NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Pesona Hijau Zamrud

Di dalam bilik ganti yang lapang dengan dinding-dinding berlapis cermin, Arumi berdiri mematung sambil menatap bayangannya sendiri dengan napas yang tertahan.

Gaun brokat modern berkelir emerald green pilihan Renard melekat begitu apik di tubuhnya. Potongan kerah tingginya memancarkan kesan santun sekaligus sangat elegan, sementara kain sutra premiumnya jatuh menjuntai dengan anggun, menonjolkan siluet tubuh Arumi tanpa terkesan berlebihan.

Warna hijau zamrud tersebut benar-benar membuat kulit putih gadingnya tampak bercahaya di bawah temaram lampu butik yang hangat.

Arumi menarik napas panjang untuk mengusir rasa canggung yang tiba-tiba datang, lalu perlahan menyibak tirai beledu pembatas bilik ganti. Tepat pada saat itu, Mama Sofia baru saja kembali dari meja resepsionis. Langkah kaki wanita paruh baya itu langsung terhenti seketika. Kedua tangannya terangkat menutupi mulut yang sedikit terbuka karena takjub.

"Astaga... Arumi," bisik Mama Sofia dengan mata berbinar terang. Beliau segera menghampiri Arumi dan memutari tubuh menantunya itu dengan senyuman penuh kekaguman. "Mama tahu kamu cantik, Sayang. Tapi hari ini... kamu benar-benar tampak seperti seorang ratu. Gaun ini seolah-olah memang diciptakan khusus untukmu!"

Mendengar pujian yang bertubi-tubi, Arumi secara refleks melirik ke arah sofa tunggu di dekat pintu masuk, tempat Renard berada. Pria yang sedari tadi berlagak sibuk memeriksa draf laporan bisnis di ponselnya itu perlahan mengangkat pandangan.

Namun, begitu mata elangnya menangkap sosok Arumi yang berdiri di bawah sorotan lampu, seluruh gerak tubuh sang miliarder mendadak kaku. Ponsel dalam genggamannya hampir saja merosot jika ia tidak segera mempererat cengkeramannya.

Pria itu terpaku. Sepasang matanya memindai Arumi dari ujung kepala hingga kaki tanpa berkedip selama beberapa detik yang terasa begitu lama.

Di dalam benak Renard, ego bisnisnya runtuh seketika. Gadis yang ia temukan di tengah badai kehancuran keluarga beberapa pekan lalu kini telah menjelma menjadi sosok Nyonya Wijaya yang sesungguhnya—begitu anggun, berkelas, dan memiliki pesona magnetis yang sanggup mengalihkan dunianya.

Sadar bahwa dirinya telah menatap terlalu lama dan tertangkap basah oleh Arumi yang kini menaikkan sebelah alisnya dengan jenaka, Renard buru-buru berdeham keras. Ia menegakkan posisi duduk, lalu membuang pandangannya ke arah jendela kaca besar untuk menyembunyikan debaran jantungnya yang mendadak tidak beraturan.

"Biasa saja," ucap Renard dengan nada suara kaku dan ketus yang dipaksakan, meski suaranya terdengar sedikit serak di ujung kalimat. "Tapi... setidaknya potongan gaun itu tidak terlihat seperti kain murahan. Cukuplah untuk menjaga reputasiku agar tidak dicemooh oleh para kolega saat menghadiri acaramu nanti. Bungkus saja yang itu, jangan membuang-buang waktu lagi di sini."

Mama Sofia seketika melotot tajam ke arah putra tunggalnya, lalu mencubit pelan lengan Renard yang terbalut kemeja hitam. "Renard! Mulutmu itu benar-benar perlu disekolahkan lagi, ya. Bilang saja istrimu sangat cantik, apa susahnya?"

Renard tidak menyahuti ucapan ibunya. Ia hanya mengepalkan tangan di dalam saku celana, sementara semburat merah padam sudah merambat naik, membakar kedua daun telinga hingga ke bagian belakang lehernya karena rasa malu akibat gengsinya yang kembali terusik.

Arumi yang menyaksikan interaksi itu tidak bisa menahan tawa kecilnya yang renyah. Ia berbalik masuk ke dalam bilik ganti dengan hati yang entah mengapa terasa menghangat. Topeng monster berdarah dingin milik Renard hari ini benar-benar tidak berfungsi sama sekali di hadapan warna hijau zamrud.

