Dengan cepat, Hanni mengambil gelas itu dan hendak memindahkannya.
"Mau kau bawa kemana gelasku?" Tanya Hansel galak.
"Mau saya singkirkan agar tidak anda lempar lagi secara sembarangan. Hari ini gelas itu hanya menghantam tembok, bukan tidak mungkin gelas itu akan menghantam kepala saya besok pagi. Anda mau masuk penjara karena sudah membunuh saya?" Jawab Hanni pedas.
"Kenapa wanita ini sudah berani menjawab sekarang?" Hansel hanya bergumam dalam hati.
"Bawakan laptopku kesini!" Perintah Hansel.
"Dan mulai sekarang, kau tidak boleh keluar dari kamar ini sepanjang siang. Kau baru boleh kembali ke kamarmu saat malam dan saat aku sudah tidur," imbuh Hansel lagi dengan ekspresi wajah dingin.
"Bagaimana jika saya harus berganti baju?" Tanya Hanni berusaha mencari celah.
"Ada pelayan yang akan membawakan bajumu kesini," jawab Hansel enteng.
"Sial!" Hanni mengumpat dalam hati.
"Dimana laptopku?" Sergah Hansel kembali.
Hanni segera mengambil laptop Hansel dari atas meja kerja, dan memberikannya pada tuan muda pemarah tersebut.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like dan komen.
Untuk yang ingin vote karya ini, bisa klik pita ungu bertuliskan "lomba update tim" agar vote kalian masuk dan terhitung sebagai dukungan untuk othor. Terima kasih 😙