**Tiga tahun Arunika mengorbankan segalanya demi cinta—memutus hubungan dengan keluarga konglomeratnya sendiri demi menikahi Damar Notonegoro, pria dingin yang tak pernah benar-benar melihatnya.**
Sampai di pesta ulang tahun sang Eyang, ipar yang sedang hamil terjatuh ke kolam, dan Arunika dituduh sebagai pelakunya. Di depan seluruh keluarga besar, ia dipaksa bersimpuh minta maaf, dihina, dibiarkan berlutut semalaman di tengah hujan—dan Damar, suaminya, tak sedikit pun membelanya.
Malam itu Arunika berhenti menangis. *"Aku mau cerai. Tidak sepeser pun harta Notonegoro yang kuminta."*
Yang tak mereka tahu: perempuan yang mereka injak-injak ini adalah **putri Keluarga Prawira**—pewaris kerajaan bisnis triliunan. Dan ia pulang bukan untuk menyerah, melainkan untuk membalas semuanya.
Saat ia bangkit sebagai direktur Semesta Group, saat seluruh Jakarta menyadari siapa dirinya sebenarnya, satu per satu yang dulu meremehkannya mulai tersedak ludah sendiri. Bahkan Damar—mantan suami yang dulu begitu dingin—kini berlutut memohon rujuk.
Tapi terlambat. Karena kini ada **Mahesa Adiwangsa**, konglomerat muda paling berkuasa di kota ini, yang setiap hari mengirim mawar untuknya, yang berani berkata di depan semua orang:
*"Aku pilih kamu. Dan anakmu."*
Antara mantan suami yang menyesal dan pria yang mencintainya tanpa syarat, antara masa lalu yang ingin menyeretnya kembali dan masa depan yang menjanjikan dunia—
**Pilihan Arunika tak pernah goyah. Pertanyaannya: beranikah Notonegoro menanggung akibat telah melepaskan perempuan seperti dia?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
# Bab 17
## Lawan Lama
Satu minggu setelah tanda tangan Pak Hendra mengering di atas dokumen audit, nama Arunika mulai beredar di ruang-ruang yang lebih wangi daripada ruang rapat.
Bukan di berita besar.
Bukan pula di akun gosip.
Hanya di bisik-bisik lobi hotel, di meja makan siang pengusaha, di grup pesan para istri komisaris, dan di senyum orang-orang yang mengaku tidak penasaran.
Direktur baru Semesta Jakarta.
Muda.
Terlalu tenang.
Berani membekukan pembayaran Cakra Mandiri.
Kalimat terakhir membuat beberapa orang menoleh.
Karena Cakra Mandiri bukan vendor kecil. Karena Hendra Salim punya terlalu banyak teman. Karena ketika satu orang berani menyentuh kontraknya, biasanya orang itu sedang membawa nama besar di belakang punggung.
Arunika mendengar semua itu dari Tari saat mobil berhenti di depan hotel kawasan Sudirman.
"Ada tiga meja yang kemungkinan mendekati Ibu hari ini," kata Tari sambil memeriksa daftar tamu. "Pengurus asosiasi properti, dua komisaris perusahaan logistik, dan beberapa istri pemegang saham lama. Mereka pernah hadir di acara Notonegoro tiga tahun terakhir."
Arunika melihat pantulan dirinya di kaca mobil. Gaun hitamnya sederhana, lengannya panjang, potongannya bersih. Tidak ada perhiasan mencolok selain anting kecil dan jam tangan tipis. Luka di punggung tangan kanan tidak ia tutup seluruhnya.
"Mereka mengenal aku sebagai siapa?"
"Sebagian mungkin mengenali wajah Ibu dari berita viral. Sebagian lain mungkin hanya ingat bahwa dulu ada menantu Notonegoro yang jarang bicara."
"Bagus."
Tari menoleh.
Arunika membuka pintu mobil. "Orang lebih jujur ketika mereka mengira sedang bicara dengan seseorang yang dulu pernah mereka remehkan."
Lobi hotel berkilau oleh marmer dan cahaya lampu gantung. Aroma parfum mahal bercampur dengan kopi dan bunga segar. Di depan ballroom, papan acara bertuliskan Forum Kemitraan Properti Jakarta. Nama Semesta Group tercantum sebagai salah satu peserta korporasi, tetapi tidak sebagai tuan rumah.
Itu cukup.
Arunika tidak datang untuk menjadi pusat ruangan.
Ia datang untuk mendengar siapa saja yang mulai gugup.
