we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 Gulungan yang Terbuka Sendiri
Gulungan yang Terbuka Sendiri
Suasana toko kembali tenang.
Tidak ada pelanggan.
Tidak ada suara langkah kaki.
Hanya terdengar suara sapu yang digerakkan perlahan oleh We Lin.
"Sapu dulu..."
"Baru bereskan etalase..."
gumamnya pelan.
Di atas meja kasir, gulungan undangan dari Organisasi Rasi Bintang masih tergeletak begitu saja.
Sejak diterima tadi, We Lin bahkan belum membukanya.
Baginya itu tidak terlalu penting.
Kalau ada waktu nanti, baru dibaca.
Di pojok toko, Tetua Morcant duduk sambil meminum teh hangat yang entah dari mana asalnya.
Matanya sesekali melirik ke arah gulungan itu.
Kemudian ke arah We Lin.
Lalu kembali minum teh.
"Kenapa tidak dibuka?"
tanya Tetua Morcant tiba-tiba.
"Hm?"
We Lin menoleh.
"Yang mana?"
"Undangannya."
"Oh."
We Lin melirik gulungan biru tua di atas meja.
"Nanti saja."
Tetua Morcant terdiam.
"Nanti kapan?"
"Kalau sempat."
"Kalau tidak sempat?"
"Besok."
Tetua Morcant hampir tersedak teh.
Sudut matanya berkedut.
Seandainya para tetua Organisasi Rasi Bintang mendengar jawaban itu, mungkin mereka akan pingsan di tempat.
Namun We Lin sendiri tidak menyadari hal tersebut.
Baginya itu hanya sebuah undangan biasa.
Tidak lebih.
Saat itulah—
Buzz...
Sebuah getaran kecil terdengar dari atas meja.
We Lin mengangkat kepala.
"Hm?"
Getaran itu berasal dari Cermin Mata Dewa.
Artefak tersebut masih diam.
Namun permukaannya sedikit bergetar.
Kemudian—
Gulungan biru di sampingnya ikut bergerak.
"Eh?"
We Lin berkedip.
Gulungan itu perlahan terbuka sendiri.
"Angin?"
gumamnya.
Padahal semua jendela sedang tertutup.
Tetua Morcant yang melihat kejadian itu memilih diam sambil meminum tehnya.
Seolah tidak melihat apa pun.
Perlahan tulisan di dalam gulungan mulai terlihat.
Undangan Resmi Organisasi Rasi Bintang
Dengan hormat mengundang Tuan We Lin untuk menghadiri Pertemuan Bintang Tujuh yang akan diselenggarakan tujuh hari dari sekarang.
Seluruh biaya perjalanan akan ditanggung oleh organisasi.
We Lin membaca sampai selesai.
Lalu mengangguk.
"Oh."
Tetua Morcant menunggu.
Beberapa detik berlalu.
"Sudah?"
tanyanya.
"Sudah."
"Pendapatmu?"
We Lin berpikir sejenak.
"Lumayan."
Tetua Morcant hampir menjatuhkan cangkir tehnya.
"Lumayan?"
"Iya."
"Bagian mana yang lumayan?"
"Mereka bilang biaya perjalanan ditanggung."
"......"
Tetua Morcant mendadak merasa kepalanya sedikit pusing.
Jauh di markas Organisasi Rasi Bintang.
Para tetua masih berkumpul.
Tidak ada yang meninggalkan aula.
Karena masalah Mata Dewa terlalu penting.
Saat itu seorang anggota muda berlari masuk.
"Tetua!"
"Ada apa?"
"Artefak penghubung bereaksi!"
Semua orang langsung berdiri.
"Bereaksi?"
"Ya!"
"Cepat tunjukkan!"
Anggota itu segera mengaktifkan sebuah layar hologram.
Tulisan perlahan muncul di udara.
Undangan telah dibaca.
Seluruh aula langsung menjadi sunyi.
Salah satu tetua mengepalkan tangannya.
"Beliau membacanya."
Tetua lain mengangguk.
"Setidaknya itu pertanda baik."
Namun seorang tetua yang lebih tua terlihat berpikir.
"Belum tentu."
"Hm?"
"Beliau hanya membacanya."
"Belum tentu menerima."
Mendengar itu, suasana kembali tegang.
Karena mereka tahu itu benar.
Di toko perhiasan.
We Lin masih memegang gulungan undangan.
"Pertemuan Bintang Tujuh..."
gumamnya.
"Apa ya acaranya?"
Tetua Morcant menyesap teh.
"Biasanya pertemuan penting."
"Kalau makan-makan?"
"Mungkin ada."
Mata We Lin langsung sedikit berbinar.
"Oh."
Tetua Morcant menatapnya.
Kemudian menghela napas panjang.
Dari semua kemungkinan alasan untuk menghadiri pertemuan Organisasi Rasi Bintang...
Makanan ternyata masuk daftar paling atas.
Sementara itu, di atas meja kasir...
Cermin Mata Dewa yang selama ini diam tiba-tiba memunculkan satu baris tulisan kecil.
[Rekomendasi Sistem]
[Menghadiri acara memiliki tingkat keuntungan 97%]
We Lin membaca tulisan itu.
Lalu mengangguk pelan.
"Nah, kalau sistem saja bilang untung..."
Tetua Morcant yang mendengar itu perlahan meletakkan cangkir tehnya.
Perasaan tidak enak mulai muncul di hatinya.
Karena setiap kali sistem aneh milik We Lin ikut campur...
Biasanya sesuatu yang besar akan terjadi.
Dan firasatnya mengatakan...
Pertemuan Bintang Tujuh kali ini tidak akan berjalan biasa-biasa saja.