NovelToon NovelToon
Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17 : Diterima dengan baik

Mobil berjalan melalui bangunan-bangunan besar yang menjulang. Lampu-lampu kota menyinari jalanan. Mobil hitam milik Xavier juga melakukan dijalanan yang ramai itu.

Didalam mobil, suasana sangat sunyi. Felix terlihat fokus menyetir, Lyko sibuk melihat kearah luar jendela, dan Xavier tampak masih hanyut dalam pikirannya sendiri.

Keheningan itu tidak berlangsung lama, sampai tiba-tiba ponsel Xavier berdering. Sebuah nama muncul di layar nya, Papa.

Xavier kemudian mengangkat panggilan itu Suara berat khas Edward Volkov langsung terdengar dari seberang sana.

“Kau sudah di jalan?“ berbeda dengan ibunya, ayah dari Xavier itu terdengar lebih to the point dari pada mamanya. Ia juga tergolong lebih santai dibandingkan ibunya.

“Ya. Sebentar lagi kami sampai.“

“Baiklah, hati-hati dijalan, kalau begitu...”

Namun sebelum Papa Edward sempat mengakhiri panggilan, terdengar suara yang ceria dan jauh lebih bersemangat.

“Tunggu sebentar, Mama ingin berbicara padamu!“ ucap Mama Olivia dari telpon.

Xavier langsung memejamkan mata pasrah. Ia sudah kenal sekali siapa pemilik suara tersebut.

“Bicara apa Ma?” tanya Xavier sambil memijat pelipisnya.

Olivia terdengar sangat antusias. “Jadi gadis itu sedang bersamamu sekarang? Di mana dia?”

Xavier menjawab dengan malas. “Iya, dia ada disampingku.“

“Dia memakai apa?“

“Bagaimana penampilannya?“

“Dia gugup tidak?“

“Dia senang bertemu kami kan?“

Ribuan pertanyaan langsung menyerang Xavier tanpa ampun. Lyko yang duduk di sampingnya terlihat bingung dengan ekspresi Xavier yang berubah.

Xavier mengusap pelipisnya. “Ma, nanti Mama juga akan melihatnya sendiri kami sebentar lagi juga sampai.“

“Tapi Mama hanya ingin mendengar suaranya...“

“Nanti juga bisa Ma.“

Olivia langsung menghela napas kecewa. “Baiklah, baiklah...” Namun beberapa detik kemudian semangatnya kembali muncul. “Kalau begitu kami akan menyambut kalian.“

“Terserah Mama saja,” setelah mengatakan itu panggilan pun akhirnya diakhiri oleh Xavier.

Xavier kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku mantel. Lalu ia perlahan menoleh kepada Lyko. “Aku mau nanti kita terlihat mesra di depan mama dan papaku.”

Lyko berkedip bingung. “Maksudmu?“

“Tenang saja, aku melakukan ini hanya agar mama dan papa tidak curiga kepada kita,“ jelas Xavier.

Lyko mengangguk paham. “Baiklah, aku mengerti.”

Tak lama kemudian mobil itu memasuki kawasan Kediaman Volkov. Dan saat melihatnya untuk pertama kali, Lyko benar-benar terdiam. Sebuah mansion megah berdiri menjulang di hadapannya.

Di tengah halaman terdapat air mancur besar yang memancarkan cahaya keemasan. Di sepanjang jalan hamparan bunga lavender, tulip, dan lily tumbuh dengan sangat rapi di sepanjang gerbang masuk.

Lampu-lampu taman membuat seluruh area terlihat seperti istana didalam sebuah dongeng.

‘Mansion ini... mengapa lebih mirip dengan istana...’ batin Lyko yang terlihat kagum.

Mobil terus melaju mendekati bangunan utama. Semakin dekat mereka ke arah mansion itu, semakin jelas terlihat banyak pelayan dan pengawal yang terlihat berbaris menyambut dipintu masuk.