Proses pembayaran berlangsung cepat. Renard menyerahkan kartu hitam eksklusifnya kepada pelayan butik tanpa melirik nominal yang tertera pada struk. Setelah kantong belanja besar berpita emas berpindah tangan, mereka bertiga melangkah menuju area restoran terbuka di lantai atas pusat perbelanjaan untuk menikmati makan siang.

Atmosfer di meja makan terasa jauh lebih santai. Mama Sofia terus mendominasi percakapan dengan merencanakan menu makanan sehat yang ingin dimasak bersama Arumi besok.

Namun, ketenangan itu terusik saat seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan setelan jas abu-abu necis tiba-tiba menghentikan langkah di dekat meja mereka. Pria itu adalah Hendra Wijaya, salah satu paman jauh Renard yang dikenal paling vokal mendukung kubu Tante Amara dalam rapat internal perusahaan.

"Oh, keponakanku yang hebat, Renard," sapa Hendra dengan nada yang dibuat-buat seramah mungkin, meski sorot matanya memancarkan kelicikan yang kental. Pandangannya beralih ke arah Mama Sofia dengan senyum tipis, lalu berakhir mengunci pada Arumi dengan tatapan menilai yang meremehkan.

"Aku dengar gosip burung kalau kamu mendadak menikah dengan putri dari keluarga yang hampir mengemis di jalanan karena terlilit utang, Renard? Amara bercerita banyak di grup keluarga. Sungguh sebuah langkah strategis yang... sangat mengejutkan untuk seorang CEO Wijaya Group," sindir Hendra dengan kekehan pelan yang sarat akan penghinaan.

Suasana di sekitar meja makan seketika membeku. Senyuman di wajah Mama Sofia memudar, berganti dengan gurat kecemasan, sementara jemari Arumi refleks meremas kain serbet di pangkuannya.

Namun, sebelum Hendra sempat melontarkan kalimat beracun berikutnya, sebuah dentingan tajam dari sendok perak yang diletakkan kasar di atas piring porselen memecah keheningan.

Renard mendongak perlahan. Aura dingin yang luar biasa mencekam seketika terpancar dari sepasang mata elangnya. Rahangnya mengeras kaku, dan seluruh keramahan kasualnya sebagai seorang anak mendadak hilang, digantikan oleh sosok predator bisnis yang paling ditakuti di ibu kota.

"Jaga ucapanmu, Paman Hendra," desis Renard dengan suara bariton yang sangat rendah namun bergetar penuh ancaman yang mematikan. Ia berdiri dari kursinya, menatap lurus ke arah pamannya dengan pandangan yang sanggup membuat nyali siapa pun menciut.

"Wanita yang sedang duduk di hadapanmu ini adalah Nyonya Arumi Wijaya, istri sahku dan pemilik otoritas tertinggi kedua di mansion-ku. Jika Paman atau siapa pun di dalam lingkaran keluarga besar merasa memiliki hak untuk mempertanyakan seleraku atau menghina latar belakang keluarganya, maka bersiaplah melihat seluruh saham operasional milik tokomu di Wijaya Mall ditarik per hari Senin besok. Aku tidak pernah main-main dengan harga diri istriku."

Wajah Hendra Wijaya seketika pucat pasi. Seluruh keangkuhannya menguap tanpa sisa mendengar ancaman finansial yang sangat nyata dari keponakannya itu. Tanpa berani berucap sepatah kata pun lagi, pria tambun itu membungkuk canggung lalu buru-buru pergi dengan tergesa-gesa.

Renard kembali duduk, membenarkan letak kerah kemejanya dengan gerakan kaku, lalu membuang pandangannya ke arah jendela demi menyembunyikan napasnya yang masih memburu. Arumi menatap suaminya dengan pandangan yang bergetar hebat.

Di balik semua kata kontrak yang selalu pria itu dengungkan di dalam kamar, pembelaan mutlak yang baru saja Renard lakukan di depan publik membuktikan satu hal: bagi Renard, Arumi bukan lagi sekadar investasi buruk di atas kertas, melainkan seseorang yang keselamatannya siap ia lindungi dengan seluruh kekuasaan yang ia miliki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!