"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Sabtu, 15 Mei 2021.
Pukul 03.48
Di depan ruang jenazah rumah sakit yang dingin dan berbau karbol tajam, kenyataan pahit itu akhirnya dikunci dengan kepastian mutlak. Pihak dokter forensik dan kepolisian mengonfirmasi bahwa jasad yang hancur itu adalah Rania. Jeritan histeris Ibu Rania memecah kesunyian lorong rumah sakit sebelum akhirnya tubuh wanita itu ambruk, pingsan tak sadarkan diri di pelukan suaminya. Mengenai siapa dalang di balik penjagalan keji itu, polisi masih meraba-raba dalam gelap. Pelakunya belum diketahui.
Aku diinterogasi sepanjang malam di sebuah ruangan pengap. Pikiranku kosong, namun mulutku terus meracau, menjawab setiap pertanyaan penyidik sesuai dengan fakta luar yang kuketahui—mengaburkan fakta bahwa akulah penarik benang takdir yang sebenarnya.
Pukul 05.26
Aku terduduk sendirian di bangku taman dekat rumah sakit. Pandanganku lurus menatap tanah, kosong dan mati. Sepasang mataku sudah sangat bengkak dan perih karena air mata yang tak kunjung mengering. Rasa bersalah yang teramat pekat dan rasa kehilangan yang menghancurkan dada terus berkecamuk, saling mencabik di dalam diriku.
Apa lagi yang harus kulakukan? Jika aku memilih kembali lagi ke masa lalu, apakah hasilnya akan menjadi lebih baik? Ataukah kutukan ini justru akan mencari celah lain yang jauh lebih mengerikan untuk menyiksaku? Apakah Rania... benar-benar ditakdirkan untuk tidak bisa diselamatkan?
Sepertinya... sudah terlambat untuk memikirkan semua itu sekarang. Jiwaku sudah terlalu lelah, hancur berkeping-keping tanpa sisa.
Beberapa menit kemudian, di atas atap gedung rumah sakit, di bawah guyuran hujan deras yang langsung membasahi seluruh pakaian dan tubuhku, aku berdiri tegak di tepi pembatas beton. Aku menghadap ke bawah, menatap hamparan aspal di dasar gedung dengan pandangan yang tak lagi memiliki emosi.
Akulah yang telah memperparah semua ini. Keegoisanku yang telah menuntun Rania menuju ajal yang begitu mengerikan. Aku... aku harus bertanggung jawab atas darah yang tumpah.
Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku condong ke depan, dan menjatuhkan diri ke dalam pelukan gravitasi.
BRAAAKKK!
Jumat, 14 Mei 2021.
Pukul 06.27
Napas sehangat api langsung memburu keluar dari tenggorokanku saat aku tersentak bangun. Aku terduduk lemas di atas kasur, mencengkeram dadaku yang berdegup layaknya mesin rusak, sementara keringat dingin membanjiri sekujur tubuh.
“Pada akhirnya, kau masih saja melakukan hal bodoh.”
Pukul 14.37
Aku duduk di hadapan Rania di sebuah kafe pinggiran kota. Di atas meja, es kopi milikku sudah mencair sepenuhnya, menciptakan embun yang menetes seperti air mata.
“Ada apa, Lun? Kamu diam saja dari tadi?” tanya Rania, menopang dagunya dengan tatapan menyelidik.
“A-ah… aku… aku…” Kalimatku buyar.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Pikiranku bising oleh kepanikan. Apa aku ajak saja dia menginap di rumahku malam ini? Atau aku yang memaksa menginap di rumahnya seperti waktu itu? Skenario mana yang bisa menjamin keselamatan jiwanya?
“Lun…?” Suara lembut Rania kembali memanggil. Ketika aku memberanikan diri menatap matanya, gelombang kecemasan dan kekhawatiran terpancar jelas dari sana. “Kamu sakit?”
