NovelToon NovelToon
Pesona Mas Brewok

Pesona Mas Brewok

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: septia19

saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 17. rahasia di balik keheningan

Sejak kejadian di kebun buah dan percakapan yang membuka tabir perasaan sore itu, suasana di antara Zahra dan Rendra berubah total. Di depan orang lain terutama di depan keluarga Rendra dan Rana mereka tetap berusaha bersikap wajar sopan, menjaga jarak, dan tidak menunjukkan keakraban berlebihan. Namun di balik senyum yang terkendali dan tatapan yang dijaga, ada jembatan halus yang terus terhubung: layar gawai masing-masing.

Sejak hari kondangan itu, tanpa disadari oleh siapa pun, kebiasaan baru tumbuh diam-diam. Awalnya hanya pesan singkat sekadar menanyakan kabar atau memberi tahu hal kecil, namun lama-kelamaan obrolan menjadi lebih panjang, lebih dalam, dan semakin pribadi terjadi saat malam hari sepi, saat pagi buta sebelum orang lain bangun, atau saat keduanya sedang berada di tempat terpisah namun hati saling mencari.

Semula, hal ini bermula dari hal sederhana. Setelah perjalanan pulang dari acara pernikahan teman Zahra, Rendra merasa ingin memastikan Zahra sudah merasa tenang kembali. Malam itu, saat semua orang sudah masuk ke kamar masing-masing, pesan pertama masuk ke gawai Zahra “Sudah istirahat, Zahra? Semoga hari ini tidak terlalu melelahkan bagimu.”

Zahra yang baru saja berbaring tertegun melihat nama pengirimnya. Jantungnya berdebar pelan. Tanpa berpikir panjang, ia membalas dengan lembut. Sejak saat itu, pintu percakapan yang tak terlihat terbuka lebar.

Mereka mulai berbicara tentang hal-hal yang jarang terucap saat bertemu langsung tentang harapan, ketakutan, masa kecil, hingga pandangan hidup yang ternyata sangat mirip. Di balik layar, Zahra yang biasanya pendiam dan segan menjadi lebih berani mengungkapkan isi hati, sementara Rendra yang biasanya terlihat tegas dan tertutup menjadi lebih lembut, terbuka, dan penuh perhatian.

Hanya Rana yang diam-diam sempat melihat sekilas layar gawai Zahra yang menyala terang di tengah malam saat keduanya berbagi kamar sementara, dan ia langsung paham: “Jadi inilah benang yang semakin mengikat mereka. Bukan hanya tatapan atau pertemuan, tapi juga kata-kata yang disimpan rapat-rapat.” Namun Rana memilih diam, tidak mengusik, dan hanya memantau dari jauh.

Setiap hari, saat ada kesempatan menyelinap, pesan terus berganti. Kadang Rendra bercerita tentang kesibukan di toko, tentang cara ia memecahkan masalah dengan pelanggan, tentang bagaimana ia merindukan masa-masa sederhana. Zahra pun menceritakan kerinduannya pada kampung halaman orang tuanya, kegelisahannya menghadapi masa depan, dan betapa ia merasa damai setiap kali membaca balasan dari Rendra.

Rendra “Aku sering berpikir, Zahra... betapa anehnya takdir. Dulu kita hanya orang asing yang hampir tak saling sadari keberadaannya. Sekarang, rasanya ada bagian dari hariku yang kurang jika belum sempat bertukar kata denganmu lewat sini.”

Zahra. “Aku juga merasakan hal yang sama, Mas. Rasanya... seperti ada tempat yang tenang hanya untuk kita berdua, jauh dari keramaian dan pandangan orang lain.”

Momen-momen kecil seperti ini perlahan tapi pasti mengukuhkan rasa yang mulai tumbuh. Di saat Zahra sedang sibuk berusaha menjodohkan Rendra dengan Rana usaha yang justru dipicu karena ia belum paham perasaannya sendirinya justru semakin sering dan semakin leluasa berbagi isi hati lewat pesan rahasia ini. Rasa cemburu yang muncul belakangan hanya menegaskan apa yang sebenarnya sudah tertulis jelas di setiap baris pesan yang mereka kirimkan, hati Zahra sudah berpihak pada Rendra, jauh sebelum ia sendiri berani mengakuinya.

Di siang hari, saat bertemu tatap muka di rumah, mereka berusaha keras menyembunyikan hubungan khusus ini. Zahra berusaha bersikap biasa saja, bahkan tetap menyempatkan diri memuji Rana di depan Rendra namun matanya yang berbicara dengan jujur sering kali tak bisa menipu. Rendra pun tetap menjaga sikap sebagai sahabat keluarga yang sopan dan menjaga jarak, namun setiap kali mata mereka bertemu sekilas, ada kilatan pesan tak terucap yang berlalu cepat: “Aku ingat apa yang kita bicarakan tadi malam.”

