NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

02 : Mess tua

Seperti yang sudah diwanti-wanti, Rosa yang pulang jam 7 malam mengajak Naya untuk pulang bareng menuju mess mereka yang hanya 3 menit berjalan kaki dari tempat kerja mereka.

Nampak sebuah rumah dengan cat kuning tua yang sudah mulai terkelupas. Rosa membuka gerbang rumah itu yang hanya dikunci dari dalam. Mereka berdua pun masuk dan Naya yang mengunci gerbang. Rosa membuka pintu rumah. Di depan rumahnya banyak sekali jemuran yang bergantungan.

Naya ikut masuk ke dalam, dan terlihat rumah itu cukup luas. Ada ruang tengah yang di situ ada sofa panjang lengkap dengan meja. Rosa duduk di sofa itu sembari mengecek hp-nya lalu meletakkannya di atas meja.

"Ayo duduk," ajak Rosa kepada Naya yang berdiri.

Naya nurut, duduk di ujung sofa. Ada jarak satu orang di antara mereka.

"Di sini tuh ada dua kamar. Kamar yang kutempatin masih kosong jadi kita berdua tidur bareng. Di kamar satunya lagi ada Abel sama yang namanya Teh Intan. Ada satu kamar mandi, sama di ruang belakang dapur," jelas Rosa.

"Biasanya gantian mandi di kamar mandi, jadi harus bangun cepet kalau enggak mau telat kerja," ujar Rosa lagi.

"Kamarnya di mana?" tanya Naya celingak-celinguk.

"Itu kamar kita," tunjuk Rosa pada sebuah pintu kamar yang ada tepat di depan mereka.

Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka memperlihatkan seorang wanita bertubuh mungil dengan handuk yang menutupi bagian atas tubuhnya sampai paha, juga handuk kecil yang menutupi rambutnya guna mengeringkan rambut yang sepertinya dia habis keramas.

"Dia siapa?" tanya wanita itu.

"Dia karyawan baru di rumah makan Pak Dermawan," jawab Rosa.

"Oh haiii, aku Intan." Wanita itu mendekat dan mengulurkan tangan pada Naya.

"Iya, Mbak," jawab Naya pelan.

"Siapa namanya?" tanya Intan.

"Naya," jawab Naya singkat.

Intan mengangguk, senyum ramah, lalu menarik tangannya.

"Teh malu ih, pintu belum ditutup tapi cuman handukan gitu," ujar Rosa.

"Biarin. Lagian siapa sih yang bakal datang? Pacar kamu? Takut terpesona dia sama body goals aku?" tanya Intan dengan begitu percaya diri, berpose centil di hadapan Rosa yang jijik.

"Nggak bakal mau pacar aku sama janda tua beranak satu kayak Teteh," ujar ketus Rosa mengambil hp-nya dan membalas chat dari seseorang.

"Ucapan itu adalah doa loh, Sa. Jangan sampai pacarmu malah ngajak serius aku bukannya ngajak serius kamu," ujar Intan yang sudah lari kabur dengan ketawa centilnya. Rosa mendengus, siap-siap memberikan ulti, tapi yang mau diulti sudah kabur duluan.

"Ting!"

Notif pesan dari hp Rosa membuat Rosa beranjak berdiri dari tempat duduknya.

"Gian jemput aku. Kamu langsung ke kamar aja ya kalau mau istirahat. Nanti kakak kamu jadi ke sini bawa koper kamu?" tanya Rosa.

"Jadi kok. Udah otw," jawab Naya.

"Oke. Pake aja lemarinya. Baju-baju aku taruh di sebelah kiri lemari, jadi kita setengah-setengah aja lemarinya. Bagian gantung lemari kita pake berdua," ujar Rosa memberikan arahan sembari mengenakan lipstik di bibirnya.

"Oke," jawab Naya tak berpikir panjang.

"Aku keluar dulu ya," ujar Rosa yang sudah merasa pede dengan wajahnya.

Rosa pun pergi meninggalkan Naya di sofa sendirian. Naya membuka hp lalu bermain game di sana menghindari suntuk sembari menunggu kakaknya.