Begitu memasuki area jamuan, beberapa pandangan menyentuh wajahnya. Ada yang langsung berpaling. Ada yang menatap lebih lama. Ada yang berbisik kepada orang di sebelahnya dengan gerakan bibir terlalu jelas.
"Itu yang baru dari Semesta?"
"Arunika Dewanti, katanya."
"Dewanti siapa?"
"Entahlah. Dari Surabaya mungkin."
Arunika mengambil segelas air mineral dari meja, bukan sampanye. Ia berdiri di sisi ruangan, cukup dekat dengan jalur tamu, cukup jauh dari panggung. Tari berdiri setengah langkah di belakangnya, membawa map tipis yang tampak biasa saja.
Seorang perempuan berkalung mutiara mendekat lebih dulu. Usianya sekitar lima puluh, senyumnya lembut, matanya tidak.
"Bu Arunika, ya?"
"Betul."
"Saya pernah melihat wajah Anda." Perempuan itu tertawa kecil. "Jakarta kecil sekali. Semua orang akhirnya bertemu lagi."
Arunika membalas senyum tipis. "Benar, Bu. Terutama orang yang punya urusan belum selesai."
Tawa perempuan itu berhenti sebentar, lalu kembali dengan nada lebih tinggi.
"Wah, tajam juga. Saya kira anak muda sekarang lebih suka basa-basi."
"Saya hanya menyesuaikan lawan bicara."
Di belakang perempuan itu, dua orang lain mendekat. Mereka membawa tas bermerek, senyum terlatih, dan rasa ingin tahu yang disembunyikan buruk. Arunika mengenali salah satunya dari ingatan yang tidak ia minta.
Tiga tahun lalu, di sebuah acara keluarga Notonegoro, perempuan itu pernah berkata dengan suara cukup keras, "Istri Damar itu cantik, tapi sayang tidak punya asal yang jelas. Untung keluarga Notonegoro sabar."
Saat itu Arunika menunduk.
Hari ini ia tidak.
"Semesta cukup berani akhir-akhir ini," kata perempuan itu. "Membekukan kontrak lama bisa membuat banyak pihak tersinggung."
"Kalau kontraknya bersih, tidak ada yang perlu tersinggung."
"Dalam bisnis, bersih itu relatif."
"Dalam audit, tidak."
Diam turun sebentar di antara mereka.
Perempuan berkalung mutiara menatap tangan Arunika. Mungkin ia melihat bekas luka itu. Mungkin ia mengingat berita viral. Senyumnya berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam.
"Saya baru sadar. Anda mantan istri Damar Notonegoro, bukan?"
Beberapa kepala di dekat mereka langsung menoleh.
Tari bergerak sedikit, tetapi Arunika mengangkat jari kecil, cukup untuk menahannya.
"Mantan," kata Arunika. "Kata yang penting."
"Maaf, tentu saja. Saya hanya terkejut. Dulu Anda terlihat sangat berbeda."
"Dulu saya sering berada di ruangan yang salah."
"Dan sekarang?"
"Sekarang saya memilih ruangan sendiri."
Kalimat itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat percakapan di meja sebelah kehilangan arah. Arunika melihat perubahan kecil di wajah-wajah itu. Mereka tidak tahu harus menertawakan, memuji, atau mulai berhati-hati.
Ia memberi mereka waktu tiga detik.
Lalu ia memutar arah pembicaraan.
"Saya mendengar yayasan sosial Ibu ikut menjadi sponsor forum hari ini."
Perempuan berkalung mutiara berkedip. "Ah, kecil saja. Kami hanya membantu kegiatan pendidikan."
"Menarik. Nama yayasan itu juga muncul dalam daftar penerima hibah dari beberapa proyek properti lama."
"Banyak yayasan menerima hibah, Bu Arunika."
"Tentu. Saya hanya penasaran karena salah satu donatur tetapnya pernah memakai konsultan yang sama dengan Cakra Mandiri."
Senyum itu retak.
Tari membuka map tipis, seolah hanya hendak memastikan jadwal. Dari sudut mata, Arunika melihat dua perempuan lain saling bertukar pandang.
Mereka tahu nama itu.
Lentera Nusa Konsultan.
Nama yang sama dari dokumen Pak Hendra.
"Saya tidak terlalu mengikuti urusan administrasi yayasan," kata perempuan berkalung mutiara.
"Saya juga belum menuduh siapa pun." Arunika menyesap air mineralnya. "Saya hanya sedang memetakan hubungan antar-lembaga. Semesta ingin memastikan semua kerja sama ke depan tidak membawa beban lama."