Hanya Rana yang sering kali tersenyum geli melihatnya. Ia bisa melihat betapa hati-hatinya mereka menyembunyikan rahasia itu namun sekaligus betapa tidak bisa disembunyikan kedekatan yang telah terjalin.

“Kalian pikir rahasia ini tersimpan rapat sekali?” bisik Rana suatu hari saat berdua saja dengan Zahra. “Matamu saja sudah bercerita semua, apalagi cara kamu memegang gawai seolah itu benda paling berharga.”

Zahra langsung tersipu, wajahnya memerah padam. “Kamu... dari mana tahu?”

“Bukan sulit ditebak. Sering sekali kamu diam-diam tersenyum sendiri saat membaca pesan, atau terlihat gelisah jika lama tidak ada balasan,” jawab Rana santai namun tajam. “Hati-hati, Zahra. Semakin erat ikatan ini tanpa sepengetahuan Raka, semakin sulit nanti saat rahasia ini terbongkar.”

Peringatan itu membuat Zahra tertegun dan sedikit takut, namun ia tak sanggup menghentikan kebiasaan itu. Rasanya seperti ada kekuatan yang menariknya terus mendekat pada Rendra meski ia tahu seharusnya tidak demikian.

Suatu sore, kabar yang sudah lama ditunggu sekaligus ditakuti akhirnya sampai. Raka akan tiba besok pagi. Pesan dari Raka sendiri masuk ke gawai Zahra dengan nada antusias. “Besok pagi aku sudah sampai! Tidak sabar ingin bertemu kalian semua, mendengar cerita banyak hal yang terjadi selama aku pergi.”

Bagi Zahra dan Rendra, pesan itu seperti lonceng peringatan keras. Segera setelah membacanya, Zahra diam-diam mengirim pesan kepada Rendra. “Mas Rendra... Raka pulang besok. Kita harus berhati-hati sekali mulai sekarang. Jangan sampai ada yang tahu kita sering saling berkirim pesan seperti ini.”

Balasan Rendra datang tak lama kemudian, nadanya serius namun tetap lembut:

“Aku mengerti, Zahra. Kita akan bersikap sebaik mungkin. Tapi ingat satu hal apa yang sudah ada di antara kita baik kata-kata maupun perasaan tidak akan hilang hanya karena kita menyembunyikannya sementara waktu. Hati kita tetap tahu ke mana ia berlabuh.”

Malam itu menjadi malam yang panjang dan tak tenang bagi keduanya. Zahra memeriksa kembali isi pesan di gawainya, berniat menyembunyikan riwayat obrolan namun tak tega setiap kata terasa begitu berharga. Rendra juga duduk lama di teras rumah, memikirkan konsekuensi dari apa yang telah terjadi: ia, sahabat setia Raka, diam-diam menjalin hubungan hati dengan kekasih sahabatnya itu. Ia tahu ini salah, ia tahu ini berbahaya, namun ia sudah tak sanggup lagi menepis perasaan yang sudah tumbuh sedemikian rupa.

Rana yang melihat kegelisahan mereka berdua hanya bisa menghela napas pelan. Ia tahu, begitu Raka melangkah masuk ke halaman rumah besok, keseimbangan yang rapuh ini akan runtuh perlahan namun pasti. Pesan-pesan rahasia, kedekatan yang disembunyikan, rasa cemburu dan cinta yang terlarang semua akan segera diuji.

Menjelang pagi, Zahra sempat mengirim satu pesan terakhir sebelum mematikan gawainya sejenak. “Aku takut, Mas... tapi aku juga tak sanggup berpura-pura seolah tidak ada apa-apa. Besok, bagaimana kita?”

Jawaban Rendra datang dengan tenang namun penuh ketegasan “Bersikaplah jujur pada sikap, tapi tahan dulu isi hati. Biarkan waktu yang berjalan. Yang penting, kita tetap saling menjaga tanpa melukai orang lain lebih dulu.”

Saat fajar mulai menyingsing, udara pagi terasa dingin dan penuh tekanan. Di dalam hati Zahra dan Rendra, benih-benih hubungan rahasia yang tumbuh lewat pesan diam-diam kini sudah menjadi beban sekaligus harapan besar. Dan di kejauhan, suara kendaraan mulai terdengar mendekat tanda bahwa Raka sudah datang, dan tabir rahasia yang selama ini mereka bangun perlahan mulai terancam terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!