“Ti-tidak… aku hanya…”
Pandanganku mendadak berkunang-kunang. Keringat dingin mulai membasahi punggung jaksitku. Di tengah kepalaku yang berputar, Rania mengulurkan tangannya di atas meja, meraih jemariku.
“Kamu nggak apa-apa? Kalau ada masalah, cerita sama aku.”
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat hingga terasa perih. Aku benar-benar tidak mengerti takdir ini. Kenapa orang sebaik dirinya harus mati? Kenapa orang selembut dirinya harus menderita di lini masa lalu? Kenapa orang seceria dirinya harus menanggung akhir sesadis itu?
“Ra-Rani… apa kamu… sering keluar malam?”
Aku tidak tahu apakah itu pertanyaan yang tepat untuk diajukan sekarang. Tapi di lini masa ini, hal pertama yang harus kuketahui adalah alasan mendasar kenapa Rania bisa berakhir di bangunan terbengkalai jahanam itu.
“Hmmm… bukan sering sih… tapi aku terkadang jalan-jalan malam. Kamu tahu sendiri, kan? Malam hari itu sangat indah dan menenangkan. Meskipun aku nggak bisa melihat banyak bintang karena kita berada di kota yang padat penduduk. Polusi cahayanya terlalu tebal…” Rania menyeringai jenaka, lalu menaikkan sebelah alisnya. “...Apa itu ada hubungannya dengan masalahmu sekarang?”
“Itu…” Kalimatku tersangkut di tenggorokan. Aku tidak bisa menceritakannya pada Rania—atau lebih tepatnya, aku tidak memiliki keberanian untuk menatapnya dan berkata bahwa dia akan dijagal malam ini.
Aku membalas genggaman tangan Rania dengan sangat erat, menyalurkan seluruh keputusasaanku. “Aku ingin kamu membawaku bersamamu malam ini.”
Rania terdiam sejenak, matanya mengerjap kaget, sebelum akhirnya sebuah senyuman manis terkembang di wajahnya. “Tentu!”
Aku terbelalak, menganga menatapnya. “Kamu... yakin?”
“Ya, yakin.”
Tadi itu adalah permintaan aneh yang sangat tiba-tiba. Begitu pula dengan sikapku yang tidak wajar sepanjang hari ini. Harusnya, dia bertanya lebih lanjut atau mendesakku untuk menjelaskan alasan di balik kegilaanku, sama seperti reaksi orang-orang normal yang pernah kutemui. Tapi Rania tidak melakukannya. Dia memercayai jiwaku sepenuhnya tanpa syarat. Karena itulah, aku sangat mencintainya.
Pukul 19.15
Aku dan Rania bertemu kembali di halte bus dekat sekolah. Malam telah turun, membawa angin sejuk yang menusuk tulang.
“Siap untuk kencan malam kita? Hehe!” Rania menyeringai kegirangan, menyenggol lenganku dengan maksud menggoda.
“Ya, tentu!” jawabku sekuat tenaga mengimbangi energinya.
Kami menghabiskan waktu dengan mengunjungi berbagai tempat yang direkomendasikan Rania. Katanya, ada satu tempat khusus yang pemandangannya hanya bisa dinikmati dengan maksimal ketika malam hampir menyentuh puncaknya.
“Kamu tahu, Lun? Ini sebenarnya lebih cepat dari jam biasaku keluar. Malahan jam segini biasanya aku masih berendam lama di kamar mandi rumah, baru setelah itu keluar malam buat menyegarkan diri,” cerita Rania sambil melompat kecil di atas trotoar.
Aku menatapnya bingung. “Lalu kenapa malam ini berbeda?”
Rania menghentikan langkahnya, berbalik menatapku dengan binar tulus di matanya. “Karena kalau itu untukmu, aku pasti akan melakukannya.”
Itu hanya sebuah kalimat pendek dari bibirnya, namun maknanya yang begitu pekat sanggup membuat mataku memanas. Aku harus menahan diri agar tidak menangis di tempat.