"Rosa ke mana?"

Pertanyaan itu sedikit mengagetkan Naya yang sedang fokus dalam gamenya.

"Tadi keluar," jawab Naya.

"Oohh keluar," ujar Intan yang sudah memakai daster sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang sudah dia lepas dari kepalanya. Memperlihatkan rambut sebahu berwarna pirang cerah, di-layer.

"Iya, Mbak," jawab Naya.

"Nama kamu siapa tadi?" tanya Intan.

"Naya."

"Naya kamu asli sini atau asli mana?" tanya Intan.

"Aku asli Medan, Mbak."

"Jauh banget ke Depok. Medan itu beda pulau loh," ujar Intan kaget.

"Iya, Mbak."

"Kamu sama siapa dateng ke sini?" tanya Intan.

"Aku ada Kakak. Tapi Kakak aku mau balik kampung, jadi sebelum balik kampung Kakak aku nyariin kerja buat aku dulu di sini. Aku sama Kak Salsa yatim piatu, Mbak. Jadi cuma ada kita berdua aja sekarang. Biar sambil ngerasain gimana rasanya ngerantau di kota orang," jawab Naya melirik layar hp-nya yang sudah defeat. Menunjukkan jika dia sudah kalah saat bermain game karena diajak ngobrol oleh Intan yang tiba-tiba terus bertanya kepadanya tanpa jeda.

"Oohh..." Intan ngangguk paham. Matanya melunak dikit. "Pantesan. Kuat-kuat ya, Na."

"Aku juga pernah kerja di rumah makan Dermawan dulu," ujar Intan.

"Sekarang, Mbak?" tanya Naya.

"Sekarang aku ya jadi SPG motorist. Gajinya lebih gede daripada di rumah makan itu," jawab Intan menyisir rambutnya yang hanya setengah basah karena tadi dia sudah keringkan dengan handuk kecil yang sudah lembab. Handuknya dia letakkan di atas meja.

"Tapi ini mess buat yang kerja di rumah makan kan, Mbak?" tanya Naya bingung.

"Biarin lah. Lagian Pak Dermawan sama istrinya nggak permasalahin kalau aku tetep tinggal di sini," ujar Intan ringan.

Naya mengangguk. Ternyata Pak Dermawan memang sangat dermawan.

"Assalamualaikum!"

Terdengar suara dari gerbang depan.

"Siapa?" tanya Intan yang baru pertama kali mendengar suara itu.

"Kakak aku," jawab Naya menghapus game dari layar hp-nya lalu berjalan membuka pintu dan melihat kakaknya yang sudah di depan gerbang.

Naya membuka gerbang itu.

"Ini mess-nya? Keliatan luas tapi macam tak betul auranya, tua kali ya bangunannya," ujar Kakaknya.

"Kak Salsa, semua barang aku dibawa kan?" tanya Naya.

"Kayak banyak kali lah bajumu. Bajumu itu-itu aja pun," balas Salsa menurunkan koper adiknya dari atas motornya lalu menarik koper itu ke dalam.

Naya pun mengambil satu tas yang ada di depan motor. Mereka berdua masuk ke dalam kontrakan. Wajah acuh tak acuh Salsa tertuju kepada Intan.

"Mana kamar adikku?" tanya Salsa.

"Di mana emang kamar kamu kata Rosa?" tanya Intan pada Naya.

Naya menunjuk sebuah pintu kamar.

"Loh kok Rosa mau sekamar sama kamu?" tanya Intan bingung.

"Loh emang kenapa? Cuman tempat tidur aja masih aja mau dipelitin. Dasar," ujar Salsa ketus lalu membuka pintu kamar itu dan meletakkan koper. Terlihat jika kamar itu cukup rapi.

Naya juga meletakkan tasnya di kamar. Salsa menepuk bahu adiknya.

"Kamu hati-hati di sini. Kita cuma berdua, Na. Nggak ada Bapak, nggak ada Mamah lagi. Jangan berperangai aneh apalagi sama lelaki. Jaga shalatmu. Kalau ada apa-apa, langsung kabarin Kakak atau enggak Kak Ranti ya." Ujar Salsa dengan begitu serius kepada Naya.

