NovelToon NovelToon
Rahasia Dua Tubuh

Rahasia Dua Tubuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:823
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.

Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.

Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.

"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FESTIVAL!!!

Hari-hari Ujian Akhir Semester yang menguras tenaga akhirnya resmi berlalu. Beban pikiran tentang rumus fisika, tanggal sejarah, dan angka-angka ekonomi kini sirna seiring dengan dikumpulkannya lembar jawaban terakhir.

Suasana SMA Bangsa yang tadinya kaku dan penuh tekanan mendadak berubah menjadi riuh penuh antusiasme. Seluruh siswa menyambut pekan pentas seni dan festival sekolah dengan sorak-sorai gembira, dan salah satu acara yang paling dinantikan adalah penampilan musik di aula utama.

Di balik kemeriahan tersebut, ketegangan tersendiri dirasakan oleh Udin dan Bara.

Sore harinya, tepat sehari sebelum festival, mereka sibuk melakukan sound check terakhir di panggung aula yang sudah disulap megah dengan tata lampu sorot warna-warni dan sound system berkekuatan besar.

Namun, di barisan kursi penonton bagian belakang, Victor berdiri melipat tangan di dada dengan tatapan tajam mengawasi setiap gerak-gerik mereka.

Rasa curiga di kepala Victor belum juga padam. Ia masih yakin bahwa kehadiran Bara di sisi Udin hanyalah sebuah taktik busuk sebuah bentuk manipulasi demi memanfaatkan keahlian musik Udin untuk kepentingan pribadi si anak baru.

Victor bahkan sudah bersiap untuk naik ke atas panggung dan menghentikan semuanya jika ia melihat gelagat Bara mulai mempermainkan sahabatnya itu.

Hari festival yang dinanti pun tiba. Aula utama sekolah mendadak sesak dipadati oleh ratusan siswa, guru, dan beberapa orang tua murid.

Gemerlap lampu panggung menyorot tajam, memantulkan kilau debu yang beterbangan di udara, sementara suara obrolan penonton berdengung riuh memenuhi ruangan.

Di belakang panggung, atmosfer terasa begitu pekat oleh ketegangan. Beberapa siswa dari kelompok populer tampak melirik ke arah Bara dan Udin dengan senyum sinis dan tatapan meremehkan. Bisik-bisik tajam mulai terdengar di antara barisan pengisi acara.

"Seriusan itu si Udin yang mau naik panggung?" suara seorang siswa berbadan jangkung terdengar mengejek sambil menyikut temannya.

"Badan kayak gentong gitu mau sok-sokan nge-rap. Mau bikin panggungnya ambruk kali ya?"

"Dan si Bara itu kenapa mau-maunya temenan sama dia?" timpal temannya dengan nada mencemooh.

"Padahal muka lumayan, badan proporsional, tinggi, tapi malah salah pergaulan. Kelihatan banget dia cuma mau numpang tenar atau manfaatin si Udin."

Udin, yang mendengar jelas hinaan tersebut, merapatkan bibirnya. Jemarinya yang agak gemuk mengepal erat di sisi tubuhnya. Rasa minder yang selama bertahun-tahun ia pendam mendadak merayap naik, mencengkeram dadanya.

Ia hampir saja melangkah mundur untuk membatalkan semuanya, merasa tidak pantas berdiri di bawah sorotan lampu megah itu.

Namun, sebelum keraguan itu melumpuhkan Udin sepenuhnya, sebuah tangan hangat menepuk pelan bahunya. Bara berdiri di sampingnya, menatap lurus ke depan dengan pandangan yang tenang namun penuh keyakinan.

"Nggak usah dengar omongan mereka, Din," bisik Bara tegas, suaranya memecah gemuruh keraguan di kepala sahabatnya.

"Tunjukkan ke mereka suara asli dari balik tubuh itu. Kita di sini bukan buat jadi bahan tertawaan, tapi buat nunjukkin siapa kita sebenarnya."