Pukul 19.45
Kami terlalu bersenang-senang menyusuri malam, berjalan dan tertawa, sampai-sampai akal sehatku terlambat menyadari ke mana arah langkah kaki kami menapak. Ketika aku mendongak, jantungku serasa berhenti berdetak. Rania telah membawaku tepat ke depan bangunan terbengkalai itu. Proyek beton yang mangkrak. Ruang eksekusi berdarah.
“Ra-Ran… kenapa kita… ke sini?”
Tubuhku seketika bergetar hebat. Wajahku pucat pasi bagai mayat. Langkah kakiku secara refleks mundur beberapa langkah ke belakang, menolak mendekat.
“Tenang saja, Luna. Tempat ini memang kelihatan menyeramkan dari luar, tapi sebenarnya, ini adalah markas rahasiaku,” Rania tertawa girang melihat reaksiku. Dia berpikir aku ketakutan hanya karena atmosfer horor tempat ini. Tapi bagiku, tempat ini melampaui kata menyeramkan. Tempat ini adalah neraka.
“...Apa maksudmu dengan markas rahasia?” tanyaku dengan suara bergetar.
“Hehe… sebenarnya, aku bertemu dengan seorang pria yang kelihatan sedang kelaparan di sekitar sini sekitar tiga bulan yang lalu. Pria itu seumuran dengan kita. Karena merasa kasihan, aku memberinya makanan. Saat itu aku pikir kami nggak akan ketemu lagi. Tapi besoknya, ketika aku mencari gantungan kunciku yang hilang, ternyata benda itu terjatuh pas aku memberi pria itu makanan, dan dia memungut serta menyimpannya untukku."
Rania menarik napas sebentar, matanya menerawang mengingat momen itu. "Tepat ketika aku berterima kasih, tiba-tiba hujan deras turun. Pria itu membawaku ke dalam bangunan ini. Dia bilang, dia menjadikan tempat terbengkalai ini sebagai rumahnya karena nggak punya tempat tinggal. Selama aku terjebak hujan, dia memperlakukanku dengan sangat baik. Meskipun dia pendiam dan sangat canggung kalau diajak ngobrol, tapi dia punya rasa penasaran yang tinggi terhadap banyak hal. Setelah kejadian itu, aku lumayan sering mengunjunginya di malam hari, membawakan makanan dan buku pelajaran. Kami makan, bercerita, dan membaca buku bersama. Itu momen yang sangat menyenangkan dan luar biasa, Lun. Dia bahkan memberiku motivasi buat menghadapi ujian sekolah kemarin, dan menghiburku pas nilaiku rendah.”
Aku terdiam mematung menatap Rania. Ada semburat merah muda di pipinya saat dia tersipu malu sambil tersenyum manis menceritakan pria itu.
“Kamu... jatuh cinta padanya?”
Tubuh Rania seketika menegang. Detik berikutnya, seluruh wajahnya berubah sewarna merah tomat. “Ke-kenapa kamu mengatakannya keras-keras, sih?! Bagaimana kalau dia mendengarnya dari dalam?”
Dia... dia tidak menyangkalnya.
Di tengah badai kepanikan, sebuah kejanggalan mendadak melintas di otakku. Kenapa di lini masa sebelumnya tidak ada mayat anak laki-laki seumuran kami di dalam ruangan pembantaian itu? Hanya ada Rania dan belasan jasad orang dewasa. Jika pria itu tinggal di sini, dia tidak mungkin selamat dari amukan para penjagal tanpa jejak. Apa mungkin dia berhasil melarikan diri malam itu? Jika iya, itu masuk akal.
“Ka-karena itu, aku mau minta maaf sama kamu, Luna,” ucap Rania lirih, menundukkan kepalanya.
“Minta maaf untuk apa?”
“Sebenarnya aku sangat sering keluar malam, bukan terkadang lagi seperti yang kukatakan di kafe. Dan... sebenarnya aku juga ragu-ragu sejak sore tadi.”
“Ragu dengan apa?”