"Iya, Kak," jawab Naya, mata udah berkaca-kaca.

"Dan kerja di tempat orang… Eggak semua orang itu baik." Tekan Salsa.

Naya mengangguk.

"Ya udah, aku cabut. Mau packing, tiket udah di tangan," ujar Salsa dengan rasa puas yang sudah tercetak di raut wajahnya.

"Iya. Kakak hati-hati juga," ujar Naya yang sudah berlinang karena akan ditinggal sendiri di kota orang.

"Iya, setelah 6 tahun di rantau orang akhirnya balik kampung juga. Semoga lancar aku ya buka tokonya." Ujar Salsa lega. Dia memang mau buka usaha di kampung.

"Amin." Naya mengaminkan.

"Ya udah, balik aku. Assalamualaikum," ujar Salsa yang mau pamit pulang untuk packing barangnya karena hari ini dia sudah memesan tiket pesawat untuk pulang.

"Waalaikumsalam," jawab Naya.

Intan yang sama sekali tidak disapa ataupun dipedulikan oleh Salsa yang memang sangat terlihat cueknya.

"Mbak, aku rapikan baju ke lemari dulu ya," ujar Naya.

"Iya," jawab Intan yang lalu memilih duduk di sofa panjang.

Naya masuk ke dalam kamar, membuka lemari triplek yang berbau kapur barus. Di sisi kanan lemari ada gantungan besi pakaian lima, yang tiganya sudah digantung pakaian dan hanya ada satu tempat untuk menyimpan bajunya. Sementara kata Rosa, sisi sebelah kiri adalah tempat baju Rosa. Bagian gantung lemari akan dipakai mereka berdua. Ruang minimalis itu pun dimanfaatkan oleh Naya untuk meletakkan bajunya. Sisa bajunya dia biarkan tetap di dalam koper dan tasnya saja. Baju kerja yang akan dia gunakan besok dia gantungkan di gantungan lemari itu.

Naya mengancing kopernya, namun pandangannya tak sengaja tertuju pada sebuah mangkok tanah liat di bawah tempat tidur. Di pinggir mangkok ada bercak coklat kering. Mirip darah. Naya diem. Jantungnya deg. Dia nggak berani sentuh.

Setelah mengancing kopernya, Naya berdiri dan keluar dari kamar. Jam sudah menunjukkan jam setengah 9 malam. Suasana mess memang terasa sepinya, cuma ada suara kipas angin Teh Intan.

"Mbak, biasanya beli makan malam di mana?" tanya Naya yang lapar.

"Itu ada banyak yang jualan di depan gang, jalan aja dikit ke bundaran," jawab Intan yang sedang dandan.

"Makasih, Mbak."

Intan tidak menjawab.

Seperti yang Intan katakan, Naya yang sudah sampai di bundaran memang melihat banyak yang menjual makanan. Mungkin ini adalah tempat ramai karena memang banyak yang beli juga. Naya yang melihat tukang sate pun memilih untuk mampir ke sana saja membeli makanan karena aroma sate yang dibakar cukup membuat cacing di perutnya meronta.

"Pak, sate kambing 1 porsi," pesan Naya yang sudah melihat menu.

"Mau pakai lontong atau nasi?" tanya bapak yang jualan.

"Nasi," balas Naya.

"Neng duduk aja dulu."

Naya mengangguk dan duduk di kursi plastik sembari memainkan hp-nya. Pandangan Naya tak sengaja tertuju kepada Rosa yang ternyata sedang membeli donat bersama seorang lelaki.

"Yang meses biru ya? Kamu suka kan?"

"Iya." Balasan Rosa terdengar singkat.

Naya yang tak ingin menyapa dan tak terlalu memperdulikan kembali melihat hp-nya karena sedang berbalas chat dengan kakaknya yang sudah di kontrakan.

"Naya? Beli sate?"

Naya yang mendengar itu sedikit terkejut karena suara Rosa yang menyapanya.

"I-iya," jawab Naya.

"Kenalin atuh, ini namanya Gian. Dia karyawan Pak Dermawan juga di cabang rumah makan Bintaro," Rosa memperkenalkan lelaki itu kepada Naya.

