Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.
Suatu hari keduanya bertemu.
Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.
Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.
Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.
Apakah pria itu akan berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tujuh belas.
"Siapa nama orang itu?" tanya Maxime dengan wajah datar yang terlihat dingin. Ia tampak tidak senang.
"Kau mungkin mengenalnya. Ia salah satu klienmu. Kalian pernah bekerja sama beberapa kali." jelas Jonathan tenang.
"Tuan Arkan Wirasena." ia menyebut nama itu dengan suara tegas. "Kau mengenalnya, kan?"
Raut wajah Maxime berubah santai, namun tetap dingin. "Ya, aku mengenalnya." jawabnya mantap.
Namun, ia tampak mengerutkan keningnya sejenak. "Tapi... setahuku, dia itu pria lajang yang sudah berumur." rahangnya seketika mengeras, tatapannya berubah tajam. "Apa dia berniat mendekati Alya?"
"Mungkin saja." jawab Jonathan santai.
"Jangan asal bicara. Alya lebih cocok menjadi putrinya, daripada kekasihnya." sanggah Maxime tegas.
"Pelayanmu itu sangat cantik, Max. Siapa yang bisa menolak pesona wajahnya. Apalagi di tempat yang dipenuhi pria hidung belang seperti ini." jelas Jonathan, sengaja ingin memprovokasi dirinya.
Maxime tidak merespon perkataannya, ia terdiam sambil berpikir.
Apa yang dikatakan oleh pria itu memang ada benarnya. Tempat ini tidak aman untuk gadis cantik seperti Alya, pikirnya.
Ia lalu berdiri dari sofa dan melangkahkan cepat menuju pintu keluar.
"Hei, kau mau mau pergi kemana?" tanya Jonathan heran, sambil ikut berdiri, mencoba mengejar langkahnya yang tergesa-gesa.
Jonathan berusaha menahan langkahnya yang dinilai terlalu gegabah. Pria itu terkadang memang selalu bertindak impulsif.
"Kau mau apa?" tanya Jonathan, berusaha mencegahnya.
"Di mana ruangannya?"
"Kau mau apa?" Jonathan mengulang pertanyaannya kembali.
"Katakan di mana ruangannya, cepat!!" perintah Max, tidak sabaran.
Jonathan tahu betul bagaimana sifat pria itu. Jika ia sudah menginginkan sesuatu, ia tidak akan menerima penolakan apapun.
"Kita baru saja melewatinya." ucap Jonathan, menghentikan langkah cepat Maxime.
"Kenapa tidak bilang dari tadi." tegurnya kesal, lalu segera memutar arah, kembali ke ruangan sebelumnya yang telah ia lewati.
Jonathan menghela napas sejenak. Menatapnya malas.
Tanpa permisi, ia langsung membuka pintu itu yang memang tidak terkunci.
Kedua orang yang berada di balik ruangan itu, tampak terkejut dan kebingungan melihat Maxime yang tiba-tiba menerobos masuk.
Pemandangan di hadapannya, jauh berbeda dengan apa yang sedang ia pikirkan. Gelak tawa yang sempat ia dengar ketika membuka pintu, terhenti seketika. Mereka sedang berbicara dengan penuh keseruan.
"Tuan!" seru Alya tanpa sadar langsung berdiri dari sofa. Menunduk canggung.
"Kau mengenalnya, Nona?" tanya Arkan, sambil memandang tajam ke arah Maxime. Arkan tentu mengenal Maxime karena ia salah satu relasi bisnisnya.
Alya tidak segera menjawab, karena ia sedang ketakutan melihat Maxime.
"Ada apa, Tuan Max? Sepertinya Anda sedang tidak senang." ucap Arkan dengan nada dingin, jelas tidak senang waktu santainya terganggu.
Maxime yang canggung, berdiri sejenak sambil menahan napas, mencoba mengatur kata-katanya. Matanya menatap Alya sebentar, lalu beralih ke Arkan, penuh pertimbangan.
"Saya ... hanya ingin menanyakan sesuatu." ucap Maxime pelan, suaranya datar namun menyimpan ketegangan. "Tidak ada maksud untuk mengganggu waktu santai Anda."
Alya tetap menunduk, jantungnya berdegup kencang. Arkan menatap Maxime dengan penuh waspada, mencoba membaca maksud dibalik kata-kata yang sederhana itu.
Suasana menjadi hening sejenak, hanya terdengar detak jam di dinding, menambah ketegangan yang tak terucap di ruangan itu.
"Apa yang ingin Anda tanyakan? Apakah itu sangat penting, sampai Anda harus menerobos masuk tanpa sopan seperti itu?" tanya Arkan tajam, merasa tidak senang. "Lagipula bagaimana Anda bisa tahu keberadaan saya di sini?"
Maxime seketika tampak canggung. Ia menggaruk kepalanya yang bahkan tidak terasa gatal. "Itu... hmm... saya tahu dari Madam Choo."