“Aku ragu membawamu ke sini dan mengenalkan dia kepadamu. Karena aku takut... aku takut dia malah jatuh cinta kepadamu karena kamu sangat cantik dan pintar. Aku takut kamu bakal merebutnya dariku,” aku Rania dengan suara mengecil. Namun ia segera mendongak, menggenggam tanganku lagi. “Tapi aku tahu itu pemikiran yang egois. Maaf ya karena sempat berpikir buruk tentangmu. Kamu adalah sahabat terbaikku. Jadi, demi menebus pikiran bodohku ini, aku ingin mempertemukan kalian berdua malam ini.”
Rania tersenyum lebar seolah-olah kecemasannya tadi bukanlah masalah besar. Gadis ini... dia bersedia menghadapi rasa insecurenya sendiri, berani mengambil keputusan sulit, mengutarakan kelemahannya dengan jujur, serta meminta maaf atas kesalahan yang bahkan tidak pernah ia perbuat. Dia sungguh luar biasa. Sungguh berbanding terbalik dengan jiwaku yang pengecut dan penuh kepalsuan.
“Ayo masuk!” ajak Rania, menarik pergelangan tanganku dengan antusias.
“Tu-tunggu…”
Aku sempat hendak menahan paksa langkah kakiku di atas tanah. Namun, saat melihat punggungnya yang bergerak maju, dan senyuman bahagia yang terpancar dari wajahnya karena ingin segera mempertemukan sahabat terbaik dengan pria yang ia cintai... aku tidak sanggup merusak kebahagiaan itu. Lagipula, sebuah harapan kecil yang rapuh mendadak mekar di dadaku: neraka itu tidak akan terjadi malam ini karena aku ada di sini bersamanya. Aku memegang kendali takdir sekarang, sama seperti keberhasilanku menjaganya saat liburan di pantai waktu itu.
Namun, takdir tidak pernah membiarkan manusia menang dengan mudah.
“Halo, manis! Apa yang sedang kalian berdua lakukan di tempat sepi seperti ini?” sebuah suara berat bernada mesum memotong langkah kami tepat saat kami menginjak lantai beton lantai atas.
Pada akhirnya... harapan kecilku hanyalah sebuah delusi bodoh.
Ketika kami sampai di titik ruangan yang sama persis seperti di lini masa sebelumnya—tempat di mana aku menemukan jasad Rania yang hancur—sekumpulan pria bertubuh kekar dengan tatapan buas telah mencegat kami. Tidak ada tanda-tanda keberadaan pria seumuran kami di sana. Ruangan itu telah dikepung.
Kami mencoba melawan, memberontak, dan menendang sekuat tenaga, namun perbedaan kekuatan fisik dan jumlah mereka terlalu mutlak. Dengan kasar, mereka menghantamkan tubuh kami ke atas lantai beton yang dingin hingga kepalaku berdenyut hebat. Beberapa pasang tangan kekar langsung mengunci pergelangan tangan dan kaki kami ke lantai, menekan kami tanpa ampun.
Jeritan minta tolong kami menggema, memantul di dinding proyek yang sunyi, tersapu oleh deru angin malam tanpa ada satu pun jiwa yang mendengarnya.
Dari posisiku yang terkunci, aku dipaksa melihat pemandangan paling biadab di dunia. Rania berada tepat di sebelahku, terus berteriak histeris, menangis memanggil namaku dan ibunya dengan suara yang perlahan serak. Pakaian atasnya meranggas robek dengan kasar di bawah cengkeraman tangan-tangan kotor bajingan itu. Air mataku mengalir deras, mengaburkan pandangan.
Ini adalah replika neraka. Penjagalan sahabatku sedang berlangsung tepat di depan mataku sebelum giliranku tiba. Aku tidak sanggup menyaksikannya lagi. Hatiku hancur, jiwaku menolak waras. Dengan sisa kekuatan yang tersisa di rahangku, aku menjepit lidahku sendiri di antara deretan gigi, lalu menggigitnya sekuat tenaga dengan satu hentakan mutlak demi menjemput kematian sebelum segalanya menjadi lebih terlambat.