Panggilan untuk giliran mereka akhirnya berkumandang dari pengeras suara. Lampu panggung mendadak padam total, menyisakan kegelapan pekat yang langsung disambut oleh sorak-sorakan iseng dari penonton yang menantikan penampilan si "duo aneh".

Bara melangkah lebih dulu ke tengah panggung, menyandang gitar elektrik berwarna hitam legam. Di belakangnya, Udin duduk di balik perangkat synthesizer dan drum pad digital, dengan mikrofon berdiri tepat di depan wajahnya.

Sorot lampu tunggal tiba-tiba menyala, memfokuskan cahaya tepat pada siluet mereka berdua.

Penonton langsung terkesiap pelan. Kontras visual yang tajam terpampang nyata di bawah cahaya lampu, Bara berdiri dengan postur tubuh jangkung, proporsional, dan wajah rupawan yang memancarkan karisma alami sementara Udin duduk tepat di sebelah kirinya dengan perawakan pendek dan gempal. Bisik-bisik heran kembali bergemuruh di bangku penonton.

Banyak dari mereka yang bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang remaja dengan penampilan nyaris sempurna seperti Bara mau berteman, akrab, hingga berkolaborasi dengan Udin yang sering dipandang sebelah mata?

Tanpa mempedulikan cibiran dan tanda tanya di luar sana, Bara mulai memetik gitarnya. Rangkaian chord minor yang kelam, tajam, dan penuh energi langsung merobek keheningan malam.

Alunannya megah, memadukan unsur musik rock alternatif modern dengan sentuhan electronic beats yang menghentak dada.

Penonton yang tadinya berniat mencemooh seketika terdiam; melodi pembuka itu memiliki kekuatan magis yang langsung mencengkeram perhatian siapa pun yang mendengarnya.

Begitu ketukan beat drum elektrik masuk dengan entakan berat yang dinamis, Bara mulai bernyanyi. Suaranya bariton, jernih, namun menyimpan ketukan emosi yang kuat, mengalir mulus mengikuti alur lagu tentang perjuangan berdiri di atas kaki sendiri di tengah dunia yang penuh prasangka.

Dan ketika lagu memasuki bagian transisi menuju verse kedua, giliran Udin yang mengambil alih panggung.

Semua prasangka buruk penonton, termasuk keraguan Victor yang berdiri terpaku di barisan belakang, mendadak runtuh dalam hitungan detik.

Udin, yang tadinya dipandang rendah karena bentuk fisik dan penampilannya, berubah total begitu bibirnya mendekati mikrofon. Aliran lirik rap meluncur keluar dari mulutnya dengan kecepatan luar biasa, artikulasi yang begitu tajam, jelas, dan penuh dengan penekanan ritmik yang presisi layaknya seorang rapper profesional kelas atas.

Tidak ada keraguan, tidak ada suara sumbang setiap bait yang ia tembakkan memiliki nyawa, memuat emosi mentah tentang kemarahan, ketidakadilan, dan harga diri kaum tertindas yang selama ini dipandang sebelah mata.

“Kalian menatap dari singgasana, menilai buku dari sampul penutupnya! Menertawakan bentuk, mencibir langkah, tanpa tahu apa yang kami pertaruhkan di bawah! Dunia ini bukan milik yang berwajah sempurna, tapi milik mereka yang berani melawan sisa-sisa badai nestapa!”

Suara vokal latar Bara masuk dengan harmonisasi yang sempurna, menyatu dengan tarikan napas cepat Udin yang melantunkan flow rap yang semakin rumit dan bertenaga. Panggung seolah bergetar hebat. Seluruh isi aula terhipnotis.

Penonton yang tadinya mencibir kini terperangah, berdiri dari tempat duduk mereka dengan mata terbelalak lebar. Tidak sedikit yang bahkan menutup mulut karena tidak percaya bahwa suara sekeren itu, aransemen semegah itu, bisa lahir dari dua orang siswa yang penampilannya sempat diremehkan habis-habisan.

