Sepuluh tahun lalu, tragedi berdarah menghancurkan keluarga Samudra. Langit Bumi Samudra (7 tahun) tewas dalam sabotase kecelakaan mobil, sementara adiknya, Cakrawala Bintang Samudra (3 tahun) dinyatakan hilang dan dianggap tewas juga oleh publik. Nyatanya, Sang Kakek menyembunyikan Cakra di luar negeri dengan identitas rahasia demi melindunginya dari musuh.
Kini, Cakrawala kembali sebagai pemuda tampan dan jenius. Di bawah nama samaran Gala Putra Langit, ia menyusup ke dunianya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Ia harus menghadapi pengkhianatan Om dan Tantenya sendiri yang haus harta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Singa Tua
Mobil limosin hitam antipeluru milik Kakek Wijaya meluncur tenang membelah jalanan kota yang mulai remang. Di dalam kabin penumpang yang luas dan kedap suara, suasana terasa begitu sunyi dan dingin. Kakek Wijaya menyandarkan tubuh ringkih namun berwibawa miliknya ke kursi kulit, sementara kedua tangannya bertumpu erat pada kepala tongkat kayu berukir naga emas.
Di hadapannya Tuan Baskara dan Nyonya Shinta duduk berdampingan dengan ekspresi serius. Sementara itu, Pak Surya duduk di sudut kursi tambahan sembari memangku laptop militer yang menampilkan seluruh grafik transaksi perdagangan saham hari kedua di kampus. Jemari Pak Surya bergerak menekan beberapa tombol, memunculkan barisan kode enkripsi siber berwarna merah.
"Tuan Besar," panggil Pak Surya dengan nada suara yang hormat, memecah keheningan kabin.
"Sistem pengawasan kita telah mengunci bukti fisik. Davin, atas perintah Tuan Muda Kenzo, menanamkan malware pembajak data pada server meja Tuan Muda Gala siang tadi."
Kakek Wijaya tidak langsung merespons. Sang Singa Tua itu hanya menatap keluar jendela, memperhatikan lampu-lampu jalanan yang berkelebat cepat. Sesaat kemudian, segaris senyum dingin yang penuh kelicikan universal terukir di wajah keriputnya.
"Bramantyo dan Ratna pasti sedang berpesta malam ini, mengira anak mereka adalah seorang jenius," ucap Kakek Wijaya dengan suara berat dan serak yang bergetar penuh wibawa.
Ia menoleh perlahan ke arah asisten pribadinya. "Lalu bagaimana tanggapan cucuku? Apakah Gala panik?"
Pak Surya menggelengkan kepala perlahan, sebuah senyuman tipis ikut muncul di sudut bibirnya yang biasa kaku. "Sama sekali tidak, Tuan Besar. Rekaman audio dari mikrofon tersembunyi di meja menunjukkan bahwa Tuan Muda Gala sengaja membiarkan kecurangan itu terjadi. Tuan Muda menyebut modal tambahan dari Tuan Bramantyo sebagai 'umpan beracun'."
Tuan Baskara yang sejak tadi menyilangkan tangan di dada langsung menegakkan posisi duduknya. Matanya berkilat bangga. "Aku sudah menduga hal ini, Ayah. Gala sengaja mengalah hari ini untuk mengunci seluruh aliran dana ilegal yang dimasukkan oleh Bramantyo. Besok, semua modal itu akan dikunci dalam jeratan likuiditas," sahut Tuan Baskara dengan nada suara yang mantap dan penuh keyakinan.
Nyonya Shinta mengelus lembut permukaan selendang sutranya, lalu menatap Kakek Wijaya dengan tatapan mata yang teduh namun penuh arti.
"Bramantyo dan Ratna bertindak terlalu jauh karena ambisi mereka," ucap Nyonya Shinta dengan suara yang tenang dan lembut, mengalir bagai air namun sarat akan ketegasan.
"Mereka lupa, semakin tinggi Kenzo mereka sanjung secara ilegal, semakin sakit pula saat anak itu terjatuh besok. Gala hanya sedang menuntun mereka kembali ke realitas dengan caranya sendiri."
