Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negosiasi Berdarah
Keheningan di dalam gudang tua itu seketika membeku. Senjata Arka terarah presisi ke dahi Victor Vance, sementara dua pengawal berbadan tegap milik Victor sudah bersiap menekan pelatuk laras panjang mereka ke arah van.
Victor terkekeh pelan, nada suaranya sarat penghinaan. "Kau pikir dalam kondisi sekarat dengan perut berlubang begitu, pelurumu bisa menembus dadaku sebelum anak buahku meratakan tempat ini, Arka?"
Arka tidak membalas provokasi itu. Rahangnya mengatup rapat, matanya yang sedingin es tidak berkedip sedikit pun.
"Bara," desis Arka pelan, hampir tak terdengar.
Tanpa perlu perintah kedua, Bara bertindak secepat kilat.
DUAR!
Bara menembak drum oli bekas di dekat kaki pengawal Victor. Ledakan api kecil dan kepulan asap hitam pekat langsung membumbung tinggi, merusak jarak pandang di dalam gudang.
"Aaaak! Tiarap, Mbak Rara!" teriak Dino histeris sambil membanting tubuhnya ke lantai semen yang kotor.
Di tengah kekacauan dan jeritan, tangan kiri Arka yang dingin dan kuat mencengkeram pergelangan tangan Rara dengan cengkeraman bagai jepitan besi.
"Lari!" perintah Arka dingin dan mutlak.
"A-apa?!" Rara terperanjat, tapi tubuhnya terseret paksa mengikutinya.
Bara melepaskan tembakan beruntun untuk menahan pergerakan Victor dan anak buahnya. "Pintu belakang, Bos! Cepat!" seru Bara singkat, melempar satu bom asap tambahan ke arah pintu utama gudang.
Suara tembakan gencar menggema bersahut-sahutan di dalam gudang beton itu, memantul keras dan memekakkan telinga. Rara memejamkan mata erat-erat, menundukkan kepalanya serendah mungkin sembari terus berlari mengikuti helatan tangan Arka.
Mereka menerobos pintu besi belakang gudang, keluar menuju area terbuka yang dipenuhi tumpukan kontainer berkarat di bawah guyuran kabut pagi yang dingin.
"Hah... hah... gila! Lo bener-bener gila, Arka!" Rara menghentikan langkahnya sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang seolah mau melompat keluar. Wajahnya pucat pasi. "Itu tadi tembak-tembakan beneran! Kalau kepala gue kena gimana?!"
Arka melepaskan cengkeramannya pada tangan Rara. Pria itu menyandarkan bahunya pada dinding seng kontainer, dadanya naik-turun menahan napas. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi pelipisnya, dan perban putih di perutnya kini mulai merembeskan warna merah segar yang kian meluas.
Rara yang melihat itu langsung membelalak panik, amarahnya luluh seketika. "Darah lo keluar lagi, Arka! Kan! Dibilangin jangan nekat berdiri apalagi lari-larian!"
"Tutup mulutmu, Rara," desis Arka parau, mengusap darah tipis di bibirnya dengan punggung tangan. "Ini cuma luka kecil."
"Luka kecil mata lo peang?!" semprot Rara ceplas-ceplos, matanya berkaca-kaca menatap noda darah yang kian lebar di kemeja Arka. "Jahitan lo lepas itu!"
Dino menyusul dari balik kontainer sambil terengah-engah, memegangi pinggangnya yang encok. "Aduh, Mbak Rara... napas gue rasanya mau putus. Itu tadi si Victor-Victor itu bos gede ya? Tampangnya seram amat kayak penagih utang keliling!"
Langkah kaki tegap mendekat. Bara muncul dari balik asap tipis dengan wajah yang tetap datar tanpa cela, membawa senapan yang asapnya masih mengepul.
"Jalur darat terkunci," lapor Bara kaku pada Arka. "Anak buah Victor menyebar di perimeter selatan."
Arka menegakkan punggungnya, memaksakan tubuhnya untuk berdiri tegak meski rahangnya menegang menahan nyeri luar biasa. "Pelabuhan utara. Kita pakai kapal kargo penyelundup."
"Tapi Bos, kondisi Anda" Dino mencoba memprotes, namun terhenti saat Arka melayangkan tatapan membunuh yang membekukan darahnya. Dino langsung kicep. "I-iya, siap, Bos. Pelabuhan utara."
Arka memalingkan wajahnya pada Rara. Ditatapnya gadis yang sedang gemetaran menahan takut dan dingin itu. Pria itu mengulurkan tangannya yang bernoda bekas jelaga hitam ke depan Rara.
"Pegang," kata Arka singkat dan dingin.
Rara menatap telapak tangan itu, lalu menatap mata Arka. "Gue bukan anak kecil yang harus digandeng terus, Arka."
"Victor mengincarmu untuk dijadikan umpan," balas Arka tanpa emosi, namun nadanya tidak menerima penolakan. "Jika kau jauh dari jangkauan saya lebih dari satu meter, saya tidak menjamin keselamatanmu."
Rara menggigit bibir bawahnya. Meski bahasa pria ini kaku dan selalu ketus, ada rasa aman aneh yang menyelusup di dadanya. Tanpa banyak gaya lagi, Rara menyambut uluran tangan Arka. Genggaman Arka sangat erat, seolah tak akan membiarkan apa pun merebut gadis itu dari sisinya.
"Ingat ya," ancam Rara pelan, menatap Arka tajam. "Kalau sampai rencana lo gagal dan kita mati konyol di dermaga utara, arwah gue bakal ngintilin lo tiap malam!"
Sudut bibir Arka berkedut tipis senyuman dingin yang sangat tipis, hampir tak terlihat. "Tawaran yang menarik. Tapi sayangnya, saya belum berniat mati hari ini."
"Bara, pimpin jalan," perintah Arka tegas.
"Siap, Bos," sahut Bara kaku. Pengawal itu langsung bergerak menyusuri lorong-lorong sempit di antara tumpukan kontainer, disusul Arka yang menggandeng erat tangan Rara, serta Dino yang sigap menjaga bagian belakang.