Di tengah kota mewah Seoul berdiri sebuah komplek elite bernama Royal Family Residence tempat tinggal empat keluarga sultan paling berpengaruh di Asia. Rumah mereka berdampingan, bisnis mereka mendunia, dan anak-anak mereka terkenal di sekolah elit Aexdrem High School serta Universitas Aexdrem.
Walaupun terlihat sempurna dari luar, isi rumah mereka justru penuh keributan, lawakan receh, drama keluarga, dan perang mulut tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Suasana hangat dan bahagia juga terasa memenuhi kediaman keluarga Xu sore itu. Baru saja terdengar suara kendaraan berhenti di halaman rumah, Papah Xu dan Mama Xu Lusi sudah bergegas keluar menyambut kedatangan putra kesayangan mereka yang dari pagi sudah berangkat dengan penuh persiapan dan tekad yang kuat.
Gualin melangkah masuk ke rumah dengan wajah yang tak kalah berantakan dari Jeno. Ada goresan luka panjang di pelipis kirinya, sudut bibirnya sedikit pecah dan membiru, siku serta lututnya terlihat dibalut perban sederhana bekas pertolongan pertama, dan baju yang dikenakannya pun masih terlihat berdebu serta kusam bekas bergulat di ruang latihan tadi. Namun, di balik penampilan fisik yang tampak menyedihkan itu, sorot mata Gualin bersinar terang, tegap, dan penuh kepuasan yang tak terlukiskan. Senyum tenang dan puas tak pernah lepas dari bibirnya meski gerakannya sedikit terbatas karena rasa nyeri di sekujur tubuhnya.
"Gualin, Nak! Kamu sudah pulang!" seru Mama Xu riang, namun seketika langkahnya terhenti dan senyumnya berubah menjadi campur aduk antara kaget, khawatir, dan iba saat melihat kondisi wajah putranya. "Ya Tuhan... ini kenapa wajah kamu jadi begini? Luka di sini, memar di sana... sampai bonyok begini wajah anak Mama. Sakit sekali pasti ya, Nak?"
Mama Xu segera mendekat, tangannya gemetar menyentuh pelan sisi wajah Gualin yang bengkak, matanya berkaca-kaca menahan rasa sedih melihat putra yang selalu dijaganya dengan lembut kini pulang dengan luka sebesar itu.
Papa Xu yang berdiri di sampingnya pun segera mendekat, mengamati penampilan putranya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan saksama. Berbeda dengan istrinya yang terlihat iba, wajah Papa Xu justru perlahan berubah menjadi sangat bangga. Ia menepuk bahu Gualin dengan kuat, tegas, dan penuh rasa hormat, seolah luka-luka di tubuh anaknya itu bukan tanda kelemahan, melainkan lambang kemenangan sejati.
"Ini pasti akibat tantangan dari Ayah Renjun, bukan?" tanya Papa Xu dengan nada suara yang berat namun penuh keyakinan. Ia menatap tajam ke manik mata Gualin. "Kamu berhasil melakukannya, kan? Kamu berhasil membuktikan dirimu, dan kamu mendapatkan apa yang kamu perjuangkan?"
Gualin mengangguk pelan, tersenyum tipis meski sedikit tersiksa karena lukanya. Ia menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tulus dan bahagia.
"Benar, Papa. Ayah Yuta memberikan ujian yang sama seperti yang diberikan kepada Jeno. Beliau memintaku melawan dua pengawal terkuatnya sekaligus. Beliau bilang, jika aku kalah, aku tidak boleh lagi mendekati Renjun selamanya. Tapi... jika aku menang, aku berhak mendapatkan izin dan restu beliau sepenuhnya," jawab Gualin tenang dan jelas. Ia menarik napas panjang sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih bersemangat. "Dan lihatlah hasilnya, Pa Ma... Aku menang. Aku berhasil mengalahkan mereka berdua. Ayah Yuta memberikan restu penuh kepadaku. Renjun sekarang sudah resmi menjadi kekasihku. Aku sudah memiliki izin untuk menjaganya dan mencintainya sepenuh hati."
Mendengar pengakuan itu Mama Xu langsung memeluk Gualin erat, meski ia berusaha berhati-hati agar tidak menekan bagian yang sakit. Air mata bahagia kini mengalir di pipi Mama Xu, rasa khawatir dan iba tadi perlahan berganti menjadi rasa bangga yang luar biasa besar.