Dan tepat di depan pintu masuk, berdiri seorang pria dan wanita yang tampaknya sudah menunggu sejak lama.

Felix segera turun lebih dulu lalu ia membukakan pintu untuk Xavier. Kemudian Xavier berjalan memutar dan membuka pintu untuk Lyko.

Lyko turun perlahan, namun belum sempat kakinya menyentuh tangan Xavier terlihat mengulurkan tangannya.

Lyko sedikit terkejut, namun beberapa detik kemudian ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Xavier. Mereka berjalan bersama menuju pintu utama mansion.

Para pelayan langsung membungkuk serempak. “Selamat datang, Tuan dan Nona.“

Lyko sedikit gugup menerima sambutan semegah itu. Namun belum ia terlepas dari gugupnya, seorang wanita cantik dengan senyum hangat langsung berjalan menghampiri mereka.

Wanita itu adalah Olivia Volkov. “Selamat datang di Kediaman Volkov,“ katanya dengan senyuman yang manis.

Lyko sedikit terkejut. Namun ia segera membungkuk sopan. “Terimakasih atas sambutannya, Nyonya.”

Olivia semakin tersenyum lebar. “Seharusnya aku yang berterimakasih karena kanu sudah meluangkan waktu untuk datang kemari,” ia berhenti didepan Lyko dan memegang kedua bahunya.

Tak jauh di belakangnya, Edward Volkov ikut melangkah mendekat. Pria itu terlihat tersenyum kecil. “Selamat datang di keluarga Volkov, Senja.“

DEG

Lyko membeku sesaat, mengapa ia dipanggil dengan nama itu? Di sampingnya, Xavier pun langsung tersentak dalam hati. Ia baru ingat kalau waktu itu ia menyebut nama Lyko dengan nama Senja.

Buruknya, ia lupa memberi tahu Lyko kalau ia membohongi orang tuanya akan nama Lyko sendiri. Namun sebelum Xavier sempat bereaksi.

Lyko justru langsung tersenyum lembut. “Terimakasih banyak, Tuan Edward.”

Jawabannya begitu natural hingga membuat Xavier sendiri sedikit terkejut.

Olivia terlihat semakin menyukai gadis itu. “Kamu manis sekali,” puji Mama Olivia padanya.

Lyko hanya bisa tersenyum sebagai balasannya. “Te-Terimakasih atas pujiannya, Nyonya. Anda juga sangat cantik hari ini.”

Mama Olivia terlihat malu sendiri. “Kamu ini bisa saja,” ia memegang lengan Lyko. “Ah, kalau begitu mari masuk, kita bicara didalam saja ya.“

Wanita itu dengan hangat menggandeng tangan Lyko dan mengajaknya memasuki mansion. Sementara Xavier berjalan beberapa langkah di belakang mereka. Tatapannya terus mengawasi situasi.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, menghadapi keluarganya sendiri terasa jauh lebih sulit dibanding menghadapi ratusan musuh bersenjata.

Karena malam ini... satu kesalahan kecil saja bisa membuat seluruh kebohongan yang ia bangun bisa-bisa runtuh dalam sekejap

Olivia dengan hangat menggandeng tangan Lyko memasuki ruang makan utama keluarga Volkov. Begitu pintu ruangan terbuka, Lyko kembali dibuat terdiam oleh kemegahan yang ada di hadapannya.

Sebuah meja makan panjang dari kayu mahoni berdiri di tengah ruangan. Lampu kristal besar menggantung di atasnya, memancarkan cahaya hangat yang membuat seluruh ruangan terlihat elegan.

“Ayo duduk, Senja,“ ujar Mama Olivia sambil tersenyum.

Sebelum Lyko sempat menarik kursinya sendiri, Xavier sudah lebih dulu melangkah maju dan menarikkan kursi untuknya.

Lyko sedikit terkejut. “Terimakasih,“ ucapnya pelan.

Xavier hanya mengangguk singkat dan kemudian duduk di kursi tepat di samping Lyko.