Nyonya Shinta menghela napas pendek, menyandarkan tubuhnya sembari melirik ke luar jendela yang antipeluru. "Namun, Ayah... kita harus tetap waspada. Bramantyo memiliki jaringan yang gelap di luar sana. Alasan utama kita menyembunyikan identitas Gala sebagai pewaris tunggal Samudra Group selama ini adalah demi keselamatannya. Jika mereka tahu Gala adalah ancaman nyata, mereka tidak akan bermain fisik di luar lantai bursa."
Pak Surya membetulkan letak kacamata bingkai hitamnya, lalu menyodorkan sebuah dokumen cetak rahasia ke Kakek Wijaya. "Ini adalah skema pergerakan dana gaib yang disiapkan Tuan Muda Gala untuk hari ketiga besok, Tuan Besar. Tuan Muda tidak hanya menghancurkan Tuan Muda Kenzo di kompetisi kampus, tetapi juga berniat menarik seluruh likuiditas publik dari anak perusahaan teknologi milik Tuan Bramantyo secara riil. Ini adalah serangan total."
Kakek Wijaya menerima dokumen tersebut, membacanya baris demi baris di bawah temaram lampu kabin. Matanya yang semula sayu mendadak berkilat tajam, memancarkan aura predator bisnis yang mengerikan. Strategi yang disusun Gala sangat rapi, memanfaatkan celah hukum bursa internasional yang bahkan jarang diketahui oleh para pialang saham veteran.
"Luar biasa... " bisik Kakek Wijaya, napasnya memburu pelan karena rasa kagum yang meluap.
"Anak ini bukan lagi sekadar singa muda, Baskara. Dia adalah badai yang akan merombak total hierarki Samudra Group."
"Lalu mengenai status kepemilikan aset utama, apakah Anda akan mengumumkannya besok setelah kompetisi selesai, Tuan Besar? Mengingat ancaman dari musuh-musuh kita masih sangat aktif?" tanya Pak Surya sembari menutup laptopnya.
Kakek Wijaya melipat kembali dokumen rahasia itu dengan gerakan perlahan namun tegas. Ia mengetukkan tongkat naganya ke lantai limosin, memantapkan keputusan penting.
"Tidak. Belum saatnya," jawab Kakek Wijaya dengan nada berat yang tak terbantahkan.
"Dunia luar terlalu berbahaya untuknya saat ini. Biarkan Gala tetap mengenakan topengnya sebagai mahasiswa beasiswa biasa. Biarkan dia menempa dirinya sendiri di dunia bawah tanpa embel-embel nama besar Samudra."
Sang singa tua kembali menatap kegelapan di balik kaca mobil yang gelap. "Bramantyo dan sekutu-sekutunya sedang mengawasi setiap gerak-gerik kita, mencari titik lemah untuk menghancurkan keluarga ini dari dalam. Jika identitas Gala terbuka sekarang, dia akan menjadi sasaran empuk sebelum sayapnya benar-benar kokoh."
Tuan Baskara mengangguk perlahan, menyetujui kearifan sang ayah. "Lalu, bagaimana dengan pengumuman besok, Ayah?"
"Besok, kita hanya akan menonton kehancuran Kenzo dari balik layar," ucap Kakek Wijaya dengan senyum misterius yang penuh perhitungan.
"Biarkan Bramantyo, Ratna, dan Kenzo merasakan puncak kebahagiaan mereka malam ini. Besok pagi, Gala akan melucuti takhta palsu mereka di lantai bursa, membiarkan mereka bangkrut tanpa pernah tahu siapa sosok genius yang telah menghancurkan mereka. Nanti, akan ada saatnya yang tepat bagi singa muda kita untuk mengaum dan menunjukkan wajah aslinya kepada dunia."
Limosin mewah itu terus melaju menembus kegelapan malam, membawa rencana besar sang penguasa tertinggi Samudra Group yang tetap menjaga rahasia terbesar mereka rapat-rapat demi keselamatan sang pewaris tunggal.
Malam ini adalah ketenangan sebelum badai besar hari ketiga dimulai. Sebuah awal kejatuhan berdarah dinasti Bramantyo tanpa jejak.