"Anak Mama yang hebat... anak Mama yang gagah berani," ucap Mama Xu terharu sambil mengelus punggung putranya. "Maafkan Mama tadi yang sempat sedih melihat wajahmu lecet dan bengkak begini. Tapi Bunda mengerti sekarang. Luka-luka ini bukan bukti kamu lemah atau kamu terluka sia-sia. Ini bukti kalau kamu berjuang sekuat tenaga demi apa yang kamu cintai. Ini bukti kalau kamu pantas mendapatkan Renjun. Walaupun wajahmu jadi agak bonyok begini, tapi di mata Bunda, kamu terlihat jauh lebih tampan, jauh lebih dewasa, dan jauh lebih hebat dari siapa pun."
Papa Xu tersenyum lebar, tersenyum paling lebar yang pernah dilihat Gualin selama hidupnya. Ia mengangguk berulang kali dengan penuh kekaguman.
"Papa sangat bangga padamu, Gualin. Sangat, sangat bangga," ucap Papa Xu dengan nada tegas dan penuh emosi. "Papa tahu kamu bukan tipe orang yang suka kekerasan. Kamu pendiam, kamu lembut, kamu selalu menyelesaikan segala sesuatu dengan kepala dingin dan kebijaksanaan. Tapi hari ini, Papah melihat sisi lain darimu. Kamu gigih, kamu tangguh, kamu berani menahan rasa sakit, dan kamu tidak mengenal kata menyerah walau lawanmu jauh lebih besar dan kuat darimu. Kamu membuktikan kalau di balik sifat tenangmu itu, ada tekad baja yang luar biasa kuatnya."
Papa Xu menunjuk wajah Gualin yang penuh memar itu, matanya berbinar bangga.
"Luka-luka ini, bengkak di wajahmu ini... itu bukan hal yang memalukan, Nak. Itu adalah luka kehormatan. Itu adalah bukti nyata bahwa kamu rela berkorban apa saja, bahkan tubuhmu sendiri, demi menjaga dan membahagiakan wanita yang kamu cintai. Tidak ada harga diri yang lebih tinggi dari itu. Walaupun wajahmu terlihat berantakan dan bonyok begini, Papah sama sekali tidak merasa kasihan atau kecewa. Justru sebaliknya, Papah merasa sangat bangga dan lega. Papah yakin sekarang... Renjun berada di tangan yang tepat. Ayah Yuta juga pasti sudah melihat ketulusan hatimu lewat perjuangan berat ini."
Gualin tersenyum bahagia mendengar pujian dan kebanggaan dari ayahnya. Rasa pegal, nyeri, dan lelah di seluruh tubuhnya seketika lenyap tak berbekas, berganti dengan rasa hangat dan bahagia yang memenuhi dadanya. Ia tidak menyesal sedikit pun atas semua rasa sakit yang ia rasakan. Semua itu terbayar lunas, bahkan lebih dari cukup, karena kini ia sudah resmi memiliki hati Renjun dan restu dari kedua orang tua kekasihnya.
"Terima kasih, Papah. Terima kasih, Mamah," ucap Gualin pelan namun tulus. "Semua rasa sakit ini hilang seketika saat aku melihat Renjun menungguku, saat aku mendengar beliau memberikan izinnya. Apa pun akan aku lakukan demi Renjun. Apa pun akan aku korbankan. Mulai hari ini, aku akan menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku, seperti yang Papah dan Mamah ajarkan kepadaku selama ini."
Bunda Xu mengangguk mantap, lalu segera menggandeng tangan Gualin menuju kamar tidur. "Sudah, Nak. Sekarang kamu istirahatlah. Biar Mamah bersihkan lukanya dan oleskan obat. Walaupun kami bangga sekali melihat keberanianmu, tapi tetap saja kami tidak ingin kamu menahan sakit lebih lama lagi. Istirahatlah dengan tenang, nikmati kemenanganmu ini. Dan ingat... Papah dan Mamah akan selalu mendukungmu, mendukung hubungan kalian, dan mendoakan kebahagiaan kalian berdua selamanya."
Di kediaman Xu itu, kebahagiaan pun terasa lengkap. Di balik wajah yang sedikit bonyok dan penuh luka, ada hati yang puas, ada kebanggaan orang tua yang tak terhingga, dan ada cinta yang kini telah resmi bersemi dan direstui sepenuhnya. Sama seperti di kediaman Jung, hari ini menjadi bukti nyata bahwa cinta yang tulus selalu berani berjuang, dan perjuangan yang gigih selalu berhak mendapatkan kebahagiaan yang sejati.