Bahkan Victor di barisan belakang hanya bisa terpaku dengan mulut sedikit terbuka, menyadari betapa salah dirinya selama ini dalam menilai hubungan antara Bara dan Udin.

Penampilan itu ditutup dengan raungan melodi gitar panjang dari Bara yang dipadukan dengan teriakan lirik penuh kekuatan dari Udin, diakhiri dengan dentuman keras seluruh instrumen secara serentak.

Untuk sepersekian detik, aula terdiam sunyi senyap dalam kebingungan kolektif. Sebelum akhirnya, ledakan tepuk tangan, sorak-sorakan histeris, dan teriakan pujian mengguncang seluruh ruangan.

Penonton bergemuruh, memberikan penghormatan berdiri (standing ovation) bagi penampilan paling epik yang pernah disaksikan di sekolah tersebut sepanjang tahun ini.

Udin, yang masih mengatur napasnya yang terengah-engah di balik alat musiknya, menatap tak percaya ke arah lautan penonton yang kini bertepuk tangan riuh menyebut nama mereka.

Sebuah senyuman lebar, tulus, dan penuh kelegaan terukir di wajahnya. Di sebelah kanannya, Bara tersenyum tipis, merangkul pundak sahabatnya erat-erat di bawah sorotan lampu panggung yang menyilaukan.

Dua hari berselang, kehebohan penampilan festival itu rupanya tidak hanya berhenti di lingkungan sekolah. Rekaman video amatir penampilan mereka berdua yang diunggah oleh salah satu penonton mendadak viral di media sosial lokal, mendulang ratusan ribu penayangan, dibagikan ribuan kali, dan menuai banjir pujian dari warganet.

Suatu sore, saat Bara dan Udin sedang duduk santai di kantin sekolah membahas aransemen lagu baru, ponsel di dalam saku celana Bara berdering nyaring. Sebuah nomor tak dikenal dengan kode area Jakarta tertera di layar.

Dengan sedikit rasa penasaran, Bara mengangkat panggilan tersebut di hadapan Udin.

"Halo, apakah benar ini dengan Bara, pemuda yang tampil di festival musik sekolah di Surabaya beberapa hari lalu bersama rekan berbadan gempal bernama Udin?" tanya sebuah suara di ujung sana—suara seorang pria paruh baya yang terdengar tegas, profesional, namun ramah.

"Ya, benar. Saya sendiri," jawab Bara, mengerutkan keningnya, sementara Udin menatapnya dengan penuh tanya.

"Perkenalkan, nama saya Satria, produser eksekutif dari Vortex Records. Saya dan tim tidak sengaja melihat rekaman penampilan kalian berdua di internet. Aransemen musik kalian, liriknya, dan kombinasi vokal kalian benar-benar di luar dugaan sebuah mahakarya mentah yang memiliki pasar yang sangat kuat di industri musik saat ini," lanjut suara di seberang telepon dengan antusias.

"Kami ingin mengajak kalian berdua datang ke studio kami di pusat kota minggu depan. Kami ingin mendiskusikan kontrak kerja sama untuk memproduksi dan merekam lagu-lagu baru, membawa karya hebat yang kalian bawakan di panggung kemarin ke tingkat yang jauh lebih profesional."

Bara terdiam sejenak, sementara matanya membelalak lebar. Jantungnya berdegup kencang. Dunia musik profesional mendadak membentangkan jalannya tepat di depan mata mereka, mengubah arah hidup dua remaja biasa tersebut untuk selamanya.

1
Jian Fitriana
jangan lama’ thor update nya 🤭
rey
semangat thor 🔥🔥
RR
halo teman-teman sekalian. tolong bantu berikan ulasan yaa agar saya lebih semangat untuk memberikan tulisan-tulisan terbaik. jangan lupa like nya terimakasih
rey: semangat thor 🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!