"Naya."

"Gian," jawab Gian tersenyum ramah. Lesung pipi Gian terlihat dalam saat dia tersenyum. Kaos birunya sablon 'Rumah Makan Dermawan Cabang Bintaro'.

"Naya ini yang jadi kasir baru di rumah makan Dermawan," jelas Rosa.

"Oohh... Semoga betah ya," ujar Gian.

Naya hanya tersenyum kikuk.

"Udah beli donat aja kan? Mau aku antar pulang?" tanya Gian.

"Enggak, aku pulang bareng sama Naya aja," ujar Rosa.

"Oke. Kalau gitu aku pulang dulu ya," balas Gian yang pamit.

"Hati-hati," balas Rosa melambaikan tangannya kepada Gian yang sudah menaiki motornya dan mengenakan helm.

Gian membalas lambaian tangan itu dan menghidupkan motornya lalu pergi.

Rosa duduk di sebelah Naya.

"Makan di sini aja. Nanti kalau kamu bawa pulang, si Teh Intan malah minta makanan kamu lagi," ujar Rosa.

"Iya," jawab Naya canggung.

"Mang, makan di sini ya, samain aja 2 porsi," ucap Rosa.

"Siap, Neng cantik!" seru bapak yang jualan sate, nampak tertarik kepada Rosa yang memang wajahnya cantik dan fisiknya cukup menantang bagi laki-laki yang tidak cukup bersyukur dengan pasangannya.

"Jaringannya lemot ya, aku minta hotspot dong."

Naya yang mendengar itu tanpa berpikir panjang menghidupkan hotspot-nya.

"Sandinya apa?" tanya Rosa.

"Sandinya jangan banyak tanya, hurufnya kecil semua, nggak pakai spasi," jawab Naya membuat Rosa menahan tawanya karena tidak menyangka jika sandinya akan serandom itu.

"Jadi aku banyak tanya sekarang nih?" tanya Rosa menggoda.

"Enggak kok, emang itu sandinya," jawab Naya merasa malu.

"Naya, Naya..." ujar Rosa geleng-geleng kepala karena Naya yang menurutnya memang cukup lucu.

Tak lama dua porsi sate pun sudah dihidangkan di depan mereka.

Naya akan makan, namun Rosa segera menghentikan Naya.

"Difoto dulu dong, buat diabadikan," ujar Rosa yang segera meletakkan piringnya dan piring Naya berdekatan lalu mengambil foto dari sate itu.

Setelah pemotretan sekilas itu mereka berdua pun makan tanpa ada obrolan sama sekali. Setelah selesai makan, Rosa yang membayar makanan mereka dengan selembar uang merah, dan Naya yang akan mengeluarkan uang receh dari sakunya kembali memasukkan uangnya lagi.

"Makasih ya, Mang."

"Hati-hati, Neng cantik," balas bapak penjual sate yang sudah senyum ke semsem.

"Dasar bapak-bapak genit," desis Rosa yang terdengar oleh Naya yang berjalan di sebelahnya.

"Kamu kok diem banget sih? Emang aku semenakutkan itu?" tanya Rosa.

"E-enggak kok." balas Naya.

Rosa tanpa berpikir panjang menggenggam tangan Naya, membuat Naya langsung mati gaya.

"Tau nggak? Aku itu sebenarnya udah punya pacar yang kerja di Jakarta, tapi aku juga suka sama Gian. Perhatiannya itu beneran perhatian banget sama aku. Pacar aku itu udah serius sama aku, dan aku juga serius sama pacar aku. Sementara di sisi lain aku juga nyaman sama Gian yang terang-terangan suka sama aku," Rosa menceritakan dilema yang dia rasakan.

"Jadi menurut kamu aku harus apa?" tanya Rosa menatap wajah polos Naya yang sudah jelas tertebak jika Naya juga kikuk ingin menjawab apa.

"Gimana ya?" Naya malah balik bertanya yang membuat Rosa mendecak kecewa.

"Ya udah deh, lupain aja."

