"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: SKAKMAT DI LANTAI EKSEKUTIF
Suasana di dalam ruang rapat itu mendadak sunyi, tipe sunyi yang menyakitkan telinga. Bunyi pendingin ruangan yang mendengung seolah menjadi satu-satunya suara yang berani memecah ketegangan. Elysia masih terpaku, jemarinya meremas pinggiran meja hingga memutih. Matanya terus bergerak gelisah antara wajah dingin Nerina dan sosok Ergino yang berdiri kokoh di belakangnya.
"Kenapa, Elysia? Kamu terlihat seperti baru saja melihat hantu," ucap Nerina memecah keheningan. Ia membuka folder dokumen di depannya dengan gerakan elegan, hampir lambat, seolah sengaja ingin menyiksa mental adiknya.
"K-Kak Nerina... aku hanya terkejut. Ayah bilang Kakak sedang pergi ke vila untuk menenangkan diri," jawab Elysia dengan suara yang dipaksakan stabil, meski nada bicaranya sedikit melengking karena gugup.
Nerina terkekeh pendek. Suaranya terdengar renyah namun tajam. "Menenangkan diri? Di saat perusahaan sedang dalam masa transisi sepenting ini? Aku tidak mungkin meninggalkan 'adik kesayanganku' sendirian mengurus dana sebesar itu. Aku khawatir kamu akan melakukan kesalahan fatal... lagi."
Elyas Lynn mendehem keras, mencoba mengambil kendali. "Sudahlah. Nerina, jika kamu sudah kembali, silakan duduk. Kita baru saja akan membahas anggaran kampanye kosmetik baru yang diusulkan Elysia."
"Anggaran yang mana, Ayah?" Nerina menyela, ia melirik dokumen yang baru saja dibagikan Ergino. "Apakah anggaran yang mencantumkan biaya vendor 'Cahaya Perbatasan' sebesar delapan miliar rupiah itu? Vendor yang, setelah dicek oleh tim auditku satu jam yang lalu, ternyata baru didirikan tiga hari yang lalu dengan alamat kantor yang ternyata hanyalah sebuah ruko kosong?"
Seluruh direksi yang hadir mulai berbisik-bisik. Wajah Nero berubah menjadi merah padam. Ia menyambar dokumen di depannya dan membacanya dengan cepat.
"Elysia, apa ini benar?" tanya Nero, suaranya terdengar antara kecewa dan tidak percaya.
"I-itu... itu pasti ada kesalahan administrasi, Kak Nero! Aku baru saja mendapatkan kontak vendor itu dari kolega Andrew!" Elysia membela diri, wajahnya mulai berkaca-kaca—taktik andalannya. "Aku hanya ingin memberikan yang terbaik! Aku tidak tahu kalau mereka palsu!"
"Kolega Andrew?" Nerina melipat tangannya di meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Elysia. "Andrew Fidelis yang semalam mencoba 'menjemputku' di dermaga lama? Atau Andrew Fidelis yang saat ini sudah tidak memiliki akses apa pun ke dunia luar karena harus mempertanggungjawabkan perbuatannya?"
Elyas Lynn mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu dengan dermaga lama, Nerina? Apa yang terjadi semalam?"
Nerina terdiam sejenak, ia melirik ke arah Ergino. Pelayan itu hanya memberikan anggukan kecil, seolah berkata 'Serahkan padaku'.
"Tuan Lynn," Ergino bersuara, suaranya yang berat dan tenang menarik perhatian seluruh orang di ruangan. "Semalam, Nona Nerina mendapatkan pesan ancaman yang mengarahkannya ke dermaga lama. Di sana, Tuan Andrew bersama beberapa orang bayaran mencoba melakukan tindakan kekerasan. Beruntung, sistem keamanan yang saya siapkan berhasil mendeteksi ancaman tersebut tepat waktu."
"Apa?!" Anora Lynn yang duduk di samping Elyas menutup mulutnya, syok. "Nerina, kenapa kamu tidak bilang?"
"Karena aku ingin tahu siapa yang membocorkan lokasiku pada Andrew," jawab Nerina telak, matanya terkunci pada Elysia. "Hanya ada segelintir orang yang tahu rute perjalananku semalam. Dan salah satunya ada di meja ini."
Elysia gemetar hebat. "Kakak menuduhku? Kenapa Kakak jahat sekali? Aku bahkan tidak tahu Andrew pergi ke sana!"
"Cukup, Nerina. Kamu tidak punya bukti untuk menuduh adikmu sendiri melakukan hal sekeji itu," bela Elyas, meski nada suaranya kini terdengar ragu.
"Bukti?" Nerina menoleh pada Ergino. "Gino, tunjukkan pada mereka."
Ergino mengeluarkan sebuah tablet dan memutar sebuah rekaman singkat. Bukan video, melainkan log panggilan telepon dari ponsel kantor yang digunakan Elysia semalam. Di sana tercantum panggilan keluar berdurasi dua menit ke nomor pribadi Andrew, tepat sebelum Nerina berangkat ke dermaga.
"Itu... itu hanya koordinasi soal pekerjaan!" teriak Elysia, suaranya pecah menjadi tangisan. "Ayah! Kak Nerina ingin menyingkirkanku! Dia menjebakku agar terlihat buruk!"