"Beban lama?"
"Tagihan yang tidak seharusnya dibayar. Bantuan yang tidak seharusnya mengalir. Jaminan yang tidak seharusnya ditandatangani."
Kata terakhir membuat salah satu perempuan menurunkan gelasnya terlalu cepat. Air hampir tumpah.
Arunika melihatnya.
Ia tidak mengejar.
Dalam ruangan seperti ini, orang yang merasa bersalah biasanya akan mencari tempat aman sendiri. Yang perlu ia lakukan hanya menunggu pintu mana yang mereka pilih.
Pembawa acara memanggil para tamu untuk memasuki ballroom. Suara musik lembut naik. Kerumunan bergerak perlahan, tetapi perempuan berkalung mutiara masih berdiri di depan Arunika.
"Bu Arunika," katanya, kini tanpa tawa. "Saya rasa kita bisa bicara baik-baik di lain waktu."
"Silakan hubungi kantor saya."
"Tidak perlu terlalu formal. Kita sesama perempuan. Kadang masalah kecil lebih enak selesai di luar meja kantor."
Arunika menatapnya. "Kalau masalahnya kecil, meja kantor cukup. Kalau tidak cukup, berarti masalahnya tidak kecil."
Wajah perempuan itu memucat sedikit.
Sebelum ia sempat menjawab, seorang panitia muda mendekat membawa amplop hitam dengan tulisan emas.
"Bu Arunika Dewanti dari Semesta Group?"
"Ya."
"Ini undangan resmi dari komite Gala Investasi Nusantara minggu depan. Semesta masuk daftar tamu kehormatan setelah perubahan sponsor pagi ini."
Tari menerima amplop itu. Arunika melihat nama acara di bagian depan. Gala Investasi Nusantara. Hotel bintang lima. Meja utama. Undangan terbatas.
Ia pernah mendengar acara itu.
Dulu, ketika masih menjadi istri Damar, ia hanya berdiri di belakang keluarga Notonegoro saat acara semacam itu. Namanya tidak pernah ditulis di daftar utama. Orang-orang menyapanya setelah menyapa semua orang yang dianggap lebih penting.
Sekarang amplop itu datang langsung ke tangannya.
Perempuan berkalung mutiara melihat amplop itu terlalu lama.
"Tahun ini banyak tamu besar datang," katanya pelan. "Keluarga Notonegoro biasanya hadir."
Arunika tidak terkejut. "Bagus."
"Bagus?"
"Saya tidak suka bekerja dua kali."
Kali ini tidak ada yang tertawa.
Tari menyimpan amplop ke dalam map. "Bu, sesi pertama akan dimulai."
"Sebentar."
Arunika mengalihkan pandang ke perempuan yang sejak tadi paling banyak diam. "Tolong sampaikan pada pengurus yayasan Ibu. Jika ada dokumen yang ingin dirapikan, lakukan sebelum audit eksternal Semesta menyentuh nama mereka. Setelah itu, saya tidak bisa membantu siapa pun tampak rapi."
Perempuan itu menelan ludah. "Saya tidak mengerti maksud Anda."
"Tidak apa-apa. Orang yang mengerti biasanya akan menelepon lebih dulu."
Arunika berjalan menuju ballroom.
Di belakangnya, bisik-bisik pecah pelan seperti gelas retak. Bukan lagi bisik-bisik tentang mantan istri yang viral. Kali ini tentang direktur baru yang membawa map tipis, mengingat wajah lama, dan tahu terlalu banyak nama rekening.
Sore itu, sebelum acara selesai, satu pesan singkat sudah berpindah dari grup istri komisaris ke grup pengusaha lama.
Perempuan itu kembali ke Jakarta.
Dia bukan seperti dulu.
Foto Arunika dari samping ikut terkirim. Di foto itu, wajahnya setengah tertangkap cahaya, tangannya menggenggam amplop hitam Gala Investasi Nusantara.
Beberapa menit kemudian, pesan yang sama sampai ke layar seorang asisten di Menara Notonegoro.
Bayu menatap foto itu lama.
Lalu ia berdiri, membawa ponsel ke ruang kerja yang pintunya masih tertutup.
Di luar ballroom, Arunika berhenti sebentar di depan kaca tinggi. Ia melihat pantulan para tamu di belakangnya, melihat wajah-wajah yang dulu pernah membuatnya menunduk.
Minggu depan, mereka semua akan duduk di ruangan yang sama.
Kali ini, ia tidak datang sebagai bayangan siapa pun.