Olivia yang melihat pemandangan itu langsung tersenyum puas. “Romantis sekali.“

Edward yang duduk di ujung meja hanya menggeleng kecil melihat ekspresi istrinya yang tampak terlalu bersemangat.

Tak lama kemudian Olivia menepuk tangannya pelan. “Baiklah, keluarkan semuanya.“

Para pelayan segera bergerak. Satu per satu hidangan mulai memenuhi meja makan. Seekor lobster besar dengan baluran caviar hitam mengilap diletakkan di tengah meja. Disusul roti hangat dengan telur setengah matang di atasnya yang dihiasi mentega leleh berwarna keemasan.

Kemudian daging sapi panggang yang masih mengeluarkan aroma harum, berbagai buah-buahan premium yang tersusun rapi, kue tart cokelat besar dengan taburan stroberi segar, jelly buah berwarna-warni, susu cokelat panas, hingga jus jeruk segar.

Dalam hitungan menit, meja makan itu hampir penuh oleh berbagai hidangan mewah.

Mata Lyko sedikit membesar. “Ba-Banyak sekali...“

Mama Olivia tertawa kecil. “Cobalah semuanya. Mama membuat sebagian besar hidangan ini khusus untuk kamu, Senja.“

Lyko tampak terkejut. “Nyonya... memasaknya sendiri?“

“Tentu saja,“ jawab Olivia bangga. “Mama ingin memberikan kesan yang baik untuk calon menantu Mama.“

Wajah Lyko langsung memerah mendengar sebutan itu. “Terima kasih banyak atas hidangannya, Nyonya.“

Olivia tersenyum semakin lebar. “Jangan panggil Nyonya dong, panggil saja Mama, ya. ”

Lyko sedikit terkejut, namun langsung mengangguk pelan. “Ba-Baik, Mama.”

“Ah kamu ini manis sekali deh, sudah ayo kita makan,” Mama Olivia langsung membalikkan piringnya.

Tanpa menunggu jawaban lagi, ia langsung mengambil beberapa potong daging sapi panggang dan meletakkannya ke piring Lyko.

Setelah itu ia menambahkan potongan lobster, sedikit salad, lalu menuangkan jus jeruk ke dalam gelas gadis itu. “Nah, makanlah yang banyak, menantu Mama harus sehat ya.“

Lyko tersenyum lembut. “Terimakasih banyak.”

Sementara itu Xavier hanya mengambil gelas jus jeruk miliknya dan meminumnya dengan tenang.

Di sela-sela suasana makan yang hangat, Olivia tiba-tiba menatap keduanya dengan penuh rasa penasaran.

“Oh iya, Mama ingin bertanya sesuatu.“

Xavier langsung memiliki firasat buruk, ia tahu setiap perkataan yang keluar dari mulut Mamanya bukan sesuatu yang mudah dijawab.

Olivia tersenyum. “Bagaimana kalian bisa bertemu?” tanyanya. “Cerita dong, Mama kan penasaran.”

Pertanyaan itu membuat Lyko membeku sesaat. Ia melirik ke arah Xavier seolah meminta bantuan. Xavier yang menangkap tatapan itu langsung mengerti.

“Kami bertemu di jembatan pantai,“ jawabnya tenang.

Olivia langsung terlihat tertarik. “Wah benarkah?“

Xavier mengangguk. “Waktu itu kami sama-sama sedang melihat senja.“

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Dan ada beberapa pria yang mengganggunya. Aku kebetulan berada di sana dan membantu.“

Lyko hampir tersedak mendengar cerita yang sepenuhnya dibuat-buat itu. Namun melihat ekspresi Xavier yang begitu tenang, ia segera mengerti bahwa pria itu sedang menyelamatkan situasi.

Lyko mengangguk pelan. “Dan setelah itu kami mulai berkenalan,” ia tersenyum tipis.