Mereka berdua pun melangkah bersama menuju arah pulang. Tanpa ada lagi obrolan.

Sampai depan gerbang mess, Rosa berhenti. Naya buka gerbang, dan Rosa masuk lalu menutup gerbangnya.

Naya, dan Rosa sekamar saat siap-siap akan tidur. Naya tiba-tiba teringat akan mangkok yang dia temukan tadi di bawah tempat tidur.

"Aku mau nanya."

"Nanya apa?" Tanya Rosa yang sedang membersihkan make up nya.

"Tadi pas beresin baju... Aku liat mangkok di bawah kas--"

Belum sempat Naya melanjutkan omongannya Rosa dengan sigap menutup mulutnya dengan tangan kanan membuat Naya merasa kaget tak main.

"Ssttt..." Desis Rosa seolah memberitahu Naya jika dia tidak boleh asal berbicara sembarang seperti itu.

Naya merinding karna Rosa yang terasa begitu dingin dan berbeda di belakangnya.

Rosa mendekatkan bibirnya ke telinga Naya dan mulai berbisik, "Jangan sentuh. Jangan tanya Teh Intan. Jangan tanya siapa-siapa. Anggep aja nggak ada. Ngerti?"

Rosa melepaskan telapak tangannya dari bibir Naya yang langsung mengambil nafas.

"Ng... ngerti," jawab Naya. Tenggorokannya kering.

Rosa senyum lagi, "Nah gitu dong. Yuk tidur. Besok kerja hari pertama. Jangan telat."

Rosa duduk kembali di tempat tidur.

Naya hanya diam melihat Rosa yang mulai mengambil posisi nyaman untuk tidur. Angin malem tiba-tiba dingin. Dari dalem kamar, samar-samar kecium bau kapur barus kecampur bau anyir.

Ingin bertanya pada Rosa namun Rosa nampak sudah masuk ke dalam alam bawah sadarnya yang membuat Naya mau tak mau berbaring di samping Rosa dan memaksakan diri untuk tidur.

1
Sarah
Noooo! Abelllll Jangan matiiii! 🙅‍♀️😃
Sarah
Dari bahasa Sunda kah referensi kalimat dan nama tempat makannya sendiri? Atau bukan?
Sarah: Yahh... bahasa Jawa sama Sunda kayaknya emang banyak kata yang agak mirip deh. Dan kalau gak salah juga akar bahasanya sama sih. Meski tetep beda. Kalau di Sunda sih “Dhahar Kudu Wareg” itu kayak, “Makan Harus Kenyang” atau kalau konteksnya emang nama ya “Dhahar Harus Kenyang”. Meskipun di Sunda tulisan “Dhahar”-nya gak ada ‘H’-nya sih. “Dahar” aja, tapi bunyinya sama. Kalau di Jawa “Dhahar Kudu Wareg”-nya artinya apa tuh kak?
total 2 replies
Sarah
Kakaknya Naya menarik juga. Aku emang belum baca sampai jauh tapi jujur ada sedikit harapan dia bisa terlibat jugalah di cerita meskipun mungkin gak bisa bener-bener bantu tapi bisa disebut atau diceritakan lagi sih. Kayaknya dia tokoh yang potensial deh. Gimana dia yang cuek banget sama orang lain kayak gak ada ramah-ramahnya. (yang jujur agak curiga itu karena perjalanan merantau yang sulit juga. Selain entah karena mungkin itu emang sikap dasarnya.)
Mia AR-F: kk salsa mah udah tau dunia rantau sekeras apa 🥹
total 1 replies
Sarah
Maksudnya? Simak kah kak?
Mia AR-F: iya kk simak 🤭
total 1 replies
Sarah
Nama adalah doa. 😃
Sarah
Ngakak 😂
Sarah
Suasananya beneran hangat dan akrab banget yah? Biasanya kan seri horor atau thriller selalu ngasih suasana yang udah mencurigakan dan lingkungan orang-orang di sekitar yang sepi, individualis, dll. Tapi ini enggak, jadi makin serem karena yang terlihat aman ternyata ada sesuatu dibaliknya. Apalagi kalau terjadi di dunia nyata. 💀
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!