Ini pertama kalinya Maxime terlihat begitu kebingungan. Hanya karena seorang pelayan, ia sampai-sampai harus mempertaruhkan harga dirinya yang tinggi.
Tanpa pikir panjang, ia duduk di sofa yang tadinya di duduki oleh Alya tanpa rasa malu sedikitpun. Ia terpaksa menyingkirkan egonya sesaat demi gadis yang kini malah tertunduk takut padanya.
Arkan menyadarkan punggungnya ke sofa, lalu melipat kedua tangan di dada, menatap Maxime dengan waspada.
"Katakan!" perintah Arkan tegas, suaranya dingin dan tanpa kompromi.
Maxime tersenyum tipis, penuh kecanggungan. Haishh... sial! Apa yang harus kubicarakan dengannya? Pikirnya bingung.
"Hmm... soal... ah, soal kerja sama yang waktu itu kita sepakati." ucapnya dengan terbata-bata.
"Hem? Bukankah urusan itu sudah selesai?" tanya Arkan, merasa sedikit bingung. Ia lantas menatap tajam ke arah Maxime, dingin dan penuh ketidaksukaan.
"Kalau memang ingin membahas urusan pekerjaan, ini bukan tempatnya. Saya tidak suka membicarakannya di sini." tambahnya tegas, menekankan batasannya.
"Maafkan ketidaktahuan Saya, Tuan." ucap Maxime datar, menahan nada emosinya. Matanya tetap menatap Arkan, namun ada kilatan ketegangan yang sulit disembunyikan.
Arkan menatap Maxime sejenak, matanya menyipit, mencoba menilai maksud di balik nada datar itu. Ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, namun ia menahan diri untuk tidak terburu-buru bereaksi.
Alya, yang masih berdiri canggung di samping sofa, menahan napas. Jantungnya berdegup kencang, takut salah bergerak atau berkata sesuatu yang bisa memancing kemarahan Maxime.
Maxime mengangkat dagu sedikit, tetap tenang, namun aura kewaspadaan dan dominasi terasa dari setiap gerakannya. Ruangan itu seketika dipenuhi keheningan yang menyesakkan, seolah setiap kata dan gerakan bisa memicu konflik.
Arkan menatap Alya sejenak, lalu beralih menatap Maxime. Sudut bibirnya terangkat tipis, seolah baru menyadari sesuatu.
"Apakah Anda... cemburu, Tuan Max?" tanyanya dengan nada dingin, namun menyiratkan ejekan ringan.
Kata itu seperti pukulan telak bagi Maxime. Cemburu, pada seorang pelayan? Entah kenapa hal itu seolah menyentil harga dirinya yang tinggi, membuat dadanya sesak sejenak.
"Cemburu?!" Maxime lalu terkekeh pelan, untuk menutupi rasa canggungnya. "Haha... itu tidak mungkin, Tuan. Saya tidak cemburu."
Arkan tidak langsung menjawab. Matanya justru menatap Maxime lebih lama dari biasanya, seolah sedang membaca sesuatu yang tidak diucapkan.
"Baiklah." sahut Arkan datar, namun ada jeda kecil setelahnya yang membuat suasana terasa semakin canggung.
Maxime mengalihkan pandangan, berpura-pura menatap benda-benda disekitarnya. Ia bisa merasakan tatapan itu masih tertinggal di dirinya.
"Kalau begitu," lanjut Arkan akhirnya, suaranya tetap tenang. "Tidak ada alasan untukmu terlihat gelisah seperti itu."
"Aku tidak gelisah, Tuan." Maxime membetulkan posisi duduknya, mencoba untuk kembali tenang dan santai.
Arkan tersenyum tipis, hampir tidak terlihat. Ia lalu melirik ke arah Alya yang sejak tadi diam dan menunggu di sisi ruangan.
Alya berdiri canggung, memeluk botol minuman di dada. Ia sadar dirinya seperti terseret ke dalam percakapan yang bukan miliknya.
"Nona Alya!" seri Arkan seketika yang membuat Alya langsung mendongak ke arahnya.
"Iya, Tuan." sahutnya cepat.
Wajah gadis itu tampak pucat, matanya terlihat sedikit sayu. Entah karena memendam rasa takut, atau justru sedang menahan rasa lelah yang berat.
"Tolong bawakan beberapa gelas lagi, juga makanan ringan." perintahnya lembut pada gadis itu.
"Sepertinya aku mengajak beberapa orang untuk bergabung dalam pembicaraan seru kita." lanjutnya santai, namun matanya sesekali melirik ke arah Maxime.
Alya sempat ragu sesaat, lalu mengangguk. "Baik, Tuan."
Gadis itu lalu pergi dengan langkah cepat, meninggalkan ketegangan yang belum sepenuhnya mereda di ruangan itu.
🌺🌺🌺
mengalihkan duniakuu~