Olivia tersenyum senang. “Kisah kalian seperti kisah di drama romantis.“

Lyko memaksakan senyum kecil. “Dan nama aslimu sebenarnya bukan Senja.” Ucap Lyko pada Mama Olivia.

“Benarkah? Lalu nama Senja itu... dari siapa?” tanya Mamanya yang terlihat semakin penasaran.

“Karena saat pertama kali bertemu kami sedang melihat senja bersama.“ Ia melirik Xavier sebentar. “Jadi sejak saat itu Xavier membuat nama panggilannya khusus untukku, yaitu Senja.”

Xavier yang mendengar jawaban itu sedikit terkejut. Namun harus diakui, alasan tersebut jauh lebih masuk akal daripada yang sempat ia pikirkan sebelumnya. Ia pun hanya mengangguk membenarkan.

Olivia terlihat sangat menyukai cerita itu. “Lucu sekali, ternyata kisah kalian sangat manis,” ia memegang pipinya sendiri.

Edward bahkan terlihat tersenyum tipis dari tempat duduknya.

Kemudian Olivia kembali bertanya. “Kalau begitu siapa nama aslimu, Sayang?“

Lyko meletakkan garpunya perlahan. “Nama lengkapku Calyko Everly Cyras.“

Ruangan sempat hening sesaat. Olivia terlihat berpikir sesuatu.

‘Cyras...’

Entah mengapa nama keluarga itu terdengar sedikit familiar di telinganya. Seolah ia pernah mendengarnya di suatu tempat. Namun beberapa detik kemudian ia menggeleng pelan dan kembali tersenyum.

“Namamu cantik sekali, cocok dengan orangnya.“

Lyko tersenyum sopan dan sedikit malu karena dipuji. “Terima kasih atas pujiannya, Mama.“

Olivia lalu menopang dagunya dengan kedua tangan. Matanya kembali berbinar penuh rasa penasaran. “Kalau begitu Mama punya pertanyaan terakhir.“

Xavier langsung merasa tidak tenang. Sementara Lyko juga ikut menegang.

Olivia tersenyum jahil. “Bagaimana kamu bisa tertarik pada Xavier?“

DEG

Pertanyaan itu membuat Lyko langsung membeku. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Karena masalahnya ia bahkan belum benar-benar mengenal Xavier.

Dan kini, tiga pasang mata langsung tertuju kepadanya, menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir gadis itu.

1
Raicy Starmoonix
bnr lgi/Facepalm/
It's me Sky: efek trlalu kaya bgtu tuh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bohongnya nyambung lagi/Facepalm/
It's me Sky: bkn skrip dlu mrka/Slight/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
gmna g terpesona Lykonya aja cantik gituu/Sly//Rose/
It's me Sky: //Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
tegang tor, aura mafianya ada bgt/Shame/
It's me Sky: bulu kudup aman?/Blush/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bagusss bgt ceritanyaa/Kiss//Kiss/
Raicy Starmoonix
si mc ganteng bgt tor/Drool/
It's me Sky: kiww🤭
total 1 replies
Raicy Starmoonix
Xavier tanggung jwb anak orng salting/Facepalm/
It's me Sky: xavier aja salting sendiri/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
salting.... saltingg/Smirk/
It's me Sky: gengsi... gengsi/CoolGuy/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
omak, terbakar cemburu dan posesif/Doubt/
It's me Sky: shhtt/Shhh/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
astaga diksih black card.../Doubt/
It's me Sky: iya dong/Casual/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
lyko nya polos bgt pilss/Proud/
It's me Sky: hu um, soalnya dya bukan batik/Tongue/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
pingin punya cowok spek Xavier ihh, royal bgt😍/Rose/
It's me Sky: heii aku jg mau lohh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
wahh alurnya keren/Joyful/
Arditya
luar biasa mantap thor
It's me Sky: makasihh/Hey/
total 1 replies
Arditya
Mampir baca thor😍
It's me Sky: yuk¹ mampir/Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!