"Koordinasi pekerjaan di jam sepuluh malam dengan pria yang baru saja mempermalukan keluarga kita di pesta?" Nerina menggelengkan kepala. "Elysia, berhentilah. Semakin kamu bicara, semakin dalam lubang yang kamu gali."
Nerina kemudian menoleh pada dewan direksi. "Mengingat adanya indikasi penyalahgunaan wewenang dan potensi kerugian perusahaan sebesar delapan miliar rupiah, aku mengusulkan pembekuan status Wakil Direktur Operasional bagi Elysia Lynn hingga investigasi internal selesai."
"Nerina, jangan bertindak sejauh itu!" Nero mencoba memprotes.
"Atau kita biarkan pemegang saham tahu bahwa keluarga Lynn baru saja mengangkat seorang penipu menjadi pimpinan?" tantang Nerina. "Pilihannya ada di tangan kalian."
Ruang rapat kembali senyap. Para direktur saling pandang, lalu satu per satu mereka mulai mengangguk setuju. Mereka lebih peduli pada uang mereka daripada drama keluarga Lynn.
Elyas Lynn tampak sangat hancur. Ia menatap Elysia dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan. "Elysia... masuk ke kamarmu. Nero, pastikan semua aksesnya ke sistem kantor diputus sementara."
"Ayah! Tidak! Kak Nerina bohong!" Elysia meronta saat Nero menarik lengannya untuk keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup dan rapat resmi dibubarkan, tinggal Nerina, Elyas, dan Ergino di dalam ruangan. Elyas Lynn menatap anak angkatnya itu dengan tatapan yang sangat asing.
"Kamu berubah, Nerina," bisik Elyas. "Kamu tidak pernah sekejam ini dulu."
"Dulu aku terlalu sibuk memohon kasih sayangmu, Ayah, sampai aku lupa bahwa di dunia ini, hanya kekuatan yang dihormati," jawab Nerina. Ia berdiri, bersiap pergi. "Oh, dan soal Gino. Jika Ayah masih berniat memecatnya minggu depan, pastikan Ayah sudah menyiapkan dana talangan untuk audit yang akan macet total tanpanya."
Elyas tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai dengan tatapan kosong.
Nerina berjalan menuju lift pribadi, diikuti Ergino. Begitu pintu lift tertutup, Nerina baru melepaskan napas yang sejak tadi ia tahan. Tubuhnya terasa sedikit lemas.
"Anda melakukannya dengan sangat baik, Nona," puji Ergino. Ia berdiri di samping Nerina, tangannya secara insting berada di dekat punggung Nerina, berjaga-jaga jika wanita itu limbung.
"Aku merasa seperti monster, Gino," bisik Nerina. Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap. "Melihat wajah hancur Ayah tadi... aku merasa sedikit bersalah."
"Itu adalah nurani Anda yang masih tersisa, Nerina. Dan itu manusiawi," Ergino memiringkan tubuhnya, menatap Nerina dengan tatapan yang sangat dalam. "Tapi ingat, di kehidupan yang Anda ceritakan semalam, mereka tidak punya nurani saat membuang Anda di gudang itu. Mereka merayakan pesta saat Anda kedinginan."
Nerina menoleh, menatap Ergino. "Gino... soal semalam. Kamu bilang kamu sudah mencariku di garis waktu yang hancur. Bisakah kamu menjelaskan itu sekarang? Kita sedang berdua."
Ergino terdiam. Lift berdenting, menandakan mereka sampai di lantai dasar.
"Gino, jangan menghindar lagi," tuntut Nerina.
Ergino menatap pintu lift yang terbuka, lalu kembali menatap Nerina. "Nerina, terkadang ada rahasia yang disimpan bukan karena tidak ingin dibagi, tapi karena waktunya belum tepat. Jika saya mengatakannya sekarang, musuh-musuh Anda akan menggunakannya untuk menyebut Anda gila."
"Aku tidak peduli apa kata mereka!"
Ergino melangkah keluar lift, lalu berbalik dan membungkuk dengan sangat formal, namun matanya memancarkan kerinduan yang sangat menyakitkan. "Percayalah pada saya untuk sedikit lebih lama lagi. Saat mawar hitam ini sudah benar-benar berkuasa di atas puing-puing keluarga Lynn, saya akan memberikan semua jawaban yang Anda inginkan. Termasuk siapa saya sebenarnya... di masa lalu Anda."
Nerina tertegun. Kalimat itu lebih dari sekadar janji pelayan. Itu adalah janji seorang pria yang telah melintasi maut.
"Sekarang," Ergino membukakan pintu mobil untuk Nerina. "Mari kita pulang. Ada seseorang yang sudah menunggu Anda di rumah."
"Siapa?"
"Seseorang yang bisa membantu Anda menghancurkan Andrew Fidelis secara total... ayahnya sendiri."
Nerina tersenyum tipis. "Kamu benar-benar sudah menyiapkan semuanya, Gino."
"Saya adalah pelayan Anda, Nona. Menyiapkan kemenangan Anda adalah bagian dari tugas saya."
Mobil pun meluncur meninggalkan Lynn Tower, membawa mawar hitam yang kini telah berhasil mencabut duri pertamanya dari tangan sang musuh. Namun, Nerina tahu, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai saat Elysia mulai merasa terdesak.